23.5 C
Kediri
Sunday, July 3, 2022

‘Menggali’ Candi Klotok, Mencari Jejak Besar Kota Kediri (19)

Aktivitas kehidupan di sekitar Candi Klotok tidak hanya ditunjukkan dengan berbagai relief di Gua Selomangleng. Melainkan juga keberadaan sumber air hingga aliran sungai kecil yang banyak didapati di sana. 

Aliran yang menyerupai sungai-sungai kecil itu jadi bukti jika kawasan Gunung Klotok menyimpan cukup air untuk kehidupan. Hal tersebut sekaligus menguatkan kesimpulan arkeolog Dwi Cahyono. Yakni, di sekitar sumber atau aliran air pasti ada kehidupan. Terutama kelompok agamawan atau para resi. 

“Meski tempat mereka (resi, Red) tertutup pagar tinggi seperti di relief Gua Selomangleng, kelompok ini bisa memenuhi kebutuhan hidup dengan bertani,” ujar Dwi sembari menyebut air yang cukup juga dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan pertanian di sana.

Aliran air di Gunung Klotok mengalir dari tempat yang tinggi. Hal itu juga ditegaskan di relief Gua Selomangleng. Di sana ada gambaran tentang air terjun dan petak bidang sawah. Dosen Sejarah di Universitas Malang ini memprediksi, relief itu menggambarkan kondisi di kawasan Candi Klotok pada masa lampau.

Baca Juga :  Lulus Memuaskan dari Changzhou Institute Of Mechatronic Technology

Di relief  tergambar air terjun yang mengenai batu besar. Di sana juga digambarkan aliran sungai yang panjang. Dwi pun menduga aliran itu masih ada sampai saat ini. Bisa terbentuk secara alami atau buatan manusia. 

Jika cabangnya dibuat oleh manusia, ukuran dan kedalamannya akan sama. “Perlu dilakukan penelitian lebih dalam lagi,” lanjutnya kepada Jawa Pos Radar Kediri. 

Jika aliran bercabang itu diciptakan manusia, tujuannya adalah untuk membagi kebutuhan air di lahan pertanian. Selebihnya, bisa digunakan untuk mengalirkan air di patirtan. Karenanya, perlu ada penelitian lebih lanjut terkait keberadaan aliran sungai yang kini sudah mengering akibat kemarau. 

Keberadaan aliran air bercabang itu sekaligus menunjukkan material Gunung Klotok tidak hanya tanah merah. Melainkan juga bebatuan. Bagi Dwi, lapisan tanahnya sangat tipis. Sekarang batu-batu berukuran raksasa itu bisa banyak ditemukan di dalam hutan. 

Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Gunung Klotok Sudiro menambahkan, air yang mengalir ke arah patirtan saat ini berasal sumber. “Di sini (Gunung Klotok, Red) ada banyak sumber air,” jelasnya. 

Baca Juga :  Sidang Warga Mojoroto Tanam Ganja, Kena 7 Tahun

Sebagian sumbernya hanya kecil. Meski demikian, sampai saat ini warga yang memiliki warung di kawasan Klotok masih memanfaatkan sumber tersebut untuk kebutuhan air minum dan mandi. Yang paling populer di kawasan Klotok adalah Sumber Mata Air Loh. 

Terpisah, Kasi Sejarah dan Kepurbakalaan Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Endah Setyowati menuturkan, penelitian kawasan Gunung Klotok belum mengupas secara khusus aliran sungai bercabang yang banyak ditemukan di sana. “Yang kami ketahui, sungai-sungai itu berasal dari aliran sumber-sumber air yang ada di Gunung Klotok. Semuanya alami,” bebernya. 

Terlepas dari keberadaan sungai-sungai itu, Endah menyebut, saat ini proses ekskavasi masih difokuskan pada penggalian candi. Beberapa bangunan yang belum tersingkap di antaranya halaman candi, talut hingga dugaan keberadaan patirtan. Semua akan diekskavasi secara bertahap oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur. (rq/ut/bersambung) 

 

- Advertisement -

Aktivitas kehidupan di sekitar Candi Klotok tidak hanya ditunjukkan dengan berbagai relief di Gua Selomangleng. Melainkan juga keberadaan sumber air hingga aliran sungai kecil yang banyak didapati di sana. 

Aliran yang menyerupai sungai-sungai kecil itu jadi bukti jika kawasan Gunung Klotok menyimpan cukup air untuk kehidupan. Hal tersebut sekaligus menguatkan kesimpulan arkeolog Dwi Cahyono. Yakni, di sekitar sumber atau aliran air pasti ada kehidupan. Terutama kelompok agamawan atau para resi. 

“Meski tempat mereka (resi, Red) tertutup pagar tinggi seperti di relief Gua Selomangleng, kelompok ini bisa memenuhi kebutuhan hidup dengan bertani,” ujar Dwi sembari menyebut air yang cukup juga dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan pertanian di sana.

Aliran air di Gunung Klotok mengalir dari tempat yang tinggi. Hal itu juga ditegaskan di relief Gua Selomangleng. Di sana ada gambaran tentang air terjun dan petak bidang sawah. Dosen Sejarah di Universitas Malang ini memprediksi, relief itu menggambarkan kondisi di kawasan Candi Klotok pada masa lampau.

Baca Juga :  Jatuh Bangun Yayuk Sri Rahayu Merintis Konsep Pertanian Terintegrasi

Di relief  tergambar air terjun yang mengenai batu besar. Di sana juga digambarkan aliran sungai yang panjang. Dwi pun menduga aliran itu masih ada sampai saat ini. Bisa terbentuk secara alami atau buatan manusia. 

Jika cabangnya dibuat oleh manusia, ukuran dan kedalamannya akan sama. “Perlu dilakukan penelitian lebih dalam lagi,” lanjutnya kepada Jawa Pos Radar Kediri. 

Jika aliran bercabang itu diciptakan manusia, tujuannya adalah untuk membagi kebutuhan air di lahan pertanian. Selebihnya, bisa digunakan untuk mengalirkan air di patirtan. Karenanya, perlu ada penelitian lebih lanjut terkait keberadaan aliran sungai yang kini sudah mengering akibat kemarau. 

Keberadaan aliran air bercabang itu sekaligus menunjukkan material Gunung Klotok tidak hanya tanah merah. Melainkan juga bebatuan. Bagi Dwi, lapisan tanahnya sangat tipis. Sekarang batu-batu berukuran raksasa itu bisa banyak ditemukan di dalam hutan. 

Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Gunung Klotok Sudiro menambahkan, air yang mengalir ke arah patirtan saat ini berasal sumber. “Di sini (Gunung Klotok, Red) ada banyak sumber air,” jelasnya. 

Baca Juga :  Gerebek Kos di Bandar, Jaring 4 Pasangan Mesum 

Sebagian sumbernya hanya kecil. Meski demikian, sampai saat ini warga yang memiliki warung di kawasan Klotok masih memanfaatkan sumber tersebut untuk kebutuhan air minum dan mandi. Yang paling populer di kawasan Klotok adalah Sumber Mata Air Loh. 

Terpisah, Kasi Sejarah dan Kepurbakalaan Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Endah Setyowati menuturkan, penelitian kawasan Gunung Klotok belum mengupas secara khusus aliran sungai bercabang yang banyak ditemukan di sana. “Yang kami ketahui, sungai-sungai itu berasal dari aliran sumber-sumber air yang ada di Gunung Klotok. Semuanya alami,” bebernya. 

Terlepas dari keberadaan sungai-sungai itu, Endah menyebut, saat ini proses ekskavasi masih difokuskan pada penggalian candi. Beberapa bangunan yang belum tersingkap di antaranya halaman candi, talut hingga dugaan keberadaan patirtan. Semua akan diekskavasi secara bertahap oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur. (rq/ut/bersambung) 

 

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/