28.9 C
Kediri
Thursday, July 7, 2022

Diwisuda, Waranggana Boleh Terima Tanggapan

NGANJUK – Tari Salepok menutup prosesi gembyangan (wisuda) waranggana (pesinden) di Padepokan Langen Bekso Tayub Anjuk Ladang di Dusun Ngrajek, Desa Sambirejo, Kecamatan Tanjunganom, kemarin. Sebanyak 10 remaja dikukuhkan menjadi waranggana setelah belajar tari dan tarik suara selama enam bulan.

Dimulai sekitar pukul 08.00, prosesi gembyangan waranggana diawali dengan rangkaian ritual di sebuah punden Dusun Ngrajek. Lima remaja perempuan berpakaian adat jawa duduk bersimpuh di depan Kepala Desa (Kades) Sambirejo Wakijdan dan para sesepuh desa.

Ritual pertama, para calon waranggana menerima pincuk daun pisang. Setelah itu, kades mengisinya dengan air. Lima remaja itu kemudian meminumnya. Prosesi dilanjutkan dengan menyobek daun pohon waru. Terakhir, mereka menerima bunga kantil yang diletakkan di atas kepala.

Setelah itu, mereka kembali ke tempat duduknya. Dengan prosesi yang sama, lima remaja lain mendapat giliran berikutnya. Sebagai tanda pengukuhan, mereka menerima sampur (selendang) yang dikalungkan oleh Pj Bupati Nganjuk Sudjono

Baca Juga :  Saiful Anam Pastikan Mundur dari Bursa Pilkada

Prosesi kemudian dilanjutkan dengan menari berkeliling punden. Sebanyak 11 gending (lagu) Jawa mengiringi prosesi penutup gembyangan waranggana tayub di Ngrajek, kemarin. Mereka sah menjadi waranggana.

Juru Kunci Padepokan Langen Bekso Mijo mengatakan, setiap prosesi gembyangan memiliki makna yang mendalam. Misalnya, ketika para gadis calon waranggono menenggak air di pincuk. “Minum air untuk membersihkan diri,” kata pria 78 tahun ini.

Prosesi menyobek daun waru jadi simbol persaudaraan yang kokoh. Karena itu, setiap waranggana wajib menjaga kerukunan. Lalu, pemberian sampur menunjukkan mereka sudah sah menyandang gelar waranggono.

Adapun tarian dengan diiringi 11 gending merupakan keahlian yang harus mereka kuasai. “Di setiap tanggapan, ada 11 gending yang dikuasai dan harus dipentaskan,” urai pria asli Dusun Ngrajek ini.

Baca Juga :  Ekspedisi Kali Serinjing, Telusur Sejarah Terbentuknya Kediri (18)

Sementara itu, Kades Sambirejo Wakidjan mengatakan, 10 gadis sudah sah sebagai waranggana tayub. Para gadis yang diwisuda kemarin memang memiliki keterampilan menari dan menyanyi. Meski, sebagian masih duduk di SMP dan SMA/SMK. Ada pula yang tengah menempuh studi di perguruan tinggi. “Mereka berasal dari beberapa kecamatan di Nganjuk,” ujarnya.

Untuk menjadi waranggana, kata Wakijdan, tidak semudah membalikkan tangan. Selain belajar menari dan menyanyi selama enam bulan, mereka juga ikut beberapa tanggapan para seniornya. “Minimal 3 bulan dan maksimal 6 bulan belajarnya. Setelah itu bisa jadi waranggana,” lanjut Wakidjan.

Setelah sah menjadi waranggana, 10 gadis itu boleh menerima tanggapan. Termasuk saat desa menyelenggarakan nyadran atau bersih desa. “Ibaratnya, gembyangan ini seperti uji SIM (surat izin mengemudi). Mereka sekarang sudah punya SIM,” tutupnya.

- Advertisement -

NGANJUK – Tari Salepok menutup prosesi gembyangan (wisuda) waranggana (pesinden) di Padepokan Langen Bekso Tayub Anjuk Ladang di Dusun Ngrajek, Desa Sambirejo, Kecamatan Tanjunganom, kemarin. Sebanyak 10 remaja dikukuhkan menjadi waranggana setelah belajar tari dan tarik suara selama enam bulan.

Dimulai sekitar pukul 08.00, prosesi gembyangan waranggana diawali dengan rangkaian ritual di sebuah punden Dusun Ngrajek. Lima remaja perempuan berpakaian adat jawa duduk bersimpuh di depan Kepala Desa (Kades) Sambirejo Wakijdan dan para sesepuh desa.

Ritual pertama, para calon waranggana menerima pincuk daun pisang. Setelah itu, kades mengisinya dengan air. Lima remaja itu kemudian meminumnya. Prosesi dilanjutkan dengan menyobek daun pohon waru. Terakhir, mereka menerima bunga kantil yang diletakkan di atas kepala.

Setelah itu, mereka kembali ke tempat duduknya. Dengan prosesi yang sama, lima remaja lain mendapat giliran berikutnya. Sebagai tanda pengukuhan, mereka menerima sampur (selendang) yang dikalungkan oleh Pj Bupati Nganjuk Sudjono

Baca Juga :  Mobil dan Motor Terjual demi Ketopraknya Eksis

Prosesi kemudian dilanjutkan dengan menari berkeliling punden. Sebanyak 11 gending (lagu) Jawa mengiringi prosesi penutup gembyangan waranggana tayub di Ngrajek, kemarin. Mereka sah menjadi waranggana.

Juru Kunci Padepokan Langen Bekso Mijo mengatakan, setiap prosesi gembyangan memiliki makna yang mendalam. Misalnya, ketika para gadis calon waranggono menenggak air di pincuk. “Minum air untuk membersihkan diri,” kata pria 78 tahun ini.

Prosesi menyobek daun waru jadi simbol persaudaraan yang kokoh. Karena itu, setiap waranggana wajib menjaga kerukunan. Lalu, pemberian sampur menunjukkan mereka sudah sah menyandang gelar waranggono.

Adapun tarian dengan diiringi 11 gending merupakan keahlian yang harus mereka kuasai. “Di setiap tanggapan, ada 11 gending yang dikuasai dan harus dipentaskan,” urai pria asli Dusun Ngrajek ini.

Baca Juga :  Bongkar Peredaran SS di Perbatasan

Sementara itu, Kades Sambirejo Wakidjan mengatakan, 10 gadis sudah sah sebagai waranggana tayub. Para gadis yang diwisuda kemarin memang memiliki keterampilan menari dan menyanyi. Meski, sebagian masih duduk di SMP dan SMA/SMK. Ada pula yang tengah menempuh studi di perguruan tinggi. “Mereka berasal dari beberapa kecamatan di Nganjuk,” ujarnya.

Untuk menjadi waranggana, kata Wakijdan, tidak semudah membalikkan tangan. Selain belajar menari dan menyanyi selama enam bulan, mereka juga ikut beberapa tanggapan para seniornya. “Minimal 3 bulan dan maksimal 6 bulan belajarnya. Setelah itu bisa jadi waranggana,” lanjut Wakidjan.

Setelah sah menjadi waranggana, 10 gadis itu boleh menerima tanggapan. Termasuk saat desa menyelenggarakan nyadran atau bersih desa. “Ibaratnya, gembyangan ini seperti uji SIM (surat izin mengemudi). Mereka sekarang sudah punya SIM,” tutupnya.

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/