23.9 C
Kediri
Wednesday, July 6, 2022

Marketingnya Pegawai Pemerintah, Mulainya Harus Sekarang

Butuh persiapan matang mewujudkan Jalan Dhoho menjadi episentrum wisata dan budaya Kediri. Perlu marketer yang andal untuk memasarkan. Pemkot pun mempersiapkan ribuan ASN-nya.

 

Kepala Dinas Pariwisata Pemuda Olahraga dan Budaya (Diparporabud) Kota Kediri Zachrie Ahmad punya ide menarik. Yaitu bagaimana memasarkan Jalan Dhoho agar kian menarik minat wisatawan luar daerah. Zachrie menyiapkan aparatur sipil negara (ASN) pemkot menjadi marketer-nya.

Pertimbangan memanfaatkan potensi ASN itu, salah satunya, adalah soal jumlah. Pemkot memiliki pegawai yang jumlahnya mencapai ribuan. Potensi itu yang akan dimaksimalkan.

Apalagi, pemkot juga memiliki konsep untuk mengampanyekan wisata budaya di internal terlebih dulu. Targetnya tentu menjadikan ribuan ASN paham tentang seluk-beluk wisata budaya dengan Jalan Dhoho sebagai sentralnya. Setelah itu barulah mereka memublikasikan ke luar.

“Tugas mereka (ASN, Red) adalah membuat orang dari luar daerah penasaran datang ke Jalan Dhoho,” ucapnya.

Zahrie menganggap cara marketing ini akan efektif bila semua ASN Pemkot Kediri dilibatkan. Apalagi jumlah pegawai di Kota Kediri cukup banyak. Dari jumlah pegawai negeri sipil (PNS) saja, pada 2020 lalu, Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Kediri mendata ada 4.601 orang. Jika jumlah tersebut dimaksimalkan, Zachrie yakin, tidak susah untuk mempromosikan Jalan Dhoho sebagai lokasi wisata budaya.

Baca Juga :  Pandemi, Lomba Agustusan Sepi

Selain itu, upaya untuk mempromosikan Jalan Dhoho tak boleh telat. Harus dimulai dari sekarang. Agar Kota Kediri tidak kalah start dengan daerah lain. Apalagi dua tahun ke depan proyek bandara Kediri sudah kelar. Kehadiran bandara itu akan menjadikan arus masuk pendatang semakin kencang. Karena itulah, promosi sudah harus dilakukan sejak sekarang.

Soal daya tarik, Zachrie menyebut Jalan Dhoho memiliki magnet kuat. Keberadaan Jalan Dhoho membuat Kota Kediri menjadi kota yang tak pernah mati. Selalu hidup selama 24 jam. Inilah yang bisa menjadi daya pikat bagi warga luar daerah.

Penghobi olahraga bersepeda ini kemudian membeberkan aktivitas yang terjadi di Jalan Dhoho selama ini. Jalan ini di siang hari akan ramai oleh lalu-lalang orang berbelanja. Seratus lebih toko dan kios berjajar di jalan ini. Menjadi pemikat warga yang ingin membelanjakan uangnya.

Lalu, di kala toko-toko itu mulai menutup pintu pada pukul 21.00, tempat ini ganti dikuasai oleh para penjaja makanan kaki lima. Mulai dari penjual nasi pecel dan sambel tumpang, hingga nasi goreng khas Kediri. Para pedagang itu berjejer di emperan toko hingga dini hari.

Baca Juga :  Kisah Warga setelah Pindah ke Tanjung Baru

“Jadi orang dari luar daerah tidak perlu takut kelaparan. Jam berapapun pasti ada yang jual makanan,” terangnya.

Siklus hidup Jalan Dhoho tak berhenti ketika pedagang pecel dan nasi goreng ringkes-ringkes di dini hari kemudian pulang ke rumah masing-masing. Setelah itu, ‘penguasa’ jalanan kembali berganti. Kali ini adalah deretan pedagang makanan dan aneka jajanan yang bisa dinikmati di pagi hari hingga menjelang toko-toko buka pukul 09.00.

Dulu, menu sarapan yang mendominasi warung-warung dadakan di sepanjang trotoar. Yang dijajakan adalah nasi rawon, nasi campur, atau juga masih ada yang jual nasi pecel meskipun tidak banyak. Tapi, saat ini ragam penjual kian bertambah. Menu seperti bubur ayam, aneka mie, dan beragam nasi yang dikenal khas dari luar daerah mulai dijajakan. Hal itu membuat daya pikat Jalan Dhoho kian kuat bagi para pendatang.

Bagi Zachrie, tradisi warga yang berjualan itu tidak boleh dihilangkan. Keberadaan mereka sudah menjadi karakter bagi Jalan Dhoho. Kalaupun kelak kawasan itu akan dibangun, spot bagi para pedagang yang ada di Jalan Dhoho perlu mendapat tempat yang baik. Apalagi kelak ada rencana pelebaran pedestrian.(rq/fud/bersambung)

 

- Advertisement -

Butuh persiapan matang mewujudkan Jalan Dhoho menjadi episentrum wisata dan budaya Kediri. Perlu marketer yang andal untuk memasarkan. Pemkot pun mempersiapkan ribuan ASN-nya.

 

Kepala Dinas Pariwisata Pemuda Olahraga dan Budaya (Diparporabud) Kota Kediri Zachrie Ahmad punya ide menarik. Yaitu bagaimana memasarkan Jalan Dhoho agar kian menarik minat wisatawan luar daerah. Zachrie menyiapkan aparatur sipil negara (ASN) pemkot menjadi marketer-nya.

Pertimbangan memanfaatkan potensi ASN itu, salah satunya, adalah soal jumlah. Pemkot memiliki pegawai yang jumlahnya mencapai ribuan. Potensi itu yang akan dimaksimalkan.

Apalagi, pemkot juga memiliki konsep untuk mengampanyekan wisata budaya di internal terlebih dulu. Targetnya tentu menjadikan ribuan ASN paham tentang seluk-beluk wisata budaya dengan Jalan Dhoho sebagai sentralnya. Setelah itu barulah mereka memublikasikan ke luar.

“Tugas mereka (ASN, Red) adalah membuat orang dari luar daerah penasaran datang ke Jalan Dhoho,” ucapnya.

Zahrie menganggap cara marketing ini akan efektif bila semua ASN Pemkot Kediri dilibatkan. Apalagi jumlah pegawai di Kota Kediri cukup banyak. Dari jumlah pegawai negeri sipil (PNS) saja, pada 2020 lalu, Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Kediri mendata ada 4.601 orang. Jika jumlah tersebut dimaksimalkan, Zachrie yakin, tidak susah untuk mempromosikan Jalan Dhoho sebagai lokasi wisata budaya.

Baca Juga :  Ekspedisi Kali Serinjing, Telusur Sejarah Terbentuknya Kediri (23)

Selain itu, upaya untuk mempromosikan Jalan Dhoho tak boleh telat. Harus dimulai dari sekarang. Agar Kota Kediri tidak kalah start dengan daerah lain. Apalagi dua tahun ke depan proyek bandara Kediri sudah kelar. Kehadiran bandara itu akan menjadikan arus masuk pendatang semakin kencang. Karena itulah, promosi sudah harus dilakukan sejak sekarang.

Soal daya tarik, Zachrie menyebut Jalan Dhoho memiliki magnet kuat. Keberadaan Jalan Dhoho membuat Kota Kediri menjadi kota yang tak pernah mati. Selalu hidup selama 24 jam. Inilah yang bisa menjadi daya pikat bagi warga luar daerah.

Penghobi olahraga bersepeda ini kemudian membeberkan aktivitas yang terjadi di Jalan Dhoho selama ini. Jalan ini di siang hari akan ramai oleh lalu-lalang orang berbelanja. Seratus lebih toko dan kios berjajar di jalan ini. Menjadi pemikat warga yang ingin membelanjakan uangnya.

Lalu, di kala toko-toko itu mulai menutup pintu pada pukul 21.00, tempat ini ganti dikuasai oleh para penjaja makanan kaki lima. Mulai dari penjual nasi pecel dan sambel tumpang, hingga nasi goreng khas Kediri. Para pedagang itu berjejer di emperan toko hingga dini hari.

Baca Juga :  Polsek Mojoroto bersama Forkompincam Pastikan Stok Sembako Tercukupi

“Jadi orang dari luar daerah tidak perlu takut kelaparan. Jam berapapun pasti ada yang jual makanan,” terangnya.

Siklus hidup Jalan Dhoho tak berhenti ketika pedagang pecel dan nasi goreng ringkes-ringkes di dini hari kemudian pulang ke rumah masing-masing. Setelah itu, ‘penguasa’ jalanan kembali berganti. Kali ini adalah deretan pedagang makanan dan aneka jajanan yang bisa dinikmati di pagi hari hingga menjelang toko-toko buka pukul 09.00.

Dulu, menu sarapan yang mendominasi warung-warung dadakan di sepanjang trotoar. Yang dijajakan adalah nasi rawon, nasi campur, atau juga masih ada yang jual nasi pecel meskipun tidak banyak. Tapi, saat ini ragam penjual kian bertambah. Menu seperti bubur ayam, aneka mie, dan beragam nasi yang dikenal khas dari luar daerah mulai dijajakan. Hal itu membuat daya pikat Jalan Dhoho kian kuat bagi para pendatang.

Bagi Zachrie, tradisi warga yang berjualan itu tidak boleh dihilangkan. Keberadaan mereka sudah menjadi karakter bagi Jalan Dhoho. Kalaupun kelak kawasan itu akan dibangun, spot bagi para pedagang yang ada di Jalan Dhoho perlu mendapat tempat yang baik. Apalagi kelak ada rencana pelebaran pedestrian.(rq/fud/bersambung)

 

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/