25.6 C
Kediri
Friday, July 1, 2022

Dr Soetomo, Pahlawan Nganjuk Penggagas Organisasi Pertama di Indonesia

Jejak perjuangan Dr Soetomo terekam jelas di museum Dr Soetomo di Desa Ngepeh, Loceret. Kiprahnya di bidang pendidikan dan kesehatan terlihat dari sejumlah foto dan peralatan kedokteran yang tersimpan di sana. Selebihnya, masa kecil Soetomo di lereng gunung Wilis itu tak banyak diketahui orang.

Lahir dengan nama Soebroto, Soetomo diasuh R. Ng. Singawijaya atau KH Abdurakhman  di rumahnya di Desa Ngepeh, Loceret. “Soetomo kecil hanya tinggal di Nganjuk hingga umur tujuh tahun,” ujar Penasihat Pasak Kediri Raya Achmad Zainal Fachris.

Menginjak umur delapan tahun, Soetomo yang dikenal memiliki kecerdasan luar biasa itu pindah ke Pasuruan. Dia melanjutkan sekolah di Bangil dan tinggal bersama Ardjodipuro, sang paman. Dalam catatan yang dibaca pemerhati sejarah Kediri Raya itu, Soetomo kecil memang masih sering pulang ke Nganjuk untuk bertemu kakek dan neneknya.

Selebihnya, dia diketahui jarang bertemu dengan sang ayah  R. Soewadji yang merupakan wedana di Maospati, Magetan. Terbiasa mandiri sejak kecil, agaknya membentuk pribadi Soetomo menjadi pemuda yang tangguh.

Baca Juga :  Diduga Sakit Jantung, ASN Mati Mendadak

Pada umur 15 tahun, Soetomo masuk ke sekolah kedokteran School tot Opleiding van Indische Artsen (Stovia) Jakarta. Latar belakangnya sebagai anak pejabat dan kecerdasannya yang luar biasa membuat pemuda Ngepeh ini bisa diterima di sana. “Ada literatur yang menyebut Soetomo masuk sekolah di usia 20 tahun, tapi dari tahun lahirnya dia masuk sekolah di kisaran 13-15 tahun,” terang pria yang juga berprofesi sebagai guru ini. 

Tak hanya belajar tentang ilmu kedokteran. Di Stovia Soetomo bisa mengembangkan pemikirannya. Salah satunya yang mendorong dia menggagas organisasi pertama di Indonesia, Boedi Oetomo. Di usianya yang masih 20 tahun, Soetomo bersama Dr. Tjipto Mangunkusumo dan Douwes Dekker sudah berpikir jauh ke depan.

Dia bertekad memperjuangkan pendidikan rakyat. Meski lahir dari keluarga serbaberkecukupan, pendidikan masyarakat yang saat itu masih bisa dibilang tertinggal, menggugah nuraninya. “Dedikasi yang luar biasa di bidang pendidikan, dan kesehatan ini yang terkenal di karakter Dr. Soetomo,” terang Fachris.

Baca Juga :  Balar Jogja Teliti Fragmen dan Gerabah Kuno di Berbek

Perjuangan Soetomo sejak puluhan tahun silam kini tidak hanya terekam lewat sejumlah buku. Melainkan bisa dilihat langsung di museum Dr Soetomo yang berdiri di rumah masa kecilnya.

Suminem,77, salah satu kerabat Dr Soetomo mengungkapkan, meski masih terhitung kerabat pahlawan nasional itu, dia tidak tahu banyak cerita tentang sang dokter. Dia hanya mengetahui cerita dari Kustiyono, suaminya yang sudah meninggal dunia.

Semasa hidup Kustiyono memang bertugas menjaga museum. Dari koleksi-koleksi barang di sana, sering kali mengalir cerita kepahlawanan Dr Soetomo. Termasuk sifat kedermawanannya saat bertugas menjadi dokter di sejumlah daerah. “Hanya mendengar tentang Dr Soetomo dari suami saya,” tutur Suminem ditemui di rumahnya kemarin.

 

Dr Soetomo:

-Lahir 30 Juli 1888 di Desa Ngepeh, Loceret

-Diasuh kakek dan nenek hingga usia tujuh tahun

-Umur delapan tahun pindah ke Bangil, Pasuruan untuk melanjutkan sekolah

-Umur 15 tahun bersekolah di Stovia

-Menggagas Boedi Oetomo pada 1908 dan jadi pelecut semangat pemuda berjuang di bidang pendidikan

- Advertisement -

Jejak perjuangan Dr Soetomo terekam jelas di museum Dr Soetomo di Desa Ngepeh, Loceret. Kiprahnya di bidang pendidikan dan kesehatan terlihat dari sejumlah foto dan peralatan kedokteran yang tersimpan di sana. Selebihnya, masa kecil Soetomo di lereng gunung Wilis itu tak banyak diketahui orang.

Lahir dengan nama Soebroto, Soetomo diasuh R. Ng. Singawijaya atau KH Abdurakhman  di rumahnya di Desa Ngepeh, Loceret. “Soetomo kecil hanya tinggal di Nganjuk hingga umur tujuh tahun,” ujar Penasihat Pasak Kediri Raya Achmad Zainal Fachris.

Menginjak umur delapan tahun, Soetomo yang dikenal memiliki kecerdasan luar biasa itu pindah ke Pasuruan. Dia melanjutkan sekolah di Bangil dan tinggal bersama Ardjodipuro, sang paman. Dalam catatan yang dibaca pemerhati sejarah Kediri Raya itu, Soetomo kecil memang masih sering pulang ke Nganjuk untuk bertemu kakek dan neneknya.

Selebihnya, dia diketahui jarang bertemu dengan sang ayah  R. Soewadji yang merupakan wedana di Maospati, Magetan. Terbiasa mandiri sejak kecil, agaknya membentuk pribadi Soetomo menjadi pemuda yang tangguh.

Baca Juga :  Novi Rahman H, Bupati Nonaktif Nganjuk yang Divonis 7 Tahun Penjara

Pada umur 15 tahun, Soetomo masuk ke sekolah kedokteran School tot Opleiding van Indische Artsen (Stovia) Jakarta. Latar belakangnya sebagai anak pejabat dan kecerdasannya yang luar biasa membuat pemuda Ngepeh ini bisa diterima di sana. “Ada literatur yang menyebut Soetomo masuk sekolah di usia 20 tahun, tapi dari tahun lahirnya dia masuk sekolah di kisaran 13-15 tahun,” terang pria yang juga berprofesi sebagai guru ini. 

Tak hanya belajar tentang ilmu kedokteran. Di Stovia Soetomo bisa mengembangkan pemikirannya. Salah satunya yang mendorong dia menggagas organisasi pertama di Indonesia, Boedi Oetomo. Di usianya yang masih 20 tahun, Soetomo bersama Dr. Tjipto Mangunkusumo dan Douwes Dekker sudah berpikir jauh ke depan.

Dia bertekad memperjuangkan pendidikan rakyat. Meski lahir dari keluarga serbaberkecukupan, pendidikan masyarakat yang saat itu masih bisa dibilang tertinggal, menggugah nuraninya. “Dedikasi yang luar biasa di bidang pendidikan, dan kesehatan ini yang terkenal di karakter Dr. Soetomo,” terang Fachris.

Baca Juga :  Kikis Perilaku Korup dengan Perda Budaya Antikorupsi

Perjuangan Soetomo sejak puluhan tahun silam kini tidak hanya terekam lewat sejumlah buku. Melainkan bisa dilihat langsung di museum Dr Soetomo yang berdiri di rumah masa kecilnya.

Suminem,77, salah satu kerabat Dr Soetomo mengungkapkan, meski masih terhitung kerabat pahlawan nasional itu, dia tidak tahu banyak cerita tentang sang dokter. Dia hanya mengetahui cerita dari Kustiyono, suaminya yang sudah meninggal dunia.

Semasa hidup Kustiyono memang bertugas menjaga museum. Dari koleksi-koleksi barang di sana, sering kali mengalir cerita kepahlawanan Dr Soetomo. Termasuk sifat kedermawanannya saat bertugas menjadi dokter di sejumlah daerah. “Hanya mendengar tentang Dr Soetomo dari suami saya,” tutur Suminem ditemui di rumahnya kemarin.

 

Dr Soetomo:

-Lahir 30 Juli 1888 di Desa Ngepeh, Loceret

-Diasuh kakek dan nenek hingga usia tujuh tahun

-Umur delapan tahun pindah ke Bangil, Pasuruan untuk melanjutkan sekolah

-Umur 15 tahun bersekolah di Stovia

-Menggagas Boedi Oetomo pada 1908 dan jadi pelecut semangat pemuda berjuang di bidang pendidikan

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/