30.3 C
Kediri
Sunday, August 14, 2022

Cari Metode Ajar Sendiri dengan Bahasa Isyarat

- Advertisement -

Sebagai ketua DPD Gerkatin Jatim, Maskurun memiliki segudang aktivitas. Meski begitu, ia tetap meluangkan waktu mengajar anak-anak tunarungu mengaji. Tak mudah, namun penyandang difabel ini punya cara khusus.

 

YAYI FATEKA DP       

 

Di Jalan HOS Cokroaminoto, Kelurahan Singonegaran, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri terdapat toko pakaian muslim. Satu di antaranya terbilang kecil. Namun suasana di dalamnya sangat nyaman.

- Advertisement -

Panas jalanan, sekitar pukul 13.00 WIB Rabu kemarin (4/10), tak terasa sesaat setelah masuk toko. Bangunannya tertutup pintu yang terbuat dari kaca. Pakaian yang dijual terlihat dari luar.

Dinding toko dicat warna pink. Segala perabotan serta aksesoris ditata sedemikian rupa. Sehingga memunculkan kesan nyaman dan homie. Agak masuk ke dalam, ada meja yang kerap digunakan kerja kasir.

Di meja itu duduk perempuan berpakaian merah, matching dengan hijabnya yang juga merah. “Waalaikumsalam… silakan duduk,” sapa Maskurun sembari mempersilakan duduk di kursi plastik. Suaranya sedikit terbata dan kurang jelas. Ya, maskurun atau yang akrab disapa Yuyun ini penyandang tunarungu.

Dia adalah ketua organisasi penyandang tunarungu satu-satunya di Indonesia, Gerkatin, untuk provinsi Jawa Timur. Maskurun merupakan koordinator Gerkatin wilayah Jatim, Jawa Tengah, Jogjakarta, dan Bali. Ia kerap keluar kota untuk menghadiri acara-acara penting organisasi.

Selain aktif dalam organisasi, ibu dua anak ini juga memiliki toko baju serta Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Menjahit di Kediri. Di sela kesibukannya, Yuyun juga menyisihkan waktunya untuk mengisi kegiatan kerohanian. Baik mengikuti kajian di majelis hingga mengajar mengaji anak tunarungu.

“Ini lagi libur karena anak-anak pada ulangan, besok tiap Selasa kita ngaji lagi,” jelasnya.

Tak seperti guru ngaji biasa, mengajar anak-anak tunarungu tentu akan kesulitan jika diajar guru normal. Makanya, Yuyun meramu metode sendiri untuk mengenalkan huruf-huruf Arab pada anak didiknya. “Pakai Bisindo (Bahasa Isyarat Indonesia),” ujar ibu 44 tahun ini.

Baca Juga :  Jatuhkan Pak Rokok Isi Sabu, Warga asal Sungaibalai Dibekuk Polisi

Secara senderhana, metode ini dapat digambarkan dengan membahasa Indonesiakan huruf Arab yang kemudian diisyaratkan dengan gerakan tangan yang lebih mudah dipahami. “Sebenarnya ada sendiri metode dari Arab, bahasa isyaratnya huruf Arab, tapi metode ini sulit dipahami anak-anak,” paparnya. Misalnya huruf ‘ba’ maka gerakan tangan akan membentuk huruf B dan A (alif).

Yuyun mulai mengajar sekitar Januari 2017 lalu. Itu berawal dari seorang wali murid yang mengetahui dirinya kerap mengaji. “Saya sering ikut arisan ibu-ibu yang anaknya sekolah di SDN Burengan, walaupun anaknya sudah pada lulus, kami ibu-ibunya sering kumpul,” jelas lulusan Arva School of Fashion Surabaya ini.

Selain arisan, para ibu juga mengaji bersama. Salah satu wali murid yang tahu kalau Yuyun tunarungu, akhirnya meminta agar mengajari anaknya yang juga tunarungu mengaji. “Mbok ya anak saya diajarin,” ucap Yuyun menirukan wali murid itu. Wali murid ini juga berkata, anaknya kesulitan menerima ajaran ngaji guru biasa.

Yuyun pun mencobanya. Niatnya ingin membantu anak-anak mengaji. Ia kemudian merumuskan metode paling mudah supaya bisa diterima anak seusia kelas 3 hingga 5 SD. Awalnya hanya mengajar dua anak. Namun seiring berjalannya waktu, ternyata peminat sangat banyak.

“Wah itu anak-anak semangat sekali diajarin, walau saya sedang sibuk kadang mereka merengek-rengek minta ngaji,” ujarnya lantas tertawa.

Yuyun biasanya mengajar anak-anak sepulang sekolah. Ada 15 anak yang belajar. Mereka dari SLB berbeda di Kediri. Tak hanya mengajar huruf Arab, ia juga menyisipkan kajian-kajian membangun moral untuk anak.

Baca Juga :  Merawat Kerukunan Umat dalam Keberagaman di Desa Wonoasri, Grogol (3)

“Kadang ada yang tanya, kenapa sih saya harus tuli? Kenapa saya lahir tuli?” terang Yuyun menirukan pertanyaan polos sang anak. Ia memberikan jawaban bahwa di balik kekurangan, Allah memberikan kelebihan. “Tuli adalah anugerah karena Allah sayang kita,” tuturnya.

Hal ini pula lah yang menjadi semangatnya menjalani hidup. Yuyun terlahir normal dan dapat mendengar. Namun kemudian ada musibah yang mengharuskannya kehilangan indera pendengarannya.

Waaktu itu, di usia tiga tahun Yuyun berlari-lari di depan rumah dan terjatuh di lubang berisi gamping mendidih. Karena hal inilah kaki kanannya melepuh dan langsung dilarikan ke RS Bhayangkara. Luka bakar di kakinya begitu parah hingga mengharuskannya menginap selama tiga bulan. “Karena terus menekuk (kaki), kaki saya nggak bisa diluruskan, akhirnya saya berjalan ngesot,” kenangnya.

Melihat kondisi itu, ibu Yuyun tak tega. Dia lalu membawa Yuyun kecil ke RSUD Dr Soetomo, Surabaya. Sampai saat itu pendengarannya masih bagus. Hingga dokter mengatakan, jika Yuyun ingin berjalan maka ia harus memilih ingin buta atau tuli. “Kalau buta ibu saya kasihan, nggak bisa lihat dan takut merepotkan orang lain, ngesot juga bisa merepotkan orang lain,” urainya.

Sang ibu kemudian memilih mengambil saraf pendengaran untuk dilepas demi meluruskan kaki kanan Yuyun dan bisa jalan kembali. “Yah mungkin ini jalan hidup saya, saya memang diharuskan begini, dengan begitu hidup saya lebih bermanfaat,” ujarnya.

Ketika ditanya harapannya tentang kaum difabel, Yuyun mengatakan, warga seharusnya tak memandang sebelah mata. “Kami tunarungu punya hak yang sama dengan warga lain,” pungkasnya.

- Advertisement -

Sebagai ketua DPD Gerkatin Jatim, Maskurun memiliki segudang aktivitas. Meski begitu, ia tetap meluangkan waktu mengajar anak-anak tunarungu mengaji. Tak mudah, namun penyandang difabel ini punya cara khusus.

 

YAYI FATEKA DP       

 

Di Jalan HOS Cokroaminoto, Kelurahan Singonegaran, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri terdapat toko pakaian muslim. Satu di antaranya terbilang kecil. Namun suasana di dalamnya sangat nyaman.

Panas jalanan, sekitar pukul 13.00 WIB Rabu kemarin (4/10), tak terasa sesaat setelah masuk toko. Bangunannya tertutup pintu yang terbuat dari kaca. Pakaian yang dijual terlihat dari luar.

Dinding toko dicat warna pink. Segala perabotan serta aksesoris ditata sedemikian rupa. Sehingga memunculkan kesan nyaman dan homie. Agak masuk ke dalam, ada meja yang kerap digunakan kerja kasir.

Di meja itu duduk perempuan berpakaian merah, matching dengan hijabnya yang juga merah. “Waalaikumsalam… silakan duduk,” sapa Maskurun sembari mempersilakan duduk di kursi plastik. Suaranya sedikit terbata dan kurang jelas. Ya, maskurun atau yang akrab disapa Yuyun ini penyandang tunarungu.

Dia adalah ketua organisasi penyandang tunarungu satu-satunya di Indonesia, Gerkatin, untuk provinsi Jawa Timur. Maskurun merupakan koordinator Gerkatin wilayah Jatim, Jawa Tengah, Jogjakarta, dan Bali. Ia kerap keluar kota untuk menghadiri acara-acara penting organisasi.

Selain aktif dalam organisasi, ibu dua anak ini juga memiliki toko baju serta Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Menjahit di Kediri. Di sela kesibukannya, Yuyun juga menyisihkan waktunya untuk mengisi kegiatan kerohanian. Baik mengikuti kajian di majelis hingga mengajar mengaji anak tunarungu.

“Ini lagi libur karena anak-anak pada ulangan, besok tiap Selasa kita ngaji lagi,” jelasnya.

Tak seperti guru ngaji biasa, mengajar anak-anak tunarungu tentu akan kesulitan jika diajar guru normal. Makanya, Yuyun meramu metode sendiri untuk mengenalkan huruf-huruf Arab pada anak didiknya. “Pakai Bisindo (Bahasa Isyarat Indonesia),” ujar ibu 44 tahun ini.

Baca Juga :  Ekspedisi Kali Serinjing, Telusur Sejarah Terbentuknya Kediri (24)

Secara senderhana, metode ini dapat digambarkan dengan membahasa Indonesiakan huruf Arab yang kemudian diisyaratkan dengan gerakan tangan yang lebih mudah dipahami. “Sebenarnya ada sendiri metode dari Arab, bahasa isyaratnya huruf Arab, tapi metode ini sulit dipahami anak-anak,” paparnya. Misalnya huruf ‘ba’ maka gerakan tangan akan membentuk huruf B dan A (alif).

Yuyun mulai mengajar sekitar Januari 2017 lalu. Itu berawal dari seorang wali murid yang mengetahui dirinya kerap mengaji. “Saya sering ikut arisan ibu-ibu yang anaknya sekolah di SDN Burengan, walaupun anaknya sudah pada lulus, kami ibu-ibunya sering kumpul,” jelas lulusan Arva School of Fashion Surabaya ini.

Selain arisan, para ibu juga mengaji bersama. Salah satu wali murid yang tahu kalau Yuyun tunarungu, akhirnya meminta agar mengajari anaknya yang juga tunarungu mengaji. “Mbok ya anak saya diajarin,” ucap Yuyun menirukan wali murid itu. Wali murid ini juga berkata, anaknya kesulitan menerima ajaran ngaji guru biasa.

Yuyun pun mencobanya. Niatnya ingin membantu anak-anak mengaji. Ia kemudian merumuskan metode paling mudah supaya bisa diterima anak seusia kelas 3 hingga 5 SD. Awalnya hanya mengajar dua anak. Namun seiring berjalannya waktu, ternyata peminat sangat banyak.

“Wah itu anak-anak semangat sekali diajarin, walau saya sedang sibuk kadang mereka merengek-rengek minta ngaji,” ujarnya lantas tertawa.

Yuyun biasanya mengajar anak-anak sepulang sekolah. Ada 15 anak yang belajar. Mereka dari SLB berbeda di Kediri. Tak hanya mengajar huruf Arab, ia juga menyisipkan kajian-kajian membangun moral untuk anak.

Baca Juga :  Tak Segan Berburu Uang Koin Langka

“Kadang ada yang tanya, kenapa sih saya harus tuli? Kenapa saya lahir tuli?” terang Yuyun menirukan pertanyaan polos sang anak. Ia memberikan jawaban bahwa di balik kekurangan, Allah memberikan kelebihan. “Tuli adalah anugerah karena Allah sayang kita,” tuturnya.

Hal ini pula lah yang menjadi semangatnya menjalani hidup. Yuyun terlahir normal dan dapat mendengar. Namun kemudian ada musibah yang mengharuskannya kehilangan indera pendengarannya.

Waaktu itu, di usia tiga tahun Yuyun berlari-lari di depan rumah dan terjatuh di lubang berisi gamping mendidih. Karena hal inilah kaki kanannya melepuh dan langsung dilarikan ke RS Bhayangkara. Luka bakar di kakinya begitu parah hingga mengharuskannya menginap selama tiga bulan. “Karena terus menekuk (kaki), kaki saya nggak bisa diluruskan, akhirnya saya berjalan ngesot,” kenangnya.

Melihat kondisi itu, ibu Yuyun tak tega. Dia lalu membawa Yuyun kecil ke RSUD Dr Soetomo, Surabaya. Sampai saat itu pendengarannya masih bagus. Hingga dokter mengatakan, jika Yuyun ingin berjalan maka ia harus memilih ingin buta atau tuli. “Kalau buta ibu saya kasihan, nggak bisa lihat dan takut merepotkan orang lain, ngesot juga bisa merepotkan orang lain,” urainya.

Sang ibu kemudian memilih mengambil saraf pendengaran untuk dilepas demi meluruskan kaki kanan Yuyun dan bisa jalan kembali. “Yah mungkin ini jalan hidup saya, saya memang diharuskan begini, dengan begitu hidup saya lebih bermanfaat,” ujarnya.

Ketika ditanya harapannya tentang kaum difabel, Yuyun mengatakan, warga seharusnya tak memandang sebelah mata. “Kami tunarungu punya hak yang sama dengan warga lain,” pungkasnya.

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/