29.8 C
Kediri
Friday, July 1, 2022

Komunitas Mural Kota Kediri Rekam Pagebluk lewat Lukisan

Wabah korona membuat perekonomian terpuruk. Kasus yang melonjak membuat oksigen di pasaran mendadak langka. Berbagai fenomena terkait Covid-19 itu direkam lewat lukisan oleh Komunitas Mural Kota Kediri.

 

REKIAN, Kota, JP Radar Kediri

 

Tembok putih yang mulai kusam di Jl Pemuda, Kota Kediri kemarin sore berganti wajah. Adalah sekelompok anak muda dari Komunitas Mural Kota Kediri yang memermaknya.

          Sekitar pukul 10.00 kemarin, sekelompok anak muda mulai sibuk menuangkan ide mereka di dinding. Memakai cat pilox dan cat tembok, mereka menggambar berbagai tema terkait Covid-19. Mulai bocah berseragam sekolah yang memakai masker. Di dekatnya ada seorang lelaki berkumis dan berwajah lusuh.

          Yang paling mencolok adalah keberadaan Kala atau kepala raksasa yang dikerubuti virus korona berwarna hijau. Selanjutnya, di ujung tembok ada dia gambar bertingkat. Yaitu, naga dan tulang tengkorak.

Semuanya merupakan cerita tentang pegebluk Covid-19. Butuh waktu sekitar lima jam untuk menyelesaikan lukisan di tembok sepanjang sekitar 14 meter itu. “Satu gambar bisa digarap dua orang,” ujar Dandy Ardy Saputra mengawali perbincangan.

          Pria berusia 31 tahun itu menggambar Kala bersama Dodoth Widodo Putra. Mereka menyelesaikan lukisannya pukul 15.00. Kelompok ini mematok waktu selama lima jam untuk menuntaskan “proyek” mereka.

          Bukan sekadar melukis atau menuangkan ide di kepala. Melainkan harus ada pesan yang bisa disampaikan ke masyarakat. Harus mudah dimengerti. Dari beberapa kali diskusi, Dandy memilih melukis Kala. Lengkap dengan matanya yang melotot dan menyeramkan.

Baca Juga :  Isolasi Selesai, 38 Pasien Sembuh

          Kala, sang raksasa, terlihat mencengkeram tabung bertulis O2 (oksigen) dan dana bantuan sosial (bansos). Di lidahnya yang terjulur panjang itu tertulis kata Hoaks.

          Lewat lukisan yang didominasi warna merah jambu itu, Dandy dan Dodoth ingin menggambarkan situasi pada masa pandemi seperti sekarang. Dalam kondisi masyarakat yang sengsara, ternyata masih ada manusia yang memanfaatkannya untuk mencari keuntungan pribadi.

Korupsi dana bantuan sosial (bansos) untuk warga yang terdampak akibat pandemi adalah contoh tindakan yang tidak terpuji. Masyarakat sedang kesusahan tapi bantuannya tidak disalurkan sepenuhnya.  

          “Penerapan PPKM (Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat, Red) membuat ekonomi masyarakat terpuruk. Gambar ini mewakili jeritan mereka,” tutur pria asal Kelurahan Dandangan, Kota Kediri tersebut.

          Bukan hanya itu, stok tabung gas oksigen yang langka juga menjadi sorotan bapak satu anak tersebut. Demikian juga pemalsuan tabung gas dan penimbunan yang bertujuan untuk mencari keuntungan yang belakangan marak.

          Dandy prihatin melihat perjuangan banyak pasien Covid-19 untuk sembuh, dan tantangan serta kesulitan yang harus mereka hadapi. Lukisanlah yang jadi media Dandy dan teman-temannya untuk menyuarakan.

Keberadaan kabar hoaks tentang korona yang membuat gaduh juga tak luput dari pengamatan komunitas ini. “Kami ingin ada kabar menggembirakan,” beber pria yang kerap disapa Dandy Thyrek ini.

Baca Juga :  Melihat RW 4 Kelurahan Kampungdalem yang Bebas Asap Rokok

Orang-orang yang memproduksi hoaks untuk menciptakan kegaduhan itu menurutnya merupakan ciri-ciri orang yang tidak bertanggungjawab. Meski tidak mendapat keuntungan materi, mereka suka jika terjadi kekacauan. Sebaliknya, tidak suka kedamaian dan keindahan.

          Di gambar lain diceritakan pula upaya yang dilakukan masyarakat untuk tetap bertahan di masa pandemi. Misalnya, ada gambar anak sekolah yang memakai masker. PPKM level 4 ini memaksa anak-anak sekolah tidak bisa bertemu dengan teman dan guru-gurunya. Pembelajaran jarak jauh yang menggunakan internet membuat mereka juga bisa menjadi korban hoaks.

          Dwiki, 31, yang sejak awal menyimak pembicaraan menambahkan, dalam situasi terjepit seperti sekarang, banyak masyarakat yang berusaha bangkit melanjutkan kehidupannya. Karena itu, pria asal Kelurahan Singonegaran, Pesantren itu memilih menggambar seekor naga yang sedang tercekik dengan mulut menganga.

          Lukisannya juga diberi tanda kehidupan berupa cahaya. Di bawahnya ada tulang tengkorak yang merupakan simbol kematian. “Mereka yang tidak kuat melawan himpitan pagebluk ini akan menjadi korban keganasan korona,” tuturnya tentang arti lukisannya.

          Tak sekadar berekspresi lewat gambar, Dwiki berharap suara tentang kegelisahan masyarakat bisa terus menggema. Didengarkan oleh para pembuat kebijakan. Sehingga, beban masyarakat bisa lebih ringan. (ut)

         

 

 

- Advertisement -

Wabah korona membuat perekonomian terpuruk. Kasus yang melonjak membuat oksigen di pasaran mendadak langka. Berbagai fenomena terkait Covid-19 itu direkam lewat lukisan oleh Komunitas Mural Kota Kediri.

 

REKIAN, Kota, JP Radar Kediri

 

Tembok putih yang mulai kusam di Jl Pemuda, Kota Kediri kemarin sore berganti wajah. Adalah sekelompok anak muda dari Komunitas Mural Kota Kediri yang memermaknya.

          Sekitar pukul 10.00 kemarin, sekelompok anak muda mulai sibuk menuangkan ide mereka di dinding. Memakai cat pilox dan cat tembok, mereka menggambar berbagai tema terkait Covid-19. Mulai bocah berseragam sekolah yang memakai masker. Di dekatnya ada seorang lelaki berkumis dan berwajah lusuh.

          Yang paling mencolok adalah keberadaan Kala atau kepala raksasa yang dikerubuti virus korona berwarna hijau. Selanjutnya, di ujung tembok ada dia gambar bertingkat. Yaitu, naga dan tulang tengkorak.

Semuanya merupakan cerita tentang pegebluk Covid-19. Butuh waktu sekitar lima jam untuk menyelesaikan lukisan di tembok sepanjang sekitar 14 meter itu. “Satu gambar bisa digarap dua orang,” ujar Dandy Ardy Saputra mengawali perbincangan.

          Pria berusia 31 tahun itu menggambar Kala bersama Dodoth Widodo Putra. Mereka menyelesaikan lukisannya pukul 15.00. Kelompok ini mematok waktu selama lima jam untuk menuntaskan “proyek” mereka.

          Bukan sekadar melukis atau menuangkan ide di kepala. Melainkan harus ada pesan yang bisa disampaikan ke masyarakat. Harus mudah dimengerti. Dari beberapa kali diskusi, Dandy memilih melukis Kala. Lengkap dengan matanya yang melotot dan menyeramkan.

Baca Juga :  Mundur dari PNS, Taufiqurrahman Sukses Berbisnis Ikan Koi

          Kala, sang raksasa, terlihat mencengkeram tabung bertulis O2 (oksigen) dan dana bantuan sosial (bansos). Di lidahnya yang terjulur panjang itu tertulis kata Hoaks.

          Lewat lukisan yang didominasi warna merah jambu itu, Dandy dan Dodoth ingin menggambarkan situasi pada masa pandemi seperti sekarang. Dalam kondisi masyarakat yang sengsara, ternyata masih ada manusia yang memanfaatkannya untuk mencari keuntungan pribadi.

Korupsi dana bantuan sosial (bansos) untuk warga yang terdampak akibat pandemi adalah contoh tindakan yang tidak terpuji. Masyarakat sedang kesusahan tapi bantuannya tidak disalurkan sepenuhnya.  

          “Penerapan PPKM (Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat, Red) membuat ekonomi masyarakat terpuruk. Gambar ini mewakili jeritan mereka,” tutur pria asal Kelurahan Dandangan, Kota Kediri tersebut.

          Bukan hanya itu, stok tabung gas oksigen yang langka juga menjadi sorotan bapak satu anak tersebut. Demikian juga pemalsuan tabung gas dan penimbunan yang bertujuan untuk mencari keuntungan yang belakangan marak.

          Dandy prihatin melihat perjuangan banyak pasien Covid-19 untuk sembuh, dan tantangan serta kesulitan yang harus mereka hadapi. Lukisanlah yang jadi media Dandy dan teman-temannya untuk menyuarakan.

Keberadaan kabar hoaks tentang korona yang membuat gaduh juga tak luput dari pengamatan komunitas ini. “Kami ingin ada kabar menggembirakan,” beber pria yang kerap disapa Dandy Thyrek ini.

Baca Juga :  Perketat Prosedur KB untuk Cegah Korona

Orang-orang yang memproduksi hoaks untuk menciptakan kegaduhan itu menurutnya merupakan ciri-ciri orang yang tidak bertanggungjawab. Meski tidak mendapat keuntungan materi, mereka suka jika terjadi kekacauan. Sebaliknya, tidak suka kedamaian dan keindahan.

          Di gambar lain diceritakan pula upaya yang dilakukan masyarakat untuk tetap bertahan di masa pandemi. Misalnya, ada gambar anak sekolah yang memakai masker. PPKM level 4 ini memaksa anak-anak sekolah tidak bisa bertemu dengan teman dan guru-gurunya. Pembelajaran jarak jauh yang menggunakan internet membuat mereka juga bisa menjadi korban hoaks.

          Dwiki, 31, yang sejak awal menyimak pembicaraan menambahkan, dalam situasi terjepit seperti sekarang, banyak masyarakat yang berusaha bangkit melanjutkan kehidupannya. Karena itu, pria asal Kelurahan Singonegaran, Pesantren itu memilih menggambar seekor naga yang sedang tercekik dengan mulut menganga.

          Lukisannya juga diberi tanda kehidupan berupa cahaya. Di bawahnya ada tulang tengkorak yang merupakan simbol kematian. “Mereka yang tidak kuat melawan himpitan pagebluk ini akan menjadi korban keganasan korona,” tuturnya tentang arti lukisannya.

          Tak sekadar berekspresi lewat gambar, Dwiki berharap suara tentang kegelisahan masyarakat bisa terus menggema. Didengarkan oleh para pembuat kebijakan. Sehingga, beban masyarakat bisa lebih ringan. (ut)

         

 

 

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/