24.4 C
Kediri
Tuesday, June 28, 2022

Idham Chalik, Seniman Paper Quilling asal Kediri

Bergelut pada dunia seni membuat Idham Chalik harus total. Termasuk dalam seni paper quilling. Totalitas itu yang membuat dia mampu menuangkan semua ide melalui lekukan-lekukan kertas. Mewujudkannya menjadi gambar utuh yang bermakna.

 

RAMONA TIARA VALENTIN

 

Seorang pria terlihat memegang sketsa wajah berwarna-warni. Mata dari sketsa wajah itu hanya satu. Mata kanannya berganti dengan lingkaran besar berbentuk mesin jam.

“Itu gambar wajah Panji. Mesin jam yang menggantikan mata kanan itu itu melambangkan mesin waktu,” jelas Adham, panggilan akrab pria bernama lengkap Idham Chalik tersebut.

Adham mengatakan alasan mengganti mata di lukisan itu dengan mesin jam. Sebab, setiap masa memilik Panji versinya sendiri. “Panji berkembang sesuai masanya. Dulu dan sekarang berbeda,” urainya panjang lebar saat ditemui di rumahnya, di Jalan Gadungan, Desa Tawang Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri.

Namun, bukan soal Panji itu yang membuat lukisan tersebut terlihat berbeda. Bahan pembuat lukisan bukanlah cat. Tapi berupa gulungan-gulungan kertas. Kerumitan jelas sekali terlihat di setiap karya Adham. Tak hanya lukisan Panji itu saja. Untuk membuat bunga pun, tak ada lekukan sederhana. Semuanya sangat detil dan penuh warna.  

Berawal dari kemampuan melukis sejak SMA, Adham memanfaatkan hal itu untuk menghasilkan karya seni paper quilling. Ya, paper quilling.  Seni yang dia tekuni saat ini. Gambar topeng panji itu salah satunya.

Baca Juga :  Dari Korek Bekas, Edi Santoso Buat Robot Gundam Hingga Transformers

Paper quiling adalah seni menggulung kertas dengan pola tertentu. Menjadikannya bentuk seusai harapan pembuatnya. Adham mulai mempelajari seni ini sejak 2014. Hanya seminggu belajar dari internet, dia sudah langsung membuat secara mandiri.

“Awalnya saya bikin bentuk bunga-bunga dengan memanfaatkan kertas gambar,” terangnya.

Adham mengakui seni ini hanya menggunakan teknik menempel kertas sesuai dengan lekuk-lekuk pola yang sudah digambar. Setelah ide muncul, Adham membuat sketsa di kertas yang akan jadi tempat dia menempel gulungan itu. Sedangkan kertas yang dia gulung biasanya jenis buffalo atau kertas Jakarta. “Pinggiran (kertas) harus sewarna. Bukan yang warna putih,” ucapnya sambil menunjukan kertas kertas yang ia gunakan membuat paper quilling.

Butuh keuletan dan ketelatenan dalam berkarya paper quilling. Waktunya pun tak singkat. Satu lukisan bisa memakan waktu satu sampai satu setengah bulan. Bergantung dari kerumitan sketsa yang dia buat.

Proses menempelnya juga tak bisa cepat. Dia juga butuh lem kayu agar kertas yang ditempel jadi keras dan kaku. “Menempelnya juga menggunakan pinset. Setelah itu merapikan dengan tangan,” terang alumnus SMAN 1 Kota Kediri ini.

Mengapa menggeluti seni yang rumit seperti itu? “Seni itu tanpa batas. Dan seorang seniman harus gila agar totalitas. Tanpa totalitas tidak ada karya,” jawabnya sambil tersenyum.

Baca Juga :  Menekuni Hobi dan Melakukan Me Time

Adham mengaku detail karyanya akan berkembang dengan sendirinya ketika mulai menempel. Tak jarang hasil akhir tak sama dengan sketsa yang dia buat. Dan, walau mampu menghasilkan banyak karya, Adham mengaku sulit menerapkan konsistensi saat berkarya. Antara sketsa dan hasil akhir sering berubah.

Ketika sudah ditempel pingin mengubahnya. Nah, jadinya harus bisa mengakali,” terang pria kelahiran 1971 ini.

 Karena yang sudah terlanjur ditempel, Adham memang tak bisa menghapus begitu saja. Ia harus bisa menyesuaikan untuk meneruskan satu karya paper quilling-nya.

Menurutnya, seni ini masih jarang yang menggeluti. Terutama di Kediri.

“Saya bertemu dengan rekan yang sama-sama bikin Paper Quilling saat pameran seni rupa di Jogja. Dan mereka bukan orang Kediri,” papar laki-laki yang pernah tinggal di Arab Saudi ini.

Karya lekukan kertas nya sudah diminati orang. Termasuk turis Malaysia. Selama ini, Adham memang giat menggunakan media sosial untuk mempublikasikan karyanya. Dia juga aktif ikut pameran. Mulai yang berskal lokal hingga nasional. Namun, peminatnya memang kebanyakan warga asing. “Karena dari harga, banyak orang lokal yang menganggapnya mahal. Jadi mau beli pikir-pikir,” akunya.

Memang, karya Adham penuh kerumitan. Namun indah. Tak salah bila harganya jutaan rupiah.

- Advertisement -

Bergelut pada dunia seni membuat Idham Chalik harus total. Termasuk dalam seni paper quilling. Totalitas itu yang membuat dia mampu menuangkan semua ide melalui lekukan-lekukan kertas. Mewujudkannya menjadi gambar utuh yang bermakna.

 

RAMONA TIARA VALENTIN

 

Seorang pria terlihat memegang sketsa wajah berwarna-warni. Mata dari sketsa wajah itu hanya satu. Mata kanannya berganti dengan lingkaran besar berbentuk mesin jam.

“Itu gambar wajah Panji. Mesin jam yang menggantikan mata kanan itu itu melambangkan mesin waktu,” jelas Adham, panggilan akrab pria bernama lengkap Idham Chalik tersebut.

Adham mengatakan alasan mengganti mata di lukisan itu dengan mesin jam. Sebab, setiap masa memilik Panji versinya sendiri. “Panji berkembang sesuai masanya. Dulu dan sekarang berbeda,” urainya panjang lebar saat ditemui di rumahnya, di Jalan Gadungan, Desa Tawang Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri.

Namun, bukan soal Panji itu yang membuat lukisan tersebut terlihat berbeda. Bahan pembuat lukisan bukanlah cat. Tapi berupa gulungan-gulungan kertas. Kerumitan jelas sekali terlihat di setiap karya Adham. Tak hanya lukisan Panji itu saja. Untuk membuat bunga pun, tak ada lekukan sederhana. Semuanya sangat detil dan penuh warna.  

Berawal dari kemampuan melukis sejak SMA, Adham memanfaatkan hal itu untuk menghasilkan karya seni paper quilling. Ya, paper quilling.  Seni yang dia tekuni saat ini. Gambar topeng panji itu salah satunya.

Baca Juga :  Mug Custom untuk Suvenir

Paper quiling adalah seni menggulung kertas dengan pola tertentu. Menjadikannya bentuk seusai harapan pembuatnya. Adham mulai mempelajari seni ini sejak 2014. Hanya seminggu belajar dari internet, dia sudah langsung membuat secara mandiri.

“Awalnya saya bikin bentuk bunga-bunga dengan memanfaatkan kertas gambar,” terangnya.

Adham mengakui seni ini hanya menggunakan teknik menempel kertas sesuai dengan lekuk-lekuk pola yang sudah digambar. Setelah ide muncul, Adham membuat sketsa di kertas yang akan jadi tempat dia menempel gulungan itu. Sedangkan kertas yang dia gulung biasanya jenis buffalo atau kertas Jakarta. “Pinggiran (kertas) harus sewarna. Bukan yang warna putih,” ucapnya sambil menunjukan kertas kertas yang ia gunakan membuat paper quilling.

Butuh keuletan dan ketelatenan dalam berkarya paper quilling. Waktunya pun tak singkat. Satu lukisan bisa memakan waktu satu sampai satu setengah bulan. Bergantung dari kerumitan sketsa yang dia buat.

Proses menempelnya juga tak bisa cepat. Dia juga butuh lem kayu agar kertas yang ditempel jadi keras dan kaku. “Menempelnya juga menggunakan pinset. Setelah itu merapikan dengan tangan,” terang alumnus SMAN 1 Kota Kediri ini.

Mengapa menggeluti seni yang rumit seperti itu? “Seni itu tanpa batas. Dan seorang seniman harus gila agar totalitas. Tanpa totalitas tidak ada karya,” jawabnya sambil tersenyum.

Baca Juga :  Ratusan Napi Tak Masuk DPT

Adham mengaku detail karyanya akan berkembang dengan sendirinya ketika mulai menempel. Tak jarang hasil akhir tak sama dengan sketsa yang dia buat. Dan, walau mampu menghasilkan banyak karya, Adham mengaku sulit menerapkan konsistensi saat berkarya. Antara sketsa dan hasil akhir sering berubah.

Ketika sudah ditempel pingin mengubahnya. Nah, jadinya harus bisa mengakali,” terang pria kelahiran 1971 ini.

 Karena yang sudah terlanjur ditempel, Adham memang tak bisa menghapus begitu saja. Ia harus bisa menyesuaikan untuk meneruskan satu karya paper quilling-nya.

Menurutnya, seni ini masih jarang yang menggeluti. Terutama di Kediri.

“Saya bertemu dengan rekan yang sama-sama bikin Paper Quilling saat pameran seni rupa di Jogja. Dan mereka bukan orang Kediri,” papar laki-laki yang pernah tinggal di Arab Saudi ini.

Karya lekukan kertas nya sudah diminati orang. Termasuk turis Malaysia. Selama ini, Adham memang giat menggunakan media sosial untuk mempublikasikan karyanya. Dia juga aktif ikut pameran. Mulai yang berskal lokal hingga nasional. Namun, peminatnya memang kebanyakan warga asing. “Karena dari harga, banyak orang lokal yang menganggapnya mahal. Jadi mau beli pikir-pikir,” akunya.

Memang, karya Adham penuh kerumitan. Namun indah. Tak salah bila harganya jutaan rupiah.

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/