28.3 C
Kediri
Wednesday, July 6, 2022

Tanpa Ogoh-Ogoh, Lantunan Baleganjur Warnai Rangkaian Ritual Nyepi

Perayaan Nyepi tak bisa dipisahkan dengan baleganjur. Ensamble gamelan khas Bali ini mewarnai rangkaian upacara menjelang Nyepi. Mengiringi prosesi Nedunang, Melasti, dan Tawur Agung Kesanga.

Kumpulan alat musik etnis itu serupa dengan gamelan. Ada gong, kenong, juga kendang. Namun, namanya adalah baleganjur. Ensemble gamelan yang khas Bali.

Di Kediri, baleganjur terdengar saat rangkaian prosesi menjelang Hari Raya Nyepi lalu. Dimainkan saat Melasti di Pura Penataran Kilisuci Senin (28/2). Seharusnya, juga digunakan untuk mengiringi arak-arakan ogoh-ogoh. Hanya, karena selama pandemi tidak ada arak-arakan itu, lantunan baleganjur hanya terdengar di pura.

Sebagai gamelan khas Bali, baleganjur memang disiapkan untuk pengiring upacara ritual agama Hindu, agama mayoritas di pulau tersebut. Meskipun alat musiknya mirip gamelan tapi nama-namanya khas Bali. Ada tawa-tawa, reong, ponggang, ataupun cengceng. Beberapa alat masih punya nama yang sama dengan gamelan Jawa. Yaitu kendang, gong, dan suling.

“Yang tidak kami mainkan ketika itu adalah suling,” terang Ketua Perhimpunan Pemuda Hindu (Perada) Kota Kediri I Wayan Bayu Wiarta, usai sembahyang di pura kemarin (7/3).

Mengapa? Menurut lelaki 24 tahun asal Kelurahan Sukorame, Kecamatan Mojoroto ini, belum ada yang mahir bermain suling di antara 15 penabuh yang ada saat ini. Targetnya tahun depan sudah ada yang memainkannya.

Baca Juga :  Terpeleset di Kakus, Siswa SMK Asal Badas Tenggelam

Bayu mengatakan, hampir semua penabuh baleganjur di Kota Kediri berusia muda. Paling kecil duduk di bangku kelas 2 SMP. Memang, para penabuh baleganjur yang tampil dalam rangkaian prosesi Nyepi merupakan generasi baru. Hasil regenerasi yang mereka lakukan.

“Dulu dimainkan oleh orang-orang tua. Sekarang didominasi sama anak-anak muda,” terang alumnus Universitas Malang itu kepada Jawa Pos Radar Kediri.

Irama baleganjur sangat dinamis. Rancak. Apalagi ketika mengiringi arak-arakan ogoh-ogoh. Namun, alunannya bisa menjadi sangat halus. Terutama ketika dimainkan di pura untuk mengiringi Nedunang dan Melasti.

“Yang kami mainkan hanya dua ritme saja, halus dan kasar,” ungkap Bayu.

Kunci dari perubahan irama itu ada pada kendang. Semakin rancak pemukul kendang maka iramanya akan semakin keras. Demikian pula dengan cengceng, sepasang alat musik mirip simbal yang dipukulkan satu sama lain itu. Ketika iramanya halus memukulkannya harus ringan. Namun, bila iramanya lebih kasar dan rancak, maka suara yang dimunculkan lebih bergemuruh. Cengceng itulah yang menurut Bayu, membedakan antara gamelan dan baleganjur.

Bayu dan kawan-kawan butuh latihan ekstra agar bisa maksimal. Agar irama yang dimainkan bisa klik. Apalagi, waktu yang tersedia sangat sempit. “Latihan efektif hanya dua bulan,” ucap sulung dari dua bersaudara ini.

Baca Juga :  Struktur Candi Masih Terpendam

Terlebih, semua pemain tidak ada yang punya basic seni. Karena itu Bayu meminta semua anggotanya mencoba satu per satu alat musik yang sudah tersedia. Agar mendapatkan penabuh yang pas untuk setiap alat musik. Dan, itu butuh empat kali latihan. Setiap kali latihan hanya mencoba satu per satu alat hingga benar-benar pas.

Ketika masing-masing alat sudah punya penabuhnya, barulah mereka berlatih memainkan irama dalam satu kesatuan.  “Tidak mudah tapi harus selalu dilatih,” ungkap penabung gong ini.

Agar maksimal, satu kali latihan berlangsung selama lima jam. Mulai pukul 13.00 hingga pukul 18.00. Setelah selesai berlatih mereka teruskan dengan menggelar diskusi. Mencari masukan untuk setiap nada yang dimainkan.

Bagi Bayu, kunci dari optimisme bisa tampil di ritual menjelang Nyepi adalah saling melengkapi. Karena semua sudah klop maka baleganjur bisa dilaksanakan. Mulai dari acara spiritual mengiringi Ida Batara atau saat pandita Muput Karya hingga mengiringi ogoh-ogoh.

Bagi para pemuda Hindu baleganjur memiliki sederet filosofi. Memainkan Baleganjur adalah soal estetika, nilai seni dan keindahan, budaya, juga tentang kerukunan dan hidup yang dinamis. Karena iramanya yang berubah-ubah.(fud)

- Advertisement -

Perayaan Nyepi tak bisa dipisahkan dengan baleganjur. Ensamble gamelan khas Bali ini mewarnai rangkaian upacara menjelang Nyepi. Mengiringi prosesi Nedunang, Melasti, dan Tawur Agung Kesanga.

Kumpulan alat musik etnis itu serupa dengan gamelan. Ada gong, kenong, juga kendang. Namun, namanya adalah baleganjur. Ensemble gamelan yang khas Bali.

Di Kediri, baleganjur terdengar saat rangkaian prosesi menjelang Hari Raya Nyepi lalu. Dimainkan saat Melasti di Pura Penataran Kilisuci Senin (28/2). Seharusnya, juga digunakan untuk mengiringi arak-arakan ogoh-ogoh. Hanya, karena selama pandemi tidak ada arak-arakan itu, lantunan baleganjur hanya terdengar di pura.

Sebagai gamelan khas Bali, baleganjur memang disiapkan untuk pengiring upacara ritual agama Hindu, agama mayoritas di pulau tersebut. Meskipun alat musiknya mirip gamelan tapi nama-namanya khas Bali. Ada tawa-tawa, reong, ponggang, ataupun cengceng. Beberapa alat masih punya nama yang sama dengan gamelan Jawa. Yaitu kendang, gong, dan suling.

“Yang tidak kami mainkan ketika itu adalah suling,” terang Ketua Perhimpunan Pemuda Hindu (Perada) Kota Kediri I Wayan Bayu Wiarta, usai sembahyang di pura kemarin (7/3).

Mengapa? Menurut lelaki 24 tahun asal Kelurahan Sukorame, Kecamatan Mojoroto ini, belum ada yang mahir bermain suling di antara 15 penabuh yang ada saat ini. Targetnya tahun depan sudah ada yang memainkannya.

Baca Juga :  Realisasi Pusat di Bawah Usulan DPKP

Bayu mengatakan, hampir semua penabuh baleganjur di Kota Kediri berusia muda. Paling kecil duduk di bangku kelas 2 SMP. Memang, para penabuh baleganjur yang tampil dalam rangkaian prosesi Nyepi merupakan generasi baru. Hasil regenerasi yang mereka lakukan.

“Dulu dimainkan oleh orang-orang tua. Sekarang didominasi sama anak-anak muda,” terang alumnus Universitas Malang itu kepada Jawa Pos Radar Kediri.

Irama baleganjur sangat dinamis. Rancak. Apalagi ketika mengiringi arak-arakan ogoh-ogoh. Namun, alunannya bisa menjadi sangat halus. Terutama ketika dimainkan di pura untuk mengiringi Nedunang dan Melasti.

“Yang kami mainkan hanya dua ritme saja, halus dan kasar,” ungkap Bayu.

Kunci dari perubahan irama itu ada pada kendang. Semakin rancak pemukul kendang maka iramanya akan semakin keras. Demikian pula dengan cengceng, sepasang alat musik mirip simbal yang dipukulkan satu sama lain itu. Ketika iramanya halus memukulkannya harus ringan. Namun, bila iramanya lebih kasar dan rancak, maka suara yang dimunculkan lebih bergemuruh. Cengceng itulah yang menurut Bayu, membedakan antara gamelan dan baleganjur.

Bayu dan kawan-kawan butuh latihan ekstra agar bisa maksimal. Agar irama yang dimainkan bisa klik. Apalagi, waktu yang tersedia sangat sempit. “Latihan efektif hanya dua bulan,” ucap sulung dari dua bersaudara ini.

Baca Juga :  H-7 Lebaran, Volume Kendaraan di Kota Kediri Naik 15 Persen

Terlebih, semua pemain tidak ada yang punya basic seni. Karena itu Bayu meminta semua anggotanya mencoba satu per satu alat musik yang sudah tersedia. Agar mendapatkan penabuh yang pas untuk setiap alat musik. Dan, itu butuh empat kali latihan. Setiap kali latihan hanya mencoba satu per satu alat hingga benar-benar pas.

Ketika masing-masing alat sudah punya penabuhnya, barulah mereka berlatih memainkan irama dalam satu kesatuan.  “Tidak mudah tapi harus selalu dilatih,” ungkap penabung gong ini.

Agar maksimal, satu kali latihan berlangsung selama lima jam. Mulai pukul 13.00 hingga pukul 18.00. Setelah selesai berlatih mereka teruskan dengan menggelar diskusi. Mencari masukan untuk setiap nada yang dimainkan.

Bagi Bayu, kunci dari optimisme bisa tampil di ritual menjelang Nyepi adalah saling melengkapi. Karena semua sudah klop maka baleganjur bisa dilaksanakan. Mulai dari acara spiritual mengiringi Ida Batara atau saat pandita Muput Karya hingga mengiringi ogoh-ogoh.

Bagi para pemuda Hindu baleganjur memiliki sederet filosofi. Memainkan Baleganjur adalah soal estetika, nilai seni dan keindahan, budaya, juga tentang kerukunan dan hidup yang dinamis. Karena iramanya yang berubah-ubah.(fud)

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/