26.3 C
Kediri
Tuesday, August 16, 2022

Bakar Ogoh-Ogoh untuk Keseimbangan Alam

- Advertisement -

NGANJUK–Umat Hindu menggelar Tawur Kesanga di Desa Bajulan, Kecamatan Loceret, kemarin. Prosesi itu merupakan rangkaian ritual menjelang Catur Brata Nyepi, pagi ini. Ritual ditandai dengan mengarak dan membakar ogoh-ogoh sebagai simbol mengalahkan kejahatan.

          Ritual yang dimulai sekitar pukul 14.00 itu diawali dengan mengarak tiga ogoh-ogoh dari Pura Kertha Buwana Giri Wilis. Ogoh-ogoh tersebut kemudian dibawa ke monumen Jenderal Sudirman di Desa Bajulan, yang berjarak sekitar 1 kilometer.

          Setibanya di monumen, ratusan umat Hindu kemudian melanjutkan ritual dengan bersembahyang dan  penyerahan sesembahan. Setelah itu, sekitar pukul 15.30, umat ramai-ramai membakar ogoh-ogoh dengan obor yang sudah disiapkan sebelumnya.

          Kapolres Nganjuk AKBP Dewa Nyoman Nanta Wiranta kemarin juga ikut membakar ogog-ogoh tersebut. Ritual itu disaksikan ratusan warga Desa Bajulan yang menunggu di sekitar monumen sejak siang hari.

          Begitu ogoh-ogoh terbakar, umat Hindu yang mengikuti Tawur Kesanga langsung bersorak bergembira. Pemangku Pura Kerta Bhuwana Giri Wilis Damri menerangkan, selain simbol kejahatan, ogoh-ogoh yang dibakar merupakan kekuatan alam yang misterius.

Baca Juga :  Petugas Pos Pengamanan Nataru Jalani Tes Urine
- Advertisement -

          Menurutnya, alam yang sebenarnya bersahabat bisa berubah menjadi malapetaka bagi manusia. Dia kemudian mencontohkan air, api dan, angin. Di saat terjadi keseimbangan, unsur-unsur tersebut sangat bermanfaat untuk kehidupan sehari. “Bisa dibayangkan, hidup kita tanpa air, api maupun angin. Manusia dan mahluk hidup yang lain pasti mati,” beber pria 42 tahun ini.

          Di sisi lain, ketika tidak seimbang, kekuatan alam bisa merusak. Air yang biasanya dimanfaatkan untuk minum berubah menjadi banjir. Kemudian api yang besar akan membakar semua yang dilewati. Seperti rumah, pohon, hingga batu. “Angin besar juga merusak,” tuturnya.

          Karena itulah, dengan membakar ogoh-ogoh, umat Hindu berharap akan terjadi keseimbangan di alam. Sehingga tidak membuat kerusakan. Permohonan itu dipanjatkan kepada Sang Hyang Widi atau Tuhan Yang Maha Esa sebagai penguasa alam semesta.

Baca Juga :  Dinas Pendidikan Kab Nganjuk Mulai Persiapan PTM Full

          Dia melanjutkan, pembakaran ogoh-ogoh juga bisa diartikan sebagai pembersihan sifat jahat manusia. Sebab, selama setahun, mereka pasti melakukan banyak kesalahan. Makanya, sebelum Nyepi, hati harus bersih lebih dahulu.

          Lebih jauh Damri menjelaskan, mulai pukul 06.00 pagi ini umat akan melaksanakan Nyepi. Ritual Catur Brata itu dilakukan selama 24 jam. Selama menyepi, mereka dilarang melakukan empat aktivitas. Yaitu, amati geni (tidak menyalakan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak keluar rumah) dan amati lelanguan (tidak bersenang-senang/berfoya-foya). “Ini sebagai bentuk pengendalian diri,” ungkapnya.

          Terpisah, Kapolres AKBP Dewa Nyoman Nanta Wiranta berujar,  kerukunan umat di Kabupaten Nganjuk tergambar dari ritual Tawur Kesanga kemarin. Pasalnya, warga yang mayoritas beragama Islam ikut menyaksikannya. “Tawur Kesanga merupakan ritual agama dan kebudayaan. Mudah-mudahan kerukunan umat tetap terjaga,” ujarnya.

- Advertisement -

NGANJUK–Umat Hindu menggelar Tawur Kesanga di Desa Bajulan, Kecamatan Loceret, kemarin. Prosesi itu merupakan rangkaian ritual menjelang Catur Brata Nyepi, pagi ini. Ritual ditandai dengan mengarak dan membakar ogoh-ogoh sebagai simbol mengalahkan kejahatan.

          Ritual yang dimulai sekitar pukul 14.00 itu diawali dengan mengarak tiga ogoh-ogoh dari Pura Kertha Buwana Giri Wilis. Ogoh-ogoh tersebut kemudian dibawa ke monumen Jenderal Sudirman di Desa Bajulan, yang berjarak sekitar 1 kilometer.

          Setibanya di monumen, ratusan umat Hindu kemudian melanjutkan ritual dengan bersembahyang dan  penyerahan sesembahan. Setelah itu, sekitar pukul 15.30, umat ramai-ramai membakar ogoh-ogoh dengan obor yang sudah disiapkan sebelumnya.

          Kapolres Nganjuk AKBP Dewa Nyoman Nanta Wiranta kemarin juga ikut membakar ogog-ogoh tersebut. Ritual itu disaksikan ratusan warga Desa Bajulan yang menunggu di sekitar monumen sejak siang hari.

          Begitu ogoh-ogoh terbakar, umat Hindu yang mengikuti Tawur Kesanga langsung bersorak bergembira. Pemangku Pura Kerta Bhuwana Giri Wilis Damri menerangkan, selain simbol kejahatan, ogoh-ogoh yang dibakar merupakan kekuatan alam yang misterius.

Baca Juga :  Lesson Study untuk Profesionalitas Guru

          Menurutnya, alam yang sebenarnya bersahabat bisa berubah menjadi malapetaka bagi manusia. Dia kemudian mencontohkan air, api dan, angin. Di saat terjadi keseimbangan, unsur-unsur tersebut sangat bermanfaat untuk kehidupan sehari. “Bisa dibayangkan, hidup kita tanpa air, api maupun angin. Manusia dan mahluk hidup yang lain pasti mati,” beber pria 42 tahun ini.

          Di sisi lain, ketika tidak seimbang, kekuatan alam bisa merusak. Air yang biasanya dimanfaatkan untuk minum berubah menjadi banjir. Kemudian api yang besar akan membakar semua yang dilewati. Seperti rumah, pohon, hingga batu. “Angin besar juga merusak,” tuturnya.

          Karena itulah, dengan membakar ogoh-ogoh, umat Hindu berharap akan terjadi keseimbangan di alam. Sehingga tidak membuat kerusakan. Permohonan itu dipanjatkan kepada Sang Hyang Widi atau Tuhan Yang Maha Esa sebagai penguasa alam semesta.

Baca Juga :  Tidak Menangis meski Sering Bersentuhan Jarum Suntik

          Dia melanjutkan, pembakaran ogoh-ogoh juga bisa diartikan sebagai pembersihan sifat jahat manusia. Sebab, selama setahun, mereka pasti melakukan banyak kesalahan. Makanya, sebelum Nyepi, hati harus bersih lebih dahulu.

          Lebih jauh Damri menjelaskan, mulai pukul 06.00 pagi ini umat akan melaksanakan Nyepi. Ritual Catur Brata itu dilakukan selama 24 jam. Selama menyepi, mereka dilarang melakukan empat aktivitas. Yaitu, amati geni (tidak menyalakan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak keluar rumah) dan amati lelanguan (tidak bersenang-senang/berfoya-foya). “Ini sebagai bentuk pengendalian diri,” ungkapnya.

          Terpisah, Kapolres AKBP Dewa Nyoman Nanta Wiranta berujar,  kerukunan umat di Kabupaten Nganjuk tergambar dari ritual Tawur Kesanga kemarin. Pasalnya, warga yang mayoritas beragama Islam ikut menyaksikannya. “Tawur Kesanga merupakan ritual agama dan kebudayaan. Mudah-mudahan kerukunan umat tetap terjaga,” ujarnya.

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/