23.3 C
Kediri
Wednesday, July 6, 2022

Kisah Siti Asmonah, setelah Atap Rumahnya Lepas Tersapu Puting Beliung

Awal bulan lalu, rumah janda tua ini tersapu angin kencang hingga atapnya hilang. Perlu seminggu bagi warga dan pemerindah desa untuk membantu memperbaiki. Kini, meskipun sudah tertutup lagi, rumah sang janda masih juga bocor.

Puing masih berserakan di halaman rumah bergaya lama yang berada di RT 03, RW 01 di Dusun Kalipang, Desa Kalipang, Kecamatan Grogol itu. Bekas reruntuhan tembok dan genting itu belum semuanya bisa dibersihkan. Sisa dari keganasan angin puting beliung yang beberapa waktu lalu menyapu desa ini.

Ya, rumah milik Asmonah tersebut menjadi korban amukan angin kencang yang melanda awal Februari ini. Beberapa bagian rumah rusak. Terutama atap yang lepas dan ambruk ke tanah.

“Baru tiga harian ini rumah selesai didandani warga,” terang seorang lelaki yang saat itu sedang menyapu di sekitar bekas reruntuhan.

Pria itu adalah Bambang Adi Sugito. Pria 35 tahun tersebut adalah anak Asmonah, janda tua si pemilik rumah. Kebetulan, kemarin Asmonah tak ada di rumah. Sedang bekerja sebagai buruh tani di Nganjuk. Memanen kacang tanah. Sedangkan Budi kebetulan pulang dari tempat bekerjanya di Gresik. Dia adalah anak semata wayang Asmonah. Sehari-hari, Budi bekerja serabutan.

Rumah ibunya tersapu angin saat hujan deras yang mengguyur Kediri Rabu (2/2). Namun, dia baru tahu sehari setelahnya. “Saat itu saya masih Gresik, kerja,” aku pria berambut ikal ini.

Baca Juga :  Senangnya Bertemu Adib ¬†

Bambang mendengar kejadian itu dari tetangganya. Yang menelepon, mengabari bila rumah ibunya kena bencana. Seketika dia panik. Dan langsung meminta izin mandor tempat dia bekerja. Yang dia khawatirkan, ibunya yang tinggal seorang diri tak ada tempat berteduh. Maklum, rumah itu adalah satu-satunya rumah yang dimiliki keluarganya.

Sayang, izin dari mandor tak bisa langsung keluar. Sebab, pekerjaan yang dia kerjakan belum selesai. Akhirnya, Bambnag baru bisa pulang kampung Minggu (6/2). Atau empat hari setelah kejadian.

Saat pulang itulah hatinya langsung lega. Apalagi atap rumah juga sudah diperbaiki oleh tetangga. Ibunya pun dalam keadaan sehat. Kepanikannya pun lenyap.

“Bersyukur ibu tidak kenapa-kenapa karena (saat kejadian) tidak di rumah,” terangnya.

Memang, saat hujan deras itu Asmonah tengah berada di rumah tetangganya. Sedang mengerjakan sesuatu. Sebagai janda, Asmonah memang harus menghidupi dirinya sendiri. Karena itu dia sering bantu-bantu tetangga untuk sekadar mendapat upah.

Ketika angin menerjang rumah, Asmonah tahu dengan mata kepala sendiri. Termasuk ketika atap rumah terbang, lepas dari dinding. Kemudian jatuh ke pelataran rumah yang telah ditinggali selama 70 tahun itu.

Pihak pemdes dan warga sebenarnya langsung tanggap. Mereka bahu-membahu membenahi dan mengembalikan atap ke tempatnya semula. Sayang, ketika hujan deras rumah Asmonah tetap trocoh (bocor). Seperti Minggu malam (6/2) lalu. Atap yang ada tak sanggup menahan sepenuhnya curahan air hujan. Sebagian masuk rumah. Membasahi kasur tempatnya tidur. Juga kasur milik ibunya. Dia pun terpaksa bangun dan menempatkan ember untuk menampung tetesan air.

Baca Juga :  CJH Wajib Rekam Biometrik untuk Syarat Terbitkan Visa¬†

“Mau bagaimana lagi, ya bangun saya. Lalu duduk dan ngobrol dengan ibu,” terangnya.

Dia berencana menutup bagian genting yang masih bocor itu. Namun, menunggu punya uang terlebih dulu. Saat ini, dia mensyukuri apa yang ada. Termasuk merasa bersyukur karena para tetangga sigap menolong ibunya.

Warti, 71, tetangga Asmonah, mengatakan bahwa saat hujan lebat itu Asmonah sedang berbincang dengannya. Ia juga agak nelangsa mengingat Asmonah yang sudah tua itu berstatus janda dan tinggal di rumah yang kurang layak. “Ada anaknya juga, tapi anaknya (Bambang, Red) juga sakit juga kakinya,” terangnya.

Ia bercerita, ibu dan anak itu sangat bersemangat menjalani hidup. Hampir setiap hari bekerja mencukupi kebutuhan sehari-hari. Tanpa harus meminta belas kasihan orang lain.

Cerita Warti memang benar. Bambang terlihat pincang menuju pintu rumah. Kaki kanannya cacat sejak kecil. Tapi, dia tak menunjukkan sikap menyerah. Bahkan, tekadnya kuat untuk segera kembali bekerja. Mengumpulkan uang untuk mencukupi biaya hidup. Dan, mencari uang lebih untuk memperbaiki genting yang masih bocor itu. (fud)

- Advertisement -

Awal bulan lalu, rumah janda tua ini tersapu angin kencang hingga atapnya hilang. Perlu seminggu bagi warga dan pemerindah desa untuk membantu memperbaiki. Kini, meskipun sudah tertutup lagi, rumah sang janda masih juga bocor.

Puing masih berserakan di halaman rumah bergaya lama yang berada di RT 03, RW 01 di Dusun Kalipang, Desa Kalipang, Kecamatan Grogol itu. Bekas reruntuhan tembok dan genting itu belum semuanya bisa dibersihkan. Sisa dari keganasan angin puting beliung yang beberapa waktu lalu menyapu desa ini.

Ya, rumah milik Asmonah tersebut menjadi korban amukan angin kencang yang melanda awal Februari ini. Beberapa bagian rumah rusak. Terutama atap yang lepas dan ambruk ke tanah.

“Baru tiga harian ini rumah selesai didandani warga,” terang seorang lelaki yang saat itu sedang menyapu di sekitar bekas reruntuhan.

Pria itu adalah Bambang Adi Sugito. Pria 35 tahun tersebut adalah anak Asmonah, janda tua si pemilik rumah. Kebetulan, kemarin Asmonah tak ada di rumah. Sedang bekerja sebagai buruh tani di Nganjuk. Memanen kacang tanah. Sedangkan Budi kebetulan pulang dari tempat bekerjanya di Gresik. Dia adalah anak semata wayang Asmonah. Sehari-hari, Budi bekerja serabutan.

Rumah ibunya tersapu angin saat hujan deras yang mengguyur Kediri Rabu (2/2). Namun, dia baru tahu sehari setelahnya. “Saat itu saya masih Gresik, kerja,” aku pria berambut ikal ini.

Baca Juga :  Melihat Tradisi Kenduri di Kolong Jembatan Brawijaya

Bambang mendengar kejadian itu dari tetangganya. Yang menelepon, mengabari bila rumah ibunya kena bencana. Seketika dia panik. Dan langsung meminta izin mandor tempat dia bekerja. Yang dia khawatirkan, ibunya yang tinggal seorang diri tak ada tempat berteduh. Maklum, rumah itu adalah satu-satunya rumah yang dimiliki keluarganya.

Sayang, izin dari mandor tak bisa langsung keluar. Sebab, pekerjaan yang dia kerjakan belum selesai. Akhirnya, Bambnag baru bisa pulang kampung Minggu (6/2). Atau empat hari setelah kejadian.

Saat pulang itulah hatinya langsung lega. Apalagi atap rumah juga sudah diperbaiki oleh tetangga. Ibunya pun dalam keadaan sehat. Kepanikannya pun lenyap.

“Bersyukur ibu tidak kenapa-kenapa karena (saat kejadian) tidak di rumah,” terangnya.

Memang, saat hujan deras itu Asmonah tengah berada di rumah tetangganya. Sedang mengerjakan sesuatu. Sebagai janda, Asmonah memang harus menghidupi dirinya sendiri. Karena itu dia sering bantu-bantu tetangga untuk sekadar mendapat upah.

Ketika angin menerjang rumah, Asmonah tahu dengan mata kepala sendiri. Termasuk ketika atap rumah terbang, lepas dari dinding. Kemudian jatuh ke pelataran rumah yang telah ditinggali selama 70 tahun itu.

Pihak pemdes dan warga sebenarnya langsung tanggap. Mereka bahu-membahu membenahi dan mengembalikan atap ke tempatnya semula. Sayang, ketika hujan deras rumah Asmonah tetap trocoh (bocor). Seperti Minggu malam (6/2) lalu. Atap yang ada tak sanggup menahan sepenuhnya curahan air hujan. Sebagian masuk rumah. Membasahi kasur tempatnya tidur. Juga kasur milik ibunya. Dia pun terpaksa bangun dan menempatkan ember untuk menampung tetesan air.

Baca Juga :  Nuning Sulistyani, Olah Sampah Plastik Jadi Peluang Bisnis

“Mau bagaimana lagi, ya bangun saya. Lalu duduk dan ngobrol dengan ibu,” terangnya.

Dia berencana menutup bagian genting yang masih bocor itu. Namun, menunggu punya uang terlebih dulu. Saat ini, dia mensyukuri apa yang ada. Termasuk merasa bersyukur karena para tetangga sigap menolong ibunya.

Warti, 71, tetangga Asmonah, mengatakan bahwa saat hujan lebat itu Asmonah sedang berbincang dengannya. Ia juga agak nelangsa mengingat Asmonah yang sudah tua itu berstatus janda dan tinggal di rumah yang kurang layak. “Ada anaknya juga, tapi anaknya (Bambang, Red) juga sakit juga kakinya,” terangnya.

Ia bercerita, ibu dan anak itu sangat bersemangat menjalani hidup. Hampir setiap hari bekerja mencukupi kebutuhan sehari-hari. Tanpa harus meminta belas kasihan orang lain.

Cerita Warti memang benar. Bambang terlihat pincang menuju pintu rumah. Kaki kanannya cacat sejak kecil. Tapi, dia tak menunjukkan sikap menyerah. Bahkan, tekadnya kuat untuk segera kembali bekerja. Mengumpulkan uang untuk mencukupi biaya hidup. Dan, mencari uang lebih untuk memperbaiki genting yang masih bocor itu. (fud)

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/