31.7 C
Kediri
Friday, August 12, 2022

Kisah Dua Pustawakan Terlama di Perpusda Kota Kediri

Menjadi pustakawan tak hanya harus terampil. Juga butuh kesabaran tinggi. Karena yang diurusi tak melulu buku-buku.

Bilik baca itu sangat hening. Belasan orang yang ada di dalamnya bekonsentrasi pada buku yang ada di depannya. Nyaris tak ada gerakan selain tangan yang membuka lembaran halaman. Tulisan ‘Jangan Berisik’ menambah kesan sunyi di ruangan itu.

Sesekali, mereka yang ada di salah satu ruangan milik Perusda Kota Kediri itu mendatangi meja penjaga. Salah seorang di antaranya adalah Faris. Pemuda ini berusaha mencari buku digital atau e-book di aplikasi Perspusda Kota Kediri. Karena itu dia memerlukan bertanya ke petugas.

“Sementara hanya fisiknya saja Mas.  Bisa dibaca di sini dan dipinjam,” jawab Martini, pustakawan Perpusda Kota Kediri yang bertugas, kepada Faris.

Sebagai pustakawan, perempuan 57 tahun itu juga melakukan tugasnya menjawab pertanyaan dan membantu pengunjung. Pustakawan ahli muda ini sudah bergelut dalam dunianya itu selama 29 tahun!

“Sepuluh tahun di antaranya di Papua,” ujar perempuan berkemeja hitam ini.

Ketika bertugas di Papua, dia telah menjelajah hampir di pelosok daerah. Dari yang paling barat, Kabupaten Sorong, hingga ke Kabupaten Wamena.

Martini mengatakan, tugasnya sebagai pustakawan di pulau paling timur Indonesia itu tergolong berat. Karena hingga 2003 semuanya masih serba manual. Dia harus melihat seri buku satu per satu. Kemudian membagi dan mengklasifikasikan.

Baca Juga :  Salat Jumat di Jalan

Pernah, pada 1995, wanita kelahiran Makassar, Sulawesi Selatan ini ibarat menghabiskan waktu di jalanan Papua. Hanya untuk mengantarkan buku kiriman dari Jayapura menuju berbagai daerah di sekitarnya.

“Ada satu truk buku yang harus didata dan diklasifikasikan. Setelah itu diantarkan. Dari Jayapura ke Biak, ke Wamena, lalu ke barat ke Manokwari, Sorong, sampai ke pelosok. Pokoknya yang ada perpustakaannya,” kenangnya.

Perempuan yang juga istri Kepala Kelurahan Lirboyo ini mengatakan, semua kerja keras dan lelahnya selama lima bulan itu selalu terbayar. Yaitu ketika melihat warga menyambut gembira apa yang dia kirim.

“Kalau melihat anak-anak, atau yang membaca buku itu tersenyum senang, hati ini rasanya juga ikut senang. Puas, begitu Mas,” aku Martini dengan naga senang.

Kasi Pembinaan Perpustakaan Kota Kediri Dyah Nurwahyuni juga punya jam terbang tinggi sebagai pustakawan. Masa kerjanya di atas 20 tahun. Hanya, dia menghabiskannya di Kota Kediri.

“Kalau saya sejak 1996. Tapi ya sekarang masih setingkat Pustakawan Ahli Muda. Sama dengan Bu Martini,” imbuh Dyah.

Baca Juga :  Kisah Juned, Penjual Pentol Yang Kuliahkan Anaknya hingga S2

Dalam rentang waktu itu, dia juga banyak merasakan suka dibanding duka. Sebagai pustakawan dia bisa membaca banyak buku. Dia pun menularkan hobi membacanya itu ke keluarga.

Dyah punya impian mengoleksi buku dalam jumlah besar. Bisa dimanfaatkan oleh keluarganya. Menurutnya, ilmu, informasi, dan pengetahuan dari buku tidak akan lekang oleh waktu. “Jadi bisa dinikmati sampai kapan pun. Bagi yang hobi membaca juga lho Mas,” ujar pemilik koleksi buku ilmu terapan, manajemen, hingga novel ini.

Tidak mengambil pustakawan ahli madya? Dyah dengan singkat menjawab,” Nah di situ dukanya.” imbuh Dyah.

Untuk naik ke tingkat madya, ia harus mengurusi ke Surabaya. Tim penilai khusus hanya ada di provinsi. Selain itu, tim penilai angka kredit (PAK) pustakawan juga belum ada.

Bila mengacu aturan, minimal harus ada 10 pustakawan ahli muda di satu daerah. Sedangkan di Perpusda Kota Kediri saat ini masih ada enam.

Setelah mengatakan itu, suasana kembali hening. Suara gesekan kertas di tiap halaman buku yang sedang dicek oleh Martini dan Dyah terdengar lamat-lamat. Menandakan keduanya tengah mengklasifikasikan buku yang baru dikembalikan oleh peminjam.






Reporter: Iqbal Syahroni
- Advertisement -

Menjadi pustakawan tak hanya harus terampil. Juga butuh kesabaran tinggi. Karena yang diurusi tak melulu buku-buku.

Bilik baca itu sangat hening. Belasan orang yang ada di dalamnya bekonsentrasi pada buku yang ada di depannya. Nyaris tak ada gerakan selain tangan yang membuka lembaran halaman. Tulisan ‘Jangan Berisik’ menambah kesan sunyi di ruangan itu.

Sesekali, mereka yang ada di salah satu ruangan milik Perusda Kota Kediri itu mendatangi meja penjaga. Salah seorang di antaranya adalah Faris. Pemuda ini berusaha mencari buku digital atau e-book di aplikasi Perspusda Kota Kediri. Karena itu dia memerlukan bertanya ke petugas.

“Sementara hanya fisiknya saja Mas.  Bisa dibaca di sini dan dipinjam,” jawab Martini, pustakawan Perpusda Kota Kediri yang bertugas, kepada Faris.

Sebagai pustakawan, perempuan 57 tahun itu juga melakukan tugasnya menjawab pertanyaan dan membantu pengunjung. Pustakawan ahli muda ini sudah bergelut dalam dunianya itu selama 29 tahun!

“Sepuluh tahun di antaranya di Papua,” ujar perempuan berkemeja hitam ini.

Ketika bertugas di Papua, dia telah menjelajah hampir di pelosok daerah. Dari yang paling barat, Kabupaten Sorong, hingga ke Kabupaten Wamena.

Martini mengatakan, tugasnya sebagai pustakawan di pulau paling timur Indonesia itu tergolong berat. Karena hingga 2003 semuanya masih serba manual. Dia harus melihat seri buku satu per satu. Kemudian membagi dan mengklasifikasikan.

Baca Juga :  KIR MAN 2 Kota Kediri dengan Segudang Prestasi

Pernah, pada 1995, wanita kelahiran Makassar, Sulawesi Selatan ini ibarat menghabiskan waktu di jalanan Papua. Hanya untuk mengantarkan buku kiriman dari Jayapura menuju berbagai daerah di sekitarnya.

“Ada satu truk buku yang harus didata dan diklasifikasikan. Setelah itu diantarkan. Dari Jayapura ke Biak, ke Wamena, lalu ke barat ke Manokwari, Sorong, sampai ke pelosok. Pokoknya yang ada perpustakaannya,” kenangnya.

Perempuan yang juga istri Kepala Kelurahan Lirboyo ini mengatakan, semua kerja keras dan lelahnya selama lima bulan itu selalu terbayar. Yaitu ketika melihat warga menyambut gembira apa yang dia kirim.

“Kalau melihat anak-anak, atau yang membaca buku itu tersenyum senang, hati ini rasanya juga ikut senang. Puas, begitu Mas,” aku Martini dengan naga senang.

Kasi Pembinaan Perpustakaan Kota Kediri Dyah Nurwahyuni juga punya jam terbang tinggi sebagai pustakawan. Masa kerjanya di atas 20 tahun. Hanya, dia menghabiskannya di Kota Kediri.

“Kalau saya sejak 1996. Tapi ya sekarang masih setingkat Pustakawan Ahli Muda. Sama dengan Bu Martini,” imbuh Dyah.

Baca Juga :  Wali Kota Kediri Berharap Manusuk Sima Jadi Edukasi Sejarah Generasi Muda

Dalam rentang waktu itu, dia juga banyak merasakan suka dibanding duka. Sebagai pustakawan dia bisa membaca banyak buku. Dia pun menularkan hobi membacanya itu ke keluarga.

Dyah punya impian mengoleksi buku dalam jumlah besar. Bisa dimanfaatkan oleh keluarganya. Menurutnya, ilmu, informasi, dan pengetahuan dari buku tidak akan lekang oleh waktu. “Jadi bisa dinikmati sampai kapan pun. Bagi yang hobi membaca juga lho Mas,” ujar pemilik koleksi buku ilmu terapan, manajemen, hingga novel ini.

Tidak mengambil pustakawan ahli madya? Dyah dengan singkat menjawab,” Nah di situ dukanya.” imbuh Dyah.

Untuk naik ke tingkat madya, ia harus mengurusi ke Surabaya. Tim penilai khusus hanya ada di provinsi. Selain itu, tim penilai angka kredit (PAK) pustakawan juga belum ada.

Bila mengacu aturan, minimal harus ada 10 pustakawan ahli muda di satu daerah. Sedangkan di Perpusda Kota Kediri saat ini masih ada enam.

Setelah mengatakan itu, suasana kembali hening. Suara gesekan kertas di tiap halaman buku yang sedang dicek oleh Martini dan Dyah terdengar lamat-lamat. Menandakan keduanya tengah mengklasifikasikan buku yang baru dikembalikan oleh peminjam.






Reporter: Iqbal Syahroni

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/