23.7 C
Kediri
Sunday, June 26, 2022

Kerukunan Umat Beragama di Desa Bajulan, Kecamatan Loceret, Nganjuk

Toleransi antar umat beragama di Desa Bajulan, Kecamatan Loceret patut diacungi jempol. Di sana, umat Hindu berdampingan dengan pemeluk agama lainnya. Mereka saling menghargai dan hidup rukun berpuluh-puluh tahun.

Seminggu ini umat Hindu di Desa Bajulan, Kecamatan Loceret sibuk dengan berbagai aktivitas keagamaan. Pada Kamis (3/3), mereka merayakan Hari Raya Nyepi. Berbagai rangkaian upacara dan ritual harus dipersiapkan dengan matang. Mulai dari membuat ogoh-ogoh yang berbentuk raksasa dengan memiliki tiga kepala dengan wajah menyeramkan. Kemudian, ogoh-ogoh diarak dan dibakar sebagai simbol menghilangkan energi negatif pada Rabu (2/3).

Sebelum itu, ada melasti pada 27 Februari 2022. Yang  menarik, upacara-upacara tersebut berlangsung lancar dan aman. Bahkan, warga yang beragama bukan Hindu juga ikut menyaksikan.

“Kami di sini (Desa Bajulan) hidup rukun dan aman,” ujar Pemangku Pura Kerta Bhuwana Giri Wilis Desa Bajulan, Kecamatan Loceret Jro Mangku Dampri kepada Jawa Pos Radar Nganjuk.

Kerukunan itu tercipta karena toleransi beragama di sana sangat tinggi. Salah satu buktinya adalah relanya umat Hindu mengundur jadwal melasti. Jika sebelumnya melasti direncanakan pukul 09.00 WIB tetapi tiba-tiba ada kabar warga beragama Islam di sana ada yang meninggal dunia. Karena itu, akhirnya melasti mundur.

Baca Juga :  Sutradara dan Penari Kaget saat Tempat Pentas Berubah

 

 

Sebelum ritual Tawur Agung Kesanga dan pawai Ogoh-ogoh tersebut, umat di sana juga sudah disibukkan dengan upacara lainnya. Yakni upacara Melasti yang digelar pada Minggu (27/2) pagi.  “Ada saudara kita umat Islam yang meninggal dunia. Kami putuskan untuk ikut takziah dulu,” ujar Mangku Dampri.

Sekitar satu jam upacara Melasti itu akhirnya mundur. Tetapi, hal itu tidak sama sekali tidak dipermasalahkan. “Kita harus saling menghargai. Kita juga sangat adaptif dengan yang terjadi di sekitar,” sambung pria brewok tersebut.

Pun demikian saat acara ritual Tawur Agung Kesanga dan pawai ogoh-ogoh. Banyak warga beragama selain Hindu di desa tersebut yang turut menyaksikan upacara tersebut. Hal itu juga tidak dipersoalkan oleh umat Hindu. Hanya saja, lantaran digelar dalam masa pandemi, pawai hanya dilakukan di halaman Pura. Tidak diarak keliling kampung seperti sebelum pandemi.

“Kami hormati saja bagaimana baiknya. Kami juga sadar kalau wabah ini tidak bisa dilawan sendirian. Harus bersama-sama,” tuturnya.

Baca Juga :  Tak Boleh Copot Masker di Kelas

Sementara itu, Bagus, 23, salah seorang pemuda beragama Hindu di sana mengaku bahwa kerukunan tersebut sudah terjaga sejak lama. Teman bermainnya pun berasal dari berbagai latar belakang. Ia pun tidak pernah menemukan adanya pertikaian antar umat beragama di sana.

“Tidak pernah ada gesekan. Di sini kita hidup bersama-sama,” ungkap pria yang akrab disapa Jo tersebut.

Sedari kecil, Jo juga akrab dengan berbagai warga di sana. Selama tidak mengganggu kepercayaan masing-masing, baginya kerukunan pasti bakal terjaga. “Yang penting bagaimana kita saling toleransi,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Desa Bajulan Lauji mengatakan, umat Hindu di Desa Bajulan termasuk minoritas. Hanya ada sekitar 400 orang. Namun demikian, kerukunan warga di sana tidak perlu dipertanyakan. “Kami di Desa Bajulan ini tidak pernah membeda-bedakan orang berdasarkan agama dan kepercayaannya. Kami saling menghargai,” ujarnya.

Kerukunan di Desa Bajulan akan terus dijaga. Karena sejak nenek moyang di sana,  warga Desa Bajulan selalu hidup rukun.

- Advertisement -

Toleransi antar umat beragama di Desa Bajulan, Kecamatan Loceret patut diacungi jempol. Di sana, umat Hindu berdampingan dengan pemeluk agama lainnya. Mereka saling menghargai dan hidup rukun berpuluh-puluh tahun.

Seminggu ini umat Hindu di Desa Bajulan, Kecamatan Loceret sibuk dengan berbagai aktivitas keagamaan. Pada Kamis (3/3), mereka merayakan Hari Raya Nyepi. Berbagai rangkaian upacara dan ritual harus dipersiapkan dengan matang. Mulai dari membuat ogoh-ogoh yang berbentuk raksasa dengan memiliki tiga kepala dengan wajah menyeramkan. Kemudian, ogoh-ogoh diarak dan dibakar sebagai simbol menghilangkan energi negatif pada Rabu (2/3).

Sebelum itu, ada melasti pada 27 Februari 2022. Yang  menarik, upacara-upacara tersebut berlangsung lancar dan aman. Bahkan, warga yang beragama bukan Hindu juga ikut menyaksikan.

“Kami di sini (Desa Bajulan) hidup rukun dan aman,” ujar Pemangku Pura Kerta Bhuwana Giri Wilis Desa Bajulan, Kecamatan Loceret Jro Mangku Dampri kepada Jawa Pos Radar Nganjuk.

Kerukunan itu tercipta karena toleransi beragama di sana sangat tinggi. Salah satu buktinya adalah relanya umat Hindu mengundur jadwal melasti. Jika sebelumnya melasti direncanakan pukul 09.00 WIB tetapi tiba-tiba ada kabar warga beragama Islam di sana ada yang meninggal dunia. Karena itu, akhirnya melasti mundur.

Baca Juga :  Tak Boleh Copot Masker di Kelas

 

 

Sebelum ritual Tawur Agung Kesanga dan pawai Ogoh-ogoh tersebut, umat di sana juga sudah disibukkan dengan upacara lainnya. Yakni upacara Melasti yang digelar pada Minggu (27/2) pagi.  “Ada saudara kita umat Islam yang meninggal dunia. Kami putuskan untuk ikut takziah dulu,” ujar Mangku Dampri.

Sekitar satu jam upacara Melasti itu akhirnya mundur. Tetapi, hal itu tidak sama sekali tidak dipermasalahkan. “Kita harus saling menghargai. Kita juga sangat adaptif dengan yang terjadi di sekitar,” sambung pria brewok tersebut.

Pun demikian saat acara ritual Tawur Agung Kesanga dan pawai ogoh-ogoh. Banyak warga beragama selain Hindu di desa tersebut yang turut menyaksikan upacara tersebut. Hal itu juga tidak dipersoalkan oleh umat Hindu. Hanya saja, lantaran digelar dalam masa pandemi, pawai hanya dilakukan di halaman Pura. Tidak diarak keliling kampung seperti sebelum pandemi.

“Kami hormati saja bagaimana baiknya. Kami juga sadar kalau wabah ini tidak bisa dilawan sendirian. Harus bersama-sama,” tuturnya.

Baca Juga :  Pencuri Gasak Jagung Milik Anggota TNI di Desa Sengkut, Berbek

Sementara itu, Bagus, 23, salah seorang pemuda beragama Hindu di sana mengaku bahwa kerukunan tersebut sudah terjaga sejak lama. Teman bermainnya pun berasal dari berbagai latar belakang. Ia pun tidak pernah menemukan adanya pertikaian antar umat beragama di sana.

“Tidak pernah ada gesekan. Di sini kita hidup bersama-sama,” ungkap pria yang akrab disapa Jo tersebut.

Sedari kecil, Jo juga akrab dengan berbagai warga di sana. Selama tidak mengganggu kepercayaan masing-masing, baginya kerukunan pasti bakal terjaga. “Yang penting bagaimana kita saling toleransi,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Desa Bajulan Lauji mengatakan, umat Hindu di Desa Bajulan termasuk minoritas. Hanya ada sekitar 400 orang. Namun demikian, kerukunan warga di sana tidak perlu dipertanyakan. “Kami di Desa Bajulan ini tidak pernah membeda-bedakan orang berdasarkan agama dan kepercayaannya. Kami saling menghargai,” ujarnya.

Kerukunan di Desa Bajulan akan terus dijaga. Karena sejak nenek moyang di sana,  warga Desa Bajulan selalu hidup rukun.

Artikel Terkait

Most Read

Megengan Pandemi

Sembadra Karya


Artikel Terbaru

/