23.9 C
Kediri
Wednesday, July 6, 2022

Aura Avryla Giat Berlatih Biliar Jelang Porprov

 Atlet biliar perempuan di Kota Kediri bisa dihitung dengan jari. Meski demikian, di usianya yang baru 15 tahun, Aura Avryla Berhenyta Syifa mampu membuktikan jika dia bisa berprestasi.

Tatapan mata pengunjung Dhoho Pool, di Dhoho Plaza Jl Panglima Sudirman Kota Kediri pada Minggu (27/2) lalu mayoritas mengarah pada gadis berkaus pink yang berlatih di salah satu meja di sana. Gadis yang tak lain adalah Aura Avryla Berhenyta Syifa itu jadi perhatian bukan hanya karena jumlah orang yang berlatih di sana tak banyak. Melainkan, karena dia merupakan satu-satunya perempuan yang tengah latihan.

          Meski menjadi pusat perhatian, gadis berambut panjang itu tampaknya tak grogi. Dari beberapa pukulannya, siswa SMAN 8 Kota Kediri ini tengah mengasah kemampuannya di beberapa teknik biliar. Mulai ball in hand atau melakukan sodokan bebas, draw shot atau sodokan stik pada bola untuk menghasilkan efek back spin, dan teknik-teknik sulit lainnya.

          Saat dihampiri Jawa Pos Radar Kediri sekitar pukul 13.00 dia menyambut dengan senyuman. Meski, raut lelah tidak bisa disembunyikan dari wajahnya. “Saya kenal biliar sejak kelas 4 SD,” katanya pendek mengawali karirnya di cabang olahraga yang mengandalkan konsentrasi ini.

          Kecintaannya pada bola sodok tak lepas dari rutinitasnya yang sering melihat I Wayan Bernice Krisnanto, ayahnya, bermain biliar. Melihat sang anak tertarik dengan biliar, Wayan pun langsung mengizinkan putrinya bermain.

          Tak sekadar memberi izin, sang auah juga terus mendampinginya. Termasuk mengajarinya berbagai teknik bermain biliar. “Mulai sejak awal, cara memegang stik sampai menusuk bola,” kenangnya.

Baca Juga :  Gubernur Khofifah Tinjau OP Minyak Goreng Premium di Pare

          Seperti pemain baru lainnya, siswa kelas X ini mengaku sempat bingung karena tak tahu cara memegang stik dengan benar. Kaku. Akibatnya, pukulannya tak bisa maksimal. Hal itu kemudian membuatnya bosan.

          Melihat anaknya kelelahan, Wayan terus berusaha memberi dukungan. Termasuk dengan terus melatih teknik dasar. Akhirnya, Syifa mau kembali bersemangat bermain biliar.

          Butuh waktu sekitar dua tahun hingga Syifa benar-benar bisa bermain biliar. Saat duduk di bangku kelas VI SD, dia bisa bermain dengan terampil. Sayangnya, dua tahun kemudian dia memilih vakum. Alasannya, harus menyiapkan diri menghadapi ujian nasional. “Keterangan vakum sampai kelas 1 SMP. Baru lanjut bermain lagi kelas 2 SMP,” kenangnya.

          Menginjak remaja, Syifa tidak hanya bermain biliar untuk kesenangannya. Melainkan mulai mengikuti lomba di dalam kota dan luar kota. Dia semangat bertanding karena ingin membuktikan jika olahraga ini juga bisa digeluti oleh perempuan.

          Lomba juga jadi sarana bagi Syifa untuk melatih mentalnya. Termasuk mengetes kemampuannya dibanding lawan yang seusianya. Benar saja, jam terbangnya dalam pertandingan biliar sangat menentukan hasilnya.

          Di tahun 2021 dia memutuskan untuk ikut Kejuaraan Daerah (Kejurda) Jatim yang digelar di Malang. Meski awalnya sempat canggung dan tidak percaya diri, anak sulung pasangan Wayan dan Heny Widiyaningsih ini mampu tampil all out setelah mendapat dukungan kedua orang tuanya.

Baca Juga :  Ketika Latif Merasakan ‘Berkah’ Pandemi di Bisnisnya

          “Kata ayah, kalah dan menang di setiap pertandingan itu hal biasa. Yang penting fokus bermain dan berdoa sebelum bertanding,” urainya. Mempraktikkan wejangan yang diberikan sang ayah, Syifa tampil tidak mengecewakan. Dia bisa membawa pulang medali perak atau juara dua.

          Jelang Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) Jatim Juni nanti, Syifa menargetkan hasil yang lebih baik. Untuk meraihnya, dia rutin berlatih setiap Senin sampai Jumat. Tak hanya siang hari, dia juga berlatih mulai pukul 18.00 sampai pukul 21.00. Bahkan, beberapa kali dia berlatih hingga pukul 22.00.

          Selama pandemi Covid-19, dia justru memiliki waktu yang lebih longgar untuk berlatih. Sebab, pembelajaran di sekolah dilakukan secara daring. “Tetap membagi waktu dengan sekolah. Kalau waktu libur latihan hari sabtu-minggu kadang kala kalau ada waktu longgar tetap ikut latihan,” paparnya.

          Enam tahun menekuni olahraga biliar, menurut Syifa banyak suka dan duka yang dialaminya. Meski demikian, yang paling berkesan adalah saat dia mengikuti Kejurda Jatim di Malang. Sebagai atlet perempuan dia sering diremehkan oleh lawannya yang semua laki-laki.

          Menghadapi hal tersebut, Syifa mengaku tidak tersinggung atau marah. Dia hanya menjawab dengan menunjukkan skill-nya. Hal tersebut agaknya sukses membungkam lawannya. Terutama setelah dia berhasil meraih medali perak. “Sekarang targetnya bisa membawa pulang medali emas di kejurprov,” tuturnya. (ut)

- Advertisement -

 Atlet biliar perempuan di Kota Kediri bisa dihitung dengan jari. Meski demikian, di usianya yang baru 15 tahun, Aura Avryla Berhenyta Syifa mampu membuktikan jika dia bisa berprestasi.

Tatapan mata pengunjung Dhoho Pool, di Dhoho Plaza Jl Panglima Sudirman Kota Kediri pada Minggu (27/2) lalu mayoritas mengarah pada gadis berkaus pink yang berlatih di salah satu meja di sana. Gadis yang tak lain adalah Aura Avryla Berhenyta Syifa itu jadi perhatian bukan hanya karena jumlah orang yang berlatih di sana tak banyak. Melainkan, karena dia merupakan satu-satunya perempuan yang tengah latihan.

          Meski menjadi pusat perhatian, gadis berambut panjang itu tampaknya tak grogi. Dari beberapa pukulannya, siswa SMAN 8 Kota Kediri ini tengah mengasah kemampuannya di beberapa teknik biliar. Mulai ball in hand atau melakukan sodokan bebas, draw shot atau sodokan stik pada bola untuk menghasilkan efek back spin, dan teknik-teknik sulit lainnya.

          Saat dihampiri Jawa Pos Radar Kediri sekitar pukul 13.00 dia menyambut dengan senyuman. Meski, raut lelah tidak bisa disembunyikan dari wajahnya. “Saya kenal biliar sejak kelas 4 SD,” katanya pendek mengawali karirnya di cabang olahraga yang mengandalkan konsentrasi ini.

          Kecintaannya pada bola sodok tak lepas dari rutinitasnya yang sering melihat I Wayan Bernice Krisnanto, ayahnya, bermain biliar. Melihat sang anak tertarik dengan biliar, Wayan pun langsung mengizinkan putrinya bermain.

          Tak sekadar memberi izin, sang auah juga terus mendampinginya. Termasuk mengajarinya berbagai teknik bermain biliar. “Mulai sejak awal, cara memegang stik sampai menusuk bola,” kenangnya.

Baca Juga :  Lepas Atribut Polisi agar ‘Nyaman’ dengan Anak

          Seperti pemain baru lainnya, siswa kelas X ini mengaku sempat bingung karena tak tahu cara memegang stik dengan benar. Kaku. Akibatnya, pukulannya tak bisa maksimal. Hal itu kemudian membuatnya bosan.

          Melihat anaknya kelelahan, Wayan terus berusaha memberi dukungan. Termasuk dengan terus melatih teknik dasar. Akhirnya, Syifa mau kembali bersemangat bermain biliar.

          Butuh waktu sekitar dua tahun hingga Syifa benar-benar bisa bermain biliar. Saat duduk di bangku kelas VI SD, dia bisa bermain dengan terampil. Sayangnya, dua tahun kemudian dia memilih vakum. Alasannya, harus menyiapkan diri menghadapi ujian nasional. “Keterangan vakum sampai kelas 1 SMP. Baru lanjut bermain lagi kelas 2 SMP,” kenangnya.

          Menginjak remaja, Syifa tidak hanya bermain biliar untuk kesenangannya. Melainkan mulai mengikuti lomba di dalam kota dan luar kota. Dia semangat bertanding karena ingin membuktikan jika olahraga ini juga bisa digeluti oleh perempuan.

          Lomba juga jadi sarana bagi Syifa untuk melatih mentalnya. Termasuk mengetes kemampuannya dibanding lawan yang seusianya. Benar saja, jam terbangnya dalam pertandingan biliar sangat menentukan hasilnya.

          Di tahun 2021 dia memutuskan untuk ikut Kejuaraan Daerah (Kejurda) Jatim yang digelar di Malang. Meski awalnya sempat canggung dan tidak percaya diri, anak sulung pasangan Wayan dan Heny Widiyaningsih ini mampu tampil all out setelah mendapat dukungan kedua orang tuanya.

Baca Juga :  Satlantas Polres Kediri Kota Razia Balap Liar dan Knalpot Brong

          “Kata ayah, kalah dan menang di setiap pertandingan itu hal biasa. Yang penting fokus bermain dan berdoa sebelum bertanding,” urainya. Mempraktikkan wejangan yang diberikan sang ayah, Syifa tampil tidak mengecewakan. Dia bisa membawa pulang medali perak atau juara dua.

          Jelang Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) Jatim Juni nanti, Syifa menargetkan hasil yang lebih baik. Untuk meraihnya, dia rutin berlatih setiap Senin sampai Jumat. Tak hanya siang hari, dia juga berlatih mulai pukul 18.00 sampai pukul 21.00. Bahkan, beberapa kali dia berlatih hingga pukul 22.00.

          Selama pandemi Covid-19, dia justru memiliki waktu yang lebih longgar untuk berlatih. Sebab, pembelajaran di sekolah dilakukan secara daring. “Tetap membagi waktu dengan sekolah. Kalau waktu libur latihan hari sabtu-minggu kadang kala kalau ada waktu longgar tetap ikut latihan,” paparnya.

          Enam tahun menekuni olahraga biliar, menurut Syifa banyak suka dan duka yang dialaminya. Meski demikian, yang paling berkesan adalah saat dia mengikuti Kejurda Jatim di Malang. Sebagai atlet perempuan dia sering diremehkan oleh lawannya yang semua laki-laki.

          Menghadapi hal tersebut, Syifa mengaku tidak tersinggung atau marah. Dia hanya menjawab dengan menunjukkan skill-nya. Hal tersebut agaknya sukses membungkam lawannya. Terutama setelah dia berhasil meraih medali perak. “Sekarang targetnya bisa membawa pulang medali emas di kejurprov,” tuturnya. (ut)

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/