25.6 C
Kediri
Friday, July 1, 2022

Pecel Mbah Ngantuk di Jalan Dermojoyo Kota Nganjuk

Pecel Mbah Ngantuk terkenal di Kota Angin. Pencinta kuliner selalu menyerbu pecel Mbah Ngantuk setiap malam. Bahkan, meski tempat jualan berpindah dari Jalan A. Yani ke Jalan Dermojoyo sejak empat bulan lalu, Pecel Mbah Ngantuk tetap jadi idola.

Sudah 42 tahun Pecel Mbah Ngantuk berdiri. Awalnya, Warti yang berjualan pecel di trotoar Jalan A. Yani Nganjuk. Tidak ada papan nama atau tulisan di banner. Hanya ada meja dan tikar. “Tak ada tulisan Pecel Mbah Ngantuk,” ungkap Ismini, cucu Warti.

Karena berjualan mulai sore hingga malam hari, Warti menjadi sering tertidur sebentar saat melayani pembeli. Dia harus menahan ngantuk. Bahkan, pembeli kadang membangunkan dengan memanggilnya. Karena nasi yang sudah di pincuk, tidak juga diberi sambal pecel.

Baca Juga :  Kisah Relawan Senopati Rescue Bersepeda Sosialisasikan Covid-19

Sering ngantuknya Warti membuat pembeli menjulukinya Mbah Ngantuk. Akhirnya, Pecel Mbah Ngantuk menjadi dikenal. Akhirnya, nama Pecel Mbah Ngantuk dilanjutkan Ismini. Karena Warti meninggal dunia pada 2019. Beruntung, Ismini ini sudah membantu almarhum Warti sejak masih remaja. “Saya yang melanjutkan berjualan nasi pecel,” ujar perempuan berusia 54 tahun.

Karena itulah, rasa Pecel Mbah Ngantuk saat ditangani Warti dengan Ismini tidak berubah. Sehingga, setiap hari, pembeli selalu menyerbu Pecel Mbah Ngantuk. Mereka tidak hanya berasal dari Kota Angin saja. Namun, dari luar Kabupaten Nganjuk juga rela datang hanya untuk merasakan nikmatnya Pecel Mbah Ngantuk. “Setiap hari itu minimal habis 10 kilogram beras hingga 20 kilogram beras,” ujar Ismini.

Baca Juga :  Kades Harus Mendata Warga dari Zona Merah

Sementara itu, Juwariyah, 56, warga Kota Kediri mengaku ketagihan dengan Pecel Mbah Ngantuk. Awalnya, dia hanya mendengar nama Pecel Mbah Ngantuk dari cerita anaknya yang bekerja di Kota Angin. Karena penasaran, dia datang ke Jalan Dermojoyo. “Iya tujuannya makan Pecel Mbah Ngantuk ini,” ujarnya.

Bagi Juwariyah, Pecel Mbah Ngantuk rasanya spesial. Sensasi pedas pecel dan gurih peyek membuat lidah bergoyang. Apalagi, harganya juga relatif murah. Satu pincuk nasi pecel harganya hanya Rp 6 ribu.

- Advertisement -

Pecel Mbah Ngantuk terkenal di Kota Angin. Pencinta kuliner selalu menyerbu pecel Mbah Ngantuk setiap malam. Bahkan, meski tempat jualan berpindah dari Jalan A. Yani ke Jalan Dermojoyo sejak empat bulan lalu, Pecel Mbah Ngantuk tetap jadi idola.

Sudah 42 tahun Pecel Mbah Ngantuk berdiri. Awalnya, Warti yang berjualan pecel di trotoar Jalan A. Yani Nganjuk. Tidak ada papan nama atau tulisan di banner. Hanya ada meja dan tikar. “Tak ada tulisan Pecel Mbah Ngantuk,” ungkap Ismini, cucu Warti.

Karena berjualan mulai sore hingga malam hari, Warti menjadi sering tertidur sebentar saat melayani pembeli. Dia harus menahan ngantuk. Bahkan, pembeli kadang membangunkan dengan memanggilnya. Karena nasi yang sudah di pincuk, tidak juga diberi sambal pecel.

Baca Juga :  Balar Jogja Teliti Fragmen dan Gerabah Kuno di Berbek

Sering ngantuknya Warti membuat pembeli menjulukinya Mbah Ngantuk. Akhirnya, Pecel Mbah Ngantuk menjadi dikenal. Akhirnya, nama Pecel Mbah Ngantuk dilanjutkan Ismini. Karena Warti meninggal dunia pada 2019. Beruntung, Ismini ini sudah membantu almarhum Warti sejak masih remaja. “Saya yang melanjutkan berjualan nasi pecel,” ujar perempuan berusia 54 tahun.

Karena itulah, rasa Pecel Mbah Ngantuk saat ditangani Warti dengan Ismini tidak berubah. Sehingga, setiap hari, pembeli selalu menyerbu Pecel Mbah Ngantuk. Mereka tidak hanya berasal dari Kota Angin saja. Namun, dari luar Kabupaten Nganjuk juga rela datang hanya untuk merasakan nikmatnya Pecel Mbah Ngantuk. “Setiap hari itu minimal habis 10 kilogram beras hingga 20 kilogram beras,” ujar Ismini.

Baca Juga :  Hitung Kebutuhan Tenaga Medis dan Logistik

Sementara itu, Juwariyah, 56, warga Kota Kediri mengaku ketagihan dengan Pecel Mbah Ngantuk. Awalnya, dia hanya mendengar nama Pecel Mbah Ngantuk dari cerita anaknya yang bekerja di Kota Angin. Karena penasaran, dia datang ke Jalan Dermojoyo. “Iya tujuannya makan Pecel Mbah Ngantuk ini,” ujarnya.

Bagi Juwariyah, Pecel Mbah Ngantuk rasanya spesial. Sensasi pedas pecel dan gurih peyek membuat lidah bergoyang. Apalagi, harganya juga relatif murah. Satu pincuk nasi pecel harganya hanya Rp 6 ribu.

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/