23.5 C
Kediri
Saturday, July 2, 2022

Setiap yang ke Jalan Dhoho Harusnya Berjalan Kaki

Pemkot Kediri punya komitmen mengembangkan Jalan Dhoho. Tanpa harus menghilangkan karakter budayanya. Konstruksinya akan dimulai dari penataan parkir.

 

Berjalan-jalan menelusuri Jalan Dhoho terasa sangat nyaman. Pedestriannya lebar. Bila melangkahkan kaki juga tak takut terserempet kendaraan bermotor yang nyaris taka da.

Parkir-parkir kendaraan bermotor yang biasanya padat memenuhi sisi timur jalan, sudah tidak ada lagi. Gantinya, pengendara mobil dan sepeda motor yang hendak ke jalan ini harus menempatkan dulu kendaraannya di satu tempat khusus. Tempat parkir luas yang telah disiapkan. Sementara, penumpangnya turun dengan menikmati eksotisme Jalan Dhoho dengan berjalan kaki.

Tapi, tunggu dulu. Ilustrasi di atas bukanlah gambaran Jalan Dhoho saat ini. Melainkan gambaran besar yang akan diwujudkan oleh Pemkot Kediri.

“Konsepnya mirip dengan (Jalan) Malioboro di Jogjakarta,” kata Asisten Perekonomian dan Pembangunan Ferry Djatmiko saat diskusi berlangsung.

Lelaki yang pernah menjabat kepala dinas perhubungan (dishub) ini mengakui, upaya mewujudkan mimpi tersebut tak semudah membalik tangan. Banyak hal yang perlu ditata. Terutama adalah arus lalu lintasnya serta pengelolaan parkir pengunjung. Dua hal utama itu harus diatur dengan tepat.

Baca Juga :  Polisi Uber Pemotor Berknalpot Brong di Kawasan SLG

Problem utama yang terlihat saat ini adalah lahan parkir. Idealnya, lokasi parkir bagi pengunjung Jalan Dhoho harus tersentral. Di satu tempat khusus.

“Kami sudah siapkan lokasi parkirnya. Nanti dikelola jadi satu tempat,” bebernya.

Pengaturan lahan parkir itu menjadi satu paket dengan pengaturan arus lalu-lintas. Agar kian tertata dan memberi ruang selebar-lebarnya bagi para pejalan kaki. Dalam benak Ferry, orang yang bertandang ke Jalan Dhoho seharusnya cukup berjalan kaki.

Agar nyaman, akses dan fasilitas bagi pejalan kaki akan ditambah. Ke depan, pedestrian di Jalan Dhoho akan diperlebar. Ide ini selaras dengan konsep yang disodorkan oleh arsitek Adi Suwono, yang menyebut porsi pejalan kaki idealnya 70 persen.

Tak hanya memperlebar trotoar, pemkot juga berencana membuat Jalan Dhoho menjadi surga bagi para pejalan kaki. Pada malam-malam tertentu jalur di Jalan Dhoho akan ditutup bagi kendaraan bermotor. Sebab itu, rekayasa lalu-lintasnya sudah harus disiapkan dari sekarang. Harus segera dimulai.

Akses ke Jalan Dhoho bagi pengunjung luar kota juga dipermudah. Misalnya, wisatawan luar kota yang menggunakan moda transportasi kereta api bisa memanfaatkan angkutan umum. Angkutan umum ini disiapkan untuk melayani kebutuhan pengunjung ataupun wisatawan.

Baca Juga :  Begal di Kediri Kian Ngawur, Pura-pura Beri Sembako, Rampas Uang Nenek

Secara umum, konsep revitalisasi Jalan Dhoho itu menjadi satu paket pengembangan potensi wisata Kota Kediri. Andalannya adalah penonjolan potensi di setiap kelurahan yang ada. Saat ini sudah mulai disiapkan kampung keren yang menampilkan potensi setiap kelurahan. Salah satunya adalah kampung tenun. Di kampung itu wisatawan tidak hanya diajak untuk membeli produk tenun Kediri tapi sekaligus bisa menjajal menenun.

Ferry yakin para wisatawan yang berkunjung ke Kediri tak akan melewatkan mendatangi Jalan Dhoho. Sebab, Jalan Dhoho adalah daya tarik kuat bagi mereka. Selain wisata kuliner dan pusat pertokoan masih ada wisata religi.

“Oranng yang datang ke Kota Kediri tidak akan marem bila belum ke Jalan Dhoho,” ujar Ferry.

Terakhir, dia mengingatkan, membangun Jalan Dhoho bertujuan pula untuk mengenalkan budaya Kediri. Karena sudah menjadi kawasan dan potensi wisata, Pemkot Kediri juga akan berkoordinasi dengan  Pemerintah Provinsi Jawa Timur. (rq/fud/bersambung)

- Advertisement -

Pemkot Kediri punya komitmen mengembangkan Jalan Dhoho. Tanpa harus menghilangkan karakter budayanya. Konstruksinya akan dimulai dari penataan parkir.

 

Berjalan-jalan menelusuri Jalan Dhoho terasa sangat nyaman. Pedestriannya lebar. Bila melangkahkan kaki juga tak takut terserempet kendaraan bermotor yang nyaris taka da.

Parkir-parkir kendaraan bermotor yang biasanya padat memenuhi sisi timur jalan, sudah tidak ada lagi. Gantinya, pengendara mobil dan sepeda motor yang hendak ke jalan ini harus menempatkan dulu kendaraannya di satu tempat khusus. Tempat parkir luas yang telah disiapkan. Sementara, penumpangnya turun dengan menikmati eksotisme Jalan Dhoho dengan berjalan kaki.

Tapi, tunggu dulu. Ilustrasi di atas bukanlah gambaran Jalan Dhoho saat ini. Melainkan gambaran besar yang akan diwujudkan oleh Pemkot Kediri.

“Konsepnya mirip dengan (Jalan) Malioboro di Jogjakarta,” kata Asisten Perekonomian dan Pembangunan Ferry Djatmiko saat diskusi berlangsung.

Lelaki yang pernah menjabat kepala dinas perhubungan (dishub) ini mengakui, upaya mewujudkan mimpi tersebut tak semudah membalik tangan. Banyak hal yang perlu ditata. Terutama adalah arus lalu lintasnya serta pengelolaan parkir pengunjung. Dua hal utama itu harus diatur dengan tepat.

Baca Juga :  Ketika Anak Punk Diajak untuk Berbisnis Waralaba

Problem utama yang terlihat saat ini adalah lahan parkir. Idealnya, lokasi parkir bagi pengunjung Jalan Dhoho harus tersentral. Di satu tempat khusus.

“Kami sudah siapkan lokasi parkirnya. Nanti dikelola jadi satu tempat,” bebernya.

Pengaturan lahan parkir itu menjadi satu paket dengan pengaturan arus lalu-lintas. Agar kian tertata dan memberi ruang selebar-lebarnya bagi para pejalan kaki. Dalam benak Ferry, orang yang bertandang ke Jalan Dhoho seharusnya cukup berjalan kaki.

Agar nyaman, akses dan fasilitas bagi pejalan kaki akan ditambah. Ke depan, pedestrian di Jalan Dhoho akan diperlebar. Ide ini selaras dengan konsep yang disodorkan oleh arsitek Adi Suwono, yang menyebut porsi pejalan kaki idealnya 70 persen.

Tak hanya memperlebar trotoar, pemkot juga berencana membuat Jalan Dhoho menjadi surga bagi para pejalan kaki. Pada malam-malam tertentu jalur di Jalan Dhoho akan ditutup bagi kendaraan bermotor. Sebab itu, rekayasa lalu-lintasnya sudah harus disiapkan dari sekarang. Harus segera dimulai.

Akses ke Jalan Dhoho bagi pengunjung luar kota juga dipermudah. Misalnya, wisatawan luar kota yang menggunakan moda transportasi kereta api bisa memanfaatkan angkutan umum. Angkutan umum ini disiapkan untuk melayani kebutuhan pengunjung ataupun wisatawan.

Baca Juga :  Manfaat Terapi Trigger Point Yoga bagi Kesehatan Tubuh

Secara umum, konsep revitalisasi Jalan Dhoho itu menjadi satu paket pengembangan potensi wisata Kota Kediri. Andalannya adalah penonjolan potensi di setiap kelurahan yang ada. Saat ini sudah mulai disiapkan kampung keren yang menampilkan potensi setiap kelurahan. Salah satunya adalah kampung tenun. Di kampung itu wisatawan tidak hanya diajak untuk membeli produk tenun Kediri tapi sekaligus bisa menjajal menenun.

Ferry yakin para wisatawan yang berkunjung ke Kediri tak akan melewatkan mendatangi Jalan Dhoho. Sebab, Jalan Dhoho adalah daya tarik kuat bagi mereka. Selain wisata kuliner dan pusat pertokoan masih ada wisata religi.

“Oranng yang datang ke Kota Kediri tidak akan marem bila belum ke Jalan Dhoho,” ujar Ferry.

Terakhir, dia mengingatkan, membangun Jalan Dhoho bertujuan pula untuk mengenalkan budaya Kediri. Karena sudah menjadi kawasan dan potensi wisata, Pemkot Kediri juga akan berkoordinasi dengan  Pemerintah Provinsi Jawa Timur. (rq/fud/bersambung)

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/