28.9 C
Kediri
Thursday, July 7, 2022

Rafa Azizan, Penyandang Cerebral Palsy Semangat Menempuh Pendidikan

Meski memiliki keterbatasan fisik, Rafa Azizan Maheswara tetap semangat menempuh pendidikan dasar. Penyandang cerebral palsy itu ingin mengejar asa menjadi guru.

 

REKIAN, Kota. JP Radar Kediri

Memakai kaus biru, Rafa Azizan Maheswara sedang asyik membaca buku, Rabu (5/1) siang. Saat Jawa Pos Radar Kediri mendatangi rumahnya di Kelurahan Bandarkidul, Mojoroto, bocah yang duduk di bangku kelas IV itu terlihat malu-malu.

          Rafa, sapaan akrab Rafa Azizan Maheswara, yang sebelumnya ceria lebih banyak menundukkan kepala. “Anaknya memang pemalu,” kata Novi Nurdiana, 34, ibu Rafa ditemui koran ini sekitar pukul 12.30.

          Bocah yang baru saja mengikuti pembelajaran tatap muka (PTM) di SDN Bandarkidul 2 itu sejatinya tengah beristirahat. Tetapi, dia mengisinya dengan membaca buku.

          Berbeda dengan anak-anak seusianya, gerakan tubuh Rafa terbatas. Tangan dan kaki bocah berusia 11 tahun itu juga kaku. Sesekali tangannya juga bergetar. Meski demikian, hal tersebut sudah dianggap biasa oleh keluarganya. “Ya memang seperti itu,” lanjut perempuan berambut panjang itu.

          Walaupun aktivitas fisiknya sangat terbatas, sulung dari dua bersaudara itu tetap semangat bersekolah. Meski jarak sekolah dengan rumahnya hanya sekitar 100 meter, dia selalu diantar menggunakan sepeda motor agar tidak perlu berjalan lama.

          Rafa memang berbeda dengan siswa lain di sekolah. Sejak kecil ia divonis mengidap cerebral palsy atau lumpuh otak. Penyakit ini pula yang mengakibatkan gangguan pada gerakan dan koordinasi tubuh. “Sudah sejak lahir (menderita cerebral palsy, Red),” beber Novi tentang putranya yang lahir prematur dengan usia kandungan enam bulan itu.

Baca Juga :  Perbaikan Rel Kereta Api Bikin Macet di Baron

          Di sekolah, ia selalu duduk di kursi roda yang sudah disediakan. Novi bersyukur putranya sangat semangat dalam belajar. Setelah mengenyam pendidikan dasar selama empat tahun, kini dia sudah lancar membaca dan menulis.

          Bahkan, sejak duduk di bangku TK, Rafa sudah bisa membaca. Sedangkan untuk menulis dia masih kesulitan saat harus menulis huruf X. “Kalau huruf lain yang disambung jadi kata atau kalimat sudah tidak ada masalah,” urai ibu dua anak itu.

          Setelah lancar baca tulis, kini Rafa meminta guru pendamping untuk menambah hafalan doa-doa. Pelajaran menghafal rupanya jadi salah satu favoritnya sejak di TK. Karenanya, setelah banyak doa dan surat pendek dihafal, dia meminta materi baru.

          Sebagai orang tua, Novi dan Jeri Heka, 34, sang ayah, berusaha untuk terus mendukung. Apalagi, beberapa kali sang anak mengaku ingin mengejar cita-citanya untuk menjadi guru. “Pokoknya kalau ditanya cita-cita dia selalu bilang ingin jadi guru,” kata Novi.

          Kemampuan Rafa memang terbilang istimewa. Pengidap cerebral palsy biasanya mengalami gangguan kecerdasan, pengelihatan, dan bicara. Namun, Rafa bisa menuntaskan satu rangkaian kalimat tanpa putus saat diminta membaca.

Baca Juga :  Habis Mandi Digendong untuk Lihat Mobil di Jalan Raya

          Seperti siswa lain, Rafa yang selama pandemi Covid-19 lebih banyak belajar di rumah itu mengaku senang bisa kembali belajar di sekolah. Berbagai kegiatan di sekolah membuatnya senang. Termasuk saat dia diajak membuat kliping secara berkelompok dengan teman-temannya.

“Klipingnya dikerjakan bersama-sama di rumah, sudah lama nggak  ketemu temannya jadi pas kerja bareng di sini jadi senang,” tutur Novi sambil melirik si sulung. Kebetulan Rafa hanya mendapat tugas menempel kliping.

Terpisah, Wali Kelas IV SDN Bandarkidul 2  Dwi Novitasari memuji kemampuan intelektual Rafa yang cukup baik. Meski tergolong anak pemalu, Dwi mengaku senang karena kemampuan baca tulis Rafa sudah bagus.

Bocah yang setiap harinya hanya banyak berinteraksi dengan sang adik itu juga menggemari buku cerita. Jika sebelumnya dia bisa meminjam buku di sekolah, hal tersebut tidak bisa lagi dilakukan sejak pandemi korona melanda. Sebagai gantinya, dia membaca buku cerita yang dimilikinya.

          Tak hanya hobi membaca buku cerita Rafa yang membuat Dwi terkesan. Suatu kali, dia pernah didapuk membaca puisi di kelas. Rafa sudah bersemangat maju ke depan untuk membaca puisi berjudul Guruku. “Tapi saat itu terjadi kesalahan teknis, suara mikrofon tiba-tiba mendengung dan membuat dia kaget dan takut,” kenang Dwi tentang aksi Rafa yang batal dilakukan itu. (ut)

 

 

- Advertisement -

Meski memiliki keterbatasan fisik, Rafa Azizan Maheswara tetap semangat menempuh pendidikan dasar. Penyandang cerebral palsy itu ingin mengejar asa menjadi guru.

 

REKIAN, Kota. JP Radar Kediri

Memakai kaus biru, Rafa Azizan Maheswara sedang asyik membaca buku, Rabu (5/1) siang. Saat Jawa Pos Radar Kediri mendatangi rumahnya di Kelurahan Bandarkidul, Mojoroto, bocah yang duduk di bangku kelas IV itu terlihat malu-malu.

          Rafa, sapaan akrab Rafa Azizan Maheswara, yang sebelumnya ceria lebih banyak menundukkan kepala. “Anaknya memang pemalu,” kata Novi Nurdiana, 34, ibu Rafa ditemui koran ini sekitar pukul 12.30.

          Bocah yang baru saja mengikuti pembelajaran tatap muka (PTM) di SDN Bandarkidul 2 itu sejatinya tengah beristirahat. Tetapi, dia mengisinya dengan membaca buku.

          Berbeda dengan anak-anak seusianya, gerakan tubuh Rafa terbatas. Tangan dan kaki bocah berusia 11 tahun itu juga kaku. Sesekali tangannya juga bergetar. Meski demikian, hal tersebut sudah dianggap biasa oleh keluarganya. “Ya memang seperti itu,” lanjut perempuan berambut panjang itu.

          Walaupun aktivitas fisiknya sangat terbatas, sulung dari dua bersaudara itu tetap semangat bersekolah. Meski jarak sekolah dengan rumahnya hanya sekitar 100 meter, dia selalu diantar menggunakan sepeda motor agar tidak perlu berjalan lama.

          Rafa memang berbeda dengan siswa lain di sekolah. Sejak kecil ia divonis mengidap cerebral palsy atau lumpuh otak. Penyakit ini pula yang mengakibatkan gangguan pada gerakan dan koordinasi tubuh. “Sudah sejak lahir (menderita cerebral palsy, Red),” beber Novi tentang putranya yang lahir prematur dengan usia kandungan enam bulan itu.

Baca Juga :  Persik Kediri Mulai Dikaitkan dengan Sejumlah Nama Pemain Anyar

          Di sekolah, ia selalu duduk di kursi roda yang sudah disediakan. Novi bersyukur putranya sangat semangat dalam belajar. Setelah mengenyam pendidikan dasar selama empat tahun, kini dia sudah lancar membaca dan menulis.

          Bahkan, sejak duduk di bangku TK, Rafa sudah bisa membaca. Sedangkan untuk menulis dia masih kesulitan saat harus menulis huruf X. “Kalau huruf lain yang disambung jadi kata atau kalimat sudah tidak ada masalah,” urai ibu dua anak itu.

          Setelah lancar baca tulis, kini Rafa meminta guru pendamping untuk menambah hafalan doa-doa. Pelajaran menghafal rupanya jadi salah satu favoritnya sejak di TK. Karenanya, setelah banyak doa dan surat pendek dihafal, dia meminta materi baru.

          Sebagai orang tua, Novi dan Jeri Heka, 34, sang ayah, berusaha untuk terus mendukung. Apalagi, beberapa kali sang anak mengaku ingin mengejar cita-citanya untuk menjadi guru. “Pokoknya kalau ditanya cita-cita dia selalu bilang ingin jadi guru,” kata Novi.

          Kemampuan Rafa memang terbilang istimewa. Pengidap cerebral palsy biasanya mengalami gangguan kecerdasan, pengelihatan, dan bicara. Namun, Rafa bisa menuntaskan satu rangkaian kalimat tanpa putus saat diminta membaca.

Baca Juga :  Langsung Ada Tambahan 9 Positif Korona di Kota Kediri

          Seperti siswa lain, Rafa yang selama pandemi Covid-19 lebih banyak belajar di rumah itu mengaku senang bisa kembali belajar di sekolah. Berbagai kegiatan di sekolah membuatnya senang. Termasuk saat dia diajak membuat kliping secara berkelompok dengan teman-temannya.

“Klipingnya dikerjakan bersama-sama di rumah, sudah lama nggak  ketemu temannya jadi pas kerja bareng di sini jadi senang,” tutur Novi sambil melirik si sulung. Kebetulan Rafa hanya mendapat tugas menempel kliping.

Terpisah, Wali Kelas IV SDN Bandarkidul 2  Dwi Novitasari memuji kemampuan intelektual Rafa yang cukup baik. Meski tergolong anak pemalu, Dwi mengaku senang karena kemampuan baca tulis Rafa sudah bagus.

Bocah yang setiap harinya hanya banyak berinteraksi dengan sang adik itu juga menggemari buku cerita. Jika sebelumnya dia bisa meminjam buku di sekolah, hal tersebut tidak bisa lagi dilakukan sejak pandemi korona melanda. Sebagai gantinya, dia membaca buku cerita yang dimilikinya.

          Tak hanya hobi membaca buku cerita Rafa yang membuat Dwi terkesan. Suatu kali, dia pernah didapuk membaca puisi di kelas. Rafa sudah bersemangat maju ke depan untuk membaca puisi berjudul Guruku. “Tapi saat itu terjadi kesalahan teknis, suara mikrofon tiba-tiba mendengung dan membuat dia kaget dan takut,” kenang Dwi tentang aksi Rafa yang batal dilakukan itu. (ut)

 

 

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/