24.2 C
Kediri
Saturday, July 2, 2022

Kaki Kanan Patah, Dinsos Tampung di Rumah Singgah

Unang menjadi tanggungan Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos PPPA) Kabupaten Nganjuk saat ini. Dia menjadi korban tabrak lari di Kota Angin. Ironisnya, Unang tak memiliki identitas diri. Dia juga tidak ingat siapa dirinya.

 

KAREN WIBI, NGANJUK – JP Radar Nganjuk.

 

‘Tuk…tuk…tuk’. Terdengar suara teralis besi di salah satu kamar Rumah Singgah Dinsos PPPA Kabupaten Nganjuk diketuk berulang kali. Mendengar itu, Kaswan, salah satu pengurus Rumah Singgah Dinsos PPPA bergegas menuju kamar berukuran 3 meter x 3 meter. Di sana, Unang terlihat tertidur.

Dia tidak bicara apa-apa. Namun, Kaswan sudah paham maksudnya. Karena sudah sebulan, Unang tinggal di Rumah Singgah Dinsos PPPA Kabupaten Nganjuk. Jadi, kebiasaan Unang dan keinginannya, sudah dipahami. “Unang minta makan,” ujar Kaswan.

Dalam sehari, Unang akan mengetuk teralis besi kamarnya sebanyak tiga kali. Pagi, siang, dan sore. Dia minta diberi makan. Petugas harus membawa makanan dan minuman ke kamarnya. Karena kaki Unang tidak bisa dibuat berjalan. Kaki kanannya retak.

Baca Juga :  Ayah Tiri Langsung Ditahan

Setelah makan dan minum, Unang kembali tidur di kasur. Dia tidak melakukan apa-apa. Hanya diam. Beberapa kali dia meringis kesakitan. Karena tulang pahanya dislokasi dan retak. Sebenarnya, ada rencana dioperasi di RSUD Nganjuk tetapi hingga kemarin belum terwujud. Bahkan, ada juga rencana membawa Unang ke sangkal putung. “Unang selalu menolak jika mau diajak berobat,” ungkap Kuswan.

Sayang, meski bisa diajak berkomunikasi tetapi Unang mengalami gangguan ingatan. Dia tidak mengetahui kapan ditabrak. Siapa yang menabrak. Kendaraan apa. Dia hanya menggunakan bahasa Sunda saat berkomunikasi. Itu juga tidak nyambung. “Aing teh lagi macul di sawah, terus di rumah sakit,” katanya saat diminta wartawan koran ini menceritakan kejadian tabrak lari yang dialaminya.

Jawaban itu kembali diutarakan Unang ketika wartawan meminta Unang menceritakan tentang dirinya. Dia tidak ingat sama sekali. Bahkan, dia juga tidak mengapa bisa terdampar di Kota Angin. Padahal, pria ini kemungkinan besar orang Jawa Barat.

Baca Juga :  Cerita Imam Basori, Penggagas Mobil Reaksi Cepat Rolling Charity

Untuk alamat yang diingat Unang hanya Kecamatan Cikalong Wetan di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Sayang, data Unang di kecamatan itu tidak ada saat dinsos PPPA mengeceknya. Inilah yang membuat Unang masih dirawat di Rumah Singgah Dinsos PPPA Kabupaten Nganjuk. “Kami masih terus mencari keluarga Unang,” ujar Kuswan.

Selain mencari keluarga pria berusia 40 tahun tersebut, dinsos PPPA juga berusaha menyembuhkan kaki Unang. Harapannya, Unang bisa berjalan dan mandiri. “Kasihan dia jika harus tidur terus di kamar,” ujar Kuswan.

Persoalan yang dialami Unang dianggap sebagai tanggung jawab dinsos PPPA Meski bukan warga Kota Angin tetapi dinsos PPA tidak akan lepas tangan. “Kami tetap akan menangani Unang,” sambung Kepala Dinsos PPPA Kabupaten Nganjuk Nafhan Tohawi.

Bagi dinsos PPPA, orang terlantar juga butuh perhatian. Karena itu, mereka tetap membantu dengan merawat dan  menyediakan rumah singgah. “Ini tanggung jawab dan tugas dinsos PPPA,” pungkas Nafhan.

- Advertisement -

Unang menjadi tanggungan Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos PPPA) Kabupaten Nganjuk saat ini. Dia menjadi korban tabrak lari di Kota Angin. Ironisnya, Unang tak memiliki identitas diri. Dia juga tidak ingat siapa dirinya.

 

KAREN WIBI, NGANJUK – JP Radar Nganjuk.

 

‘Tuk…tuk…tuk’. Terdengar suara teralis besi di salah satu kamar Rumah Singgah Dinsos PPPA Kabupaten Nganjuk diketuk berulang kali. Mendengar itu, Kaswan, salah satu pengurus Rumah Singgah Dinsos PPPA bergegas menuju kamar berukuran 3 meter x 3 meter. Di sana, Unang terlihat tertidur.

Dia tidak bicara apa-apa. Namun, Kaswan sudah paham maksudnya. Karena sudah sebulan, Unang tinggal di Rumah Singgah Dinsos PPPA Kabupaten Nganjuk. Jadi, kebiasaan Unang dan keinginannya, sudah dipahami. “Unang minta makan,” ujar Kaswan.

Dalam sehari, Unang akan mengetuk teralis besi kamarnya sebanyak tiga kali. Pagi, siang, dan sore. Dia minta diberi makan. Petugas harus membawa makanan dan minuman ke kamarnya. Karena kaki Unang tidak bisa dibuat berjalan. Kaki kanannya retak.

Baca Juga :  Tegur Penumpang yang Tak Jaga Jarak

Setelah makan dan minum, Unang kembali tidur di kasur. Dia tidak melakukan apa-apa. Hanya diam. Beberapa kali dia meringis kesakitan. Karena tulang pahanya dislokasi dan retak. Sebenarnya, ada rencana dioperasi di RSUD Nganjuk tetapi hingga kemarin belum terwujud. Bahkan, ada juga rencana membawa Unang ke sangkal putung. “Unang selalu menolak jika mau diajak berobat,” ungkap Kuswan.

Sayang, meski bisa diajak berkomunikasi tetapi Unang mengalami gangguan ingatan. Dia tidak mengetahui kapan ditabrak. Siapa yang menabrak. Kendaraan apa. Dia hanya menggunakan bahasa Sunda saat berkomunikasi. Itu juga tidak nyambung. “Aing teh lagi macul di sawah, terus di rumah sakit,” katanya saat diminta wartawan koran ini menceritakan kejadian tabrak lari yang dialaminya.

Jawaban itu kembali diutarakan Unang ketika wartawan meminta Unang menceritakan tentang dirinya. Dia tidak ingat sama sekali. Bahkan, dia juga tidak mengapa bisa terdampar di Kota Angin. Padahal, pria ini kemungkinan besar orang Jawa Barat.

Baca Juga :  Mensos Berikan Pendampingan dan Berikan Motivasi Anak Korban Pelecehan

Untuk alamat yang diingat Unang hanya Kecamatan Cikalong Wetan di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Sayang, data Unang di kecamatan itu tidak ada saat dinsos PPPA mengeceknya. Inilah yang membuat Unang masih dirawat di Rumah Singgah Dinsos PPPA Kabupaten Nganjuk. “Kami masih terus mencari keluarga Unang,” ujar Kuswan.

Selain mencari keluarga pria berusia 40 tahun tersebut, dinsos PPPA juga berusaha menyembuhkan kaki Unang. Harapannya, Unang bisa berjalan dan mandiri. “Kasihan dia jika harus tidur terus di kamar,” ujar Kuswan.

Persoalan yang dialami Unang dianggap sebagai tanggung jawab dinsos PPPA Meski bukan warga Kota Angin tetapi dinsos PPA tidak akan lepas tangan. “Kami tetap akan menangani Unang,” sambung Kepala Dinsos PPPA Kabupaten Nganjuk Nafhan Tohawi.

Bagi dinsos PPPA, orang terlantar juga butuh perhatian. Karena itu, mereka tetap membantu dengan merawat dan  menyediakan rumah singgah. “Ini tanggung jawab dan tugas dinsos PPPA,” pungkas Nafhan.

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/