31.7 C
Kediri
Friday, August 12, 2022

Mereka yang Berkubang ‘Kotoran’ demi Hambat Laju Penyakit Mulut dan Kuku

Bukan persoalan sepele menyuntikkan vaksin pada hewan ternak. Para petugas harus jemput bola. Masuk ke kampung-kampung mendatangi kandang para peternak.

Sekelompok orang berkumpul di posko penanganan penyakit mulut dan kuku (PMK). Posko kecil ini berada di Jalan Brigjen Imam Bachri. Tepatnya di kantor dinas ketahanan pangan dan pertanian (DKPP). Di bagian depan posko, berjajar beberapa peralatan medis. Beberapa bungkusan berisi alat suntik dan botol-botol yang dalamnya adalah cairan vaksinasi.

Hari itu, Sabtu (25/6) adalah hari pertama pelaksanaan vaksinasi pada hewan-hewan ternak di Kota Kediri. Karena itu, bahasan orang-orang itu tentu saja yang terkait dengan teknis pelaksanaannya. Lima ratus dosis vaksin yang mereka terima sehari sebelumnya siap untuk digunakan pada sapi perah dan sapi potong.

Setelah selesai briefing orang-orang yang masuk tim satuan tugas (satgas) PMK itu mengenakan alat pelindung diri (APD) lengkap. Selaksa akan memeriksa pasien penyakit menular seperti Covid-19. Setelah itu menaiki mobil menuju lokasi  vaksinasi.

“Harus memakai APD lengkap. Njagani agar sapi yang sehat tak justru kena virus dari kami,” kata drh Pujiono, ketua tim yang juga mengenakan head cup di kepalanya.

Menurut Pujiono, dalam melakukan vaksinasi mereka harus dari kandang ke kandang. Nah, kemungkinan terpapar virus juga besar. Karena itu, agar tidak terjadi penularan, APD lengkap sangat dibutuhkan.

Baca Juga :  Loyo di Ranjang, Istri Langsung Ditendang

Hari itu mereka terbagi dalam empat tim. Setiap tim berisi vaksinator, petugas penanda, dan petugas pendataan. Di tim drh Pujiono, ada drh Mohamad Yunus, drh Alfi Syahrul Ramadan, drh Mohamad Hatta, drh Reyza, dan drh Ilham.

Tim-tim itu berpencar ke tiga kecamatan. Mendatangi kandang-kandang. Yang sering, harus dilalui dengan susah-payah.

Memang, bagi para dokter hewan itu, menangani PMK adalah pengalaman pertama mereka. Meskipun sudah bertahun-tahun berkecimpung di dunia perhewanan. Pujiono misalnya, dia sudah berdinas di DKPP Kota Kediri sejak 2006.

Salah satu kendala tim tentu saja medan yang kadang menyulitkan. Harus dicapai dengan berjalan kaki. Dengan jalanan yang menanjak atau menurun dengan tajam. Kondisinya juga licin.

“Kadang ada peternak yang ketika kami datangi tidak ada. Akhirnya kami melanjutkan ke peternak lain, setelah itu harus kembali ke kandang itu lagi,” terangnya seraya menyebut kaki adalah bagian yang paling terasa lelah.

Selama vaksinasi para petugas juga harus menerapkan protokol kesehatan dengan ketat. Kandang dan sekitarnya disemprot disinfektan. Begitupun dengan tubuh para petugas. Agar tidak ada virus PMK yang terbawa ketika petugas berpindah dari satu kandang ke kandang lainnya.

Kadang, ada pemilik sapi yang menolak vaksinasi. Kalau seperti ini, petugas memiliki tugas tambahan. Bersusah payah menjelaskan dan memberi pemahaman. Karena vaksinasi memang tak boleh dipaksakan.

Baca Juga :  Akhirnya, UMK Kota Kediri Naik Rp 32 Ribu

“Kami hanya bisa memberikan edukasi dan pemahaman. Kami tidak boleh memaksa,” aku dokter hewan lulusan IPB ini.

Mendapat perlakuan tidak menyenangkan merupakan bagian dari kisah para anggota tim. Suatu ketika, pernah mereka kehabisan vaksin. Hingga terpaksa melanjutkan esok hari. Nah, ketika hendak pulang ada peternak yang menelepon. Marah-marah karena sapinya tak jadi divaksin.

Selain menghadapi kemarahan peternak, mereka juga harus menghadapi pula kemarahan sapi. Pernah Pujiono disruduk seekor sapi. Beruntung tidak sampai terjengkang dan jatuh ke tanah.

“Anggap saja itu asyiknya jadi dokter hewan. Jadi enjoy sajalah,” ucap alumnus SMAN 5 Kota Kediri ini tersenyum.

Semenjak PMK merebak, kesibukannya jadi bertambah. Mereka pun seperti tak kenal waktu. Pagi, siang, dan sore harus standby. Hampir tidak ada waktu bagi keluarga.

“Kadang ajak istri dan anak ke lokasi. Anggap saja itu hiburan,” terang pria 46 tahun ini.

Bagi para anggota im, kesembuhan sapi merupakan kabar paling menggembirakan. Menjadi kepuasan tersediri. “Semakin dengar ada yang sembuh, semakin kami semangat untuk tangani sapi-sapi yang masih masa pemulihan ini,” tuturnya.






Reporter: Ilmidza Amalia Nadzira
- Advertisement -

Bukan persoalan sepele menyuntikkan vaksin pada hewan ternak. Para petugas harus jemput bola. Masuk ke kampung-kampung mendatangi kandang para peternak.

Sekelompok orang berkumpul di posko penanganan penyakit mulut dan kuku (PMK). Posko kecil ini berada di Jalan Brigjen Imam Bachri. Tepatnya di kantor dinas ketahanan pangan dan pertanian (DKPP). Di bagian depan posko, berjajar beberapa peralatan medis. Beberapa bungkusan berisi alat suntik dan botol-botol yang dalamnya adalah cairan vaksinasi.

Hari itu, Sabtu (25/6) adalah hari pertama pelaksanaan vaksinasi pada hewan-hewan ternak di Kota Kediri. Karena itu, bahasan orang-orang itu tentu saja yang terkait dengan teknis pelaksanaannya. Lima ratus dosis vaksin yang mereka terima sehari sebelumnya siap untuk digunakan pada sapi perah dan sapi potong.

Setelah selesai briefing orang-orang yang masuk tim satuan tugas (satgas) PMK itu mengenakan alat pelindung diri (APD) lengkap. Selaksa akan memeriksa pasien penyakit menular seperti Covid-19. Setelah itu menaiki mobil menuju lokasi  vaksinasi.

“Harus memakai APD lengkap. Njagani agar sapi yang sehat tak justru kena virus dari kami,” kata drh Pujiono, ketua tim yang juga mengenakan head cup di kepalanya.

Menurut Pujiono, dalam melakukan vaksinasi mereka harus dari kandang ke kandang. Nah, kemungkinan terpapar virus juga besar. Karena itu, agar tidak terjadi penularan, APD lengkap sangat dibutuhkan.

Baca Juga :  Jajanan Sehat Stik Sayuran

Hari itu mereka terbagi dalam empat tim. Setiap tim berisi vaksinator, petugas penanda, dan petugas pendataan. Di tim drh Pujiono, ada drh Mohamad Yunus, drh Alfi Syahrul Ramadan, drh Mohamad Hatta, drh Reyza, dan drh Ilham.

Tim-tim itu berpencar ke tiga kecamatan. Mendatangi kandang-kandang. Yang sering, harus dilalui dengan susah-payah.

Memang, bagi para dokter hewan itu, menangani PMK adalah pengalaman pertama mereka. Meskipun sudah bertahun-tahun berkecimpung di dunia perhewanan. Pujiono misalnya, dia sudah berdinas di DKPP Kota Kediri sejak 2006.

Salah satu kendala tim tentu saja medan yang kadang menyulitkan. Harus dicapai dengan berjalan kaki. Dengan jalanan yang menanjak atau menurun dengan tajam. Kondisinya juga licin.

“Kadang ada peternak yang ketika kami datangi tidak ada. Akhirnya kami melanjutkan ke peternak lain, setelah itu harus kembali ke kandang itu lagi,” terangnya seraya menyebut kaki adalah bagian yang paling terasa lelah.

Selama vaksinasi para petugas juga harus menerapkan protokol kesehatan dengan ketat. Kandang dan sekitarnya disemprot disinfektan. Begitupun dengan tubuh para petugas. Agar tidak ada virus PMK yang terbawa ketika petugas berpindah dari satu kandang ke kandang lainnya.

Kadang, ada pemilik sapi yang menolak vaksinasi. Kalau seperti ini, petugas memiliki tugas tambahan. Bersusah payah menjelaskan dan memberi pemahaman. Karena vaksinasi memang tak boleh dipaksakan.

Baca Juga :  Akhirnya, UMK Kota Kediri Naik Rp 32 Ribu

“Kami hanya bisa memberikan edukasi dan pemahaman. Kami tidak boleh memaksa,” aku dokter hewan lulusan IPB ini.

Mendapat perlakuan tidak menyenangkan merupakan bagian dari kisah para anggota tim. Suatu ketika, pernah mereka kehabisan vaksin. Hingga terpaksa melanjutkan esok hari. Nah, ketika hendak pulang ada peternak yang menelepon. Marah-marah karena sapinya tak jadi divaksin.

Selain menghadapi kemarahan peternak, mereka juga harus menghadapi pula kemarahan sapi. Pernah Pujiono disruduk seekor sapi. Beruntung tidak sampai terjengkang dan jatuh ke tanah.

“Anggap saja itu asyiknya jadi dokter hewan. Jadi enjoy sajalah,” ucap alumnus SMAN 5 Kota Kediri ini tersenyum.

Semenjak PMK merebak, kesibukannya jadi bertambah. Mereka pun seperti tak kenal waktu. Pagi, siang, dan sore harus standby. Hampir tidak ada waktu bagi keluarga.

“Kadang ajak istri dan anak ke lokasi. Anggap saja itu hiburan,” terang pria 46 tahun ini.

Bagi para anggota im, kesembuhan sapi merupakan kabar paling menggembirakan. Menjadi kepuasan tersediri. “Semakin dengar ada yang sembuh, semakin kami semangat untuk tangani sapi-sapi yang masih masa pemulihan ini,” tuturnya.






Reporter: Ilmidza Amalia Nadzira

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/