31.7 C
Kediri
Friday, August 12, 2022

Agus Praptina, Spesialis Perajin Berbahan Baku Limbah

Wanita ini sangat suka pada limbah. Barang sisa yang tak berguna itupun disulap jadi kerajinan rumahan yang menarik. Sayang, upayanya membuka lapangan kerja terkendala minimnya orang yang berminat.

“Maaf, tangan saya masih hitam seperti ini,” kata wanita tua berjilbab ungu itu. Sembari menunjukkan kedua telapak tangannya tepat di depan wajah. Maklum, perempuan bernama lengkap Agus Praptina ini baru saja selesai mengerjakan orderan batik ecoprint. Batik yang motifnya digambar dari bahan-bahan alami.

Saat itu, wanita berusia 62 tahun itu berada di rumahnya, di Perumahan Candabhirawa, Desa Paron, Kecamatan Ngasem. Di rumah itulah dia menggeluti usaha yang sudah dia lakukan sejak 1985.

Menariknya, usaha-usaha yang dilakukan wanita yang juga biasa disapa Bu Seno-diambil dari nama almarhum suaminya-ini semuanya berbahan dasar limbah. Selain membatik ecoprinting, dia juga membuat batik perca. Memanfaatkan limbah bekas potongan kain para penjahit. Terbaru, dia membuat beraneka kerajinan berbahan eceng gondok. Tanaman liar yang banyak tumbuh di sungai-sungai.

“Memang sukanya dengan limbah,” ujarnya dilanjutkan dengan tawa kecil.

Perjumpaannya dengan bahan eceng gondok terjadi saat pandemi Covid-19 menerjang tanah air lalu. Di awal 2020 itu permintaan batik perca dan ecoprint-nya menurun drastic. Boleh disebut sangat anjlok. Padahal dia harus  terus menghidupkan rumah usahanya yang diberi nama Chabi Craft tersebut.

Saat melihat banyaknya tanaman eceng gondok tumbuh liar, dia pun mendapat ide. Menggunakan serat tanaman tersebut untuk dijadikan produk kerajinan bernilai tinggi.

Baca Juga :  Kejari Kota Kediri Perkuat Keterangan dan Bukti Dugaan Korupsi BPNT

Wanita yang dulu bersekolah di STM (sekarang SMK) jurusan listrik itu memilih eceng gondok sebagai bahan baku karena melimpah dan mudah didapat. Harganya pun sangat murah. Harga satu kilogram eceng gondok kering berkisar Rp 15 ribu sampai Rp 20 ribu.

“Saya lihat banyak di sungai di Kediri, daripada dibuang mending diolah,” katanya.

Batang eceng gondok itu dia gunakan untuk berbagai kerajinan anyaman. Paling bagus menggunakan yang berukuran panjang 60 sentimeter. Agar bisa dijadikan anyaman, harus menunggu hingga kering. Tahap inilah yang butuh waktu paling lama “Minimal satu minggu, kalau musim hujan lebih lama lagi,” lanjut perempuan asli Kota Malang ini.

Praptina tak punya hambatan dalam menganyam batang tanaman bernama latin Eichhornia Crassipes ini. Bekal melakukan kegiatan serupa ketika masih tinggal di Malang sangat membantu. Dia pun dengan mudah membentuk anyaman itu jadi bahan-bahan bernilai jual.

Produk pertamanya adalah lapak penahan panas yang biasanya diletakan di meja makan. Bentuknya melingkar dengan diameter 20 sentimeter.

Sebagai tempat produksi, dua ruangan di rumahnya dia ubah menjadi bengkel. Di teras berukuran 3×3 meter dan di ruang tamu yang ukurannya 4 x 6 meter. Di waktu-waktu tertentu dua tempat itu akan ramai dijejali ibu-ibu yang belajar menganyam. “Biasanya ibu-ibu PKK belajarnya di sini,” terangnya.

Baca Juga :  Strategi BRI Perkuat Pertumbuhan di Masa Pemulihan Ekonomi

Agar produknya tidak monoton, dia terus berinovasi. Setelah tatakan penahan panas itu kemudian berkembang membuat pot bunga, tempat pensil, keranjang tempat pakaian, hingga tas. Sekarang lebih banyak aksesoris untuk keperluan fotografi.

Saat Idul Fitri lalu pesanan membeludak. Banyak yang untuk oleh-oleh. Sampai-sampai dia terpaksa menolah beberapa pesanan, terutama yang berasal dari instansi pemerintah.

“Saya tidak mau produk asal-asalan,” akunya menyebut alasan menolak pesanan itu.

Penolakan terjadi karena dia sulit mencari mitra untuk membuat barang pesanan. Jika dikerjakan sendiri hasilnya tidak bisa cepat. Produksinya pun terbatas.

Sebenarnya, usaha yang dia geluti itu sangat prospektif. Membuka peluang kerja bagi bagi anak muda dan ibu rumah tangga. Dia pun sempat menawarkan model kemitraan. Berharap ada yang mau mengerjakan di rumah masing-masing agar mereka bisa menghasilkan cuan.

Sayang, keinginan baiknya itu belum tercapai. Peminatnya minim. Meskipun keinginannya mendapatkan mitra itu sudah disampaikan kepada Bupati Hanindhito Himawan Pramana ketika dia ikut program Jumat Ngopi.

Yang pradoks, dia kesulitan mencari partner ketika pesanannya tidak pernah sepi. Bila dia bisa menambah produksi, pasarnya bisa lebih lebar lagi. Tidak seperti saat ini yang hanya di daerah Jawa Timur saja.






Reporter: rekian
- Advertisement -

Wanita ini sangat suka pada limbah. Barang sisa yang tak berguna itupun disulap jadi kerajinan rumahan yang menarik. Sayang, upayanya membuka lapangan kerja terkendala minimnya orang yang berminat.

“Maaf, tangan saya masih hitam seperti ini,” kata wanita tua berjilbab ungu itu. Sembari menunjukkan kedua telapak tangannya tepat di depan wajah. Maklum, perempuan bernama lengkap Agus Praptina ini baru saja selesai mengerjakan orderan batik ecoprint. Batik yang motifnya digambar dari bahan-bahan alami.

Saat itu, wanita berusia 62 tahun itu berada di rumahnya, di Perumahan Candabhirawa, Desa Paron, Kecamatan Ngasem. Di rumah itulah dia menggeluti usaha yang sudah dia lakukan sejak 1985.

Menariknya, usaha-usaha yang dilakukan wanita yang juga biasa disapa Bu Seno-diambil dari nama almarhum suaminya-ini semuanya berbahan dasar limbah. Selain membatik ecoprinting, dia juga membuat batik perca. Memanfaatkan limbah bekas potongan kain para penjahit. Terbaru, dia membuat beraneka kerajinan berbahan eceng gondok. Tanaman liar yang banyak tumbuh di sungai-sungai.

“Memang sukanya dengan limbah,” ujarnya dilanjutkan dengan tawa kecil.

Perjumpaannya dengan bahan eceng gondok terjadi saat pandemi Covid-19 menerjang tanah air lalu. Di awal 2020 itu permintaan batik perca dan ecoprint-nya menurun drastic. Boleh disebut sangat anjlok. Padahal dia harus  terus menghidupkan rumah usahanya yang diberi nama Chabi Craft tersebut.

Saat melihat banyaknya tanaman eceng gondok tumbuh liar, dia pun mendapat ide. Menggunakan serat tanaman tersebut untuk dijadikan produk kerajinan bernilai tinggi.

Baca Juga :  Buruan Ikut Yamaha Day Photo Competition

Wanita yang dulu bersekolah di STM (sekarang SMK) jurusan listrik itu memilih eceng gondok sebagai bahan baku karena melimpah dan mudah didapat. Harganya pun sangat murah. Harga satu kilogram eceng gondok kering berkisar Rp 15 ribu sampai Rp 20 ribu.

“Saya lihat banyak di sungai di Kediri, daripada dibuang mending diolah,” katanya.

Batang eceng gondok itu dia gunakan untuk berbagai kerajinan anyaman. Paling bagus menggunakan yang berukuran panjang 60 sentimeter. Agar bisa dijadikan anyaman, harus menunggu hingga kering. Tahap inilah yang butuh waktu paling lama “Minimal satu minggu, kalau musim hujan lebih lama lagi,” lanjut perempuan asli Kota Malang ini.

Praptina tak punya hambatan dalam menganyam batang tanaman bernama latin Eichhornia Crassipes ini. Bekal melakukan kegiatan serupa ketika masih tinggal di Malang sangat membantu. Dia pun dengan mudah membentuk anyaman itu jadi bahan-bahan bernilai jual.

Produk pertamanya adalah lapak penahan panas yang biasanya diletakan di meja makan. Bentuknya melingkar dengan diameter 20 sentimeter.

Sebagai tempat produksi, dua ruangan di rumahnya dia ubah menjadi bengkel. Di teras berukuran 3×3 meter dan di ruang tamu yang ukurannya 4 x 6 meter. Di waktu-waktu tertentu dua tempat itu akan ramai dijejali ibu-ibu yang belajar menganyam. “Biasanya ibu-ibu PKK belajarnya di sini,” terangnya.

Baca Juga :  Sobirin, Bangkit dari Lumpuh Total dengan Jadi Perajin Miniatur Pinisi

Agar produknya tidak monoton, dia terus berinovasi. Setelah tatakan penahan panas itu kemudian berkembang membuat pot bunga, tempat pensil, keranjang tempat pakaian, hingga tas. Sekarang lebih banyak aksesoris untuk keperluan fotografi.

Saat Idul Fitri lalu pesanan membeludak. Banyak yang untuk oleh-oleh. Sampai-sampai dia terpaksa menolah beberapa pesanan, terutama yang berasal dari instansi pemerintah.

“Saya tidak mau produk asal-asalan,” akunya menyebut alasan menolak pesanan itu.

Penolakan terjadi karena dia sulit mencari mitra untuk membuat barang pesanan. Jika dikerjakan sendiri hasilnya tidak bisa cepat. Produksinya pun terbatas.

Sebenarnya, usaha yang dia geluti itu sangat prospektif. Membuka peluang kerja bagi bagi anak muda dan ibu rumah tangga. Dia pun sempat menawarkan model kemitraan. Berharap ada yang mau mengerjakan di rumah masing-masing agar mereka bisa menghasilkan cuan.

Sayang, keinginan baiknya itu belum tercapai. Peminatnya minim. Meskipun keinginannya mendapatkan mitra itu sudah disampaikan kepada Bupati Hanindhito Himawan Pramana ketika dia ikut program Jumat Ngopi.

Yang pradoks, dia kesulitan mencari partner ketika pesanannya tidak pernah sepi. Bila dia bisa menambah produksi, pasarnya bisa lebih lebar lagi. Tidak seperti saat ini yang hanya di daerah Jawa Timur saja.






Reporter: rekian

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/