29.6 C
Kediri
Friday, July 1, 2022

Tak Ada Lagi Pentas di Musim Panen

Di puncak kejayaannya wayang krucil merajai Kediri. Dalangnya tersebar di pelosok daerah. Kini, yang tersisa hanya dua orang dalang.

——————————————————-

Hingga era-1980-an, wayang krucil menunjukkan ‘kedigdayaannya’. Sebagai pertunjukan seni masyarakat nyaris tak ada saingan. Bahkan hingga pentas ke mancanegara.

“Sekarang ini di Kediri hanya ada dua dalang (wayang krucil). Saya dengan Pak Harjito,” kata Khoirudin. Lelaki 40 tahun ini adalah warga Desa Bulupasar, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri yang masih setia menekuni seni wayang krucil.

Kondisi ini tentu saja berbeda dengan beberapa dekade sebelumnya. Ketika puncak kejayaan wayang ini, dalangnya nyaris ada di seluruh daerah Kediri. Kelompok-kelompok wayang krucil juga menjamur.

Dia masih ingat pada era 1980-an. Kala itu masyarakat belum punya banyak pilihan hiburan. Tak banyak yang punya radio, apalagi televisi. Terlebih, tak ada gadget seperti zaman sekarang.

“Hiburan seni seperti wayang krucil dan wayang kulit, atau wayang jenis lainnya nyaris belum ada saingan,” kenangnya.

Khoirudin adalah buah dari era keemasan itu. Keluarganya memiliki kelompok kesenian ini, turun-temurun. Darah seninya juga dia dapat dari sang ayah.

Baca Juga :  Menekuni Hobi dan Melakukan Me Time

Tak hanya sukses dengan sering pentas di berbagai tempat, Khoirudin ingat kelompok seni milik keluarganya itu sering tampil ke luar negeri. Mengikuti festival budaya di berbagai belahan dunia. Seperti di Swiss dan Jepang. Mewakili Indonesia di festival-festival itu.

Tapi, itu dulu. Kini, pertunjukan wayang krucil nyaris tidak ada. Tidak lagi ada pentas di saat awal musim tanam atau pasca panen. Mereka yang hajatan juga sudah tak menghadirkan mereka lagi.

Ibaratnya, wayang krucil bak lenyap ditelan bumi. Tergusur oleh membanjirnya kebudayaan pop, kebudayaan modern. Pementasannya sulit dijumpai. Kecuali dalam acara ritual seperti bersih desa atau ruwatan.

Sebelum pandemi, sisa-sisa keperkasaan wayang krucil masih terlihat. Di bulan-bulan tertentu ada yang nanggap. Dalam hitungan Khoirudin, dalam sebulan dia bisa belasan atau bahkan puluhan kali pentas.

“Terkadang di bulan-bulan baik menurut hitungan Jawa, dalam sebulan bisa pentas hingga 24 kali,” aku Khoirudin.

Karena itulah Khoirudin berharap uluran bantuan dari pemerintah. Agar mereka bisa selalu menghidupkan kesenian tradisional khas Kediri ini. Meskipun, dia mengakui, pemkab memang telah memberikan dukungannya sejauh ini. Yaitu mengikutkan wayang krucil dalam acara-acara besar pemerintah. Toh, itu belum cukup untuk menghidupkan kembali gairah wayang krucil.

Baca Juga :  Mikem dan Ketang, Kakak Beradik yang Lumpuh asal Kelurahan Kramat

“Tetap ada ketakutan jika sampai punah, ini produk kesenian asli rakyat Kediri. Jangan sampai hilang,” harap sang dalang.

Khoirudin menyebut, pembibitan kepada pemuda-pemuda Kediri merupakan salah satu upaya untuk mempertahankan eksistensi wayang krucil di masyarakat. Maksudnya, dia membuka peluang bagi pemuda-pemuda yang ingin belajar tentang wayang krucil. Mulai dari pedalangan, karawitan, sinden, dan pengukir wayang. “Kebetulan anggota rawitan di sanggar Adji Laras (sanggar milik Khoirudin, Red) ada 18 orang dan 7 sinden. Mereka semua adalah anak-anak muda asli Kediri,” ujarnya. (c3/fud)

 

Tentang Wayang Krucil

–  Awalnya wayang ini terbuat dari kulit dan berukuran kecil. Pada perkembangannya bahan berganti kayu. Sehingga dinamakan wayang klithik atau wayang krucil.

–    Dari segi cerita, wayang krucil mengambil sumber yang terkait dengan kerajaan Kediri. Seperti kisah Panji Semirang, Panji Asmara Bangun, Chandra Kirana, Lembu Amiluhur Krido, cerita Gunung Kelud, atau cerita Gunung Klotok.

 

- Advertisement -

Di puncak kejayaannya wayang krucil merajai Kediri. Dalangnya tersebar di pelosok daerah. Kini, yang tersisa hanya dua orang dalang.

——————————————————-

Hingga era-1980-an, wayang krucil menunjukkan ‘kedigdayaannya’. Sebagai pertunjukan seni masyarakat nyaris tak ada saingan. Bahkan hingga pentas ke mancanegara.

“Sekarang ini di Kediri hanya ada dua dalang (wayang krucil). Saya dengan Pak Harjito,” kata Khoirudin. Lelaki 40 tahun ini adalah warga Desa Bulupasar, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri yang masih setia menekuni seni wayang krucil.

Kondisi ini tentu saja berbeda dengan beberapa dekade sebelumnya. Ketika puncak kejayaan wayang ini, dalangnya nyaris ada di seluruh daerah Kediri. Kelompok-kelompok wayang krucil juga menjamur.

Dia masih ingat pada era 1980-an. Kala itu masyarakat belum punya banyak pilihan hiburan. Tak banyak yang punya radio, apalagi televisi. Terlebih, tak ada gadget seperti zaman sekarang.

“Hiburan seni seperti wayang krucil dan wayang kulit, atau wayang jenis lainnya nyaris belum ada saingan,” kenangnya.

Khoirudin adalah buah dari era keemasan itu. Keluarganya memiliki kelompok kesenian ini, turun-temurun. Darah seninya juga dia dapat dari sang ayah.

Baca Juga :  Anang Soetomo Mencari Kejelasan Identitas (3/habis)

Tak hanya sukses dengan sering pentas di berbagai tempat, Khoirudin ingat kelompok seni milik keluarganya itu sering tampil ke luar negeri. Mengikuti festival budaya di berbagai belahan dunia. Seperti di Swiss dan Jepang. Mewakili Indonesia di festival-festival itu.

Tapi, itu dulu. Kini, pertunjukan wayang krucil nyaris tidak ada. Tidak lagi ada pentas di saat awal musim tanam atau pasca panen. Mereka yang hajatan juga sudah tak menghadirkan mereka lagi.

Ibaratnya, wayang krucil bak lenyap ditelan bumi. Tergusur oleh membanjirnya kebudayaan pop, kebudayaan modern. Pementasannya sulit dijumpai. Kecuali dalam acara ritual seperti bersih desa atau ruwatan.

Sebelum pandemi, sisa-sisa keperkasaan wayang krucil masih terlihat. Di bulan-bulan tertentu ada yang nanggap. Dalam hitungan Khoirudin, dalam sebulan dia bisa belasan atau bahkan puluhan kali pentas.

“Terkadang di bulan-bulan baik menurut hitungan Jawa, dalam sebulan bisa pentas hingga 24 kali,” aku Khoirudin.

Karena itulah Khoirudin berharap uluran bantuan dari pemerintah. Agar mereka bisa selalu menghidupkan kesenian tradisional khas Kediri ini. Meskipun, dia mengakui, pemkab memang telah memberikan dukungannya sejauh ini. Yaitu mengikutkan wayang krucil dalam acara-acara besar pemerintah. Toh, itu belum cukup untuk menghidupkan kembali gairah wayang krucil.

Baca Juga :  7 Anggota Geng Motor Jadi Tersangka Pengroyokan di Gurah

“Tetap ada ketakutan jika sampai punah, ini produk kesenian asli rakyat Kediri. Jangan sampai hilang,” harap sang dalang.

Khoirudin menyebut, pembibitan kepada pemuda-pemuda Kediri merupakan salah satu upaya untuk mempertahankan eksistensi wayang krucil di masyarakat. Maksudnya, dia membuka peluang bagi pemuda-pemuda yang ingin belajar tentang wayang krucil. Mulai dari pedalangan, karawitan, sinden, dan pengukir wayang. “Kebetulan anggota rawitan di sanggar Adji Laras (sanggar milik Khoirudin, Red) ada 18 orang dan 7 sinden. Mereka semua adalah anak-anak muda asli Kediri,” ujarnya. (c3/fud)

 

Tentang Wayang Krucil

–  Awalnya wayang ini terbuat dari kulit dan berukuran kecil. Pada perkembangannya bahan berganti kayu. Sehingga dinamakan wayang klithik atau wayang krucil.

–    Dari segi cerita, wayang krucil mengambil sumber yang terkait dengan kerajaan Kediri. Seperti kisah Panji Semirang, Panji Asmara Bangun, Chandra Kirana, Lembu Amiluhur Krido, cerita Gunung Kelud, atau cerita Gunung Klotok.

 

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/