23.3 C
Kediri
Tuesday, August 16, 2022

Suminar Wati, Kreator Batik Khas Kabupaten Kediri

- Advertisement -

Wabah korona kali ini mengingatkan Suminar krisis ekonomi 1997. Sama-sama menerjang kuat usaha batik yang dia tekuni. Kali ini dia juga berusaha tegar karena nasib puluhan karyawan bergantung pada kelangsungan bisnisnya.

 

 

Rumah bercat coklat muda itu terlihat sepi siang itu. Tak ada aktivitas yang nampak saat menapak halaman rumah yang tertata asri itu. Yang ada di pandangan mata hanya beberapa helai kain yang dijemur.

Tapi, kesunyian itu seperti menipu. Ketika pintu dibuka, tersajilah aktivitas yang sebenarnya. Beberapa orang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Salah seorang di antaranya sesosok wanita duduk menghadap meja desain. Tangannya lincah menari di permukaan kain polos. Kain yang akan ditransformasi menjadi bermotif batik.

- Advertisement -

“Sudah beberapa hari ini tidak ada pengunjung,” ucap perempuan bernama lengkap Suminar Wati Sundoro, pemilik brand Batik Suminar.

Kondisi seperti ini tak dia rasakan sendiri. Dia mengatakan rekan-rekannya yang tergabung dalam Perkumpulan Batik Indonesia mengeluhkan kondisi serupa. Mengalami penurunan pembeli yang kian sangat terasa Maret lalu.

“Biasanya tak sesepi ini,” cerita Suminar sembari berjalan menuju ruang tamu. Di hari-hari biasa pun masih ada beberapa batik yang terjual. Namun kali ini terasa berbeda. Sejak ada imbauan tak keluar rumah karena pandemi korona, belum ada konsumen yang berkunjung ke gerainya.

Baca Juga :  Sinau Mbatik ing Kediri, Angel Ning Nyenengne

Tapi Suminar tak ingin menyerah. Produksi batik tetap berjalan. Dia tak ingin 32 pekerjanya tiba-tiba jadi pengangguran. “Karena sebagian besar (pekerjanya, Red) menjadi tulang punggung keluarga,” terangnya.

Suminar teringat kondisi nyaris sama pada 1997. Saat itu terjadi krisis ekonomi hebat. Bisnis batiknya yang semula punya sembilan pegawai jadi tersisa satu. Agar bertahan dia sampai menggaji karyawannya itu dengan gaji PNS-nya. Kebetulan, wanita kelahiran 1957 ini memang seorang PNS.

Suminar memulai usaha batiknya pada 1984. Awalnya berbisnis garmen yang dia jual hingga ke luar pulau. Kemudian mulai mengembangkan batik sejak 1992.

Awal menekuni batik bukan hanya karena dia menyenangi saja. Namun juga karena keprihatinannya karena tidak ada batik khas Kediri. “Lalu saya berinisiatif menciptakan batik sebagai ciri khas Kabupaten Kediri,” tuturnya.

Beberapa batik ikonik pun sudah dia hasilkan. Berciri khas Kabupaten Kediri. Mulai dari motif Simpang Lima Gumul (SLG), batik Mangga Podang, batik Rosela, batik Bambu Sakura, batik Anak Gunung Kelud, Gunung Kelud Erupsi, Kediri Lagi, hingga batik Panji Pulang Kampung. Setiap batik buatannya memiliki cerita tersendiri dalam proses pembuatannya.

Dari semua motif batik buatannya, Erupsi Gunung Kelud adalah yang paling lama prosesnya. Sejak ide muncul butuh waktu enam bulan untuk penyempurnaan.

Suminar kemudian mengenang pagi di 2014 itu. Tepat 13 Februari, ketika Gunung Kelud mengalami erupsi. Dia dan suaminya, Sugeng Sundoro, keluar rumah dan melihat tamannya sudah tertutup abu vulkanik. Rumput hijau yang awalnya terhampar sudah tak terlihat lagi.

Baca Juga :  Ribuan Pembalap Ngalas Bareng

Selain abu vulkanik, juga terdapat bebatuan yang berserakan di halaman rumahnya. Pada saat itu ia langsung mendapatkan ide membuat batik. Agar tidak terlihat menakutkan, ia tidak menggunakan nama gunung kelud bledos. Akan tetapi ia menggunakan nama Gunung Kelud erupsi.

Sayangnya, kedua tangannya seperti belum tahu akan menggambar apa. “Setelah enam bulan, dan melakukan puasa akhirnya saya mendapatkan ide,” jelas Suminar.

Seperti dengan namanya, motif Gunung Kelud Erupsi menceritakan tentang kejadian letusan itu. Seperti gambaran hewan-hewan meninggalkan gunung, asap yang keluar, dan beberapa kejadian lainnya. Agar pas dengan momennya, batik tersebut dirilis ketika peringatan satu tahun meletusnya Gunung Kelud.

Kini, di tengah wabah korona, satu ide menyembul dari benaknya. Dia berencana membuat batik korona. “Batik ini seperti sebuah pengingat. Bahwa pernah adanya kejadian tersebut,” ungkap Suminar.

Suminar sendiri mengaku tidak menyangka batik bermotif khas Kabupaten Kediri kreasinya disukai masyarakat. Tapi, itulah yang terjadi. Setidaknya, 600 lembar batik mampu terjual dalam sebulan. Sekaligus mampu membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat.

- Advertisement -

Wabah korona kali ini mengingatkan Suminar krisis ekonomi 1997. Sama-sama menerjang kuat usaha batik yang dia tekuni. Kali ini dia juga berusaha tegar karena nasib puluhan karyawan bergantung pada kelangsungan bisnisnya.

 

 

Rumah bercat coklat muda itu terlihat sepi siang itu. Tak ada aktivitas yang nampak saat menapak halaman rumah yang tertata asri itu. Yang ada di pandangan mata hanya beberapa helai kain yang dijemur.

Tapi, kesunyian itu seperti menipu. Ketika pintu dibuka, tersajilah aktivitas yang sebenarnya. Beberapa orang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Salah seorang di antaranya sesosok wanita duduk menghadap meja desain. Tangannya lincah menari di permukaan kain polos. Kain yang akan ditransformasi menjadi bermotif batik.

“Sudah beberapa hari ini tidak ada pengunjung,” ucap perempuan bernama lengkap Suminar Wati Sundoro, pemilik brand Batik Suminar.

Kondisi seperti ini tak dia rasakan sendiri. Dia mengatakan rekan-rekannya yang tergabung dalam Perkumpulan Batik Indonesia mengeluhkan kondisi serupa. Mengalami penurunan pembeli yang kian sangat terasa Maret lalu.

“Biasanya tak sesepi ini,” cerita Suminar sembari berjalan menuju ruang tamu. Di hari-hari biasa pun masih ada beberapa batik yang terjual. Namun kali ini terasa berbeda. Sejak ada imbauan tak keluar rumah karena pandemi korona, belum ada konsumen yang berkunjung ke gerainya.

Baca Juga :  Tampil Kasual dengan Batik

Tapi Suminar tak ingin menyerah. Produksi batik tetap berjalan. Dia tak ingin 32 pekerjanya tiba-tiba jadi pengangguran. “Karena sebagian besar (pekerjanya, Red) menjadi tulang punggung keluarga,” terangnya.

Suminar teringat kondisi nyaris sama pada 1997. Saat itu terjadi krisis ekonomi hebat. Bisnis batiknya yang semula punya sembilan pegawai jadi tersisa satu. Agar bertahan dia sampai menggaji karyawannya itu dengan gaji PNS-nya. Kebetulan, wanita kelahiran 1957 ini memang seorang PNS.

Suminar memulai usaha batiknya pada 1984. Awalnya berbisnis garmen yang dia jual hingga ke luar pulau. Kemudian mulai mengembangkan batik sejak 1992.

Awal menekuni batik bukan hanya karena dia menyenangi saja. Namun juga karena keprihatinannya karena tidak ada batik khas Kediri. “Lalu saya berinisiatif menciptakan batik sebagai ciri khas Kabupaten Kediri,” tuturnya.

Beberapa batik ikonik pun sudah dia hasilkan. Berciri khas Kabupaten Kediri. Mulai dari motif Simpang Lima Gumul (SLG), batik Mangga Podang, batik Rosela, batik Bambu Sakura, batik Anak Gunung Kelud, Gunung Kelud Erupsi, Kediri Lagi, hingga batik Panji Pulang Kampung. Setiap batik buatannya memiliki cerita tersendiri dalam proses pembuatannya.

Dari semua motif batik buatannya, Erupsi Gunung Kelud adalah yang paling lama prosesnya. Sejak ide muncul butuh waktu enam bulan untuk penyempurnaan.

Suminar kemudian mengenang pagi di 2014 itu. Tepat 13 Februari, ketika Gunung Kelud mengalami erupsi. Dia dan suaminya, Sugeng Sundoro, keluar rumah dan melihat tamannya sudah tertutup abu vulkanik. Rumput hijau yang awalnya terhampar sudah tak terlihat lagi.

Baca Juga :  Semarak Kediri Fashion Week

Selain abu vulkanik, juga terdapat bebatuan yang berserakan di halaman rumahnya. Pada saat itu ia langsung mendapatkan ide membuat batik. Agar tidak terlihat menakutkan, ia tidak menggunakan nama gunung kelud bledos. Akan tetapi ia menggunakan nama Gunung Kelud erupsi.

Sayangnya, kedua tangannya seperti belum tahu akan menggambar apa. “Setelah enam bulan, dan melakukan puasa akhirnya saya mendapatkan ide,” jelas Suminar.

Seperti dengan namanya, motif Gunung Kelud Erupsi menceritakan tentang kejadian letusan itu. Seperti gambaran hewan-hewan meninggalkan gunung, asap yang keluar, dan beberapa kejadian lainnya. Agar pas dengan momennya, batik tersebut dirilis ketika peringatan satu tahun meletusnya Gunung Kelud.

Kini, di tengah wabah korona, satu ide menyembul dari benaknya. Dia berencana membuat batik korona. “Batik ini seperti sebuah pengingat. Bahwa pernah adanya kejadian tersebut,” ungkap Suminar.

Suminar sendiri mengaku tidak menyangka batik bermotif khas Kabupaten Kediri kreasinya disukai masyarakat. Tapi, itulah yang terjadi. Setidaknya, 600 lembar batik mampu terjual dalam sebulan. Sekaligus mampu membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat.

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/