23.8 C
Kediri
Saturday, June 25, 2022

Budiantoro, Penghobi Sepeda Tua yang Tampil Beda

Pria ini selalu menjadi pusat perhatian di setiap event sepeda tua yang dia ikuti. Penampilannya yang bergaya warok memukau banyak orang. Tujuannya tak hanya tampil beda.Tapi juga karena ingin melestarikan seni dan budaya nusantara.

 

MOCH. DIDIN SAPUTRO, Kabupaten, JP Radar Kediri.

 

Ribuan penghobi sepeda tua memadati kawasan Monumen Simpang Lima Gumul (SLG) kemarin pagi (3/11). Rata-rata mereka mengenakan sarung. Lengkap dengan baju koko dan songkok. Mereka datang tak hanya dari Kediri Raya saja. Juga dari luar kota. Bahkan ada beberapa yang datang dari luar Jatim. Mereka bertujuan sama. Ingin memeriahkan acata ngontel bareng yang terkait peringatan Hari Santri Nasional (HSN) di Kabupaten Kediri.

Di antara ribuan peserta itu, ada salah satu sosok yang cukup menarik perhatian. Pria itu menuntun sepeda unta. Tal sekadar sepeda lama saja yang dia tuntun. Tapi di badan sepeda itu menempel beragam aksesoris.

Yang paling terlihat menonjol adalah sepasang tanduk rusa. Asesoris ini ditaruh di bagian setang sepeda. Di sekitarnya bergelantungan lonceng-lonceng kecil (klutung) yang biasa digantungkan di leher sapi.

Tak cukup hanya itu saja. Sang pemilik sepertinya ingin mengesankan bahwa sepedanya merupakan ‘hewan tunggangan’ tangguh. Di bagian selebor belakang menjuntai ekor kuda.

Baca Juga :  Duka Keluarga M. Ridwan, Korban Kecelakaan Maut di Gurah

Siapa sang pemilik sepeda itu? Namanya Budiantoro. Lelaki ini mengaku anggota Paguyuban Pelestari Sepeda Unta (Papson) Kediri.

Budi menyampaikan bahwa sepeda miliknya itu telah menjelajah sejumlah kota di Jawa. “Selalu keluar kalau ada event. Apalagi kalau di Jember atau Banyuwangi pasti saya datang,” ujarnya.

Uniknya, setiap ada event sepeda ontel, Budi selalu berpakaian nyeleneh. Yang membedakannya dari pesepeda lain adalah penampilan Budi laiknya warok, tokoh garang dari Ponorogo.

Memang, itu sengaja dilakukannya. Bahkan tak jarang dengan penampilan seperti itu banyak penonton yang meminta berswafoto dengannya. “Bahkan biasanya tidak pakai baju, jadi kayak warok beneran,” ujar pria 58 tahun ini sedikit terkekeh.

Dan, Budi mengakui bahwa hanya dia sendiri yang tidak mengenakan baju saat bersepeda kuno tersebut. Itu sudah menjadi ciri khasnya. “Tapi kalau hari ini (kemarin, Red) ya pakai baju. Karena peringatan hari santri, jadi tidak enak kalau lepas baju,” tandasnya.

Di wilayah Kediri, penampilan Budi ini tak terlalu menjadi bahan perbincangan orang. Karena bagi warga Kediri mereka sudah hafal dengan gaya dan penampilan Budi di setiap event. Berbeda bila dia sedang ikut event di wilayah Jawa Tengah misalnya. Akan ada banyak orang yang langsung menghampirinya. Mengajaknya berfoto bersama.

Baca Juga :  Juwanto, Korban Terparah akibat Ledakan Balon Hari Santri

Motivasinya berpenampilan layaknya warok itu bukan tanpa alasan. Selain mengenalkan kesenian asal daerah, juga karena keinginan tetap melestarikannya. “Karena saya juga dari Ponorogo, jadi ingin tetap melestarikan kebudayaan ini,” papar warga Lingkungan Kreco, Kelurahan Jamsaren, Kecamatan Kota Kediri ini.

Setidaknya dalam satu bulan, paling banyak empat kali ia berkeliling kota untuk mengikuti event seperti ini. Tetap dengan pakaian yang tetap nyentrik. Berpakaian laiknya warok Reog Ponorogo.

Untuk menopang hobinya itu, ayah dua anak ini mengoleksi sejumlah sepeda tua lainnya. Semuanya tersimpan di rumah. Total ada lima sepeda yang setiap kali tampil ke luar kota selalu diberi aksesoris seperti ini.

Pengalaman menarik lainnya, yakni saat ada acara di daerah Gringging, Kecamatan Grogol. Budi sempat meninggalkan sepedanya. Dan ternyata, tak berselang lama, lonceng sapi yang terpasang di bagian depan sepedanya itu hilang dua. “Dulu sampai saya pasang 15 klutung (lonceng, Red) tapi sekarang lebih hati-hati karena pernah kehilangan,” akunya.

- Advertisement -

Pria ini selalu menjadi pusat perhatian di setiap event sepeda tua yang dia ikuti. Penampilannya yang bergaya warok memukau banyak orang. Tujuannya tak hanya tampil beda.Tapi juga karena ingin melestarikan seni dan budaya nusantara.

 

MOCH. DIDIN SAPUTRO, Kabupaten, JP Radar Kediri.

 

Ribuan penghobi sepeda tua memadati kawasan Monumen Simpang Lima Gumul (SLG) kemarin pagi (3/11). Rata-rata mereka mengenakan sarung. Lengkap dengan baju koko dan songkok. Mereka datang tak hanya dari Kediri Raya saja. Juga dari luar kota. Bahkan ada beberapa yang datang dari luar Jatim. Mereka bertujuan sama. Ingin memeriahkan acata ngontel bareng yang terkait peringatan Hari Santri Nasional (HSN) di Kabupaten Kediri.

Di antara ribuan peserta itu, ada salah satu sosok yang cukup menarik perhatian. Pria itu menuntun sepeda unta. Tal sekadar sepeda lama saja yang dia tuntun. Tapi di badan sepeda itu menempel beragam aksesoris.

Yang paling terlihat menonjol adalah sepasang tanduk rusa. Asesoris ini ditaruh di bagian setang sepeda. Di sekitarnya bergelantungan lonceng-lonceng kecil (klutung) yang biasa digantungkan di leher sapi.

Tak cukup hanya itu saja. Sang pemilik sepertinya ingin mengesankan bahwa sepedanya merupakan ‘hewan tunggangan’ tangguh. Di bagian selebor belakang menjuntai ekor kuda.

Baca Juga :  Parto Ketang, Korban Longsor di Dusun Banaran, Desa Macanan, Loceret

Siapa sang pemilik sepeda itu? Namanya Budiantoro. Lelaki ini mengaku anggota Paguyuban Pelestari Sepeda Unta (Papson) Kediri.

Budi menyampaikan bahwa sepeda miliknya itu telah menjelajah sejumlah kota di Jawa. “Selalu keluar kalau ada event. Apalagi kalau di Jember atau Banyuwangi pasti saya datang,” ujarnya.

Uniknya, setiap ada event sepeda ontel, Budi selalu berpakaian nyeleneh. Yang membedakannya dari pesepeda lain adalah penampilan Budi laiknya warok, tokoh garang dari Ponorogo.

Memang, itu sengaja dilakukannya. Bahkan tak jarang dengan penampilan seperti itu banyak penonton yang meminta berswafoto dengannya. “Bahkan biasanya tidak pakai baju, jadi kayak warok beneran,” ujar pria 58 tahun ini sedikit terkekeh.

Dan, Budi mengakui bahwa hanya dia sendiri yang tidak mengenakan baju saat bersepeda kuno tersebut. Itu sudah menjadi ciri khasnya. “Tapi kalau hari ini (kemarin, Red) ya pakai baju. Karena peringatan hari santri, jadi tidak enak kalau lepas baju,” tandasnya.

Di wilayah Kediri, penampilan Budi ini tak terlalu menjadi bahan perbincangan orang. Karena bagi warga Kediri mereka sudah hafal dengan gaya dan penampilan Budi di setiap event. Berbeda bila dia sedang ikut event di wilayah Jawa Tengah misalnya. Akan ada banyak orang yang langsung menghampirinya. Mengajaknya berfoto bersama.

Baca Juga :  Pembangunan Jembatan Perintis di Desa Cepoko, Kecamatan Berbek

Motivasinya berpenampilan layaknya warok itu bukan tanpa alasan. Selain mengenalkan kesenian asal daerah, juga karena keinginan tetap melestarikannya. “Karena saya juga dari Ponorogo, jadi ingin tetap melestarikan kebudayaan ini,” papar warga Lingkungan Kreco, Kelurahan Jamsaren, Kecamatan Kota Kediri ini.

Setidaknya dalam satu bulan, paling banyak empat kali ia berkeliling kota untuk mengikuti event seperti ini. Tetap dengan pakaian yang tetap nyentrik. Berpakaian laiknya warok Reog Ponorogo.

Untuk menopang hobinya itu, ayah dua anak ini mengoleksi sejumlah sepeda tua lainnya. Semuanya tersimpan di rumah. Total ada lima sepeda yang setiap kali tampil ke luar kota selalu diberi aksesoris seperti ini.

Pengalaman menarik lainnya, yakni saat ada acara di daerah Gringging, Kecamatan Grogol. Budi sempat meninggalkan sepedanya. Dan ternyata, tak berselang lama, lonceng sapi yang terpasang di bagian depan sepedanya itu hilang dua. “Dulu sampai saya pasang 15 klutung (lonceng, Red) tapi sekarang lebih hati-hati karena pernah kehilangan,” akunya.

Artikel Terkait

Most Read

Megengan Pandemi

Sembadra Karya


Artikel Terbaru

/