23.7 C
Kediri
Sunday, June 26, 2022

Keceriaan Tukang Ojek di Gunung Kelud Kediri

KABUPATEN, JP Radar Kediri

 

Bising knalpot terdengar dari kejauhan. Nyaringnya mendahului sumber suara yang terlihat bergerak pelan. Ketika mendekat terlihat sosok lelaki yang wajahnya tertutup helm full face. Membonceng lelaki remaja berkaos lengan panjang.

Sesampai di lokasi kawah, lelaki itu menghentikan sepeda motor Honda Mega Pro berplat AG 5636 EBS. Kemudian melepas helm dan topi yang dia kenakan untuk melapisi kepala. Terlihat rambut tipisnya yang telah memutih.

“Dipenakne Mas,” ucapnya mempersilakan lelaki yang diboncengnya itu menikmati pemandangan.

Pria ini adalah Yahni. Salah seorang tukang ojek yang beroperasi di kawasan wisata Kelud. Pekerjaannya adalah mengantar wisatawan dari lokasi parker menuju kawasan kawah.

Sejurus kemudian lelaki 64 tahun ini memarkir kendaraannya di antara sepeda motor berkopling lainnya yang berjajar. Kemudian dia menuju gazebo yang sudah ditempati delapan orang. Yahni pun larut dalam senda gurau orang-orang yang juga rekannya sesama pengojek itu. Menunggu wisatawan menghabiskan waktunya di sekitar lokasi kawah.

Para pengojek wisata itu memang pantas bergembira. Sebab, kini mereka bias bekerja lagi. Terutama setelah vakum akibat lokasi wisata ditutup selama pandemic.

“Satu tahun benar-benar gak ngojek saya Mas,” aku lelaki yang kemarin mengenakan jaket putih itu.

Baca Juga :  Rapid Test Sedikit, Pemeriksaan Terbatas

Yahni memang sangat senang. Bagaimana tidak, sekarang dia bisa bekerja lagi. Apalagi mengojek menjadi pekerjaan yang menyenangkan. Dia merasa lebih bersemangat ketika melewati jalur naik-turun di kawasan wisata Gunung Kelud.

Selama Kelud tutup, Yahni pun nyaris menganggur. Untuk memenuhi kebutuhan dapurnya dia menjadi pekerja serabutan. Kadang nguli, kadang juga ikut temannya menjadi buruh tani. Tapi, tak jarang dia harus berdiam di rumah karena tak ada pekerjaan.

Dia terpaksa bekerja serabutan untuk menghidupi anak-istrinya. Meskipun bayarannya tak sebanyak jika dia mengojek. Namun apapun tetap dia lakukan untuk bertahan hidup di tengah pandemi.

“Anak saya mbarep jualan makanan. Kalau saya ikut jualan cuma paling bantu-bantu bawa barangnya ke tempat jualan saja,” terang lelaki asal Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngancar itu.

Yahni menjadi tukang ojek Kelud sejak 2005. Karena itu dia merasa telah menyatu dengan pekerjaannya. Bahkan, meskipun saat ini jumlah wisatawannya tak sebanyak dulu, dia tetap merasa gembira. Semangatnya mengojek masih membara.

“Lebih enak gini, Mas. Naik motor, jalan-jalan. Meski ya jalannya masih rusak namun lebih enak jadi ojek wisata,” terang bapak dua anak itu.

Baca Juga :  Kembalikan Mood dengan Berenang

Hasilnya saat ini memang tak seberapa. Beda dengan dulu. Sebelum pandemic dia bisa meraup pendapatan rata-rata 150 ribu per hari. Jika dihitung dalam sebulan, mencapai Rp 4,5 juta. Namun itu belum dikurangi biaya perawatan motor hingga uang bensin.

Kecintaannya pada pekerjaannya ini tak lepas dari kisah awal keberadaan ojek wisata Kelud. Dia adalah salah seorang yang mengawali. Mulai tak ada komunitas hingga terbentuk saat ini.

“Kalau untuk komunitasnya, bukan saya yang mulai. Saya ini apa tho, Mas, cuma anggota saja,” ujarnya tertawa.

Saat ditemui oleh Jawa Pos Radar Kediri pada pembukaan wisata Gunung Kelud pada Jumat (1/10) siang, ia mengaku sudah membawa tiga wisatawan dari tempat parkir hingga ke titik terakhir kawah Gunung Kelud. “Ini sistemnya bukan yang membawa, mengantar balik lagi, Mas. Namun bergantian karena, kami masih satu komunitas,” ujarnya.

Ketika menunggu para wisatawan selfie dan menikmati dinginnya puncak Gunung Kelud,Yahni dipanggil kembali ke pos ojek bawah. Karena sudah ada beberapa wisatawan yang menunggu untuk diantar lagi. Yahni pun memaklumi, karena dari sekitar 150 anggota ojek Gunung Kelud, baru belasan yang aktif di waktu uji coba ini. (fud)

- Advertisement -

KABUPATEN, JP Radar Kediri

 

Bising knalpot terdengar dari kejauhan. Nyaringnya mendahului sumber suara yang terlihat bergerak pelan. Ketika mendekat terlihat sosok lelaki yang wajahnya tertutup helm full face. Membonceng lelaki remaja berkaos lengan panjang.

Sesampai di lokasi kawah, lelaki itu menghentikan sepeda motor Honda Mega Pro berplat AG 5636 EBS. Kemudian melepas helm dan topi yang dia kenakan untuk melapisi kepala. Terlihat rambut tipisnya yang telah memutih.

“Dipenakne Mas,” ucapnya mempersilakan lelaki yang diboncengnya itu menikmati pemandangan.

Pria ini adalah Yahni. Salah seorang tukang ojek yang beroperasi di kawasan wisata Kelud. Pekerjaannya adalah mengantar wisatawan dari lokasi parker menuju kawasan kawah.

Sejurus kemudian lelaki 64 tahun ini memarkir kendaraannya di antara sepeda motor berkopling lainnya yang berjajar. Kemudian dia menuju gazebo yang sudah ditempati delapan orang. Yahni pun larut dalam senda gurau orang-orang yang juga rekannya sesama pengojek itu. Menunggu wisatawan menghabiskan waktunya di sekitar lokasi kawah.

Para pengojek wisata itu memang pantas bergembira. Sebab, kini mereka bias bekerja lagi. Terutama setelah vakum akibat lokasi wisata ditutup selama pandemic.

“Satu tahun benar-benar gak ngojek saya Mas,” aku lelaki yang kemarin mengenakan jaket putih itu.

Baca Juga :  Pelatih Persik Kediri Javier Roca Lempar Jurus Memuji Lawan

Yahni memang sangat senang. Bagaimana tidak, sekarang dia bisa bekerja lagi. Apalagi mengojek menjadi pekerjaan yang menyenangkan. Dia merasa lebih bersemangat ketika melewati jalur naik-turun di kawasan wisata Gunung Kelud.

Selama Kelud tutup, Yahni pun nyaris menganggur. Untuk memenuhi kebutuhan dapurnya dia menjadi pekerja serabutan. Kadang nguli, kadang juga ikut temannya menjadi buruh tani. Tapi, tak jarang dia harus berdiam di rumah karena tak ada pekerjaan.

Dia terpaksa bekerja serabutan untuk menghidupi anak-istrinya. Meskipun bayarannya tak sebanyak jika dia mengojek. Namun apapun tetap dia lakukan untuk bertahan hidup di tengah pandemi.

“Anak saya mbarep jualan makanan. Kalau saya ikut jualan cuma paling bantu-bantu bawa barangnya ke tempat jualan saja,” terang lelaki asal Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngancar itu.

Yahni menjadi tukang ojek Kelud sejak 2005. Karena itu dia merasa telah menyatu dengan pekerjaannya. Bahkan, meskipun saat ini jumlah wisatawannya tak sebanyak dulu, dia tetap merasa gembira. Semangatnya mengojek masih membara.

“Lebih enak gini, Mas. Naik motor, jalan-jalan. Meski ya jalannya masih rusak namun lebih enak jadi ojek wisata,” terang bapak dua anak itu.

Baca Juga :  Bantuan Korona Harus Cair sebelum Lebaran

Hasilnya saat ini memang tak seberapa. Beda dengan dulu. Sebelum pandemic dia bisa meraup pendapatan rata-rata 150 ribu per hari. Jika dihitung dalam sebulan, mencapai Rp 4,5 juta. Namun itu belum dikurangi biaya perawatan motor hingga uang bensin.

Kecintaannya pada pekerjaannya ini tak lepas dari kisah awal keberadaan ojek wisata Kelud. Dia adalah salah seorang yang mengawali. Mulai tak ada komunitas hingga terbentuk saat ini.

“Kalau untuk komunitasnya, bukan saya yang mulai. Saya ini apa tho, Mas, cuma anggota saja,” ujarnya tertawa.

Saat ditemui oleh Jawa Pos Radar Kediri pada pembukaan wisata Gunung Kelud pada Jumat (1/10) siang, ia mengaku sudah membawa tiga wisatawan dari tempat parkir hingga ke titik terakhir kawah Gunung Kelud. “Ini sistemnya bukan yang membawa, mengantar balik lagi, Mas. Namun bergantian karena, kami masih satu komunitas,” ujarnya.

Ketika menunggu para wisatawan selfie dan menikmati dinginnya puncak Gunung Kelud,Yahni dipanggil kembali ke pos ojek bawah. Karena sudah ada beberapa wisatawan yang menunggu untuk diantar lagi. Yahni pun memaklumi, karena dari sekitar 150 anggota ojek Gunung Kelud, baru belasan yang aktif di waktu uji coba ini. (fud)

Artikel Terkait

Most Read

Megengan Pandemi

Sembadra Karya


Artikel Terbaru

/