26 C
Kediri
Tuesday, August 9, 2022

Alumnus SMAN 2 Kediri Ali Musthofa Terpilih Ketua Ikasmada 2021

Sebagai ketua terpilih Ikasmada 2021, Ali Musthofa memiliki kebiasaan unik. Sejak kecil ia mengaku tidak lepas dari tanah dan bebatuan. Itu terus terbawa hingga sekarang.

Sosoknya kalem dan murah senyum. Ali Musthofa memiliki darah asli Kediri. Namun, kini dirinya bekerja di bagian perminyakan Qatar Petroleum. Dia baru pulang kampung sekali selama pandemi Covid-19.

Selama dunia dilanda wabah korona, Ali –sapaan akrabnya– mengaku, kegiatannya banyak yang terganggu. Salah satunya adalah hiking atau berjalan-jalan ke gunung atau ke pantai bersama keluarga. “Sekarang ini ya belum,” terang lelaki yang lahir pada 1966 itu.

Kepada Jawa Pos Radar Kediri, Ali mengatakan, saat ini masih merindukan perjalanannya menuju ke puncak atau hiking bersama keluarga. Yang paling ia ingat ketika pendakian itu adalah sebatas  memandangi saja. 

“Sudah umur segini, bersama istri ya paling sampai mentok-nya kendaraan. Tidak sampai ke puncak. Yang penting melihat pemandangan dari atas,” kata pria kelahiran Bandarkidul, Mojoroto itu.

Selain memandangi dari puncak, Ali juga seringkali mengambil batu-batu yang ada di sekitarnya. Diambilnya batu tersebut, lalu dianalisa. Penganalisaannya tersebut menjadi ciri khasnya selama ia kuliah di jurusan S1 Geologi Universitas Padjajaran, Bandung.

Baca Juga :  Musim Penghujan, Panen Jagung Turun

Kebiasaannya itu masih tidak bisa ditinggalkan. Dahulu, Ali memiliki banyak teman hiking satu jurusan itu. Beberapa kali juga saling melempar dan belajar dengan bebatuan yang ditemukan saat berada di gunung. 

“Ya tidak dibawa, hanya dilihat-lihat saja, lalu saring sharing bersama teman,” urainya.

Bahkan hingga beberapa tahun terakhir saat hiking bersama keluarga, Ali pun masih melakukannya. Kadang istri dan anaknya pun hanya mendengar “ocehan” tentang bebatuan dari Ali selama hiking itu. 

“Kadang ya mereka cuma mangut-mangut saja, saking saya asyiknya bercerita tentang bebatuan,” ungkapnya sembari tertawa.

Lulusan SMAN 2 Kediri 1985 itu juga menceritakan sebenarnya kesukaannya terhadap tanah dan bebatuan sudah ia rasakan sejak kecil. “Dulu sering bermain kejar-kejaran, main layangan di sawah almarhum bapak. Jatuh ke tanah atau main lempar-lemparan tanah juga bareng teman-teman,” papar Ali.

Dari situ Ali merasa harus ada yang dipelajari dari tanah. Seperti apa dan bagaimana bisa begitu. Rasa keingintahuannya yang tinggi saat masih kecil itu yang membuatnya bisa seperti sekarang. “Makanya juga ambil teknik geologi saat kuliah he he,” ujar lelaki berambut cepak itu.

Baca Juga :  Penangkar Pohon Buah Spesialis Sambung Klengkeng

Meski antusias bercerita tentang kesukaannya dengan bebatuan, namun Ali tidak sampai “gila” mengoleksi. Seperti mendatangkan batu zafir, akik, dan lainnya selama ia hidup. Kadang Ali hanya membawa saat penelitian atau saat berada di luar kegiatan kampusnya. Batu-batuan itu dibawa ke kamar kosnya. 

“Sekarang sudah banyak yang hilang. Wong saya juga tidak begitu hobi seperti maniak gitu sih,” akunya.

Hubungan Ali dengan bumi memang erat. Begitu juga hubungan dia dengan lingkungan tempat tinggalnya. Sejak bersekolah pun bisa dibilang baik. Mulai ikut kegiatan pramuka hingga menjadi Ketua OSIS SMAN 2 Kediri.

Semua dilakukan Ali dengan tuntunan dan bantuan dari para alumni. “Bahkan sampai mencari tempat tinggal saat kuliah atau saat bekerja di Jakarta awalnya juga banyak alumni dari Smada yang membantu. Kali ini giliran saya yang harus membantu adik-adik dari almamater sekolah saya,” terangnya dengan bangga.

Tujuan besarnya tidak hanya berbakti dan saling membantu dengan almamater SMAN 2 Kediri saja. Namun juga ia ingin bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya. Dari bumi kembali ke bumi.(syi/ndr)

- Advertisement -

Sebagai ketua terpilih Ikasmada 2021, Ali Musthofa memiliki kebiasaan unik. Sejak kecil ia mengaku tidak lepas dari tanah dan bebatuan. Itu terus terbawa hingga sekarang.

Sosoknya kalem dan murah senyum. Ali Musthofa memiliki darah asli Kediri. Namun, kini dirinya bekerja di bagian perminyakan Qatar Petroleum. Dia baru pulang kampung sekali selama pandemi Covid-19.

Selama dunia dilanda wabah korona, Ali –sapaan akrabnya– mengaku, kegiatannya banyak yang terganggu. Salah satunya adalah hiking atau berjalan-jalan ke gunung atau ke pantai bersama keluarga. “Sekarang ini ya belum,” terang lelaki yang lahir pada 1966 itu.

Kepada Jawa Pos Radar Kediri, Ali mengatakan, saat ini masih merindukan perjalanannya menuju ke puncak atau hiking bersama keluarga. Yang paling ia ingat ketika pendakian itu adalah sebatas  memandangi saja. 

“Sudah umur segini, bersama istri ya paling sampai mentok-nya kendaraan. Tidak sampai ke puncak. Yang penting melihat pemandangan dari atas,” kata pria kelahiran Bandarkidul, Mojoroto itu.

Selain memandangi dari puncak, Ali juga seringkali mengambil batu-batu yang ada di sekitarnya. Diambilnya batu tersebut, lalu dianalisa. Penganalisaannya tersebut menjadi ciri khasnya selama ia kuliah di jurusan S1 Geologi Universitas Padjajaran, Bandung.

Baca Juga :  Peltu Sugeng Purnomo, Danpos Badas yang Terampil Membonsai

Kebiasaannya itu masih tidak bisa ditinggalkan. Dahulu, Ali memiliki banyak teman hiking satu jurusan itu. Beberapa kali juga saling melempar dan belajar dengan bebatuan yang ditemukan saat berada di gunung. 

“Ya tidak dibawa, hanya dilihat-lihat saja, lalu saring sharing bersama teman,” urainya.

Bahkan hingga beberapa tahun terakhir saat hiking bersama keluarga, Ali pun masih melakukannya. Kadang istri dan anaknya pun hanya mendengar “ocehan” tentang bebatuan dari Ali selama hiking itu. 

“Kadang ya mereka cuma mangut-mangut saja, saking saya asyiknya bercerita tentang bebatuan,” ungkapnya sembari tertawa.

Lulusan SMAN 2 Kediri 1985 itu juga menceritakan sebenarnya kesukaannya terhadap tanah dan bebatuan sudah ia rasakan sejak kecil. “Dulu sering bermain kejar-kejaran, main layangan di sawah almarhum bapak. Jatuh ke tanah atau main lempar-lemparan tanah juga bareng teman-teman,” papar Ali.

Dari situ Ali merasa harus ada yang dipelajari dari tanah. Seperti apa dan bagaimana bisa begitu. Rasa keingintahuannya yang tinggi saat masih kecil itu yang membuatnya bisa seperti sekarang. “Makanya juga ambil teknik geologi saat kuliah he he,” ujar lelaki berambut cepak itu.

Baca Juga :  BNI Griya Digitex Property 2021 Dibuka, Saatnya Belanja Rumah

Meski antusias bercerita tentang kesukaannya dengan bebatuan, namun Ali tidak sampai “gila” mengoleksi. Seperti mendatangkan batu zafir, akik, dan lainnya selama ia hidup. Kadang Ali hanya membawa saat penelitian atau saat berada di luar kegiatan kampusnya. Batu-batuan itu dibawa ke kamar kosnya. 

“Sekarang sudah banyak yang hilang. Wong saya juga tidak begitu hobi seperti maniak gitu sih,” akunya.

Hubungan Ali dengan bumi memang erat. Begitu juga hubungan dia dengan lingkungan tempat tinggalnya. Sejak bersekolah pun bisa dibilang baik. Mulai ikut kegiatan pramuka hingga menjadi Ketua OSIS SMAN 2 Kediri.

Semua dilakukan Ali dengan tuntunan dan bantuan dari para alumni. “Bahkan sampai mencari tempat tinggal saat kuliah atau saat bekerja di Jakarta awalnya juga banyak alumni dari Smada yang membantu. Kali ini giliran saya yang harus membantu adik-adik dari almamater sekolah saya,” terangnya dengan bangga.

Tujuan besarnya tidak hanya berbakti dan saling membantu dengan almamater SMAN 2 Kediri saja. Namun juga ia ingin bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya. Dari bumi kembali ke bumi.(syi/ndr)

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/