30.2 C
Kediri
Tuesday, July 5, 2022

Kampung Kauman di Kediri, Masjid Besarnya Tak Ada Makam Ulama (36)

Alun-alun, pasar, pusat pemerintahan, dan masjid. Dari keempat ciri Kampung Kauman, hanya dua yang dimiliki Kampung Kauman Gurah. Kampung ini berada di dekat pasar dan memiliki masjid besar.

Kampung Kauman Gurah tidak terlalu luas. Hanya mencakup satu wilayah rukun tetangga (RT) saja. Persisnya berada di wilayah RT 03 RW 03, Desa Gurah, Kecamatan Gurah.

Selain lebih kecil bila dibanding yang lain, Kampung Kauman Gurah juga hanya memiliki dua ciri khas sebagai kampung kaum beriman. Hanya ada masjid besar di tengah-tengah pemukiman serta wilayah ini berada di dekat pasar. Dua ciri lain, alun-alun dan pusat pemerintahan, tidak dimiliki wilayah ini. 

“Kalau Kauman Gurah tidak ada alun-alun,” kata Etik Husnatul Marati, warga Kampung Kauman.

Wanita kelahiran 1965 ini memastikan bahwa tak ada keberadaan alun-alun. Jejaknya juga tak ada. Berbeda dengan stasiun kereta api yang masih bisa ditelusuri keberadaannya. 

Baca Juga :  Sakit Jantung, UNBK Susulan di Jakarta

Mengapa tak memiliki alun-alun? Salah satu sebabnya adalah Gurah bukanlah pusat pemerintaha. Bukan pusat kabupaten atau kawedanan sekalipun. Dari sisi kawedanan – istilah lama untuk wilayah yang ketika era modern disebut koordinator kecamatan – Gurah masuk Kawedanan Pare. Tentu saja kantor kawedananannya ada di Pare. Demikian pula dengan alun-alunnya, ada di pusat kawedanan itu. 

“Di sini (Kampung Kauman Gurah, Red) daerah kecil. Yang punya alun-alun itu bupati, wedana, atau raja,” terang pensiunan guru ini. 

Sejak dulu, Kampung Kauman Gurah hanya didiami masyarakat kebanyakan. Persoalan wilayah ini kemudian menjadi tempat bermukim kaum beriman – yang kemudian akronimnya menjadi kauman – memang sudah terjadi sejak dulu. Etik memang tak bisa menyebutkan kapan persisnya daerah ini menjadi Kampung Kauman. Yang dia tahu berdasarkan cerita dari leluhur-leluhurnya, wilayah ini sudah dihuni kaum beriman sejak zaman kolonial Belanda.

Baca Juga :  Jangkar Kelud, Komunitas Relawan Bencana Tiga Kabupaten

Penandanya juga khas Kampung Kauman, masjid. Kampung Kauman Gurah punya satu masjid yang sangat ikonik, Masjid Baitussalam. Masjid ini sudah menjadi pusat peribadatan warga sejak dahulu kala. Hingga saat ini ketika warga asli Kampung Kauman hanya tersisa enam kepala keluarga, masjid ini juga tetap jadi simbol wilayah.

Hanya, berbeda dengan Kampung Kauman lainnya, Masjid Baitussalam tak ada area pemakaman di pelatarannya. Tokoh agama maupun pendiri masjid tidak dimakamkan di lokasi ini. Melainkan di pemakaman umum. (wi/fud/bersambung)

- Advertisement -

Alun-alun, pasar, pusat pemerintahan, dan masjid. Dari keempat ciri Kampung Kauman, hanya dua yang dimiliki Kampung Kauman Gurah. Kampung ini berada di dekat pasar dan memiliki masjid besar.

Kampung Kauman Gurah tidak terlalu luas. Hanya mencakup satu wilayah rukun tetangga (RT) saja. Persisnya berada di wilayah RT 03 RW 03, Desa Gurah, Kecamatan Gurah.

Selain lebih kecil bila dibanding yang lain, Kampung Kauman Gurah juga hanya memiliki dua ciri khas sebagai kampung kaum beriman. Hanya ada masjid besar di tengah-tengah pemukiman serta wilayah ini berada di dekat pasar. Dua ciri lain, alun-alun dan pusat pemerintahan, tidak dimiliki wilayah ini. 

“Kalau Kauman Gurah tidak ada alun-alun,” kata Etik Husnatul Marati, warga Kampung Kauman.

Wanita kelahiran 1965 ini memastikan bahwa tak ada keberadaan alun-alun. Jejaknya juga tak ada. Berbeda dengan stasiun kereta api yang masih bisa ditelusuri keberadaannya. 

Baca Juga :  Pria asal Lumajang Meninggal setelah Ngobrol dengan Saudara dan Paman

Mengapa tak memiliki alun-alun? Salah satu sebabnya adalah Gurah bukanlah pusat pemerintaha. Bukan pusat kabupaten atau kawedanan sekalipun. Dari sisi kawedanan – istilah lama untuk wilayah yang ketika era modern disebut koordinator kecamatan – Gurah masuk Kawedanan Pare. Tentu saja kantor kawedananannya ada di Pare. Demikian pula dengan alun-alunnya, ada di pusat kawedanan itu. 

“Di sini (Kampung Kauman Gurah, Red) daerah kecil. Yang punya alun-alun itu bupati, wedana, atau raja,” terang pensiunan guru ini. 

Sejak dulu, Kampung Kauman Gurah hanya didiami masyarakat kebanyakan. Persoalan wilayah ini kemudian menjadi tempat bermukim kaum beriman – yang kemudian akronimnya menjadi kauman – memang sudah terjadi sejak dulu. Etik memang tak bisa menyebutkan kapan persisnya daerah ini menjadi Kampung Kauman. Yang dia tahu berdasarkan cerita dari leluhur-leluhurnya, wilayah ini sudah dihuni kaum beriman sejak zaman kolonial Belanda.

Baca Juga :  KH Moh. Hasyim Afandi, Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Nganjuk

Penandanya juga khas Kampung Kauman, masjid. Kampung Kauman Gurah punya satu masjid yang sangat ikonik, Masjid Baitussalam. Masjid ini sudah menjadi pusat peribadatan warga sejak dahulu kala. Hingga saat ini ketika warga asli Kampung Kauman hanya tersisa enam kepala keluarga, masjid ini juga tetap jadi simbol wilayah.

Hanya, berbeda dengan Kampung Kauman lainnya, Masjid Baitussalam tak ada area pemakaman di pelatarannya. Tokoh agama maupun pendiri masjid tidak dimakamkan di lokasi ini. Melainkan di pemakaman umum. (wi/fud/bersambung)

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/