23.1 C
Kediri
Monday, August 15, 2022

Kisah Yumrotun dan Suyati yang Rumahnya Tergerus Aliran Sungai Kuncir

- Advertisement -

Debit sungai Kuncir yang sempat tinggi pada pertengahan Februari lalu membuat keluarga besar Yumrotun waswas. Aliran air yang deras membuat tebing di Dusun Semi, Desa/Kecamatan Berbek tergerus. Jarak rumah anaknya kini hanya dua langkah dari bibir sungai.

ANDHIKA ATTAR. BERBEK. JP Radar Nganjuk.

Rumah Sumardi, 40, warga Dusun Semi, Desa/Kecamatan Berbek ramai dengan anak-anak kecil sore kemarin. Mereka asyik duduk sembari berceloteh di teras depan rumah. Sesekali bercerita lalu terhenti saat mulutnya mengunyah jajanan yang baru dibeli. “Ya ini jualan camilan buat anak-anak di sini,” ujar Suyati, 35, istri dari Sumardi yang ikut duduk bersama ibu-ibu setempat.

Sejurus kemudian, Suyati yang tahu maksud kedatangan koran ini langsung menuju ke bagian belakang rumahnya. Perempuan dengan pembawaan kalem itu terlihat santai. Air mukanya juga tenang meski cobaan baru saja menimpa keluarga kecil mereka.  Sebuah ruangan di bagian belakang rumah keduanya belum lama ini ambrol.

Sebuah pintu di bagian belakang tertutup. Ada gerendel yang terpasang. Yati menggeser tuas Grendel tersebut. Pintu terbuka. “Mangga (silakan, Red),” kata ibu dua anak tersebut sembari memegang daun pintu.

- Advertisement -

Begitu pintu terbuka, pemandangannya langsung berbeda. Tak seperti rumah kebanyakan yang di belakang masih ada pekarangannya. Begitu pintu dibuka, yang terlihat adalah lanskap sungai Kuncir Kanan.

Baca Juga :  Sopir Elf Maut Terancam 6 Tahun Penjara

Yang lebih mencengangkan lagi, jaraknya sangat dekat. Hanya dua langkah orang dewasa. Jika ditambahkan satu atau bahkan dua langkah lagi, dapat dipastikan akan terperosok ke sungai. “Ini ambrolnya pas dengan banjir yang kemarin (14/2),” ungkap perempuan yang mengenakan daster berwarna putih itu.

Sebelumnya, rumah Yati juga tidak mepet dengan sungai seperti sekarang. Dulunya teras belakang rumah tersebut juga tertutup. Dikelilingi dinding sama seperti bangunan ruang rumahnya yang lain.

Namun, dinding yang mengamankan bagian belakang rumahnya itu ambrol terbawa arus air. Akibatnya, bangunan belakang menjadi terbuka. Hanya beratapkan material seng berukuran sekitar 6 x 7 meter yang disangga dengan kayu. “Sementara seperti ini. Takutnya kalau tidak diberi atap pas hujan tanahnya semakin tergerus,” sambungnya.

Yati masih ingat betul dengan kejadian ambrolnya bagian belakang rumahnya pada Minggu (14/2) lalu. Diawali dinding sungai dengan lebar sekitar tiga meter yang tergerus derasnya debit air, bangunannya ikut ambrol.  Selain bangunan, ada 13 ekor ayam miliknya yang ikut terbawa air bah.

Sebenarnya hujan pertengahan Februari lalu itu tidak deras. Hanya angin kencang yang berembus dari berbagai penjuru. Meski demikian, sejak sore debit air sungai Kuncir Kanan memang terus naik.

Baca Juga :  Kisah Insipiratif Sobrun, Berjuang di Tengah Keterbatasan

Semakin malam, debit air terus bertambah. Banyak bebatuan besar yang turut terbawa derasnya air. Bergemuruh. Bergesekan dengan bebatuan lainnya. Malam semakin mencekam dengan adanya pemadaman listrik.

“Gelap saat itu. Suaranya seperti geluduk. Dinding rumah saja sampai bergetar seperti akan gempa,” kenang Yati.

Yumrotun tidak kalah paniknya. Sejak lepas Ashar, perempuan berkerudung tersebut tak henti-hentinya memanjatkan doa. Terlebih saat gemuruh semakin membesar. Ia langsung mengumandangkan adzan hingga beberapa kali. Tak cukup sekali untuk mengusir rasa takutnya.

Bersama kedua anaknya, Yati memilih untuk mengungsi ke rumah kerabat yang berada agak jauh dari bibir sungai. Hal senada juga dilakukan oleh ibu mertuanya tersebut. Kebetulan, keluarga besar mereka memang banyak tinggal di dusun itu.

Momen itu pun diakui keduanya menjadi pengalaman yang paling menyeramkan. Rasa takutnya masih membekas hingga sekarang. Setiap ada hujan deras turun disertai angin kencang, ibu mertua dan anak menantu itu pun waswas.

“Tidak bisa tidur nyenyak kalau sudah seperti itu. Masih deg-degan sampai sekarang,” tuturnya sembari mengaku masih merasa trauma akibat kejadian pada hari Valentine itu.

- Advertisement -

Debit sungai Kuncir yang sempat tinggi pada pertengahan Februari lalu membuat keluarga besar Yumrotun waswas. Aliran air yang deras membuat tebing di Dusun Semi, Desa/Kecamatan Berbek tergerus. Jarak rumah anaknya kini hanya dua langkah dari bibir sungai.

ANDHIKA ATTAR. BERBEK. JP Radar Nganjuk.

Rumah Sumardi, 40, warga Dusun Semi, Desa/Kecamatan Berbek ramai dengan anak-anak kecil sore kemarin. Mereka asyik duduk sembari berceloteh di teras depan rumah. Sesekali bercerita lalu terhenti saat mulutnya mengunyah jajanan yang baru dibeli. “Ya ini jualan camilan buat anak-anak di sini,” ujar Suyati, 35, istri dari Sumardi yang ikut duduk bersama ibu-ibu setempat.

Sejurus kemudian, Suyati yang tahu maksud kedatangan koran ini langsung menuju ke bagian belakang rumahnya. Perempuan dengan pembawaan kalem itu terlihat santai. Air mukanya juga tenang meski cobaan baru saja menimpa keluarga kecil mereka.  Sebuah ruangan di bagian belakang rumah keduanya belum lama ini ambrol.

Sebuah pintu di bagian belakang tertutup. Ada gerendel yang terpasang. Yati menggeser tuas Grendel tersebut. Pintu terbuka. “Mangga (silakan, Red),” kata ibu dua anak tersebut sembari memegang daun pintu.

Begitu pintu terbuka, pemandangannya langsung berbeda. Tak seperti rumah kebanyakan yang di belakang masih ada pekarangannya. Begitu pintu dibuka, yang terlihat adalah lanskap sungai Kuncir Kanan.

Baca Juga :  Mix and Match Pakaian Berbahan Kain Brokat¬†¬†

Yang lebih mencengangkan lagi, jaraknya sangat dekat. Hanya dua langkah orang dewasa. Jika ditambahkan satu atau bahkan dua langkah lagi, dapat dipastikan akan terperosok ke sungai. “Ini ambrolnya pas dengan banjir yang kemarin (14/2),” ungkap perempuan yang mengenakan daster berwarna putih itu.

Sebelumnya, rumah Yati juga tidak mepet dengan sungai seperti sekarang. Dulunya teras belakang rumah tersebut juga tertutup. Dikelilingi dinding sama seperti bangunan ruang rumahnya yang lain.

Namun, dinding yang mengamankan bagian belakang rumahnya itu ambrol terbawa arus air. Akibatnya, bangunan belakang menjadi terbuka. Hanya beratapkan material seng berukuran sekitar 6 x 7 meter yang disangga dengan kayu. “Sementara seperti ini. Takutnya kalau tidak diberi atap pas hujan tanahnya semakin tergerus,” sambungnya.

Yati masih ingat betul dengan kejadian ambrolnya bagian belakang rumahnya pada Minggu (14/2) lalu. Diawali dinding sungai dengan lebar sekitar tiga meter yang tergerus derasnya debit air, bangunannya ikut ambrol.  Selain bangunan, ada 13 ekor ayam miliknya yang ikut terbawa air bah.

Sebenarnya hujan pertengahan Februari lalu itu tidak deras. Hanya angin kencang yang berembus dari berbagai penjuru. Meski demikian, sejak sore debit air sungai Kuncir Kanan memang terus naik.

Baca Juga :  Andik Wijaya Lindungi Bangunan Tua di Pare lewat Cerita Mistis

Semakin malam, debit air terus bertambah. Banyak bebatuan besar yang turut terbawa derasnya air. Bergemuruh. Bergesekan dengan bebatuan lainnya. Malam semakin mencekam dengan adanya pemadaman listrik.

“Gelap saat itu. Suaranya seperti geluduk. Dinding rumah saja sampai bergetar seperti akan gempa,” kenang Yati.

Yumrotun tidak kalah paniknya. Sejak lepas Ashar, perempuan berkerudung tersebut tak henti-hentinya memanjatkan doa. Terlebih saat gemuruh semakin membesar. Ia langsung mengumandangkan adzan hingga beberapa kali. Tak cukup sekali untuk mengusir rasa takutnya.

Bersama kedua anaknya, Yati memilih untuk mengungsi ke rumah kerabat yang berada agak jauh dari bibir sungai. Hal senada juga dilakukan oleh ibu mertuanya tersebut. Kebetulan, keluarga besar mereka memang banyak tinggal di dusun itu.

Momen itu pun diakui keduanya menjadi pengalaman yang paling menyeramkan. Rasa takutnya masih membekas hingga sekarang. Setiap ada hujan deras turun disertai angin kencang, ibu mertua dan anak menantu itu pun waswas.

“Tidak bisa tidur nyenyak kalau sudah seperti itu. Masih deg-degan sampai sekarang,” tuturnya sembari mengaku masih merasa trauma akibat kejadian pada hari Valentine itu.

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/