30.9 C
Kediri
Sunday, August 14, 2022

Heru Sutapa, Pendonor Plasma Konvalesen Pertama di Kota Kediri

- Advertisement -

Heru dinyatakan positif Covid-19 pada pertengahan Desember lalu. Tak hanya berhasil berjuang dan sembuh. Dia bahkan menjadi orang pertama di Kota Kediri yang mendonorkan plasma darahnya.

ANDHIKA ATTAR. KOTA, JP Radar Kediri.

“Mental saya langsung kena saat dinyatakan positif Covid-19,” ujar Heru. Matanya seakan menerawang kondisi di akhir tahun lalu. Di mana pria berumur 42 tahun tersebut menjadi satu di antara ratusan kasus terkonfirmasi Covid-19 di Kota Kediri.

Dahinya langsung mengernyit membayangkan betapa menderitanya masa-masa tersebut. Ia sama sekali tidak menyangka akan menjadi orang yang terpapar virus yang pertama kali ditemukan di Wuhan, Tiongkok tersebut. Terlebih, ia mengaku relatif disiplin dengan protokol kesehatan (prokes).

Hanya saja, tuntutan pekerjaan membuatnya banyak berhubungan dengan banyak orang. Tidak hanya di dalam kota saja. Beberapa kali ia mendapat tugas dinas ke luar kota. Meskipun tidak berarti kala itu ia mengabaikan prokes.

- Advertisement -

Heru tercatat sebagai salah satu dosen di Uniska Kediri. Ia mengajar di fakultas ekonomi, jurusan menajemen. “Kebetulan akhir tahun tersebut saya mendapat amanah menjadi ketua acara wisuda di kampus,” tutur pria berkacamata ini.

Mendapat tanggung jawab seperti itu Heru pun berusaha memberikan yang terbaik untuk institusinya. Wisuda tersebut dilaksanakan secara daring. Bahkan hanya ada sebelas wisudawan yang menjadi perwakilan. Prokes juga dijalankan secara ketat.

Sehari berselang sejak pelaksanaan wisuda tersebut kondisi kesehatan Heru mendadak menurun. Badannya tiba-tiba terasa lemas. Mulanya ia tidak begitu curiga. Ia berpikir bahwa hal tersebut terjadi lantaran kelelahan bekerja saja.

Baca Juga :  Dokter Suwantoro Meninggal Dunia Tertabrak Truk di Sukomoro

Namun keesokan harinya kondisinya semakin memburuk. Suhu tubuhnya tinggi. Ia merasakan demam. Terlebih kadar oksigen dalam darahnya juga tergolong rendah. Hanya 92 persen. Padahal normalnya saturasi oksigen seseorang minimal adalah 95 persen.

“Saya mulai curiga (terkena Covid-19) saat itu,” sambung pria kelahiran Surakarta, Jateng tersebut.

Ia akhirnya memutuskan untuk menjalani tes usap di Sima Lab. Sayang hasil pemeriksaan tidak bisa langsung muncul saat itu juga. Heru harus menunggu satu hari agar bisa mengetahui hasilnya. Ia sudah harap-harap cemas kala itu.

Hasil tes usap tersebut keluar 23 Desember 2020. Ira Widyastuti, istrinya, yang diberi tahu oleh pihak laboratorium. “Istri saya ditelpon. Saya dinyatakan positif,” tandas pria yang beralamat di Kelurahan Kampungdalem, Kecamatan Kota tersebut.

Heru akhirnya harus menjalani isolasi di RS Kilisuci Kota Kediri. Ia dirawat selama 10 hari di tempat itu. Itu menjadi masa-masa paling menyiksa baginya. Tak hanya kondisi fisiknya saja yang terganggu, juga secara psikis. Dari sisi fisik, dia merasakan sesak napas, panas, dan batuk akut.

Dari sisi mental, kondisi tersebut sangat mengganggunya. Terutama pada empat hari pertama dirawat. Banyak perasaan negatif dan ketakutan yang terlintas di pikirannya. “Saya takut orang terdekat terpapar karena saya,” kenangnya.

Perasaan itu membuatnya semakin tertekan. Belum lagi dengan adanya kabar bahwa koleganya juga ada yang meninggal akibat Covid-19. Namun, Heru tidak ingin hal itu terus menghantuinya. Ia semakin mendekatkan diri dengan Tuhan. 

Baca Juga :  Mereka Bicara tentang Cita Rasa Kopi Lokal Kediri (2)

“Akhirnya saya berjanji kepada Tuhan kalau diberi kesembuhan, saya akan mendonorkan plasma darah untuk saudara-saudara yang membutuhkan,” ungkap ayah dua anak tersebut.

Hari-hari isolasi diisinya dengan perjuangan untuk sembuh dan beribadah. Ia sama sekali tidak rewel dengan pengobatan dan makanan yang diberikan. Hingga akhirnya ia dinyatakan sembuh pada Senin (4/1) lalu. “Hasil tesnya negatif dan saya diperbolehkan pulang,” imbuhnya.

Janjinya kepada Tuhan tetap dipegangnya. Sang Pencipta telah memberikannya kesembuhan. Kini giliran Heru menepati nazarnya itu. Pada Rabu (20/1) ia mendonorkan plasma darahnya di Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Kediri.

Ia murni hanya ingin membantu sesamanya. Bahkan ia tidak sadar ternyata menjadi orang pertama yang menjadi pendonor plasma di Kota Tahu. “Saya juga kaget waktu itu. Ternyata saya penyintas pertama (yang berdonor plasma),” ucap Heru.

Motivasi terbesarnya datang dari penderitaan yang dirasakan saat menjadi pasien. Ia sadar betapa menderitanya dinyatakan positif Covid-19. Oleh karena itu, ia ingin membantu sesamanya untuk mendapatkan kesembuhan.

Terlebih, Heru mengaku bahwa proses donor plasma tidaklah sakit. Sama seperti mendonorkan darah biasa. Hanya saja, prosesnya memang memakan waktu lebih lama. Sekitar 30 menit.

“Saya berharap akan lebih banyak lagi pendonor plasma di Kota Kediri. Mari kita bersama-sama membantu saudara kita yang masih berjuang untuk sembuh,” pungkas alumnus Universitas Sebelas Maret tersebut. (fud)

- Advertisement -

Heru dinyatakan positif Covid-19 pada pertengahan Desember lalu. Tak hanya berhasil berjuang dan sembuh. Dia bahkan menjadi orang pertama di Kota Kediri yang mendonorkan plasma darahnya.

ANDHIKA ATTAR. KOTA, JP Radar Kediri.

“Mental saya langsung kena saat dinyatakan positif Covid-19,” ujar Heru. Matanya seakan menerawang kondisi di akhir tahun lalu. Di mana pria berumur 42 tahun tersebut menjadi satu di antara ratusan kasus terkonfirmasi Covid-19 di Kota Kediri.

Dahinya langsung mengernyit membayangkan betapa menderitanya masa-masa tersebut. Ia sama sekali tidak menyangka akan menjadi orang yang terpapar virus yang pertama kali ditemukan di Wuhan, Tiongkok tersebut. Terlebih, ia mengaku relatif disiplin dengan protokol kesehatan (prokes).

Hanya saja, tuntutan pekerjaan membuatnya banyak berhubungan dengan banyak orang. Tidak hanya di dalam kota saja. Beberapa kali ia mendapat tugas dinas ke luar kota. Meskipun tidak berarti kala itu ia mengabaikan prokes.

Heru tercatat sebagai salah satu dosen di Uniska Kediri. Ia mengajar di fakultas ekonomi, jurusan menajemen. “Kebetulan akhir tahun tersebut saya mendapat amanah menjadi ketua acara wisuda di kampus,” tutur pria berkacamata ini.

Mendapat tanggung jawab seperti itu Heru pun berusaha memberikan yang terbaik untuk institusinya. Wisuda tersebut dilaksanakan secara daring. Bahkan hanya ada sebelas wisudawan yang menjadi perwakilan. Prokes juga dijalankan secara ketat.

Sehari berselang sejak pelaksanaan wisuda tersebut kondisi kesehatan Heru mendadak menurun. Badannya tiba-tiba terasa lemas. Mulanya ia tidak begitu curiga. Ia berpikir bahwa hal tersebut terjadi lantaran kelelahan bekerja saja.

Baca Juga :  Menelusuri Titik Nol Kota Kediri yang Berpindah-pindah

Namun keesokan harinya kondisinya semakin memburuk. Suhu tubuhnya tinggi. Ia merasakan demam. Terlebih kadar oksigen dalam darahnya juga tergolong rendah. Hanya 92 persen. Padahal normalnya saturasi oksigen seseorang minimal adalah 95 persen.

“Saya mulai curiga (terkena Covid-19) saat itu,” sambung pria kelahiran Surakarta, Jateng tersebut.

Ia akhirnya memutuskan untuk menjalani tes usap di Sima Lab. Sayang hasil pemeriksaan tidak bisa langsung muncul saat itu juga. Heru harus menunggu satu hari agar bisa mengetahui hasilnya. Ia sudah harap-harap cemas kala itu.

Hasil tes usap tersebut keluar 23 Desember 2020. Ira Widyastuti, istrinya, yang diberi tahu oleh pihak laboratorium. “Istri saya ditelpon. Saya dinyatakan positif,” tandas pria yang beralamat di Kelurahan Kampungdalem, Kecamatan Kota tersebut.

Heru akhirnya harus menjalani isolasi di RS Kilisuci Kota Kediri. Ia dirawat selama 10 hari di tempat itu. Itu menjadi masa-masa paling menyiksa baginya. Tak hanya kondisi fisiknya saja yang terganggu, juga secara psikis. Dari sisi fisik, dia merasakan sesak napas, panas, dan batuk akut.

Dari sisi mental, kondisi tersebut sangat mengganggunya. Terutama pada empat hari pertama dirawat. Banyak perasaan negatif dan ketakutan yang terlintas di pikirannya. “Saya takut orang terdekat terpapar karena saya,” kenangnya.

Perasaan itu membuatnya semakin tertekan. Belum lagi dengan adanya kabar bahwa koleganya juga ada yang meninggal akibat Covid-19. Namun, Heru tidak ingin hal itu terus menghantuinya. Ia semakin mendekatkan diri dengan Tuhan. 

Baca Juga :  Dandim Jamin TNI Netral saat Pilwali

“Akhirnya saya berjanji kepada Tuhan kalau diberi kesembuhan, saya akan mendonorkan plasma darah untuk saudara-saudara yang membutuhkan,” ungkap ayah dua anak tersebut.

Hari-hari isolasi diisinya dengan perjuangan untuk sembuh dan beribadah. Ia sama sekali tidak rewel dengan pengobatan dan makanan yang diberikan. Hingga akhirnya ia dinyatakan sembuh pada Senin (4/1) lalu. “Hasil tesnya negatif dan saya diperbolehkan pulang,” imbuhnya.

Janjinya kepada Tuhan tetap dipegangnya. Sang Pencipta telah memberikannya kesembuhan. Kini giliran Heru menepati nazarnya itu. Pada Rabu (20/1) ia mendonorkan plasma darahnya di Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Kediri.

Ia murni hanya ingin membantu sesamanya. Bahkan ia tidak sadar ternyata menjadi orang pertama yang menjadi pendonor plasma di Kota Tahu. “Saya juga kaget waktu itu. Ternyata saya penyintas pertama (yang berdonor plasma),” ucap Heru.

Motivasi terbesarnya datang dari penderitaan yang dirasakan saat menjadi pasien. Ia sadar betapa menderitanya dinyatakan positif Covid-19. Oleh karena itu, ia ingin membantu sesamanya untuk mendapatkan kesembuhan.

Terlebih, Heru mengaku bahwa proses donor plasma tidaklah sakit. Sama seperti mendonorkan darah biasa. Hanya saja, prosesnya memang memakan waktu lebih lama. Sekitar 30 menit.

“Saya berharap akan lebih banyak lagi pendonor plasma di Kota Kediri. Mari kita bersama-sama membantu saudara kita yang masih berjuang untuk sembuh,” pungkas alumnus Universitas Sebelas Maret tersebut. (fud)

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/