26.9 C
Kediri
Tuesday, July 5, 2022

Batik Canting Warga Grogol Laku di Malaysia

Dulu, mereka hanya penjual gorengan atau pekerja serabutan yang terdampak pandemi. Kini, karya mereka bisa menyeberangi samudera. Terjual di negara manca.

IQBAL SYAHRONI, Kabupaten, JP Radar Kediri 

Siang itu terasa terik. Sebagian besar warga Desa Wonoasri, Kecamatan Grogol memilih berada di rumah. Jalanan desa pun terasa lengang. 

Kesibukan baru terasa di belakang salah satu rumah. Rumah itu milik Anik Muryantini. Wanita ini adalah penguasa desa alias sang kepala desa (kades).  

Di tempat itu terlihat lima orang tengah sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Empat perempuan dan seorang laki-laki. Ada yang mencanting, ada pula yang memberi warna pada lembaran kain yang telah bermotif. 

“Ini sedang mencanting,” ucap seorang di antaranya. 

Perempuan berambut panjang itu bernama Lilis. Sudah paro baya, 42 tahun. Dia adalah warga setempat yang kini menjadi pembatik.

“Sudah setahun lalu, sejak awal pandemi,” sambungnya. Tangan kanannya terus menggoreskan ujung canting yang dipegang dengan tangan kirinya. Terlihat sekali kehati-hatianya. 

Wanita berambut panjang ini baru setahun kenal membatik. Sebelumnya dia adalah seorang pedagang makanan. Gorengan, rujak, dan minuman ringan. Ketika pandemi datang, pendapatannya langsung terpengaruh. Dagangannya tak laku.

Baca Juga :  Seruduk Motor, Chery Terbalik

Ia sempat kebingungan. Apalagi pandemi tak kunjung usai. Sempat, dalam beberapa hari dia tak mendapatkan penghasilan sama sekali.

Hingga akhirnya solusi itu datang. Adalah sang kades yang kemudian mengumpulkan warganya mencari pekerjaan lain yang tak terlalu terpengaruh pandemi. Seorang instruktur jahit pun didatangkan.

“Awalnya ya coba-coba thok. Belum bisa. Tapi lama-kelamaan juga terbiasa,” terang perempuan berkaus abu-abu itu.

Setelah bisa menjahit, mereka berlatih mencanting dan mewarnai batik. Semua dilakukan dalam waktu setahun. Lama-kelamaan, kegiatan itu bisa mendatangkan penghasilan. “Lumayan bisa untuk makan sehari-hari,” akunya.

Kini Lilis tak hanya bisa bekerja dengan keahliannya itu. Dia juga bisa sedikit  mengajari warga lain..

Sulur, 35, yang mengaku belum memiliki pekerjaan pun merasa terbantu dengan belajar membatik bersama warga lain. Membuatnya senang karena pekerjaan yang dilakukan sekarang. “Dulu belum kerja. Sekarang bisa ada penghasilan. Ya, seneng,” ujarnya sumringah.

Memang, tua-muda, laki-laki perempuan, semua dikumpulkan Anik di rumahnya. Belajar dan berkreasi dengan batik tulis. Sebagai upaya untuk mengurangi warga yang menganggur di tengah pandemi Covid-19 di wilayahnya. 

“Terus berkembang. Sekarang ada sekitar 14 orang yang ikut,” ujar Anik.

Kades berkacamata itu menjelaskan, kini batik yang menjadi khas Wonoasri terbaru itu bisa mendunia. Ia sudah menjual lusinan kain batik tulis ke berbagai kota. Bahkan ke luar negeri. 

Baca Juga :  Gunakan Gerakan Tari untuk Terapi Penyembuhan

“Kami kirim ke Malaysia juga ada,” terangnya.

Dari sisi kualitas, Garapan warga desa ini tergolong bagus. Buktinya pesanan dari beberapa kota di Indonesia terus berdatangan. Padahal, awalnya promosinya hanya dari mulut ke mulut. Baru beberapa waktu terakhir ini dia memanfaatkan media sosial.

Setiap harinya, Anik juga masih terus berkoordinasi dengan para ketua RT-RW. Mencari bila ada warga yang ingin dipekerjakan lagi di tengah pandemi. Karena memang ia hanya ingin warganya bisa bertahan dalam situasi sulit ini. 

Anik menjelaskan bahwa dirinya juga terus mendorong para warganya untuk mandiri dalam berekpresi. Salah satunya dengan cara membatik tulis ini. Karena nantinya keuntungan bisa diperoleh bagi diri sendiri juga. Bekerja dari rumah, dan skill yang menurutnya juga bisa berguna dan bisa diturunkan.

 “Yang terpenting saat ini bagaimana warga bisa bertahan di tengah pandemi. Memang nanti tujuan jangka panjangnya juga banyak warga yang bisa mandiri dan memiliki usaha yang sama, agar mengangkat Wonoasri sebagai desa batik juga,” pungkas Anik. (fud)

- Advertisement -

Dulu, mereka hanya penjual gorengan atau pekerja serabutan yang terdampak pandemi. Kini, karya mereka bisa menyeberangi samudera. Terjual di negara manca.

IQBAL SYAHRONI, Kabupaten, JP Radar Kediri 

Siang itu terasa terik. Sebagian besar warga Desa Wonoasri, Kecamatan Grogol memilih berada di rumah. Jalanan desa pun terasa lengang. 

Kesibukan baru terasa di belakang salah satu rumah. Rumah itu milik Anik Muryantini. Wanita ini adalah penguasa desa alias sang kepala desa (kades).  

Di tempat itu terlihat lima orang tengah sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Empat perempuan dan seorang laki-laki. Ada yang mencanting, ada pula yang memberi warna pada lembaran kain yang telah bermotif. 

“Ini sedang mencanting,” ucap seorang di antaranya. 

Perempuan berambut panjang itu bernama Lilis. Sudah paro baya, 42 tahun. Dia adalah warga setempat yang kini menjadi pembatik.

“Sudah setahun lalu, sejak awal pandemi,” sambungnya. Tangan kanannya terus menggoreskan ujung canting yang dipegang dengan tangan kirinya. Terlihat sekali kehati-hatianya. 

Wanita berambut panjang ini baru setahun kenal membatik. Sebelumnya dia adalah seorang pedagang makanan. Gorengan, rujak, dan minuman ringan. Ketika pandemi datang, pendapatannya langsung terpengaruh. Dagangannya tak laku.

Baca Juga :  Berpulang usai Tuntaskan Haji

Ia sempat kebingungan. Apalagi pandemi tak kunjung usai. Sempat, dalam beberapa hari dia tak mendapatkan penghasilan sama sekali.

Hingga akhirnya solusi itu datang. Adalah sang kades yang kemudian mengumpulkan warganya mencari pekerjaan lain yang tak terlalu terpengaruh pandemi. Seorang instruktur jahit pun didatangkan.

“Awalnya ya coba-coba thok. Belum bisa. Tapi lama-kelamaan juga terbiasa,” terang perempuan berkaus abu-abu itu.

Setelah bisa menjahit, mereka berlatih mencanting dan mewarnai batik. Semua dilakukan dalam waktu setahun. Lama-kelamaan, kegiatan itu bisa mendatangkan penghasilan. “Lumayan bisa untuk makan sehari-hari,” akunya.

Kini Lilis tak hanya bisa bekerja dengan keahliannya itu. Dia juga bisa sedikit  mengajari warga lain..

Sulur, 35, yang mengaku belum memiliki pekerjaan pun merasa terbantu dengan belajar membatik bersama warga lain. Membuatnya senang karena pekerjaan yang dilakukan sekarang. “Dulu belum kerja. Sekarang bisa ada penghasilan. Ya, seneng,” ujarnya sumringah.

Memang, tua-muda, laki-laki perempuan, semua dikumpulkan Anik di rumahnya. Belajar dan berkreasi dengan batik tulis. Sebagai upaya untuk mengurangi warga yang menganggur di tengah pandemi Covid-19 di wilayahnya. 

“Terus berkembang. Sekarang ada sekitar 14 orang yang ikut,” ujar Anik.

Kades berkacamata itu menjelaskan, kini batik yang menjadi khas Wonoasri terbaru itu bisa mendunia. Ia sudah menjual lusinan kain batik tulis ke berbagai kota. Bahkan ke luar negeri. 

Baca Juga :  Hukum Pakai Produk dari Kulit Buaya, Boleh Tidak?

“Kami kirim ke Malaysia juga ada,” terangnya.

Dari sisi kualitas, Garapan warga desa ini tergolong bagus. Buktinya pesanan dari beberapa kota di Indonesia terus berdatangan. Padahal, awalnya promosinya hanya dari mulut ke mulut. Baru beberapa waktu terakhir ini dia memanfaatkan media sosial.

Setiap harinya, Anik juga masih terus berkoordinasi dengan para ketua RT-RW. Mencari bila ada warga yang ingin dipekerjakan lagi di tengah pandemi. Karena memang ia hanya ingin warganya bisa bertahan dalam situasi sulit ini. 

Anik menjelaskan bahwa dirinya juga terus mendorong para warganya untuk mandiri dalam berekpresi. Salah satunya dengan cara membatik tulis ini. Karena nantinya keuntungan bisa diperoleh bagi diri sendiri juga. Bekerja dari rumah, dan skill yang menurutnya juga bisa berguna dan bisa diturunkan.

 “Yang terpenting saat ini bagaimana warga bisa bertahan di tengah pandemi. Memang nanti tujuan jangka panjangnya juga banyak warga yang bisa mandiri dan memiliki usaha yang sama, agar mengangkat Wonoasri sebagai desa batik juga,” pungkas Anik. (fud)

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/