23.2 C
Kediri
Saturday, August 13, 2022

Wisata dan Bersih-Bersih Sampah Sungai ala Komunitas Tubing Sirinjing

- Advertisement -

Aktivitas tubing memang menyenangkan. Namun tidak asyik jika sungainya berserakan sampah. Demi mendapat kesenangan itulah, Komunitas Tubing Sirinjing tak hanya menikmati suasana wisatanya. Mereka juga membersihkan sampah sungai.

 

RIZAL ARI ANDANI

 

- Advertisement -

Kondisi Sungai Sirinjing, terutama yang membelah wilayah Kecamatan Pare saat ini cukup memprihatinkan. Bermacam sampah berserakan di sepanjang bantaran sungai. Belum lagi limbah cair rumah tangga yang dibuang ke sana.

Makanya pemandangan sungai legendaris yang disebut-sebut dalam Prasasti Sukabumi (Harinjing) di Siman, Kepung tersebut kini menjadi tidak sedap. Seiring waktu, sungai yang konon merupakan saluran air yang dibangun Suklapaksa pada 921 Masehi tersebut justru dianggap tempat sampah besar.

Sebagian warga yang tidak peduli terbiasa membuang sampah di sana. Lantaran kondisi itu, banyak orang enggan beraktivitas di sekitar sungai. Tentu saja, mereka takut jika air yang bercampur sampah mengganggu kesehatannya.

Namun hal itu tidak berlaku bagi Arif dan kawan-kawannya. Pemuda 30 tahunan tersebut justru memanfaatan aliran sungai yang terkesan kumuh itu untuk melakukan tubing. Komunitas tersebut berdiri September 2016 lalu.

Awalnya, Arif yang jenuh dengan rutinitas sebagai mekanik motor mencoba mencari hiburan. Dia kemudian menghubungi pelanggannya asal Jogjakarta. “Kebetulan ‘pasien’ saya itu adalah pencinta tubing,” ujar warga Desa Bendo, Pare tersebut. Dari dialah, muncul ide melakukan tubing.

Hanya saja, setiba di Kediri sekitar Juli 2016, Arif bingung akan tubing di sungai mana. Pasalnya, sungai dekat rumahnya (Sirinjing) kotor. Tetapi temannya memaksa tubing di sana. “Kebetulan sedang musim hujan dan debit air besar,” kata pria yang akrab dipanggil Mbah ini.

Arif pun memutuskan mencari pinjaman ban dalam truk dari para pelanggannya. Setelah dapat dua, ia dan kawannya terjun ke Sungai Sirinjing. “Awalnya saya malu. Karena itu, kami berangkat malam hari,” ungkapnya. Berbekal senter dan ban, Arif menghanyutkan diri ke arus sungai. Dari situ, ia mulai merasakan keseruan. Apalagi, ketika kawannya mengajarkan berbagai teknik tubing kepadanya.

Baca Juga :  Ribuan Warga Panen Cuan dari Beternak Ikan

Setelah itu, tercetuslah ide untuk kembali melakukan tubing. Namun ketika mengajak kawan-kawannya, ternyata hanya sedikit yang berminat. “Awalnya hanya tiga orang,” kenangnya.

Mereka berangkat siang. Waktu itu, Arif merasakan hal yang berbeda dibanding kali pertama tubing. Sampah yang berserakan di bantaran dan aliran sungai mengurangi keseruan. Tetapi itu malah membuatnya makin bersemangat. Dari situ terlintaslah pemikiran melakukan tubing sambil bersih-bersih sampah di Sungai Sirinjing.

Sejak itulah, Arif melakukan kaderisasi dan membentuk Komunitas Tubing Sirinjing. Hampir tiap seminggu sekali, ia dan kawan-kawannya meluangkan waktu melakukan tubing. Kini, anggota komunitas sudah lebih 40 orang. Sebagian besar pemuda Desa Bendo, Pare.

Sementara peralatan yang dimiliki tidak hanya ban. Selain sudah punya 15 ban bekas, komunitas tersebut juga memiliki 15 buah pelampung dan helm keselamatan. “Para anggota patungan untuk beli perlengkapan itu,” beber Arif.

Meski menyenangkan, Arif mengakui, aktivitas Komunitas Tubing Sirinjing tidak murni kegiatan wisata. “Saya tekankan, terjun di Kali Sirinjing memang butuh mental dan nyali,” paparnya.

Alasan yang pertama, karena variasi sampah di sungai tersebut cukup banyak. Mulai dari popok bekas, bungkus plastik, sisa makanan, limbah cair rumah tangga, hingga bangkai binatang tidak jarang berpapasan dengan mereka. “Kita bawa kantung untuk mengangkut sampah-sampah itu,” urainya.

Arif dan kawan-kawan biasa membersihkan batang pohon yang melintang di aliran sungai. Batang pohon dibawa naik ke bibir sungai. Arif Cs berkomitmen, sampah yang sudah dibersihkan tidak boleh terbawa kembali ke aliran sungai.

Baca Juga :  Wiwit Pari, Tradisi Berbagi yang Tergerus

Selain itu, berkali-kali ia dan kawan-kawannya mendapat teguran dari warga yang tinggal di sekitar aliran sungai. Terlebih saat berusaha membersihkan sampah yag tersangkut di patok-patok perangkap sampah yang dipasang sejumlah orang tak bertanggungjawab. Patok perangkap sampah dipasang dengan tujuan menjaga bibir sungai agar tak erosi.

Namun di sisi lain, perangkap sampah ternyata punya dampak lebih merusak. Sampah yang menumpuk justru membuat aliran sungai menjadi terpecah. Selain membuat arus jadi lebih deras, pecahan aliran sungai yang tidak beraturan biasanya langsung mengarah ke bibir sungai. Itulah yang kemudian merusak bibir sungai di sekitar perangkap sampah yang dipasang warga.

Belum lagi, soal banyaknya warga yang memandang remeh aktivitas tersebut. Mereka menilai kegiatan Komunitas Tubing Sirinjing tidak memberi keuntungan secara materi pada anggotanya. Namun hal itu justru dianggap Arif sebagai alasan agar lebih bersemangat. Dia dan kawan-kawannya akan terus tubing di Kali Sirinjing. “Kami sadar, banyaknya sampah di sini (Sungai Sirinjing) tidak akan bisa kita atasi sendiri. Namun setidaknya, dengan aktivitas di sungai bersejarah ini kami berharap warga enggan buang sampah di sini,” urainya.

Arif berharap, masyarakat yang peduli sungai bertambah. Harapannya, kawan-kawannya mendapat edukasi lingkungan  sungai. “Kebanyakan dari kami tidak memiliki basic pendidikan yang tinggi. Terutama terkait sungai. Karena itu saya punya mimpi agar saya dan kawan-kawan mendapat edukasi dari pihak yang lebih memahami soal sungai dan lingkungannya,” tuturnya.

 

 

- Advertisement -

Aktivitas tubing memang menyenangkan. Namun tidak asyik jika sungainya berserakan sampah. Demi mendapat kesenangan itulah, Komunitas Tubing Sirinjing tak hanya menikmati suasana wisatanya. Mereka juga membersihkan sampah sungai.

 

RIZAL ARI ANDANI

 

Kondisi Sungai Sirinjing, terutama yang membelah wilayah Kecamatan Pare saat ini cukup memprihatinkan. Bermacam sampah berserakan di sepanjang bantaran sungai. Belum lagi limbah cair rumah tangga yang dibuang ke sana.

Makanya pemandangan sungai legendaris yang disebut-sebut dalam Prasasti Sukabumi (Harinjing) di Siman, Kepung tersebut kini menjadi tidak sedap. Seiring waktu, sungai yang konon merupakan saluran air yang dibangun Suklapaksa pada 921 Masehi tersebut justru dianggap tempat sampah besar.

Sebagian warga yang tidak peduli terbiasa membuang sampah di sana. Lantaran kondisi itu, banyak orang enggan beraktivitas di sekitar sungai. Tentu saja, mereka takut jika air yang bercampur sampah mengganggu kesehatannya.

Namun hal itu tidak berlaku bagi Arif dan kawan-kawannya. Pemuda 30 tahunan tersebut justru memanfaatan aliran sungai yang terkesan kumuh itu untuk melakukan tubing. Komunitas tersebut berdiri September 2016 lalu.

Awalnya, Arif yang jenuh dengan rutinitas sebagai mekanik motor mencoba mencari hiburan. Dia kemudian menghubungi pelanggannya asal Jogjakarta. “Kebetulan ‘pasien’ saya itu adalah pencinta tubing,” ujar warga Desa Bendo, Pare tersebut. Dari dialah, muncul ide melakukan tubing.

Hanya saja, setiba di Kediri sekitar Juli 2016, Arif bingung akan tubing di sungai mana. Pasalnya, sungai dekat rumahnya (Sirinjing) kotor. Tetapi temannya memaksa tubing di sana. “Kebetulan sedang musim hujan dan debit air besar,” kata pria yang akrab dipanggil Mbah ini.

Arif pun memutuskan mencari pinjaman ban dalam truk dari para pelanggannya. Setelah dapat dua, ia dan kawannya terjun ke Sungai Sirinjing. “Awalnya saya malu. Karena itu, kami berangkat malam hari,” ungkapnya. Berbekal senter dan ban, Arif menghanyutkan diri ke arus sungai. Dari situ, ia mulai merasakan keseruan. Apalagi, ketika kawannya mengajarkan berbagai teknik tubing kepadanya.

Baca Juga :  Mengintip Penambang Pasir di Desa Tanjungrejo, Kecamatan Loceret

Setelah itu, tercetuslah ide untuk kembali melakukan tubing. Namun ketika mengajak kawan-kawannya, ternyata hanya sedikit yang berminat. “Awalnya hanya tiga orang,” kenangnya.

Mereka berangkat siang. Waktu itu, Arif merasakan hal yang berbeda dibanding kali pertama tubing. Sampah yang berserakan di bantaran dan aliran sungai mengurangi keseruan. Tetapi itu malah membuatnya makin bersemangat. Dari situ terlintaslah pemikiran melakukan tubing sambil bersih-bersih sampah di Sungai Sirinjing.

Sejak itulah, Arif melakukan kaderisasi dan membentuk Komunitas Tubing Sirinjing. Hampir tiap seminggu sekali, ia dan kawan-kawannya meluangkan waktu melakukan tubing. Kini, anggota komunitas sudah lebih 40 orang. Sebagian besar pemuda Desa Bendo, Pare.

Sementara peralatan yang dimiliki tidak hanya ban. Selain sudah punya 15 ban bekas, komunitas tersebut juga memiliki 15 buah pelampung dan helm keselamatan. “Para anggota patungan untuk beli perlengkapan itu,” beber Arif.

Meski menyenangkan, Arif mengakui, aktivitas Komunitas Tubing Sirinjing tidak murni kegiatan wisata. “Saya tekankan, terjun di Kali Sirinjing memang butuh mental dan nyali,” paparnya.

Alasan yang pertama, karena variasi sampah di sungai tersebut cukup banyak. Mulai dari popok bekas, bungkus plastik, sisa makanan, limbah cair rumah tangga, hingga bangkai binatang tidak jarang berpapasan dengan mereka. “Kita bawa kantung untuk mengangkut sampah-sampah itu,” urainya.

Arif dan kawan-kawan biasa membersihkan batang pohon yang melintang di aliran sungai. Batang pohon dibawa naik ke bibir sungai. Arif Cs berkomitmen, sampah yang sudah dibersihkan tidak boleh terbawa kembali ke aliran sungai.

Baca Juga :  Derita Arsyifa Balqis Nabiha, Bayi yang Terlahir Tanpa Bola Mata

Selain itu, berkali-kali ia dan kawan-kawannya mendapat teguran dari warga yang tinggal di sekitar aliran sungai. Terlebih saat berusaha membersihkan sampah yag tersangkut di patok-patok perangkap sampah yang dipasang sejumlah orang tak bertanggungjawab. Patok perangkap sampah dipasang dengan tujuan menjaga bibir sungai agar tak erosi.

Namun di sisi lain, perangkap sampah ternyata punya dampak lebih merusak. Sampah yang menumpuk justru membuat aliran sungai menjadi terpecah. Selain membuat arus jadi lebih deras, pecahan aliran sungai yang tidak beraturan biasanya langsung mengarah ke bibir sungai. Itulah yang kemudian merusak bibir sungai di sekitar perangkap sampah yang dipasang warga.

Belum lagi, soal banyaknya warga yang memandang remeh aktivitas tersebut. Mereka menilai kegiatan Komunitas Tubing Sirinjing tidak memberi keuntungan secara materi pada anggotanya. Namun hal itu justru dianggap Arif sebagai alasan agar lebih bersemangat. Dia dan kawan-kawannya akan terus tubing di Kali Sirinjing. “Kami sadar, banyaknya sampah di sini (Sungai Sirinjing) tidak akan bisa kita atasi sendiri. Namun setidaknya, dengan aktivitas di sungai bersejarah ini kami berharap warga enggan buang sampah di sini,” urainya.

Arif berharap, masyarakat yang peduli sungai bertambah. Harapannya, kawan-kawannya mendapat edukasi lingkungan  sungai. “Kebanyakan dari kami tidak memiliki basic pendidikan yang tinggi. Terutama terkait sungai. Karena itu saya punya mimpi agar saya dan kawan-kawan mendapat edukasi dari pihak yang lebih memahami soal sungai dan lingkungannya,” tuturnya.

 

 

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/