23.1 C
Kediri
Monday, August 15, 2022

Di Balik Pentas Wayang Jumbo di Museum Sampurno Kediri

- Advertisement -

Bukan wayang kulit dengan panggung megah, alunan musik gamelan dan sinden. Namun, pertunjukan sederhana dengan wayang berbahan kertas tetapi menarik perhatian karena ukurannya yang raksasa. 

DEWI AYU NINGTYAS, KABUPATEN, JP Radar Kediri 

Pemrakarsa pertunjukan itu adalah Sampurno Hadi. Seorang seniman sekaligus guru seni rupa di SMPN 1 Gampengrejo. Pegelaran wayang yang sengaja dibuat  secara khusus untuk memberikan ucapan selamat dan dukungan pada Hanindhito Himawan Pramana dan Dewi Maria Ulfa.  

Digelar Sabtu (27/2), pertunjukan diadakan di museum pribadi milik Sampurno Hadi. Berada di Jalan Bendungan Waru Turi, Desa Gampeng, Kecamatan Gampengrejo.

Pertunjukan wayang ini diberi judul ‘Menggapai Matahari’. Sampurno menuturkan pemilihan judul itu memiliki filosofi tersendiri. Yakni matahari yang berada di ketinggian tidak semua orang bisa menggapainya. Termasuk cita-cita menjadi bupati yang tidak setiap orang bisa meraih. “Yang jadi akhirnya hanya satu,” kata seniman 58 tahun itu. 

- Advertisement -

‘Menggapai Matahari’ itu dipentaskan dengan ciamik. Dengan latar ruang depan museum yang masih berupa batako abu-abu itu Sampurno asyik bercerita. 

Wayang-wayang itu bercerita tentang sebuah pertemuan yang akhirnya terdengar dari khayangan. Wayang Narada pun turun ke bumi untuk mengucapkan selamat. “Termasuk Bagong dan Petruk yang juga abdi kerajaan sejak dulu,” tutur alumnus FBS Unesa itu. 

Baca Juga :  Bikin Manisan Rasa Lombok Jadi Pedas-Manis

Beberapa kali karena harus menggerakkan wayang berukuran besar, Sampurno harus naik ke meja kecil. Seniman lukis itu mengatakan pertunjukannya  menggambarkan sebuah kerajaan. Seperti saat ini Kabupaten Kediri ibarat kerajaan yang sudah berganti pemimpin. “Sekarang bupati baru sudah dilantik berarti nanti kita diperintah oleh bupati baru untuk melaksanakan program agar Kediri menjadi berseri,” tuturnya seraya memegang wayang Gatotkaca dan Dewi Srikandi. 

Dalam pementasan wayang itu, Mas Dhito digambarkan sebagai wayang Gatotkaca. Sedangkan Mbak Dewi sebagai wayang Srikandi. Pemilihan dua tokoh wayang itu pun bukan tanpa alasan. 

Pria berkemeja batik itu mengatakan Wayang Gatotkaca yang menggambarkan Mas Dhito sebagai sosok pemimpin yang berani. Sedangkan wayang Dewi Srikandi sebagai Mbak Dewi itu sebagai tokoh pewayangan perempuan yang menjadi pejuang. “Setelah diberi kepercayaan memimpin pasti akan memperjuangkan,” katanya. 

Pagelaran wayang yang berada di ruang depan museum pribadinya itu memang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari. Ada sekitar tiga bulan Sampurno memulai proses pembuatan empat wayang raksasa dan lima wayang kecil. Yakni wayang Narada, Petruk, Bagong, Dewi Srikandi dan Gatotkaca.

Pemilihan ukuran wayang yang terbilang raksasa itu, Sampurno mengatakan memang berasal dari kegemarannya melukis dengan ukuran besar. Khusus untuk pertunjukannya kali ini, dia membuat wayang dengan ukuran tinggi tiga meter. Sementara normalnya wayang berukuran 45-65 sentimeter.

Baca Juga :  Guru dan Terapis Pengajar Anak Autis dan Down Syndrom di Sekolah CII

Selain itu, juga untuk menunjukkan identitasnya sebagai seorang seniman. “Kalau saya memang sejak dulu suka melukis yang besar-besar. Kalau sama ya akhirnya sama saja dengan lainnya,” jawab Sampurno sederhana. 

Wayang-wayang yang memang khusus untuk orang nomor satu di Kabupaten Kediri itu dibuat dengan bahan kertas duplex. Untuk pewarnaannya dengan cat air. 

Dengan nada tersengal, Sampurno mengatakan pembuatan wayang Gatotkaca khusus Mas Dhito memakan satu bulan. Untuk penggambaran pola, dia memerlukan waktu selama tiga hari. Terlebih dia memang seorang pengajar, hanya bisa berkarya saat senggang. “Kalau mood membuat karya kalau tidak ya tidak bisa keluar (idenya),” kata pria yang saat ditemui menggunakan sarung bermotif kotak-kotak.

Sampurno pun tidak sungkan menjelaskan pembuatan wayang-wayang itu. Pertama dia harus mempersiapkan kertas duplex yang dilapisi kertas manila putih dengan lem. Setelah pola jadi, dilanjutkan dengan pewarnaan. “Baru dilukis dan pewarnaan sesuai pola,” terang pemilik museum pribadi itu. 

Kepada Jawa Pos Radar Kediri, Sampuno mengatakan harapannya pada Mas Dhito dan Mbak Dewi. Yakni seni akan semakin bangkit. “Saat ini sudah baik, segala sesuatu kan ada yang ingin lebih baik dari sebelumnya,” tuturnya setelah pementasan wayang Mas Dhito dan Mbak Dewi rampung digelar. (dea)

- Advertisement -

Bukan wayang kulit dengan panggung megah, alunan musik gamelan dan sinden. Namun, pertunjukan sederhana dengan wayang berbahan kertas tetapi menarik perhatian karena ukurannya yang raksasa. 

DEWI AYU NINGTYAS, KABUPATEN, JP Radar Kediri 

Pemrakarsa pertunjukan itu adalah Sampurno Hadi. Seorang seniman sekaligus guru seni rupa di SMPN 1 Gampengrejo. Pegelaran wayang yang sengaja dibuat  secara khusus untuk memberikan ucapan selamat dan dukungan pada Hanindhito Himawan Pramana dan Dewi Maria Ulfa.  

Digelar Sabtu (27/2), pertunjukan diadakan di museum pribadi milik Sampurno Hadi. Berada di Jalan Bendungan Waru Turi, Desa Gampeng, Kecamatan Gampengrejo.

Pertunjukan wayang ini diberi judul ‘Menggapai Matahari’. Sampurno menuturkan pemilihan judul itu memiliki filosofi tersendiri. Yakni matahari yang berada di ketinggian tidak semua orang bisa menggapainya. Termasuk cita-cita menjadi bupati yang tidak setiap orang bisa meraih. “Yang jadi akhirnya hanya satu,” kata seniman 58 tahun itu. 

‘Menggapai Matahari’ itu dipentaskan dengan ciamik. Dengan latar ruang depan museum yang masih berupa batako abu-abu itu Sampurno asyik bercerita. 

Wayang-wayang itu bercerita tentang sebuah pertemuan yang akhirnya terdengar dari khayangan. Wayang Narada pun turun ke bumi untuk mengucapkan selamat. “Termasuk Bagong dan Petruk yang juga abdi kerajaan sejak dulu,” tutur alumnus FBS Unesa itu. 

Baca Juga :  Latihan 8 Jam, Padukan Sabetan Wayang dan Iringan Gamelan

Beberapa kali karena harus menggerakkan wayang berukuran besar, Sampurno harus naik ke meja kecil. Seniman lukis itu mengatakan pertunjukannya  menggambarkan sebuah kerajaan. Seperti saat ini Kabupaten Kediri ibarat kerajaan yang sudah berganti pemimpin. “Sekarang bupati baru sudah dilantik berarti nanti kita diperintah oleh bupati baru untuk melaksanakan program agar Kediri menjadi berseri,” tuturnya seraya memegang wayang Gatotkaca dan Dewi Srikandi. 

Dalam pementasan wayang itu, Mas Dhito digambarkan sebagai wayang Gatotkaca. Sedangkan Mbak Dewi sebagai wayang Srikandi. Pemilihan dua tokoh wayang itu pun bukan tanpa alasan. 

Pria berkemeja batik itu mengatakan Wayang Gatotkaca yang menggambarkan Mas Dhito sebagai sosok pemimpin yang berani. Sedangkan wayang Dewi Srikandi sebagai Mbak Dewi itu sebagai tokoh pewayangan perempuan yang menjadi pejuang. “Setelah diberi kepercayaan memimpin pasti akan memperjuangkan,” katanya. 

Pagelaran wayang yang berada di ruang depan museum pribadinya itu memang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari. Ada sekitar tiga bulan Sampurno memulai proses pembuatan empat wayang raksasa dan lima wayang kecil. Yakni wayang Narada, Petruk, Bagong, Dewi Srikandi dan Gatotkaca.

Pemilihan ukuran wayang yang terbilang raksasa itu, Sampurno mengatakan memang berasal dari kegemarannya melukis dengan ukuran besar. Khusus untuk pertunjukannya kali ini, dia membuat wayang dengan ukuran tinggi tiga meter. Sementara normalnya wayang berukuran 45-65 sentimeter.

Baca Juga :  Hanya di Dalam Rumah

Selain itu, juga untuk menunjukkan identitasnya sebagai seorang seniman. “Kalau saya memang sejak dulu suka melukis yang besar-besar. Kalau sama ya akhirnya sama saja dengan lainnya,” jawab Sampurno sederhana. 

Wayang-wayang yang memang khusus untuk orang nomor satu di Kabupaten Kediri itu dibuat dengan bahan kertas duplex. Untuk pewarnaannya dengan cat air. 

Dengan nada tersengal, Sampurno mengatakan pembuatan wayang Gatotkaca khusus Mas Dhito memakan satu bulan. Untuk penggambaran pola, dia memerlukan waktu selama tiga hari. Terlebih dia memang seorang pengajar, hanya bisa berkarya saat senggang. “Kalau mood membuat karya kalau tidak ya tidak bisa keluar (idenya),” kata pria yang saat ditemui menggunakan sarung bermotif kotak-kotak.

Sampurno pun tidak sungkan menjelaskan pembuatan wayang-wayang itu. Pertama dia harus mempersiapkan kertas duplex yang dilapisi kertas manila putih dengan lem. Setelah pola jadi, dilanjutkan dengan pewarnaan. “Baru dilukis dan pewarnaan sesuai pola,” terang pemilik museum pribadi itu. 

Kepada Jawa Pos Radar Kediri, Sampuno mengatakan harapannya pada Mas Dhito dan Mbak Dewi. Yakni seni akan semakin bangkit. “Saat ini sudah baik, segala sesuatu kan ada yang ingin lebih baik dari sebelumnya,” tuturnya setelah pementasan wayang Mas Dhito dan Mbak Dewi rampung digelar. (dea)

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/