26.2 C
Kediri
Wednesday, July 6, 2022

Kisah POPTI Kediri Berjuang Mendapat Darah di Tengah Pandemi

Jumlah pendonor darah selama pandemi Covid-19 menurun drastis. Membuat perhimpunan orang tua penderita thalassaemia Indonesia (POPTI) Kota Kediri khawatir. Darah terbatas, padahal sangat dibutuhkan untuk bertahan hidup.

MOCH. DIDIN SAPUTRO, Kota, JP Radar Kediri.

Malichatun Nafiah, ketua POPTI Kota Kediri ini mengakui bahwa pandemi korona menjadi masa-masa tersulit mendapat pendonor darah. Lebih tiga bulan masa sulit itu berlangsung. Ia dan orang tua lain harus berjuang mendapatkan darah untuk keperluan transfusi putra-putri mereka yang menderita thalassaemia. Suatu kelainan pembentukkan sel darah merah.

“Selama pandemi ini memang saat paling sulit. Kekhawatiran yang paling utama terkait mendapatkan darah,” ujar perempuan yang akrab dipanggil Nafi ini.

Apalagi jika tak mendapatkan, tentu nyawa yang jadi taruhannya. Ini tak terlepas dari upaya penderita thalassaemia untuk tetap bertahan. Yakni dengan transfusi darah rutin. Frekuensinya mulai dari 3 sampai 4 minggu sekali. Termasuk bagi Nafi yang putra-putrinya menjadi penderita kelainan ini. Setidaknya sekali transfusi butuh 2 hingga 3 kantong darah. Artinya satu penderita bisa 2 sampai 3 pendonor.

“Sebelum masa pandemi saja sering kesulitan cari pendonor, terutama saat bulan ramadan dan lebaran,” ungkapnya.

Baca Juga :  Promo Khusus! Warkop di Pare Ini Naikkan Harga untuk ASN dan Aparat

Memang setiap tahun, saat puasa dan lebaran selalu minim pendonor. Upaya dari PMI saat masa itu adalah keliling untuk medapatkan darah. Terlebih selama pandemi, tak ada kegiatan donor masal. Tak ada juga mobil PMI yang keliling karena meminimalkan risiko penularan Covid-19.

Ia ingat betul masa-masa sulit sebelum puasa kala itu. Ia ikut menunggu pendonor. Sebab, beberapa penderita harus mendapat darah untuk keperluan transfusi. Tak terkecuali bagi putra putrinya. Arjun dan Abel, yang sempat kehabisan darah O. Bingung mencari, Nafi melakukan broadcast melalui media sosial. Mulai grup whatsapp, facebook, hingga instagram.

“Mendengar kabar itu, langsung BC dan memastikan pendonor, baik dari teman-teman maupun Brigif Mekanis Wira Yudha Kediri. Alhamdulillah mereka bisa hadir dan akhirnya darah terpenuhi,” papar Nafi ditemui ketika ia menunggu proses transfusi darah putranya di RS Gambiran Kota Kediri kemarin.

Selama ini, komunikasi intensif memang dilakukan Nafi dengan PMI. Ia selalu mendapat update data ketersediaan darah. Termasuk dengan Brigif Mekanis Wira Yudha Kediri yang telah menjalin koordinasi orangtua asuh penderita thalassaemia. Menurutnya menjaga komunikasi itu yang paling utama.

Baca Juga :  Jatuh Bangun Yayuk Sri Rahayu Merintis Konsep Pertanian Terintegrasi

“Garda depan ketersediaan darah ini adalah PMI Kota dan Kabupaten Kediri. Mereka selalu update data darah. Kita selalu komunikasi untuk menjaga hal yang tidak diinginkan,” sebut perempuan yang juga guru ini.

Perjuangan untuk mendapatkan pendonor tentu tak mudah. Di Kota Kediri setidaknya ada 20 penderita thalassaemia. Untuk mendapatkan pendonor, selain update stok darah di PMI, sejak awal tahun ini Nafi mengakui juga telah mendapat bantuan orang tua asuh dari Brigif. Anggota TNI dari kesatuan itu rutin mendonorkan darah secara bergilir.

Dalam mendapatkan darah itu, Nafi membuat daftar nama dan kebutuhan darah serta jadwal transfusi. “Kita terus meyakinkan dengan masyarakat, sama pendonor untuk tetap berangkat,” ujarnya.

Yang jelas, meski kesulitan mencari pendonor saat pandemi ini, ia mengaku penderita thalassaemia tetap semangat. Mereka terus berdoa dan yakin bahwa selalu ada jalan untuk tetap bertahan. (dea)

- Advertisement -

Jumlah pendonor darah selama pandemi Covid-19 menurun drastis. Membuat perhimpunan orang tua penderita thalassaemia Indonesia (POPTI) Kota Kediri khawatir. Darah terbatas, padahal sangat dibutuhkan untuk bertahan hidup.

MOCH. DIDIN SAPUTRO, Kota, JP Radar Kediri.

Malichatun Nafiah, ketua POPTI Kota Kediri ini mengakui bahwa pandemi korona menjadi masa-masa tersulit mendapat pendonor darah. Lebih tiga bulan masa sulit itu berlangsung. Ia dan orang tua lain harus berjuang mendapatkan darah untuk keperluan transfusi putra-putri mereka yang menderita thalassaemia. Suatu kelainan pembentukkan sel darah merah.

“Selama pandemi ini memang saat paling sulit. Kekhawatiran yang paling utama terkait mendapatkan darah,” ujar perempuan yang akrab dipanggil Nafi ini.

Apalagi jika tak mendapatkan, tentu nyawa yang jadi taruhannya. Ini tak terlepas dari upaya penderita thalassaemia untuk tetap bertahan. Yakni dengan transfusi darah rutin. Frekuensinya mulai dari 3 sampai 4 minggu sekali. Termasuk bagi Nafi yang putra-putrinya menjadi penderita kelainan ini. Setidaknya sekali transfusi butuh 2 hingga 3 kantong darah. Artinya satu penderita bisa 2 sampai 3 pendonor.

“Sebelum masa pandemi saja sering kesulitan cari pendonor, terutama saat bulan ramadan dan lebaran,” ungkapnya.

Baca Juga :  Fahmi Syahrul, Murid TK yang Berjuang Melawan Penyakit Kelainan Usus

Memang setiap tahun, saat puasa dan lebaran selalu minim pendonor. Upaya dari PMI saat masa itu adalah keliling untuk medapatkan darah. Terlebih selama pandemi, tak ada kegiatan donor masal. Tak ada juga mobil PMI yang keliling karena meminimalkan risiko penularan Covid-19.

Ia ingat betul masa-masa sulit sebelum puasa kala itu. Ia ikut menunggu pendonor. Sebab, beberapa penderita harus mendapat darah untuk keperluan transfusi. Tak terkecuali bagi putra putrinya. Arjun dan Abel, yang sempat kehabisan darah O. Bingung mencari, Nafi melakukan broadcast melalui media sosial. Mulai grup whatsapp, facebook, hingga instagram.

“Mendengar kabar itu, langsung BC dan memastikan pendonor, baik dari teman-teman maupun Brigif Mekanis Wira Yudha Kediri. Alhamdulillah mereka bisa hadir dan akhirnya darah terpenuhi,” papar Nafi ditemui ketika ia menunggu proses transfusi darah putranya di RS Gambiran Kota Kediri kemarin.

Selama ini, komunikasi intensif memang dilakukan Nafi dengan PMI. Ia selalu mendapat update data ketersediaan darah. Termasuk dengan Brigif Mekanis Wira Yudha Kediri yang telah menjalin koordinasi orangtua asuh penderita thalassaemia. Menurutnya menjaga komunikasi itu yang paling utama.

Baca Juga :  Jatuh Bangun Yayuk Sri Rahayu Merintis Konsep Pertanian Terintegrasi

“Garda depan ketersediaan darah ini adalah PMI Kota dan Kabupaten Kediri. Mereka selalu update data darah. Kita selalu komunikasi untuk menjaga hal yang tidak diinginkan,” sebut perempuan yang juga guru ini.

Perjuangan untuk mendapatkan pendonor tentu tak mudah. Di Kota Kediri setidaknya ada 20 penderita thalassaemia. Untuk mendapatkan pendonor, selain update stok darah di PMI, sejak awal tahun ini Nafi mengakui juga telah mendapat bantuan orang tua asuh dari Brigif. Anggota TNI dari kesatuan itu rutin mendonorkan darah secara bergilir.

Dalam mendapatkan darah itu, Nafi membuat daftar nama dan kebutuhan darah serta jadwal transfusi. “Kita terus meyakinkan dengan masyarakat, sama pendonor untuk tetap berangkat,” ujarnya.

Yang jelas, meski kesulitan mencari pendonor saat pandemi ini, ia mengaku penderita thalassaemia tetap semangat. Mereka terus berdoa dan yakin bahwa selalu ada jalan untuk tetap bertahan. (dea)

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/