22.8 C
Kediri
Wednesday, June 29, 2022

Polisi di Kediri Ini Kenalkan Pancasila kepada Anak-Anak lewat Wayang

Mengajarkan falsafah Pancasila bisa dilakukan dengan cara yang seru. Kapolsek Puncu AKP Bowo Wicaksono memilih menerangkannya kepada anak-anak di Desa Gadungan, Puncu melalui wayang garuda.

 

REKIAN, KABUPATEN – JP Radar Kediri 

 

Senyum mengembang di bibir anak-anak Desa Gadungan, Puncu saat menyambut rombongan Polsek Puncu ke desanya sekitar pukul 13.30, kemarin. Kehadiran korps baju cokelat itu tidak membawa senapan. Pun mobil water cannon atau mobil barrier yang biasanya disiagakan untuk mengurai massa. Bawaan mereka siang itu sama sekali berbeda: perlengkapan wayang dan dua gambar garuda.

Satu garuda sudah diwarnai dan satu lainnya belum diwarnai. “Ini garuda yang belum diwarnai dipisahkan dulu,” ujar Kapolsek Puncu AKP Bowo Wicaksono mulai menyapa anak-anak berusia sekitar 10-11 tahun itu. Gambar garuda yang masih hitam putih dibagi menjadi empat bagian. Yakni, dua bagian sayap, dada, ekor, dan kepalanya. Bagian yang memiliki makna masing-masing itu agaknya sengaja dipisah.

          Tak hanya membawa garuda, perwira dengan pangkat tiga balok di pundak itu juga membawa cat berwarna merah, kuning dan hitam. Setelah bagian garuda itu dipisah, dia lantas menyiapkan kuas untuk menggambar. Bowo, sapaan akrab Bowo Wicaksono, lantas mengajak anak-anak untuk mewarnai empat bagian Garuda tersebut.

          Wayang garuda yang sudah berwarna menjadi panduannya. Warna di tiap bagian terpisah itu mengikuti warga di wayang garuda. “Contoh warnanya seperti wayang ini ya,” ajak Bowo sembari tersenyum ramah.

          Di bawah pondok bambu beratap seng, anak-anak pun dengan gembira menyambut ajakan Bowo. Dengan telaten, mereka lantas mewarnai potongan-potongan garuda itu bersama-sama. Setelah selesai, perwira asal Nganjuk itu lantas menjelaskan makna yang terkandung di lambang negara tersebut.

Baca Juga :  Juara English Star SMA dan SMP di Beat School Contest XIII

          Untuk menghangatkan suasana, dia lantas melemparkan pertanyaan seputar jumlah helai bulu pada leher, sayap, dan ekor garuda. Karena tidak ada yang bisa menjawab, Bowo lalu menjelaskan dengan pelan berulang-ulang. Mulai bulu di leher yang berjumlah 45 helai. Kemudian, pangkal ekor ada 19 helai bulu. Jumlah bulu di sana bermakna tahun kemerdekaan Indonesia. Yakni, 1945.

          Kemudian, di sayap ada 17 helai bulu yang juga berarti tanggal kemerdekaan Indonesia. Sedangkan bulan kemerdekaan Indonesia tersemat di ekor yang mencapai delapan helai. Dengan jumlah bulu di beberapa bagian tubuh garuda tersebut mencerminkan hari kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Setelah diulang beberapa kali, anak-anak langsung memahami dan bisa menerangkannya kembali.

          Untuk memastikan hal itu melekat di ingatan mereka, Bowo lantas meminta anak-anak itu untuk memasang bagian-bagian gambar yang sudah terpisah. “Ini tadi sudah saya siapkan puzzle agar mereka menyusun sendiri,” bebernya.

Saat menyusun puzzle tersebut , mereka diminta mengulang lagi makna tiap bagian. Misalnya bagian kepala, ada 45 helai bulu di leher yang menandakan tahun kemerdekaan Indonesia. Setelah perlambang bulu selersai, Bowo lantas beralih ke bagian dada garuda yang di sana ada lima gambar.

Gambar yang merepresentasikan Pancasila itu lantas dijelaskan satu per satu tak ubahnya mendalang. Mulai gambar bintang yang merupakan lambang sila pertama. Ketuhanan yang maha esa. Kemudian, gambar rantai yang jadi lambang sila kedua. Yakni, kemanusiaan yang adil dan beradap.

Di gambar ketiga ada pohon beringin yang tak lain lambang sila ketiga, persatuan Indonesia. Ada pula gambar kepala banteng yang jadi simbol sila keempat. Yaitu, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksaan dalam permusyawaratan, perwakilan. Terakhir Bowo juga menjelaskan gambar padi dan kapas yang jadi simbol sila ke lima, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Baca Juga :  Bruntusan di Wajah

          “Nah, Pancasila itu ada di dada garuda, jadi perisai. Garuda juga mencengkeram kalimat Bhineka Tunggal Ika,” urai Bowo sambil menunjukkan gambar kepada anak-anak itu. Ketika ditanya maknanya, mereka semua sudah mengetahuinya. Yakni, berbeda-beda tetapi tetap satu jua.

          Untuk lebih memahami makna Bhineka Tunggal Ika, bapak dua anak ini mengambil wayang kardus yang menggambarkan beragam suku lewat pakaian adat. Perwira 43 tahun ini  lantas mengambil wayang dengan gambar rok rumbai menandakan jika baju adat tersebut berasal dari Papua.

Sejurut kemudian dia mengambil baju adat dari Sumatera Barat, Bugis, dan Bali. Semuanya disajikan untuk membuka wawasan anak-anak bila Indonesia punya beragam suku dan budaya.

          “Kita ini berbeda-beda tetapi tetap satu,” tandasnya. Setelah mendalang dengan wayang Pancasila selama sekitar satu jam, Bowo menganggap edukasi kemarin siang sudah cukup. Pelajaran tentang Pancasila yang biasanya dianggap membosankan, berhasil disampaikan dalam situasi yang menggembirakan. 

          Sementara itu, M. Pitra Jabir, 11, salah satu anak yang ikut kegiatan tersebut mengaku terhibur dengan permainan wayang Pancasila dari Bowo. “Seru, di sekolah tidak ada yang seperti ini,” urai siswa kelas V SD itu kepada Jawa Pos Radar Kediri. Bocah yang gemar melukis itu juga banyak belajar dari pentas Bowo kemarin. (ut)

 

- Advertisement -

Mengajarkan falsafah Pancasila bisa dilakukan dengan cara yang seru. Kapolsek Puncu AKP Bowo Wicaksono memilih menerangkannya kepada anak-anak di Desa Gadungan, Puncu melalui wayang garuda.

 

REKIAN, KABUPATEN – JP Radar Kediri 

 

Senyum mengembang di bibir anak-anak Desa Gadungan, Puncu saat menyambut rombongan Polsek Puncu ke desanya sekitar pukul 13.30, kemarin. Kehadiran korps baju cokelat itu tidak membawa senapan. Pun mobil water cannon atau mobil barrier yang biasanya disiagakan untuk mengurai massa. Bawaan mereka siang itu sama sekali berbeda: perlengkapan wayang dan dua gambar garuda.

Satu garuda sudah diwarnai dan satu lainnya belum diwarnai. “Ini garuda yang belum diwarnai dipisahkan dulu,” ujar Kapolsek Puncu AKP Bowo Wicaksono mulai menyapa anak-anak berusia sekitar 10-11 tahun itu. Gambar garuda yang masih hitam putih dibagi menjadi empat bagian. Yakni, dua bagian sayap, dada, ekor, dan kepalanya. Bagian yang memiliki makna masing-masing itu agaknya sengaja dipisah.

          Tak hanya membawa garuda, perwira dengan pangkat tiga balok di pundak itu juga membawa cat berwarna merah, kuning dan hitam. Setelah bagian garuda itu dipisah, dia lantas menyiapkan kuas untuk menggambar. Bowo, sapaan akrab Bowo Wicaksono, lantas mengajak anak-anak untuk mewarnai empat bagian Garuda tersebut.

          Wayang garuda yang sudah berwarna menjadi panduannya. Warna di tiap bagian terpisah itu mengikuti warga di wayang garuda. “Contoh warnanya seperti wayang ini ya,” ajak Bowo sembari tersenyum ramah.

          Di bawah pondok bambu beratap seng, anak-anak pun dengan gembira menyambut ajakan Bowo. Dengan telaten, mereka lantas mewarnai potongan-potongan garuda itu bersama-sama. Setelah selesai, perwira asal Nganjuk itu lantas menjelaskan makna yang terkandung di lambang negara tersebut.

Baca Juga :  Niha dan Dynar, Peraih Emas Open Pencak Silat

          Untuk menghangatkan suasana, dia lantas melemparkan pertanyaan seputar jumlah helai bulu pada leher, sayap, dan ekor garuda. Karena tidak ada yang bisa menjawab, Bowo lalu menjelaskan dengan pelan berulang-ulang. Mulai bulu di leher yang berjumlah 45 helai. Kemudian, pangkal ekor ada 19 helai bulu. Jumlah bulu di sana bermakna tahun kemerdekaan Indonesia. Yakni, 1945.

          Kemudian, di sayap ada 17 helai bulu yang juga berarti tanggal kemerdekaan Indonesia. Sedangkan bulan kemerdekaan Indonesia tersemat di ekor yang mencapai delapan helai. Dengan jumlah bulu di beberapa bagian tubuh garuda tersebut mencerminkan hari kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Setelah diulang beberapa kali, anak-anak langsung memahami dan bisa menerangkannya kembali.

          Untuk memastikan hal itu melekat di ingatan mereka, Bowo lantas meminta anak-anak itu untuk memasang bagian-bagian gambar yang sudah terpisah. “Ini tadi sudah saya siapkan puzzle agar mereka menyusun sendiri,” bebernya.

Saat menyusun puzzle tersebut , mereka diminta mengulang lagi makna tiap bagian. Misalnya bagian kepala, ada 45 helai bulu di leher yang menandakan tahun kemerdekaan Indonesia. Setelah perlambang bulu selersai, Bowo lantas beralih ke bagian dada garuda yang di sana ada lima gambar.

Gambar yang merepresentasikan Pancasila itu lantas dijelaskan satu per satu tak ubahnya mendalang. Mulai gambar bintang yang merupakan lambang sila pertama. Ketuhanan yang maha esa. Kemudian, gambar rantai yang jadi lambang sila kedua. Yakni, kemanusiaan yang adil dan beradap.

Di gambar ketiga ada pohon beringin yang tak lain lambang sila ketiga, persatuan Indonesia. Ada pula gambar kepala banteng yang jadi simbol sila keempat. Yaitu, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksaan dalam permusyawaratan, perwakilan. Terakhir Bowo juga menjelaskan gambar padi dan kapas yang jadi simbol sila ke lima, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Baca Juga :  Harus Beri Contoh di Operasi Keselamatan

          “Nah, Pancasila itu ada di dada garuda, jadi perisai. Garuda juga mencengkeram kalimat Bhineka Tunggal Ika,” urai Bowo sambil menunjukkan gambar kepada anak-anak itu. Ketika ditanya maknanya, mereka semua sudah mengetahuinya. Yakni, berbeda-beda tetapi tetap satu jua.

          Untuk lebih memahami makna Bhineka Tunggal Ika, bapak dua anak ini mengambil wayang kardus yang menggambarkan beragam suku lewat pakaian adat. Perwira 43 tahun ini  lantas mengambil wayang dengan gambar rok rumbai menandakan jika baju adat tersebut berasal dari Papua.

Sejurut kemudian dia mengambil baju adat dari Sumatera Barat, Bugis, dan Bali. Semuanya disajikan untuk membuka wawasan anak-anak bila Indonesia punya beragam suku dan budaya.

          “Kita ini berbeda-beda tetapi tetap satu,” tandasnya. Setelah mendalang dengan wayang Pancasila selama sekitar satu jam, Bowo menganggap edukasi kemarin siang sudah cukup. Pelajaran tentang Pancasila yang biasanya dianggap membosankan, berhasil disampaikan dalam situasi yang menggembirakan. 

          Sementara itu, M. Pitra Jabir, 11, salah satu anak yang ikut kegiatan tersebut mengaku terhibur dengan permainan wayang Pancasila dari Bowo. “Seru, di sekolah tidak ada yang seperti ini,” urai siswa kelas V SD itu kepada Jawa Pos Radar Kediri. Bocah yang gemar melukis itu juga banyak belajar dari pentas Bowo kemarin. (ut)

 

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/