22.4 C
Kediri
Saturday, August 20, 2022

Lingkungan Tertimbun Longsoran, Muhammad Maliki Urung Gelar Resepsi

- Advertisement -

Menggelar resepsi pernikahan di rumah Istiana, istrinya, di Desa Kebonagung, Sawahan, sama sekali bukan rencana Muhammad Maliki. Apa lacur, bencana tanah longsor di Dusun Selopuro, Desa/Kecamatan Ngetos (14/2) memorakporandakan impiannya untuk menggelar pesta pernikahan di rumah.

DEWI AYU NINGTYAS, NGETOS. JP Radar Nganjuk 

Tenda berwarna oranye serta dekorasi serbaputih dan ungu masih terpasang di halaman rumah Istiana, di Desa Kebonagung, Sawahan. Sejumlah tamu juga masih berdatangan sekitar pukul 14.30. Meski, resepsi pernikahan Muhammad Maliki dan Istiana sudah digelar pukul 10.00 pagi.

Saat Jawa Pos Radar Nganjuk bertandang ke sana, Istiana juga sudah melepaskan baju pengantin dan make up di wajahnya.  Memakai jilbab cokelat muda, Istiana terlihat berbincang santai dengan Muhammad Maliki di teras rumah. “Rasanya susah. Sedih. Ya lega,” ujar Maliki menggambarkan perasaannya yang campur aduk kemarin sore. 

Pria berusia 23 tahun itu mengaku senang karena keinginannya mempersunting pujaan hatinya sudah terlaksana. Tetapi, di saat yang sama hatinya juga sedih. Sebab, pesta pernikahan di rumahnya urung digelar. Padahal, persiapannya sudah lebih dari 80 persen.

- Advertisement -

Pria berkaus merah hati itu sudah menyewa tenda, dekorasi. Demikian pula sound system, jajanan untuk resepsi, hingga bahan masakan juga sudah siap. “Tinggal nunggu hari H. Tetapi semua harus dibatalkan,” lanjut pria berambut lurus itu.

Baca Juga :  Warga Terdampak Semantok Berencana Datangi Pendapa

Impiannya untuk berbagi suka cita dengan para tetangganya di rumah langsung runtuh bersamaan dengan bencana tanah longsor yang menimpa Dusun Selopuro, Desa/Kecamatan Ngetos pada Minggu (14/2) lalu. Puluhan rumah rusak tertimbun material longsor.

Sedikitnya ada 56 kepala keluarga (KK) di lingkungannya yang kini tinggal di pengungsian. Bahkan, Surati, 66, sang ayah, hingga kemarin masih tinggal di pengungsian. “Bapak tadi (kemarin, Red) ke sini. Sekarang sudah kembali ke pengungsian,” tutur pria yang pernah merantau ke Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) tersebut.

Meski dalam suasana gembira usia menikah, tak urung ingatannya melayang pada sore yang mengerikan selepas hujan deras mengguyur lingkungan mereka Minggu (14/2) lalu. Saat itu, Maliki yang tengah bersantai di dalam rumah mendengar suara gemuruh yang keras.

Dia langsung keluar rumah dan melihat lumpur dari bukit di atasnya sudah ada di halaman rumah. “Saya langsung ajak bapak berlari,” urainya sembari melirik Istiana di sampingnya.

Panik. Maliki yang tinggal bersama sang ayah langsung lari ke arah hutan. Rupanya, di saat bersamaan ada puluhan orang mulai anak-anak, pemuda, dan lansia yang juga berlarian ke arah yang sama.

Akses jalan lewat hutan itu jadi satu-satunya pilihan warga. Sebab, jalan mereka untuk keluar sudah tertimbun material longsor. Setelah berhasil menyelamatkan diri, Maliki bersama ayahnya dan puluhan warga lain tinggal di pengungsian.

Baca Juga :  Ketika Siswa SDN Mojoseto Terpaksa Belajar di Halaman Sekolah

Maliki tak punya banyak waktu untuk bersedih. Dia dituntut untuk segera bangkit agar bisa menyiapkan pernikahan yang sudah direncanakan sejak lama. Termasuk menyiapkan dokumen yang dibutuhkan untuk proses pernikahan. “Saya hanya seminggu di pengungsian,” sambung tamatan salah satu SMP di Ngetos yang kini menumpang di rumah Susilowati, kakaknya.

Persiapan dokumen pernikahan bukan satu-satunya alasan yang membuat Maliki meninggalkan pengungsian. Alasan lain yang membuatnya memilih tinggal di rumah yang hanya berjarak sekitar 100 meter dari pengungsian adalah prosedur rapid test yang dilaksanakan di sana.

Dia khawatir pernikahannya akan tertunda lagi jika hasil rapid test-nya menyatakan reaktif. Belakangan dia bersyukur karena keputusannya pindah dari pengungsian juga membuatnya bungsu dari sembilan bersaudara ini lolos dari insiden keracunan masal beberapa waktu lalu.

Setelah melewati insiden mengerikan dalam hidupnya, kini Maliki dan Istiana memilih untuk menatap ke depan. Mereka tidak ingin larut dalam kesedihan. Melainkan, menyongsong masa depan berdua yang diharapkan akan penuh dengan kebahagiaan. “Ini (pernikahan di tengah bencana, Red) akan terus kami kenang,” urainya tersenyum lagi-lagi melirik Istiana.

- Advertisement -

Menggelar resepsi pernikahan di rumah Istiana, istrinya, di Desa Kebonagung, Sawahan, sama sekali bukan rencana Muhammad Maliki. Apa lacur, bencana tanah longsor di Dusun Selopuro, Desa/Kecamatan Ngetos (14/2) memorakporandakan impiannya untuk menggelar pesta pernikahan di rumah.

DEWI AYU NINGTYAS, NGETOS. JP Radar Nganjuk 

Tenda berwarna oranye serta dekorasi serbaputih dan ungu masih terpasang di halaman rumah Istiana, di Desa Kebonagung, Sawahan. Sejumlah tamu juga masih berdatangan sekitar pukul 14.30. Meski, resepsi pernikahan Muhammad Maliki dan Istiana sudah digelar pukul 10.00 pagi.

Saat Jawa Pos Radar Nganjuk bertandang ke sana, Istiana juga sudah melepaskan baju pengantin dan make up di wajahnya.  Memakai jilbab cokelat muda, Istiana terlihat berbincang santai dengan Muhammad Maliki di teras rumah. “Rasanya susah. Sedih. Ya lega,” ujar Maliki menggambarkan perasaannya yang campur aduk kemarin sore. 

Pria berusia 23 tahun itu mengaku senang karena keinginannya mempersunting pujaan hatinya sudah terlaksana. Tetapi, di saat yang sama hatinya juga sedih. Sebab, pesta pernikahan di rumahnya urung digelar. Padahal, persiapannya sudah lebih dari 80 persen.

Pria berkaus merah hati itu sudah menyewa tenda, dekorasi. Demikian pula sound system, jajanan untuk resepsi, hingga bahan masakan juga sudah siap. “Tinggal nunggu hari H. Tetapi semua harus dibatalkan,” lanjut pria berambut lurus itu.

Baca Juga :  Ravi Aditya, Raih Supertiket Beasiswa Bulu Tangkis Djarum Foundation

Impiannya untuk berbagi suka cita dengan para tetangganya di rumah langsung runtuh bersamaan dengan bencana tanah longsor yang menimpa Dusun Selopuro, Desa/Kecamatan Ngetos pada Minggu (14/2) lalu. Puluhan rumah rusak tertimbun material longsor.

Sedikitnya ada 56 kepala keluarga (KK) di lingkungannya yang kini tinggal di pengungsian. Bahkan, Surati, 66, sang ayah, hingga kemarin masih tinggal di pengungsian. “Bapak tadi (kemarin, Red) ke sini. Sekarang sudah kembali ke pengungsian,” tutur pria yang pernah merantau ke Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) tersebut.

Meski dalam suasana gembira usia menikah, tak urung ingatannya melayang pada sore yang mengerikan selepas hujan deras mengguyur lingkungan mereka Minggu (14/2) lalu. Saat itu, Maliki yang tengah bersantai di dalam rumah mendengar suara gemuruh yang keras.

Dia langsung keluar rumah dan melihat lumpur dari bukit di atasnya sudah ada di halaman rumah. “Saya langsung ajak bapak berlari,” urainya sembari melirik Istiana di sampingnya.

Panik. Maliki yang tinggal bersama sang ayah langsung lari ke arah hutan. Rupanya, di saat bersamaan ada puluhan orang mulai anak-anak, pemuda, dan lansia yang juga berlarian ke arah yang sama.

Akses jalan lewat hutan itu jadi satu-satunya pilihan warga. Sebab, jalan mereka untuk keluar sudah tertimbun material longsor. Setelah berhasil menyelamatkan diri, Maliki bersama ayahnya dan puluhan warga lain tinggal di pengungsian.

Baca Juga :  Desa-Desa Pemenang dalam Anugerah Desa 2018 (10)

Maliki tak punya banyak waktu untuk bersedih. Dia dituntut untuk segera bangkit agar bisa menyiapkan pernikahan yang sudah direncanakan sejak lama. Termasuk menyiapkan dokumen yang dibutuhkan untuk proses pernikahan. “Saya hanya seminggu di pengungsian,” sambung tamatan salah satu SMP di Ngetos yang kini menumpang di rumah Susilowati, kakaknya.

Persiapan dokumen pernikahan bukan satu-satunya alasan yang membuat Maliki meninggalkan pengungsian. Alasan lain yang membuatnya memilih tinggal di rumah yang hanya berjarak sekitar 100 meter dari pengungsian adalah prosedur rapid test yang dilaksanakan di sana.

Dia khawatir pernikahannya akan tertunda lagi jika hasil rapid test-nya menyatakan reaktif. Belakangan dia bersyukur karena keputusannya pindah dari pengungsian juga membuatnya bungsu dari sembilan bersaudara ini lolos dari insiden keracunan masal beberapa waktu lalu.

Setelah melewati insiden mengerikan dalam hidupnya, kini Maliki dan Istiana memilih untuk menatap ke depan. Mereka tidak ingin larut dalam kesedihan. Melainkan, menyongsong masa depan berdua yang diharapkan akan penuh dengan kebahagiaan. “Ini (pernikahan di tengah bencana, Red) akan terus kami kenang,” urainya tersenyum lagi-lagi melirik Istiana.

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/