23.3 C
Kediri
Thursday, August 11, 2022

Tetap Semangat Sekolah meski Cuma Pakai Kaus Kaki

Di usianya yang sangat belia, Evelyn Lova Ariana menghadapi cobaan berat.

Selain jantung bocor, ia juga menderita penyakit tumor di telapak kakinya. Meski begitu, bocah enam tahun ini tetap semangat bersekolah.

 

RIZAL ARI ANDANI

 

Kamis siang (28/9) sekitar pukul 13.00, Jawa Pos Radar Kediri tiba di kediaman Gunadi, 34, dan Riska Wulandari, 24, istrinya. Siang itu, cuaca di Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngancar tempat tinggal pasangan suami istri (pasutri) itu sedang mendung.

Karena itu, Evelyn Lova Ariana, 6, putri mereka yang biasanya aktif  bermain bersama kawan-kawannya hanya menghabiskan waktu di rumah. “Kebetulan cuacanya dingin. Anak saya jatuh sakit,” ujar Gunadi.

Kala berbincang di depan wartawan koran ini, bocah yang sudah bersekolah di taman kanak-kanak (TK) tersebut terlihat kurang sehat. Meski hanya duduk di kursi ruang tamu, nafas Evelyn tampak terengah-engah. Beberapa kali ia batuk-batuk. Gejalanya memang seperti anak terkena flu.

“Tapi ini bukan flu. Ini gejala yang dialami Evelyn saat penyakit jantungnya kambuh,” ungkap Gunadi.

Sejak lahir, Evelyn memang punya masalah serius dengan jantungnya yang bocor. Karena itu, dalam setiap aktivitas ia harus sangat berhati-hati. Terutama, tidak boleh terlalu gelisah. “Kalau dia gelisah, sudah pasti penyakitnya kambuh lagi,” kata Gunadi.

Detak jantung anak pertamanya itu akan meningkat hingga mengalami gejala mirip flu dan batuk. Maka, permintaan Evelyn harus segera dituruti. Misalnya ketika ia minta dibelikan jajan dan mainan.

Lantaran penyakit jantungnya, Evelyn mudah emosi. Layaknya penderita kelainan jantung, ia mudah marah jika ada hal-hal yang bertentangan dengan kehendaknya. Meski begitu, dia tidak pernah dijauhi kawan-kawannya. Dalam keseharian, rumah Evelyn sering jadi tempat bermain anak-anak di sekitar lingkungannya. “Mungkin ini karena sikap anak saya yang periang,” urai Gunadi.

Baca Juga :  Kemarau Panjang, Air Kawah Kelud Berubah

Tak hanya mudah kambuh, akibat penyakit jantungnya, tumor di kaki Evelyn pun sulit diangkat. Di telapak kaki kirinya terdapat gumpalan daging yang besarnya kira-kira dua kepalan tangan orang dewasa. Kian lama ukurannya kian besar. “Awalnya saat lahir dulu hanya sebesar kuku jari kelingking,” kata Gunadi.

Karena tumor itu, Evelyn tak bisa berlari secepat kawan-kawannya. Berat kakinya tidak seimbang. Ia juga tidak bisa memakai sepatu atau sandal. Saat beraktivitas di luar rumah atau sekolah, Evelyn hanya mengenakan kaus kaki. “Kalau terkena tekanan yang agak kuat juga terasa sakit,” imbuh sang ayah.

Kondisi itu terkadang membuat Gunadi dan Ratna merasa sedih. “Apalagi baru-baru ini kan sedang musim anak-anak bermain sepatu roda,” ujarnya.

Ingin ikut tren kawan-kawan sebayanya, Evelyn sempat mengutarakan ingin memiliki sepatu roda. Tapi anehnya, ia tak ngotot seperti biasa. Seakan, sudah tahu kondisinya tidak memungkinkan memakai sepatu. Saat kawan-kawannya bersepatu roda, Evelyn hanya bisa memandangi mereka. “Melihat itu saya jadi sangat sedih. Tapi mau bagaimana lagi, dibelikan (sepatu) juga buat apa. Orang anak saya tidak bisa memakainya,” papar Gunadi.

Meski begitu, kecerian dan ketegaran  Evelyn membuat Gunadi dan Riska merasa lega. Apalagi jika tidak terlalu sakit, putrinya sangat jarang mengeluh. Semangatnya memang tinggi. Setiap hari, dia semangat ke sekolah dan selalu gembira bertemu dan bermain dengan teman sekelasnya.

Bahkan saat sakit seperti kemarin, Evelyn tetap ngeyel pergi sekolah. Jika sudah begitu, Gunadi dan Riska pun tidak kuasa melarang. Pasalnya, jika tak diperbolehkan, kondisinya justru parah. “Untungnya TK hanya di depan rumah (berseberangan jalan), Mas,” ujar Gunadi. Makanya, Evelyn bisa berangkat dan pulang sendiri.

Baca Juga :  Suka Duka Persidangan Daring di Kediri saat Pandemi Covid-19

Bocah ini ternyata juga senang ikut kegiatan yang berkaitan dengan keramaian. Misalnya seperti karnaval. “Yang terakhir, dia ikut karnaval peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-72,” ucapnya.

Selain itu, Evelyn pun tak pernah bolos mengaji. Setiap neneknya akan salat Azar, dia selalu rewel minta segera diantar. Biasanya, Riska yang mengantar ke tempat mengajinya. Kebetulan, lokasi taman pendidikan Alquran (TPQ) hanya 50 meter dari rumahnya. Riska pun cukup menggendongnya saja.

Sangat sayang dengan putrinya, Gunadi dan Riska senantiasa berupaya membawanya berobat. Hanya saja, sesuai kemampuan finansialnya, Evelyn lebih sering dibawa ke pengobatan alternatif. “Sudah berbagai tempat kita coba. Mulai yang ada di Kediri hingga luar kota. Tapi tetap tak ada hasilnya,” aku Gunadi.

Untuk membawa Evelyn ke rumah sakit, Gunadi masih pikir-pikir. Soalnya, ia tak punya cukup uang. Sepeda motornya telah terjual. Uangnya untuk biaya Evelyn ke sejumlah rumah sakit. “Waktu di RSUD Dr Soetomo, Surabaya, uangnya habis untuk sewa kos dan biaya hidup di sana,” terangnya.

Bahkan, sejak delapan bulan lalu Gunadi tidak bisa membayar BPJS Kesehatan keluarganya. “Mau bagaimana lagi Mas, penghasilan saya hanya Rp 25 ribu per hari. Hanya cukup buat makan,” ujar buruh di kebun nanas ini.

Meski berpenghasilan minim, Gunadi belum mengantongi Kartu Indonesia Sehat (KIS). “Demi pengobatan anak saya. Saya sangat berharap agar keluarga kami terdaftar dalam KIS,” tuturnya.

- Advertisement -

Di usianya yang sangat belia, Evelyn Lova Ariana menghadapi cobaan berat.

Selain jantung bocor, ia juga menderita penyakit tumor di telapak kakinya. Meski begitu, bocah enam tahun ini tetap semangat bersekolah.

 

RIZAL ARI ANDANI

 

Kamis siang (28/9) sekitar pukul 13.00, Jawa Pos Radar Kediri tiba di kediaman Gunadi, 34, dan Riska Wulandari, 24, istrinya. Siang itu, cuaca di Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngancar tempat tinggal pasangan suami istri (pasutri) itu sedang mendung.

Karena itu, Evelyn Lova Ariana, 6, putri mereka yang biasanya aktif  bermain bersama kawan-kawannya hanya menghabiskan waktu di rumah. “Kebetulan cuacanya dingin. Anak saya jatuh sakit,” ujar Gunadi.

Kala berbincang di depan wartawan koran ini, bocah yang sudah bersekolah di taman kanak-kanak (TK) tersebut terlihat kurang sehat. Meski hanya duduk di kursi ruang tamu, nafas Evelyn tampak terengah-engah. Beberapa kali ia batuk-batuk. Gejalanya memang seperti anak terkena flu.

“Tapi ini bukan flu. Ini gejala yang dialami Evelyn saat penyakit jantungnya kambuh,” ungkap Gunadi.

Sejak lahir, Evelyn memang punya masalah serius dengan jantungnya yang bocor. Karena itu, dalam setiap aktivitas ia harus sangat berhati-hati. Terutama, tidak boleh terlalu gelisah. “Kalau dia gelisah, sudah pasti penyakitnya kambuh lagi,” kata Gunadi.

Detak jantung anak pertamanya itu akan meningkat hingga mengalami gejala mirip flu dan batuk. Maka, permintaan Evelyn harus segera dituruti. Misalnya ketika ia minta dibelikan jajan dan mainan.

Lantaran penyakit jantungnya, Evelyn mudah emosi. Layaknya penderita kelainan jantung, ia mudah marah jika ada hal-hal yang bertentangan dengan kehendaknya. Meski begitu, dia tidak pernah dijauhi kawan-kawannya. Dalam keseharian, rumah Evelyn sering jadi tempat bermain anak-anak di sekitar lingkungannya. “Mungkin ini karena sikap anak saya yang periang,” urai Gunadi.

Baca Juga :  Bryant Faustin Andreas, Balita Penderita Jantung Bocor asal Bagor

Tak hanya mudah kambuh, akibat penyakit jantungnya, tumor di kaki Evelyn pun sulit diangkat. Di telapak kaki kirinya terdapat gumpalan daging yang besarnya kira-kira dua kepalan tangan orang dewasa. Kian lama ukurannya kian besar. “Awalnya saat lahir dulu hanya sebesar kuku jari kelingking,” kata Gunadi.

Karena tumor itu, Evelyn tak bisa berlari secepat kawan-kawannya. Berat kakinya tidak seimbang. Ia juga tidak bisa memakai sepatu atau sandal. Saat beraktivitas di luar rumah atau sekolah, Evelyn hanya mengenakan kaus kaki. “Kalau terkena tekanan yang agak kuat juga terasa sakit,” imbuh sang ayah.

Kondisi itu terkadang membuat Gunadi dan Ratna merasa sedih. “Apalagi baru-baru ini kan sedang musim anak-anak bermain sepatu roda,” ujarnya.

Ingin ikut tren kawan-kawan sebayanya, Evelyn sempat mengutarakan ingin memiliki sepatu roda. Tapi anehnya, ia tak ngotot seperti biasa. Seakan, sudah tahu kondisinya tidak memungkinkan memakai sepatu. Saat kawan-kawannya bersepatu roda, Evelyn hanya bisa memandangi mereka. “Melihat itu saya jadi sangat sedih. Tapi mau bagaimana lagi, dibelikan (sepatu) juga buat apa. Orang anak saya tidak bisa memakainya,” papar Gunadi.

Meski begitu, kecerian dan ketegaran  Evelyn membuat Gunadi dan Riska merasa lega. Apalagi jika tidak terlalu sakit, putrinya sangat jarang mengeluh. Semangatnya memang tinggi. Setiap hari, dia semangat ke sekolah dan selalu gembira bertemu dan bermain dengan teman sekelasnya.

Bahkan saat sakit seperti kemarin, Evelyn tetap ngeyel pergi sekolah. Jika sudah begitu, Gunadi dan Riska pun tidak kuasa melarang. Pasalnya, jika tak diperbolehkan, kondisinya justru parah. “Untungnya TK hanya di depan rumah (berseberangan jalan), Mas,” ujar Gunadi. Makanya, Evelyn bisa berangkat dan pulang sendiri.

Baca Juga :  Suka Duka Persidangan Daring di Kediri saat Pandemi Covid-19

Bocah ini ternyata juga senang ikut kegiatan yang berkaitan dengan keramaian. Misalnya seperti karnaval. “Yang terakhir, dia ikut karnaval peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-72,” ucapnya.

Selain itu, Evelyn pun tak pernah bolos mengaji. Setiap neneknya akan salat Azar, dia selalu rewel minta segera diantar. Biasanya, Riska yang mengantar ke tempat mengajinya. Kebetulan, lokasi taman pendidikan Alquran (TPQ) hanya 50 meter dari rumahnya. Riska pun cukup menggendongnya saja.

Sangat sayang dengan putrinya, Gunadi dan Riska senantiasa berupaya membawanya berobat. Hanya saja, sesuai kemampuan finansialnya, Evelyn lebih sering dibawa ke pengobatan alternatif. “Sudah berbagai tempat kita coba. Mulai yang ada di Kediri hingga luar kota. Tapi tetap tak ada hasilnya,” aku Gunadi.

Untuk membawa Evelyn ke rumah sakit, Gunadi masih pikir-pikir. Soalnya, ia tak punya cukup uang. Sepeda motornya telah terjual. Uangnya untuk biaya Evelyn ke sejumlah rumah sakit. “Waktu di RSUD Dr Soetomo, Surabaya, uangnya habis untuk sewa kos dan biaya hidup di sana,” terangnya.

Bahkan, sejak delapan bulan lalu Gunadi tidak bisa membayar BPJS Kesehatan keluarganya. “Mau bagaimana lagi Mas, penghasilan saya hanya Rp 25 ribu per hari. Hanya cukup buat makan,” ujar buruh di kebun nanas ini.

Meski berpenghasilan minim, Gunadi belum mengantongi Kartu Indonesia Sehat (KIS). “Demi pengobatan anak saya. Saya sangat berharap agar keluarga kami terdaftar dalam KIS,” tuturnya.

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/