25 C
Kediri
Monday, July 4, 2022

Lutfi Afif Maulana di Mata Keluarga dan Tetangganya

Penangkapan Lutfi Afif Maulana, 25, oleh tim Densus 88 pada Selasa (30/3) lalu membangkitkan ingatan warga akan aksinya pada 2015 silam. Lutfi yang saat itu masih berstatus pelajar itu pernah mengibarkan bendera ISIS di rumahnya.

IQBAL SYAHRONI, NGANJUK. JP Radar Nganjuk

Kendaraan terus berlalu lalang di jalan utama Kecamatan Gondang kemarin pagi. Rumah orangtua Lutfi Afif, 25, terduga teroris yang terletak di jalur tersebut terlihat sepi. Hanya meteran pom bensin saja yang masih menyala. Adapun rumah bercat kuning-hijau di Dusun Karangpedat, Desa Gondangkulon, itu seolah tak berpenghuni.

“Ramainya kemarin (Selasa lalu, Red) sekitar pukul 17.00,” ujar Kepala Dusun Karangpedat Sofuan Hadi. Lelaki 40 tahun itu jika rumah orang tua Afif itu sempat didatangi oleh personel Densus 88 dan tim pengamanan dari Polres Nganjuk.

Sofuan sendiri hanya melihat proses penggeledahan dari jauh saat polisi menggeledah rumah Supardi dan Sukarmi, orang tua Lutfi. Hanya Kades Gondangkulon Sugiarto yang diperbolehkan masuk. Dia menjadi saksi proses penggeledahan.

Penggeledahan Selasa sore lalu diakui Sofuan cukup mengejutkan warga. Sebab, Lutfi sudah pindah ke Desa Puhkerep, Rejoso sejak Juni 2020 lalu. Dia masih ingat benar saat pria yang di kelompoknya disapa Gus Pacul itu meminta tanda tangan pengantar kepindahannya ke Desa Puhkerep. Selebihnya, tidak pernah bertemu lagi.

Baca Juga :  Kisah Personel BPBD Kota Kediri Disengat Lebah saat Evakuasi Sarang

Bagaimana sosok Lutfi saat tinggal di Desa Gondangkulon? Sofuan mengenalnya sebagai anak yang pendiam. Sulung dari tiga bersaudara itu tidak pernah ikut kegiatan karang taruna desa. Meski demikian, dia juga tidak pernah berbuat aneh-aneh seperti remaja pada umumnya. “Saat anaknya sekolah, dia cuma pergi ke musala kalau salat. Jarang kumpul dengan anak-anak (remaja) di sini (Gondangkulon, Red),” tuturnya.

Di balik sifatnya yang pendiam, Lutfi pernah membuat desanya geger. Yakni, saat tiba-tiba dia mengibarkan bendera hitam bertuliskan kalimat tauhid atau biasa disebut sebagai bendera ISIS.

Tidak hanya itu, dia juga menggambar bendera lengkap dengan kalimat tauhid itu di tembok rumah orang tuanya. “Sama seperti bendera motifnya,” kenang Sofuan tentang aksi Lutfi pada 2015 silam.

Melihat hal itu, warga langsung mendatangi rumah Lutfi. Sisanya melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Gondang. Selanjutnya, petugas dari koramil dan polsek mendatangi rumah Lutfi. Dia diminta menurunkan bendera. Juga, menghapus seluruh gambar yang ada di tembok.

“Cuma sehari. Langsung diturunkan (benderanya). Gambar di tembok juga dibersihkan oleh dia (Lutfi, Red), sendiri,” urai pria berkemeja putih itu sembari menyebut Lutfi langsung dibina selama sekitar tiga minggu setelah peristiwa tersebut.

Baca Juga :  Octavian Eza Rafizki, Bayi Penderita Hidrosefalus dari Lereng Kelud

Kejadian lima tahun silam itu kembali diingat warga setelah Lutfi ditangkap Selasa lalu. Mereka mengaitkan peristiwa tersebut saat tetangganya itu ditangkap oleh tim Densus 88.

Sementara itu, jika warga mengaitkan peristiwa 2015 silam dengan penangkapan Lutfi, Suparji, 49, mertuanya, mengaku tidak tahu menahu tentang kiprah menantunya itu terkait kegiatan terorisme. Pria yang juga tinggal di Dusun Ketingan, Desa Puhkerep, Rejoso ini menilai kegiatan Lutfi tidak ada yang mencurigakan. “Tidak pernah keluar rumah tanpa pamit,” beber Suparji.

Sekitar tiga tahun hidup dengan Lutfi, dua tahun dihabiskan dengan tinggal bersamanya. Setahun silam Lutfi dan Kiki, anaknya, tinggal di rumah lain yang masih terletak satu dusun.

Terkait penangkapan menantunya itu, Suparji mengaku masih syok. Apalagi, selama ini dia menilai sikap menantunya itu sangat baik. “Memang jarang bergaul. Kerjanya ya cuma ke sawah. balik lagi tidur, ke sawah lagi, dan bermain HP lihat-lihat Tiktok,” paparnya.

Meski hingga kemarin menantunya masih dibawa oleh tim Densus 88, Parji berharap dugaan yang mengaitkan menantunya dengan jaringan teroris itu tidak benar. “Saya tidak percaya kalau dia (Lutfi, Red) adalah teroris,” imbuhnya.

- Advertisement -

Penangkapan Lutfi Afif Maulana, 25, oleh tim Densus 88 pada Selasa (30/3) lalu membangkitkan ingatan warga akan aksinya pada 2015 silam. Lutfi yang saat itu masih berstatus pelajar itu pernah mengibarkan bendera ISIS di rumahnya.

IQBAL SYAHRONI, NGANJUK. JP Radar Nganjuk

Kendaraan terus berlalu lalang di jalan utama Kecamatan Gondang kemarin pagi. Rumah orangtua Lutfi Afif, 25, terduga teroris yang terletak di jalur tersebut terlihat sepi. Hanya meteran pom bensin saja yang masih menyala. Adapun rumah bercat kuning-hijau di Dusun Karangpedat, Desa Gondangkulon, itu seolah tak berpenghuni.

“Ramainya kemarin (Selasa lalu, Red) sekitar pukul 17.00,” ujar Kepala Dusun Karangpedat Sofuan Hadi. Lelaki 40 tahun itu jika rumah orang tua Afif itu sempat didatangi oleh personel Densus 88 dan tim pengamanan dari Polres Nganjuk.

Sofuan sendiri hanya melihat proses penggeledahan dari jauh saat polisi menggeledah rumah Supardi dan Sukarmi, orang tua Lutfi. Hanya Kades Gondangkulon Sugiarto yang diperbolehkan masuk. Dia menjadi saksi proses penggeledahan.

Penggeledahan Selasa sore lalu diakui Sofuan cukup mengejutkan warga. Sebab, Lutfi sudah pindah ke Desa Puhkerep, Rejoso sejak Juni 2020 lalu. Dia masih ingat benar saat pria yang di kelompoknya disapa Gus Pacul itu meminta tanda tangan pengantar kepindahannya ke Desa Puhkerep. Selebihnya, tidak pernah bertemu lagi.

Baca Juga :  Alika Naila Putri, Balita Delapan Bulan Penderita Atresia Bilier

Bagaimana sosok Lutfi saat tinggal di Desa Gondangkulon? Sofuan mengenalnya sebagai anak yang pendiam. Sulung dari tiga bersaudara itu tidak pernah ikut kegiatan karang taruna desa. Meski demikian, dia juga tidak pernah berbuat aneh-aneh seperti remaja pada umumnya. “Saat anaknya sekolah, dia cuma pergi ke musala kalau salat. Jarang kumpul dengan anak-anak (remaja) di sini (Gondangkulon, Red),” tuturnya.

Di balik sifatnya yang pendiam, Lutfi pernah membuat desanya geger. Yakni, saat tiba-tiba dia mengibarkan bendera hitam bertuliskan kalimat tauhid atau biasa disebut sebagai bendera ISIS.

Tidak hanya itu, dia juga menggambar bendera lengkap dengan kalimat tauhid itu di tembok rumah orang tuanya. “Sama seperti bendera motifnya,” kenang Sofuan tentang aksi Lutfi pada 2015 silam.

Melihat hal itu, warga langsung mendatangi rumah Lutfi. Sisanya melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Gondang. Selanjutnya, petugas dari koramil dan polsek mendatangi rumah Lutfi. Dia diminta menurunkan bendera. Juga, menghapus seluruh gambar yang ada di tembok.

“Cuma sehari. Langsung diturunkan (benderanya). Gambar di tembok juga dibersihkan oleh dia (Lutfi, Red), sendiri,” urai pria berkemeja putih itu sembari menyebut Lutfi langsung dibina selama sekitar tiga minggu setelah peristiwa tersebut.

Baca Juga :  Jalan Panjang Pranatacara sebelum Kantongi Sertifikat Praktik

Kejadian lima tahun silam itu kembali diingat warga setelah Lutfi ditangkap Selasa lalu. Mereka mengaitkan peristiwa tersebut saat tetangganya itu ditangkap oleh tim Densus 88.

Sementara itu, jika warga mengaitkan peristiwa 2015 silam dengan penangkapan Lutfi, Suparji, 49, mertuanya, mengaku tidak tahu menahu tentang kiprah menantunya itu terkait kegiatan terorisme. Pria yang juga tinggal di Dusun Ketingan, Desa Puhkerep, Rejoso ini menilai kegiatan Lutfi tidak ada yang mencurigakan. “Tidak pernah keluar rumah tanpa pamit,” beber Suparji.

Sekitar tiga tahun hidup dengan Lutfi, dua tahun dihabiskan dengan tinggal bersamanya. Setahun silam Lutfi dan Kiki, anaknya, tinggal di rumah lain yang masih terletak satu dusun.

Terkait penangkapan menantunya itu, Suparji mengaku masih syok. Apalagi, selama ini dia menilai sikap menantunya itu sangat baik. “Memang jarang bergaul. Kerjanya ya cuma ke sawah. balik lagi tidur, ke sawah lagi, dan bermain HP lihat-lihat Tiktok,” paparnya.

Meski hingga kemarin menantunya masih dibawa oleh tim Densus 88, Parji berharap dugaan yang mengaitkan menantunya dengan jaringan teroris itu tidak benar. “Saya tidak percaya kalau dia (Lutfi, Red) adalah teroris,” imbuhnya.

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/