28.3 C
Kediri
Wednesday, July 6, 2022

Madjid Siap Tampilkan Wayang Cekli di Final Lomba Kliping Kreatif

Kreasi yang bagus pasti membutuhkan imajinasi tinggi. Begitu pula dengan Madjid Panjalu. Dalang cilik ini akan menyajikan wayang cekli dalam pergelaran di final lomba kliping kreatif pelajar SD Sekota Kediri. Ia mampu meramu lakon wayang tanpa menghafal teks.

Usia Madjid Panjalu baru menginjak tujuh tahun. Tinggal di Jalan Supit Urang, Kelurahan/Kecamatan Mojoroto, anak pertama dari pasangan Sunarno dan Ulya Ali ini sudah menggeluti wayang cekli sejak duduk di bangku taman kanak-kanak (TK).

Siswa kelas satu sekolah dasar (SD) ini sudah kerap tampil di berbagai kegiatan yang digelar komunitas di beberapa daerah. Mulai dari Kota/Kabupaten Kediri, Kabupaten Jombang hingga Kabupaten Nganjuk. Setiap tampil, Madjid –sapaan akrabnya– selalu membawakan cerita berbeda.

Menurut Sunarno, ayahnya, setiap cerita yang ditampilkan selalu diawali dengan mengobrol. “Latihannya ya sambil ngobrol santai,” ujar pria yang juga dosen di IAIN Kediri ini.

Dosen psikologi Islam IAIN Kediri ini memberikan kepercayaan penuh kepada Madjid untuk memainkan wayangnya lewat obrolan-obrolan ringan. Tidak ada paksaan untuk latihan. Apalagi teks.

Alur ceritanya disampaikan secara lisan. Sunarno percaya sang putra pasti bisa mengingat semuanya dengan baik. Beberapa kali tampil, Madjid tidak pernah mengecewakan. “Latihan bersamanya mendekati kegiatan,” ungkapnya.

Baca Juga :  Manajemen Macan Putih Lepas Youssef dan Lima Pemain

Sunarno mengakui, pergelaran wayang putranya di final lomba Kliping Kreatif Pelajar SD di Kota Kediri yang digelar Jawa Pos Radar Kediri (JPRK) ini menjadi spesial.

Sebab, kegiatan ini adalah penampilan perdana yang digelar secara resmi dihadiri para pejabat dari Dinas Pendidikan (Disidik) Kota Kediri hingga Wali Kota Abdullah Abu Bakar. Karena itulah, Madjid akan membawakan cerita wayang yang belum pernah dimainkan sebelumnya.

“Madjid sudah siapkan dua tokoh wayangnya yang baru,” ujar Sunarno. Dua tokoh baru itu adalah Gatotkaca dan Prabu Boma Narakasura. Selain dua tokoh tersebut, anak wayang lain yang nanti akan dimainkan ada empat lagi.

Tokohnya adalah Gareng, Petruk, dan Bagong. Ketiganya nanti akan masuk dalam adegan gara-gara. Selama latihan verbal, Sunarno selalu menceritakan tentang pentingnya membaca kepada Madjid. Tidak hanya membaca buku tapi juga koran. Dengan membaca, ada banyak sekali pengetahuan yang didapat. Kegiatan itu bisa menghindari orang dari kebodohan.

“Adegan goro-goro ini nanti akan menyampaikan banyak pesan tentang pentingnya literasi. Termasuk nanti upaya menjauhkan gadget dengan ikut lomba Kliping Kreatif Pelajar Jawa Pos Radar Kediri,” bebernya.

Baca Juga :  Kompol Bambang: Ini Bentuk Kritik Membangun

Meski nanti Madjid akan menceritakan tentang kematian Prabu Boma yang punya ajian pancasona, namun akan banyak pesan yang disampaikan. Termasuk satu tokoh lagi nanti yang akan tampil adalah Kresna.

Kresnalah yang akan membantu Gatotkaca untuk mengalahkan Boma yang disimbolkan sebagai karakter jahat. Agar semua materi terserap dengan baik, Sunarno harus benar-benar mengikuti ritme anaknya. Karena semua dilakoni dengan senang hati, Madjid pun tidak akan merasa terpaksa untuk menampilkan cerita-cerita wayang terbaiknya.

Terpisah, Ketua Panitia Lomba Kliping Kreatif Pelajar SD Sekota Kediri Heri Muda Setiawan mengapresiasi pilihan Madjid menekuni seni dan budaya wayang di Kota Kediri. Sebagai dalang cilik, ia menilai sosok Madjid adalah potensi yang harus terus dikembangkan.

“Dia sudah menjadi kebanggaan Kota Kediri,” ujarnya. Heri berharap, ke depannya Kota Kediri bisa melahirkan Madjid lain.

Adapun tahapan lomba saat ini adalah menyeleksi foto dan video yang sudah dikirim para peserta lomba. “Besok (hari ini, Red) akan mulai dinilai,” ungkap pria yang menjabat Manajer Sirkulasi Koran Jawa Pos Radar Kediri ini. (ndr)

- Advertisement -

Kreasi yang bagus pasti membutuhkan imajinasi tinggi. Begitu pula dengan Madjid Panjalu. Dalang cilik ini akan menyajikan wayang cekli dalam pergelaran di final lomba kliping kreatif pelajar SD Sekota Kediri. Ia mampu meramu lakon wayang tanpa menghafal teks.

Usia Madjid Panjalu baru menginjak tujuh tahun. Tinggal di Jalan Supit Urang, Kelurahan/Kecamatan Mojoroto, anak pertama dari pasangan Sunarno dan Ulya Ali ini sudah menggeluti wayang cekli sejak duduk di bangku taman kanak-kanak (TK).

Siswa kelas satu sekolah dasar (SD) ini sudah kerap tampil di berbagai kegiatan yang digelar komunitas di beberapa daerah. Mulai dari Kota/Kabupaten Kediri, Kabupaten Jombang hingga Kabupaten Nganjuk. Setiap tampil, Madjid –sapaan akrabnya– selalu membawakan cerita berbeda.

Menurut Sunarno, ayahnya, setiap cerita yang ditampilkan selalu diawali dengan mengobrol. “Latihannya ya sambil ngobrol santai,” ujar pria yang juga dosen di IAIN Kediri ini.

Dosen psikologi Islam IAIN Kediri ini memberikan kepercayaan penuh kepada Madjid untuk memainkan wayangnya lewat obrolan-obrolan ringan. Tidak ada paksaan untuk latihan. Apalagi teks.

Alur ceritanya disampaikan secara lisan. Sunarno percaya sang putra pasti bisa mengingat semuanya dengan baik. Beberapa kali tampil, Madjid tidak pernah mengecewakan. “Latihan bersamanya mendekati kegiatan,” ungkapnya.

Baca Juga :  Catatan Ekspedisi Wilis I, Potensi Wisata Pegunungan Wilis (8)

Sunarno mengakui, pergelaran wayang putranya di final lomba Kliping Kreatif Pelajar SD di Kota Kediri yang digelar Jawa Pos Radar Kediri (JPRK) ini menjadi spesial.

Sebab, kegiatan ini adalah penampilan perdana yang digelar secara resmi dihadiri para pejabat dari Dinas Pendidikan (Disidik) Kota Kediri hingga Wali Kota Abdullah Abu Bakar. Karena itulah, Madjid akan membawakan cerita wayang yang belum pernah dimainkan sebelumnya.

“Madjid sudah siapkan dua tokoh wayangnya yang baru,” ujar Sunarno. Dua tokoh baru itu adalah Gatotkaca dan Prabu Boma Narakasura. Selain dua tokoh tersebut, anak wayang lain yang nanti akan dimainkan ada empat lagi.

Tokohnya adalah Gareng, Petruk, dan Bagong. Ketiganya nanti akan masuk dalam adegan gara-gara. Selama latihan verbal, Sunarno selalu menceritakan tentang pentingnya membaca kepada Madjid. Tidak hanya membaca buku tapi juga koran. Dengan membaca, ada banyak sekali pengetahuan yang didapat. Kegiatan itu bisa menghindari orang dari kebodohan.

“Adegan goro-goro ini nanti akan menyampaikan banyak pesan tentang pentingnya literasi. Termasuk nanti upaya menjauhkan gadget dengan ikut lomba Kliping Kreatif Pelajar Jawa Pos Radar Kediri,” bebernya.

Baca Juga :  Jadi Expo Haji dan Umrah Terbesar

Meski nanti Madjid akan menceritakan tentang kematian Prabu Boma yang punya ajian pancasona, namun akan banyak pesan yang disampaikan. Termasuk satu tokoh lagi nanti yang akan tampil adalah Kresna.

Kresnalah yang akan membantu Gatotkaca untuk mengalahkan Boma yang disimbolkan sebagai karakter jahat. Agar semua materi terserap dengan baik, Sunarno harus benar-benar mengikuti ritme anaknya. Karena semua dilakoni dengan senang hati, Madjid pun tidak akan merasa terpaksa untuk menampilkan cerita-cerita wayang terbaiknya.

Terpisah, Ketua Panitia Lomba Kliping Kreatif Pelajar SD Sekota Kediri Heri Muda Setiawan mengapresiasi pilihan Madjid menekuni seni dan budaya wayang di Kota Kediri. Sebagai dalang cilik, ia menilai sosok Madjid adalah potensi yang harus terus dikembangkan.

“Dia sudah menjadi kebanggaan Kota Kediri,” ujarnya. Heri berharap, ke depannya Kota Kediri bisa melahirkan Madjid lain.

Adapun tahapan lomba saat ini adalah menyeleksi foto dan video yang sudah dikirim para peserta lomba. “Besok (hari ini, Red) akan mulai dinilai,” ungkap pria yang menjabat Manajer Sirkulasi Koran Jawa Pos Radar Kediri ini. (ndr)

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/