22.6 C
Kediri
Tuesday, June 28, 2022

Bagaimana Hukumnya Makan Daging Kelelawar?

 

Belakangan ini ramai diberitakan penyebaran virus korona yang diduga menjangkiti manusia dari kelelawar. Bagaimana hukumnya memelihara dan memakan daging kelelawar dalam pandangan Islam?

 

(Agus, 082261254xxx)

 

Penetapan hukum dalam Islam-termasuk di dalamnya penghalalan dan pengharaman sesuatu-  selalu dikaitkan dengan dampak yang akan diakibatkan dari sesuatu tersebut. Karena penetapan hukum Islam memiliki lima tujuan mendasar. Yaitu untuk menjaga keberlangsungan agama, menjaga keselamatan jiwa, menjaga keturunan, menjaga kesehatan akal, dan menjaga harta. Pemeliharaan terhadap lima hal tersebut terkadang tidak dapat dinalar oleh akal sehingga harus diterima apa adanya -hal ini seperti kewajiban menegakkan salat dan menjalankan puasa-, namun demikian sebagian besar hukum Islam bisa dinalar  oleh akal. Sehingga akal bisa menyimpulkan alasan penetapannya untuk kemudian dipakai sebagai tolok ukur pada peristiwa hukum baru.

Baca Juga :  Ramadan Istimewa Bersama Rameyza (9)

Berkaitan dengan hukum memelihara dan memakan daging kelelawar, dalam suatu hadis sahih yang diriwayatkan dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah SAW pernah melarang membunuh kelelawar. Dengan berdasar pada dalil tersebut mayoritas ulama mengharamkan daging kelelawar. Dengan alasan bahwa binatang yang boleh dimakan dagingnya adalah dibolehkan untuk dikonsumsi apabila telah disembelih. Sehingga pelarangan membunuh kelelawar dapat diartikan ketidakbolehan menyembelihnya untuk dikonsumsi.

Selain alasan dalil hadis tersebut, para ulama mengharamkan kelelawar karena termasuk binatang menjijikkan dan tidak wajar untuk dikonsumsi. Dalam Alquran surat Al-A’raf: 157 dijelaskan bahwa Allah menghalalkan segala yang baik dan mengharamkan segala yang buruk.

Sedangkan hukum memelihara kelelawar dapat dilihat dari tujuan memeliharanya. Apabila bertujuan untuk hal-hal yang baik dan tidak bertentangan dengan ruh hukum Islam dan tidak membahayakan maka dibolehkan memeliharanya. Misalnya untuk sarana penelitian. Sedangkan bila tujuan memeliharanya menimbulkan bahaya atau dikembangbiakan untuk dikonsumsi maka hukumnya menjadi tidak boleh. Karena mengkonsumsinya juga diharamkan, terlebih lagi saat ini diduga kelelawar merupakan hewan yang pertama menyebarkan virus korona baru yang menjadi wabah dunia. (Muhammad Muhaimin, pengajar di Fakultas Syari’ah IAIN Kediri, pengurus wilayah IAEI Jawa Timur).

Baca Juga :  Terlambat, Salat Jumat pun di Emperan
- Advertisement -

 

Belakangan ini ramai diberitakan penyebaran virus korona yang diduga menjangkiti manusia dari kelelawar. Bagaimana hukumnya memelihara dan memakan daging kelelawar dalam pandangan Islam?

 

(Agus, 082261254xxx)

 

Penetapan hukum dalam Islam-termasuk di dalamnya penghalalan dan pengharaman sesuatu-  selalu dikaitkan dengan dampak yang akan diakibatkan dari sesuatu tersebut. Karena penetapan hukum Islam memiliki lima tujuan mendasar. Yaitu untuk menjaga keberlangsungan agama, menjaga keselamatan jiwa, menjaga keturunan, menjaga kesehatan akal, dan menjaga harta. Pemeliharaan terhadap lima hal tersebut terkadang tidak dapat dinalar oleh akal sehingga harus diterima apa adanya -hal ini seperti kewajiban menegakkan salat dan menjalankan puasa-, namun demikian sebagian besar hukum Islam bisa dinalar  oleh akal. Sehingga akal bisa menyimpulkan alasan penetapannya untuk kemudian dipakai sebagai tolok ukur pada peristiwa hukum baru.

Baca Juga :  Catatan Ekspedisi Wilis I, Mengupas Sejarah Kuno si Gunung Cantik (8)

Berkaitan dengan hukum memelihara dan memakan daging kelelawar, dalam suatu hadis sahih yang diriwayatkan dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah SAW pernah melarang membunuh kelelawar. Dengan berdasar pada dalil tersebut mayoritas ulama mengharamkan daging kelelawar. Dengan alasan bahwa binatang yang boleh dimakan dagingnya adalah dibolehkan untuk dikonsumsi apabila telah disembelih. Sehingga pelarangan membunuh kelelawar dapat diartikan ketidakbolehan menyembelihnya untuk dikonsumsi.

Selain alasan dalil hadis tersebut, para ulama mengharamkan kelelawar karena termasuk binatang menjijikkan dan tidak wajar untuk dikonsumsi. Dalam Alquran surat Al-A’raf: 157 dijelaskan bahwa Allah menghalalkan segala yang baik dan mengharamkan segala yang buruk.

Sedangkan hukum memelihara kelelawar dapat dilihat dari tujuan memeliharanya. Apabila bertujuan untuk hal-hal yang baik dan tidak bertentangan dengan ruh hukum Islam dan tidak membahayakan maka dibolehkan memeliharanya. Misalnya untuk sarana penelitian. Sedangkan bila tujuan memeliharanya menimbulkan bahaya atau dikembangbiakan untuk dikonsumsi maka hukumnya menjadi tidak boleh. Karena mengkonsumsinya juga diharamkan, terlebih lagi saat ini diduga kelelawar merupakan hewan yang pertama menyebarkan virus korona baru yang menjadi wabah dunia. (Muhammad Muhaimin, pengajar di Fakultas Syari’ah IAIN Kediri, pengurus wilayah IAEI Jawa Timur).

Baca Juga :  Demi Asap Dapur Tetap Ngepul

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/