25.5 C
Kediri
Wednesday, July 6, 2022

Wayang Cekli dengan Dalang Cilik Ramaikan Lomba Kliping Kreatif

KOTA, JP Radar Kediri- Lomba Kliping Kreatif tak hanya ingin meningkatkan budaya literasi anak-anak usia sekolah dasar (SD). Namun, event yang digelar oleh Jawa Pos Radar Kediri ini sekaligus berupaya mengangkat sektor-sektor lain. Salah satunya adalah sektor seni dan budaya.

Bentuknya, bukan hanya mensyaratkan seni dan budaya sebagai salah satu tema lomba. Namun juga menggelar pertunjukan seni wayang cekli saat pengumuman dan penyerahan hadiah pada pemenang lomba tersebut, Rabu (2/2) mendatang.

Menariknya, sesuai namanya, wayang cekli ini akan menghadirkan dalang yang ‘tidak biasa’. Yaitu dalang yang masih berusia anak SD. Pagelaran yang akan tersaji di pengujung acara penyerahan hadiah itu akan dimainkan oleh siswa kelas 1 SD.

“Kami juga ingin mengangkat sektor budaya lewat lomba literasi seperti lomba Kliping Kreatif ini,” kata Manajer Sirkulasi Koran Jawa Pos Radar Kediri Heri Muda Setiawan, membenarkan tentang rencana itu.

Masih menurut Heri, menampilkan pagelaran wayang dipakai agar anak-anak usia SD tidak begitu saja melupakan bahkan meninggalkan budaya bangsanya. Apalagi, baru-baru ini United Nation Scientific and Cultural Organization (Unesco) menjadikan wayang sebagai salah satu warisan dunia.

Baca Juga :  Sekda Cek Kesiapan Operasional MPP

“Nah, agar wayang ini tetap lestari maka perlu terus digaungkan,” tandas Heri.

Apalagi nanti yang akan menjadi dalangnya adalah anak kelas I SD. Ini bisa menjadi contoh bahwa Wayang di Kota Kediri masih ada. Dan akan terus eksis. Karena itu, pertunjukkannya perlu terus dipopulerkan agar tidak menghilang.

Diakui Heri, kliping bertema seni dan budaya yang banyak ditampilkan adalah pertunjukan seni gamelan, jaranan dan pecutnya, hinggga sanggar tari. Semuanya menarik ketika ditampilkan di kliping kreatif.

“Saya yakin, informasi yang didapat ketika ikut kliping bertema seni dan budaya akan bertambah,” ujarnya.

Sementara itu, pembina wayang cekli Sunarno menyambut baik rencana penampilan wayang yang akan didalangi anak yang baru duduk di kelas I SD. “Kami sudah persiapan. Mulai dari alat hingga konsep cerita yang nanti akan disampaikan,” kata Narno.

Baca Juga :  Di Kediri, Pemilik Tempat Pijat ‘Plus-Plus’ Hanya Kena Vonis 6 Bulan

Dia mengapresiasi Jawa Pos Radar Kediri yang telah menggelar lomba Kliping Kreatif. Lomba seperti ini akan mengasah kemampuan siswa dalam kaitan dengan dunia literasi.

Terkait penampilan wayang cekli nanti, Madjid-sang dalang cilik-akan membawakan cerita yang masih terkait dengan bidang literasi. Yaitu upaya pelajar menjauhi pengaruh buruk menjamurnya gadget.

Lewat pagelaran wayang cekli, dia berharap literasi di Kota Kediri bisa tambah meningkat. “Saya pikir kegiatan ini menarik. Cerita yang disampaikan dalang ciliknya nanti bisa mengalir,” ungkap lelaki yang juga dosen IAIN Kediri itu.

Hanya, karena tampil dalam acara awarding atau penyerahan hadiah, waktu mainnya akan dibatasi. Tidak seperti pada umumnya, wayang dengan peralatan pengiring yang minimalis ini hanya tampil sekitar 20 menit saja. Bahkan, bisa lebih singkat menyesuaikan situasi dan kondisi. (rq/fud)

 

- Advertisement -

KOTA, JP Radar Kediri- Lomba Kliping Kreatif tak hanya ingin meningkatkan budaya literasi anak-anak usia sekolah dasar (SD). Namun, event yang digelar oleh Jawa Pos Radar Kediri ini sekaligus berupaya mengangkat sektor-sektor lain. Salah satunya adalah sektor seni dan budaya.

Bentuknya, bukan hanya mensyaratkan seni dan budaya sebagai salah satu tema lomba. Namun juga menggelar pertunjukan seni wayang cekli saat pengumuman dan penyerahan hadiah pada pemenang lomba tersebut, Rabu (2/2) mendatang.

Menariknya, sesuai namanya, wayang cekli ini akan menghadirkan dalang yang ‘tidak biasa’. Yaitu dalang yang masih berusia anak SD. Pagelaran yang akan tersaji di pengujung acara penyerahan hadiah itu akan dimainkan oleh siswa kelas 1 SD.

“Kami juga ingin mengangkat sektor budaya lewat lomba literasi seperti lomba Kliping Kreatif ini,” kata Manajer Sirkulasi Koran Jawa Pos Radar Kediri Heri Muda Setiawan, membenarkan tentang rencana itu.

Masih menurut Heri, menampilkan pagelaran wayang dipakai agar anak-anak usia SD tidak begitu saja melupakan bahkan meninggalkan budaya bangsanya. Apalagi, baru-baru ini United Nation Scientific and Cultural Organization (Unesco) menjadikan wayang sebagai salah satu warisan dunia.

Baca Juga :  Risalah Ingatan

“Nah, agar wayang ini tetap lestari maka perlu terus digaungkan,” tandas Heri.

Apalagi nanti yang akan menjadi dalangnya adalah anak kelas I SD. Ini bisa menjadi contoh bahwa Wayang di Kota Kediri masih ada. Dan akan terus eksis. Karena itu, pertunjukkannya perlu terus dipopulerkan agar tidak menghilang.

Diakui Heri, kliping bertema seni dan budaya yang banyak ditampilkan adalah pertunjukan seni gamelan, jaranan dan pecutnya, hinggga sanggar tari. Semuanya menarik ketika ditampilkan di kliping kreatif.

“Saya yakin, informasi yang didapat ketika ikut kliping bertema seni dan budaya akan bertambah,” ujarnya.

Sementara itu, pembina wayang cekli Sunarno menyambut baik rencana penampilan wayang yang akan didalangi anak yang baru duduk di kelas I SD. “Kami sudah persiapan. Mulai dari alat hingga konsep cerita yang nanti akan disampaikan,” kata Narno.

Baca Juga :  Mereka yang Menjadi Jawara di Beat School Contest 2020 (6)

Dia mengapresiasi Jawa Pos Radar Kediri yang telah menggelar lomba Kliping Kreatif. Lomba seperti ini akan mengasah kemampuan siswa dalam kaitan dengan dunia literasi.

Terkait penampilan wayang cekli nanti, Madjid-sang dalang cilik-akan membawakan cerita yang masih terkait dengan bidang literasi. Yaitu upaya pelajar menjauhi pengaruh buruk menjamurnya gadget.

Lewat pagelaran wayang cekli, dia berharap literasi di Kota Kediri bisa tambah meningkat. “Saya pikir kegiatan ini menarik. Cerita yang disampaikan dalang ciliknya nanti bisa mengalir,” ungkap lelaki yang juga dosen IAIN Kediri itu.

Hanya, karena tampil dalam acara awarding atau penyerahan hadiah, waktu mainnya akan dibatasi. Tidak seperti pada umumnya, wayang dengan peralatan pengiring yang minimalis ini hanya tampil sekitar 20 menit saja. Bahkan, bisa lebih singkat menyesuaikan situasi dan kondisi. (rq/fud)

 

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/