31.7 C
Kediri
Friday, August 12, 2022

Menelusuri Jalur Selingkar Wilis Kediri-Nganjuk (13)

Bendungan Margopatut, Calon Ikon Trase Kota Angin 

Cerita tentang Bendungan Margopatut menjadi ‘santapan’ tim ekspedisi Selingkar Wilis sebelum bertolak kembali ke Kediri. Melengkapi hidangan bakso dan aneka camilan saat beristirahat di Desa Sawahan.

 

Sepanjang perjalanan di Kota Angin, tim Ekspedisi Selingkar Wilis paling sering melintasi jalanan di atas sungai. Ada yang alirannya kecil. Ada pula yang besar. Tentu saja, beberapa kali tim ekspedisi harus melalui jembatan ketika menyeberangi sungai.

“Ada 29 titik jembatan,” sebut Supriyanto. Anggota tim yang juga staf di Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Nganjuk itu memang menyempatkan menghitung ulang jumlah jembatan yang telah dilalui. Mulai dari ujung Desa Bajulan di Kecamatan Loceret hingga Desa Bendolo, Kecamatan Sawahan.

Lelaki yang akrab disapa Pak Pri itu hanya mengingat jalan yang sudah dilewati saja. Sungainya banyak sekali. Salah satu yang paling terkenal adalah aliran Sungai Kuncir. Saat debitnya meningkat, aliran sungai ini kerap membuat wilayah perkotaan Nganjuk kebanjiran.

Baca Juga :  Home Learning Antiboring

Nah, salah satu cara mengantisipasi banjir itu adalah membangun bendungan. Lokasinya tidak di Desa Kuncir tetapi berada di atasnya. Yakni Desa Margopatut, Kecamatan Sawahan.

“Bendungan itu nanti bisa jadi ikon Selingkar Wilis di trase Nganjuk,” timpal Henry Sujatmiko, anggota tim dari badan pembangunan dan perencanaan daerah (bappeda).

Aliran Sungai Kuncir dari pegunungan Wilis akan dibendung dengan luas lahan lebih dari 7 hektare. Trase Selingkar Wilis berada di atas bendungan. Bisa dibayangkan bagaimana indahnya view ketika nanti bendungan jadi. Sekarang saja pemandangannya tampak elok meski penuh dengan tanaman dan tumbuhan kayu.

Meski rencana bangunannya tidak terlalu luas tapi badan bendungannya bisa mencapai 80-90 meter. Bendungan ini diusulkan untuk mengendalikan banjir dan pengairan persawahan. Bila nanti bendungannya berfungsi maka pemanfaatan bendungan ini bisa untuk puluhan ribu hektare lahan.

Sayangnya, proyek ini tersendat karena adanya refocusing anggaran akibat Covid-19. Pembangunan bendungan ini nantinya akan menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Sejauh ini, belum ada perkembangan terkait dengan studi kelayakan ulang atau feasibility study (FS) untuk pembangunan Bendungan Margopatut ini.

Baca Juga :  Antisipasi Macet, Lihat Peta Pengalihan Arus di Malam Tahun Baru

Informasi yang dihimpun tim Ekspedisi Selingkar Wilis Jawa Pos Radar Kediri, kajian untuk FS sudah dilaksanakan pada 2008-2009. Saat ini, akan dilakukan kajian ulang dan Pemkab Nganjuk sudah berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas.

Ketua Tim Selingkar Wilis M Arif Hanafi juga terkesan bila trase di Desa Margopatut memiliki bendungan yang bisa dinikmati dari atas bukit. Lantaran lokasi bendungan itu berada tidak jauh dari jalan lintas Selingkar Wilis maka yang perlu diperhitungkan termasuk kajian studi kelayakannya adalah kerawanan terhadap bencana longsor.

“Kawasan bendungan ini masih punya potensi longsor,” katanya.

Harapannya, kemunculan bendungan itu nanti tidak menjadi masalah baru bagi infrastruktur jalan Selingkar Wilis. Sebisa mungkin, bisa mengatasi masalah banjir tapi tidak menciptakan kawasan bencana baru berupa longsor.(rekian/fud/bersambung)






Reporter: rekian
- Advertisement -

Cerita tentang Bendungan Margopatut menjadi ‘santapan’ tim ekspedisi Selingkar Wilis sebelum bertolak kembali ke Kediri. Melengkapi hidangan bakso dan aneka camilan saat beristirahat di Desa Sawahan.

 

Sepanjang perjalanan di Kota Angin, tim Ekspedisi Selingkar Wilis paling sering melintasi jalanan di atas sungai. Ada yang alirannya kecil. Ada pula yang besar. Tentu saja, beberapa kali tim ekspedisi harus melalui jembatan ketika menyeberangi sungai.

“Ada 29 titik jembatan,” sebut Supriyanto. Anggota tim yang juga staf di Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Nganjuk itu memang menyempatkan menghitung ulang jumlah jembatan yang telah dilalui. Mulai dari ujung Desa Bajulan di Kecamatan Loceret hingga Desa Bendolo, Kecamatan Sawahan.

Lelaki yang akrab disapa Pak Pri itu hanya mengingat jalan yang sudah dilewati saja. Sungainya banyak sekali. Salah satu yang paling terkenal adalah aliran Sungai Kuncir. Saat debitnya meningkat, aliran sungai ini kerap membuat wilayah perkotaan Nganjuk kebanjiran.

Baca Juga :  Manajemen Macan Putih Lepas Youssef dan Lima Pemain

Nah, salah satu cara mengantisipasi banjir itu adalah membangun bendungan. Lokasinya tidak di Desa Kuncir tetapi berada di atasnya. Yakni Desa Margopatut, Kecamatan Sawahan.

“Bendungan itu nanti bisa jadi ikon Selingkar Wilis di trase Nganjuk,” timpal Henry Sujatmiko, anggota tim dari badan pembangunan dan perencanaan daerah (bappeda).

Aliran Sungai Kuncir dari pegunungan Wilis akan dibendung dengan luas lahan lebih dari 7 hektare. Trase Selingkar Wilis berada di atas bendungan. Bisa dibayangkan bagaimana indahnya view ketika nanti bendungan jadi. Sekarang saja pemandangannya tampak elok meski penuh dengan tanaman dan tumbuhan kayu.

Meski rencana bangunannya tidak terlalu luas tapi badan bendungannya bisa mencapai 80-90 meter. Bendungan ini diusulkan untuk mengendalikan banjir dan pengairan persawahan. Bila nanti bendungannya berfungsi maka pemanfaatan bendungan ini bisa untuk puluhan ribu hektare lahan.

Sayangnya, proyek ini tersendat karena adanya refocusing anggaran akibat Covid-19. Pembangunan bendungan ini nantinya akan menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Sejauh ini, belum ada perkembangan terkait dengan studi kelayakan ulang atau feasibility study (FS) untuk pembangunan Bendungan Margopatut ini.

Baca Juga :  Home Learning Antiboring

Informasi yang dihimpun tim Ekspedisi Selingkar Wilis Jawa Pos Radar Kediri, kajian untuk FS sudah dilaksanakan pada 2008-2009. Saat ini, akan dilakukan kajian ulang dan Pemkab Nganjuk sudah berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas.

Ketua Tim Selingkar Wilis M Arif Hanafi juga terkesan bila trase di Desa Margopatut memiliki bendungan yang bisa dinikmati dari atas bukit. Lantaran lokasi bendungan itu berada tidak jauh dari jalan lintas Selingkar Wilis maka yang perlu diperhitungkan termasuk kajian studi kelayakannya adalah kerawanan terhadap bencana longsor.

“Kawasan bendungan ini masih punya potensi longsor,” katanya.

Harapannya, kemunculan bendungan itu nanti tidak menjadi masalah baru bagi infrastruktur jalan Selingkar Wilis. Sebisa mungkin, bisa mengatasi masalah banjir tapi tidak menciptakan kawasan bencana baru berupa longsor.(rekian/fud/bersambung)






Reporter: rekian

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/