24.4 C
Kediri
Saturday, October 1, 2022

Menelusuri Jalur Selingkar Wilis Kediri-Nganjuk (70)

Dusun Peso, Tempat Pragolopati Dipaksa Lari

- Advertisement -

Bila di Desa Tiron ada Selo Gajah, lain lagi di Desa Parang. Di tempat ini ada batu kecil yang disebut Selo Tumpeng. Batu ini lekat dengan mitologi setempat.

Nama Pandu Pragolopati sangat lekat dengan warga Dusun Peso, salah satu dusun di Desa Parang, Kecamatan Banyakan. Sosok yang diyakini warga berasal dari Mataram Islam tersebut dianggap sebagai tokoh pembuka tanah daerah tersebut.

Dalam kepercayaan warga, Pragolopati datang ke tempat itu bersama sepasukan prajurit. Ada yang menyebut, mereka terlibat dalam intrik keluarga kerajaan Mataram. Kemudian melarikan diri hingga ke tempat itu.

Ketika tiba di hutan Peso, mereka melakukan ritual selamatan. “Pasukan itu menggelar tumpengan,” kata Kusnan, warga setempat.

Kakek 93 tahun yang memiliki delapan cucu ini melanjutkan, ketika baru mengambil nasi satu centong tersiar kabar bila gerombolan yang jadi musuh mereka sudah mendekat. Hal itu memaksa Pandu Pragolopati bergerak lagi untuk menghindari musuh.

Baca Juga :  Pujahito Nganjuk Masih Belum Tersentuh
- Advertisement -

Kejadian itu yang diyakini sebagai cikal bakal nama Dusun Peso. Yang diambil dari kata pekso yang berarti dipaksa. “Pandu Pragolopati dipaksa pergi, ditandai juga dengan adanya selo tumpeng,” ucap lelaki yang rambutnya sudah memutih ini.

Terlepas dari kebenaran kisah yang belum mendapat verifikasi sejarah, Selo Tumpeng itu tetap terawat baik hingga saat ini. Ada bangunan beratap asbes untuk melindunginya dari panas dan hujan. Bangunan sederhana itu didirikan sejak 1998. Tujuannya, saat ada warga yang datang melakukan ritual bisa lebih nyaman.

Batu  tersebut juga menjadi daya tarik warga. Masih banyak yang datang untuk sekadar selamatan atau kenduri di tempat itu. Membawa berbagai sesajen. Biasanya adalah orang yang hendak menggelar hajatan. Yang memanjatkan doa dari tempat tersebut.

Baca Juga :  Selain Covid-19, Lawan Persik Adalah Jadwal Mepet

“Meminta kepada Tuhan agar acara hajatannya berjalan lancar dan tidak ada halangan,” terang Proni, 48, yang rumahnya berdekatan dengan Selo Tumpeng.

Kemarin (21/9) ketika Jawa Pos Radar Kediri mendatangi lokasi ini, ada bekas sesajen yang terbungkus daun pisang. Bunga-bunga yang dijadikan sesajen itu sudah mengering. Di dekatnya juga ada enam batu bulat. Serta beberapa genting yang terlihat habis digunakan untuk tempat membakar sesuatu. Terbukti, ada arang di tumpukan genting itu.






Reporter: rekian
- Advertisement -

Bila di Desa Tiron ada Selo Gajah, lain lagi di Desa Parang. Di tempat ini ada batu kecil yang disebut Selo Tumpeng. Batu ini lekat dengan mitologi setempat.

Nama Pandu Pragolopati sangat lekat dengan warga Dusun Peso, salah satu dusun di Desa Parang, Kecamatan Banyakan. Sosok yang diyakini warga berasal dari Mataram Islam tersebut dianggap sebagai tokoh pembuka tanah daerah tersebut.

Dalam kepercayaan warga, Pragolopati datang ke tempat itu bersama sepasukan prajurit. Ada yang menyebut, mereka terlibat dalam intrik keluarga kerajaan Mataram. Kemudian melarikan diri hingga ke tempat itu.

Ketika tiba di hutan Peso, mereka melakukan ritual selamatan. “Pasukan itu menggelar tumpengan,” kata Kusnan, warga setempat.

Kakek 93 tahun yang memiliki delapan cucu ini melanjutkan, ketika baru mengambil nasi satu centong tersiar kabar bila gerombolan yang jadi musuh mereka sudah mendekat. Hal itu memaksa Pandu Pragolopati bergerak lagi untuk menghindari musuh.

Baca Juga :  Catatan Ekspedisi Wilis I, Potensi Wisata di Pegunungan Wilis (5)

Kejadian itu yang diyakini sebagai cikal bakal nama Dusun Peso. Yang diambil dari kata pekso yang berarti dipaksa. “Pandu Pragolopati dipaksa pergi, ditandai juga dengan adanya selo tumpeng,” ucap lelaki yang rambutnya sudah memutih ini.

Terlepas dari kebenaran kisah yang belum mendapat verifikasi sejarah, Selo Tumpeng itu tetap terawat baik hingga saat ini. Ada bangunan beratap asbes untuk melindunginya dari panas dan hujan. Bangunan sederhana itu didirikan sejak 1998. Tujuannya, saat ada warga yang datang melakukan ritual bisa lebih nyaman.

Batu  tersebut juga menjadi daya tarik warga. Masih banyak yang datang untuk sekadar selamatan atau kenduri di tempat itu. Membawa berbagai sesajen. Biasanya adalah orang yang hendak menggelar hajatan. Yang memanjatkan doa dari tempat tersebut.

Baca Juga :  School Contest XII: Generasi Muda Harus Kreatif

“Meminta kepada Tuhan agar acara hajatannya berjalan lancar dan tidak ada halangan,” terang Proni, 48, yang rumahnya berdekatan dengan Selo Tumpeng.

Kemarin (21/9) ketika Jawa Pos Radar Kediri mendatangi lokasi ini, ada bekas sesajen yang terbungkus daun pisang. Bunga-bunga yang dijadikan sesajen itu sudah mengering. Di dekatnya juga ada enam batu bulat. Serta beberapa genting yang terlihat habis digunakan untuk tempat membakar sesuatu. Terbukti, ada arang di tumpukan genting itu.






Reporter: rekian

Artikel Terkait

Most Read

Ampas Kopi Itu Bisa Jadi Uang

Megengan Pandemi

Tiga Makam di Puncak Bukit Maskumambang


Artikel Terbaru

/