31.7 C
Kediri
Friday, August 12, 2022

Menelusuri Jalur Selingkar Wilis Kediri-Nganjuk (8)

Jembatan Kuncir, Ada Sejak 1910 

Sembari menyantap asem-asem kambing, menu khas Desa Kuncir, pandangan tim ekspedisi Selingkar Wilis mengarah ke bangunan yang konstruksinya  memesona. Yaitu jembatan yang sudah dibangun pada 1910.

 

Jembatan itu membentang di atas percabangan Sungai Kuncir. Tak hanya satu, tetapi tiga jembatan. Bila dilihat dari atas, dua jembatan pertama membentuk sudut seperti puncak segitiga sama kaki. Kemudian, ujung jembatan kedua bertemu dengan ujung jembatan ketiga. Membentuk bidang diagonal.

Konstruksi seperti itu menyesuaikan kontur Sungai Kuncir. Sungai itu membelah menjadi dua, Kuncir Kanan dan Kuncir Kiri. Jembatan pertama melintang di ujung percabangan Kuncir Kanan. Sedangkan jembatan kedua di awal percabangan Kuncir Kiri. Dan jembatan ketiga berada di atas Kincir Kiri, dengan jarak terjauh antarjembatan 17 meteran.

“Dari dulu bentuknya (jembatan) sudah begini,” ucap Supriyanto, anggota tim ekspedisi. Ada nada bangga pada intonasi suara PNS di Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kabupaten Nganjuk ini.

Pak Pri, begitu dia disapa, mengklaim bahwa model jembatan seperti itu hanya ada di Kota Angin-sebutan Nganjuk. Meskipun, pria asli Kecamatan Sawahan ini tak mengetahui secara pasti kapan jembatan tersebut dibangun.

Terkait sejarah jembatan itu, pengurus Komunitas Pecinta Sejarah Nganjuk (Kotasejuk) Aris Trio Effendi memiliki datanya. Yang dia dapat dari berita di koran berbahasa Belanda di masa kolonial. Berdasarkan berita itu, pada 1800 dan awal 1900 telah terjadi banjir besar di sungai yang berhulu di Gunung Wilis itu.

Baca Juga :  Tim Gabungan Kab Kediri Ingatkan Pedagang dan Pekerja agar Taat Prokes

“Di Nganjuk ada tiga catatan banjir besar. Yakni Sungai Kuncir, Sungai Widas, dan Sungai Brantas,” katanya.

Banjir besar di tiga sungai itu bisa terjadi secara serentak ketika hujan terjadi dengan intensitas tinggi. Sebab, sungai-sungai di Nganjuk saling berkaitan antara satu dengan lainnya. Sumber airnya lebih banyak dari Gunung Wilis.

Selain Aris, kolektor foto bersejarah Nganjuk dr Tri Cahya Metta juga menghimpun data pembangunan di Sungai Kuncir. Pekerjaan fisik bangunannya dimulai dari pembuatan dam Sungai Kuncir. Tercatat bahwa pembangunan itu dilakukan pada 1907. “Perluasan damnya dilakukan pada 1940,” ujarnya.

Perbaikan dam Sungai Kuncir itu terus dilakukan hingga sekarang. Debit sungai yang meningkat kerap merusak struktur dinding bangunan. Pentingnya keberadaan dam sungai Kuncir ini dikarenakan sungainya memiliki peran penting untuk pengairan lahan pertanian di wilayah Nganjuk. Adapun jembatan Kuncir baru dibangun setelah tiga tahun proyek dam berjalan. Pembangunan jembatan Kuncir ini dikerjakan pada 1910.

Berdasarkan data itu, Kepala Bidang Peningkatan Daya Tarik Destinasi Pariwisata di Dinas Pariwisata, Kepemudaan, Olahraga dan Kebudayaan Amin Fuadi memastikan bila dam serta Jembatan Kuncir berfungsi sebagai pengendali banjir. Dua cabang sungai yang ada di bawah  jembatan mengarah jauh hingga kecamatan-kecamatan lain di Nganjuk.

“Mulai Kecamatan Berbek masuk ke Kota hingga ke kecamatan lain seperti Pace dan Tanjunganom,” katanya.

Baca Juga :  Pengalaman Libur Sekolah

Jauhnya aliran sungai dari Gunung Wilis itu menjadi berkah bagi petani. Mereka memanfaatkan air sungai untuk kebutuhan pertanian. Hanya, ketika debit air meningkat, beberapa wilayah sering kena banjir.

Sungai Kuncir Kiri, alirannya melintasi Desa Sonopatik Kecamatan Berbek, Desa Sekarputih Kecamatan Bagor, dan Kelurahan Cangkringan di Kecamatan Kota. Hingga masuk Sungai Widas yang berada di barat Terminal Nganjuk.

Sedangkan percabangan yang kanan melewati tiga Kecamatan, yaitu Loceret, Kota, dan Sukomoro. Dari Desa Gejagan di Loceret, kemudian Ploso di Kecamatan Kota, masuk lagi ke Loceret di Desa Tanjungrejo, kembali ke Kota ke Kelurahan Payaman, Gunungkidul, Kramat, dan Kelurahan Kapas di Kecamatan Sukomoro. Berakhir di Sungai Kedungsoko.

“Kedua aliran Sungai Kuncir bertemu di Kali Widas dan terakhir masuk ke sungai Brantas di Kecamatan Lengkong,” tambah Henry Sujatmiko, tim ekspedisi dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Nganjuk.

Saat debit air sungai rendah, warga memanfaatkan material sungai seperti batu dan pasir untuk dijual. Ketika tim ekspedisi berada di lokasi sungai pada Rabu (6/7) lalu, kebetulan tidak ada aktivitas warga di sungai.

Sedangkan jembatan merupakan akses warga ketika hendak ke Kecamatan Sawahan. Jembatan itu menghubungkan antarkecamatan. Dari Kecamatan Ngetos, Kecamatan Berbek, hingga Kecamatan Sawahan. Jalan kabupaten itu bisa menjadi salah satu alternatif jalur Selingkar Wilis. Setelah dari Desa Kuncir kemudian melanjutkan perjalanan menuju ke Kecamatan Sawahan.






Reporter: rekian
- Advertisement -

Sembari menyantap asem-asem kambing, menu khas Desa Kuncir, pandangan tim ekspedisi Selingkar Wilis mengarah ke bangunan yang konstruksinya  memesona. Yaitu jembatan yang sudah dibangun pada 1910.

 

Jembatan itu membentang di atas percabangan Sungai Kuncir. Tak hanya satu, tetapi tiga jembatan. Bila dilihat dari atas, dua jembatan pertama membentuk sudut seperti puncak segitiga sama kaki. Kemudian, ujung jembatan kedua bertemu dengan ujung jembatan ketiga. Membentuk bidang diagonal.

Konstruksi seperti itu menyesuaikan kontur Sungai Kuncir. Sungai itu membelah menjadi dua, Kuncir Kanan dan Kuncir Kiri. Jembatan pertama melintang di ujung percabangan Kuncir Kanan. Sedangkan jembatan kedua di awal percabangan Kuncir Kiri. Dan jembatan ketiga berada di atas Kincir Kiri, dengan jarak terjauh antarjembatan 17 meteran.

“Dari dulu bentuknya (jembatan) sudah begini,” ucap Supriyanto, anggota tim ekspedisi. Ada nada bangga pada intonasi suara PNS di Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kabupaten Nganjuk ini.

Pak Pri, begitu dia disapa, mengklaim bahwa model jembatan seperti itu hanya ada di Kota Angin-sebutan Nganjuk. Meskipun, pria asli Kecamatan Sawahan ini tak mengetahui secara pasti kapan jembatan tersebut dibangun.

Terkait sejarah jembatan itu, pengurus Komunitas Pecinta Sejarah Nganjuk (Kotasejuk) Aris Trio Effendi memiliki datanya. Yang dia dapat dari berita di koran berbahasa Belanda di masa kolonial. Berdasarkan berita itu, pada 1800 dan awal 1900 telah terjadi banjir besar di sungai yang berhulu di Gunung Wilis itu.

Baca Juga :  Hujan Ganggu Ekskavasi Candi Klotok di Kediri

“Di Nganjuk ada tiga catatan banjir besar. Yakni Sungai Kuncir, Sungai Widas, dan Sungai Brantas,” katanya.

Banjir besar di tiga sungai itu bisa terjadi secara serentak ketika hujan terjadi dengan intensitas tinggi. Sebab, sungai-sungai di Nganjuk saling berkaitan antara satu dengan lainnya. Sumber airnya lebih banyak dari Gunung Wilis.

Selain Aris, kolektor foto bersejarah Nganjuk dr Tri Cahya Metta juga menghimpun data pembangunan di Sungai Kuncir. Pekerjaan fisik bangunannya dimulai dari pembuatan dam Sungai Kuncir. Tercatat bahwa pembangunan itu dilakukan pada 1907. “Perluasan damnya dilakukan pada 1940,” ujarnya.

Perbaikan dam Sungai Kuncir itu terus dilakukan hingga sekarang. Debit sungai yang meningkat kerap merusak struktur dinding bangunan. Pentingnya keberadaan dam sungai Kuncir ini dikarenakan sungainya memiliki peran penting untuk pengairan lahan pertanian di wilayah Nganjuk. Adapun jembatan Kuncir baru dibangun setelah tiga tahun proyek dam berjalan. Pembangunan jembatan Kuncir ini dikerjakan pada 1910.

Berdasarkan data itu, Kepala Bidang Peningkatan Daya Tarik Destinasi Pariwisata di Dinas Pariwisata, Kepemudaan, Olahraga dan Kebudayaan Amin Fuadi memastikan bila dam serta Jembatan Kuncir berfungsi sebagai pengendali banjir. Dua cabang sungai yang ada di bawah  jembatan mengarah jauh hingga kecamatan-kecamatan lain di Nganjuk.

“Mulai Kecamatan Berbek masuk ke Kota hingga ke kecamatan lain seperti Pace dan Tanjunganom,” katanya.

Baca Juga :  Emak sang Pengawas

Jauhnya aliran sungai dari Gunung Wilis itu menjadi berkah bagi petani. Mereka memanfaatkan air sungai untuk kebutuhan pertanian. Hanya, ketika debit air meningkat, beberapa wilayah sering kena banjir.

Sungai Kuncir Kiri, alirannya melintasi Desa Sonopatik Kecamatan Berbek, Desa Sekarputih Kecamatan Bagor, dan Kelurahan Cangkringan di Kecamatan Kota. Hingga masuk Sungai Widas yang berada di barat Terminal Nganjuk.

Sedangkan percabangan yang kanan melewati tiga Kecamatan, yaitu Loceret, Kota, dan Sukomoro. Dari Desa Gejagan di Loceret, kemudian Ploso di Kecamatan Kota, masuk lagi ke Loceret di Desa Tanjungrejo, kembali ke Kota ke Kelurahan Payaman, Gunungkidul, Kramat, dan Kelurahan Kapas di Kecamatan Sukomoro. Berakhir di Sungai Kedungsoko.

“Kedua aliran Sungai Kuncir bertemu di Kali Widas dan terakhir masuk ke sungai Brantas di Kecamatan Lengkong,” tambah Henry Sujatmiko, tim ekspedisi dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Nganjuk.

Saat debit air sungai rendah, warga memanfaatkan material sungai seperti batu dan pasir untuk dijual. Ketika tim ekspedisi berada di lokasi sungai pada Rabu (6/7) lalu, kebetulan tidak ada aktivitas warga di sungai.

Sedangkan jembatan merupakan akses warga ketika hendak ke Kecamatan Sawahan. Jembatan itu menghubungkan antarkecamatan. Dari Kecamatan Ngetos, Kecamatan Berbek, hingga Kecamatan Sawahan. Jalan kabupaten itu bisa menjadi salah satu alternatif jalur Selingkar Wilis. Setelah dari Desa Kuncir kemudian melanjutkan perjalanan menuju ke Kecamatan Sawahan.






Reporter: rekian

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/