25.6 C
Kediri
Saturday, June 25, 2022

Catatan Ekspedisi Wilis I, Pertanian dan Pengairan Pegunungan (4)

Di lereng Wilis, warga terbiasa melakukan alih fungsi lahan dari hutan menjadi kawasan budidaya pertanian. Kondisi ini bisa menjadi ancaman erosi sewaktu-waktu di lahan tersebut.

 

Petani di lereng Wilis banyak yang masih mempertahankan tanaman tahunan yang ada. Mereka memanfaatkan tanaman tersebut sebagai salah satu faktor yang membantu tanaman budidaya tetap tumbuh subur. Seperti yang dilakukan Marni. Dia tidak menebang tanaman di lahan miliknya. Karena dia menilai pohon-pohon besar yang ada akan bermanfaat di lain waktu.

“Dibiarkan seperti ini karena untuk melindungi tanaman di bawahnya,” kata Marni.

Secara tersirat, warga Desa Pamongan ini menyebut bahwa melindungi tanaman di bagian lahan bawah adalah untuk mencegah erosi. Ternyata warga lereng Wilis sudah ada yang mengantisipasi bencana tersebut sejak dini. Meski masih saja ada masyarakat yang menebang habis tanaman tahunan di sana. Dan mengabaikan ancaman bahaya.

Baca Juga :  Status KLB Difteri di Kabupaten Kediri

“Kalau ditebang semua, nanti takutnya longsor. Tapi ada juga warga yang menebang habis, karena kalau dibuat budidaya sayur lebih menguntungkan,” jelas pria 56 tahun itu.

Kepedulian Marni terhadap ancaman bahaya ini memang patut diapresiasi. Apa jadinya jika warga terus menerus menebang kawasan hutan untuk membuka areal pertanian tanpa adanya kontrol. Namun hal semacam ini hanya bisa dilakukan bagi mereka petani yang lahannya masih sangat dekat dengan daerah hutan. Bukan untuk mereka yang di bagian lereng paling bawah.

Marni menyebut, dia masih mempertahankan pohon yang ada di bagian atas areal tegal miliknya. Alasanya karena sempat terdengar bahwa pemanfaatan pohon di sekitar area budidaya di pegunungan memang lebih banyak manfaat.

“Salah satunya sebagai pupuk organik,” imbuhnya.

Pupuk organik yang dimaksud adalah dari bekas dedaunan kering yang lapuk. Dan itu tidak akan ditemukan pada lahan yang kondisinya gundul atau tanpa tanaman tahunan. Lahan gundul itu biasanya digunakan oleh masyarakat dengan sistem pertanian lama yakni ladang berpindah.

Baca Juga :  Keripik Usus Cabe Ijo

Dalam sistem perladangan berpindah petani dapat meninggalkan lahan kosong selama beberapa bulan hingga beberapa tahun. Dan selama masa ini, penduduk lain dapat mengambil lahan mereka. Tetapi jika mereka melakukan sistem agroforestri atau mempertahankan pohon tahunan, pohon tersebut bisa menjadi tanda dan memberi mereka hak permanen atas pertanian mereka.

Dari sejumlah literatur, memang lingkungan hidup khususnya di sekitar hutan sangat memberikan keuntungan. Pohon membantu mengamankan tanah dan mencegah longsor.

Sebab, selama ini longsor kecil di lereng ladang adalah masalah besar di Indonesia. Hilangnya tutupan hutan dan degradasi sisa hutan dapat meningkatkan erosi tanah di lereng terjal tersebut. Termasuk di wilayah pegunungan di lereng Wilis.

- Advertisement -

Di lereng Wilis, warga terbiasa melakukan alih fungsi lahan dari hutan menjadi kawasan budidaya pertanian. Kondisi ini bisa menjadi ancaman erosi sewaktu-waktu di lahan tersebut.

 

Petani di lereng Wilis banyak yang masih mempertahankan tanaman tahunan yang ada. Mereka memanfaatkan tanaman tersebut sebagai salah satu faktor yang membantu tanaman budidaya tetap tumbuh subur. Seperti yang dilakukan Marni. Dia tidak menebang tanaman di lahan miliknya. Karena dia menilai pohon-pohon besar yang ada akan bermanfaat di lain waktu.

“Dibiarkan seperti ini karena untuk melindungi tanaman di bawahnya,” kata Marni.

Secara tersirat, warga Desa Pamongan ini menyebut bahwa melindungi tanaman di bagian lahan bawah adalah untuk mencegah erosi. Ternyata warga lereng Wilis sudah ada yang mengantisipasi bencana tersebut sejak dini. Meski masih saja ada masyarakat yang menebang habis tanaman tahunan di sana. Dan mengabaikan ancaman bahaya.

Baca Juga :  Banyak Cerita saat Stay at Home

“Kalau ditebang semua, nanti takutnya longsor. Tapi ada juga warga yang menebang habis, karena kalau dibuat budidaya sayur lebih menguntungkan,” jelas pria 56 tahun itu.

Kepedulian Marni terhadap ancaman bahaya ini memang patut diapresiasi. Apa jadinya jika warga terus menerus menebang kawasan hutan untuk membuka areal pertanian tanpa adanya kontrol. Namun hal semacam ini hanya bisa dilakukan bagi mereka petani yang lahannya masih sangat dekat dengan daerah hutan. Bukan untuk mereka yang di bagian lereng paling bawah.

Marni menyebut, dia masih mempertahankan pohon yang ada di bagian atas areal tegal miliknya. Alasanya karena sempat terdengar bahwa pemanfaatan pohon di sekitar area budidaya di pegunungan memang lebih banyak manfaat.

“Salah satunya sebagai pupuk organik,” imbuhnya.

Pupuk organik yang dimaksud adalah dari bekas dedaunan kering yang lapuk. Dan itu tidak akan ditemukan pada lahan yang kondisinya gundul atau tanpa tanaman tahunan. Lahan gundul itu biasanya digunakan oleh masyarakat dengan sistem pertanian lama yakni ladang berpindah.

Baca Juga :  Korona Mengajarkan Kita Hidup Sehat

Dalam sistem perladangan berpindah petani dapat meninggalkan lahan kosong selama beberapa bulan hingga beberapa tahun. Dan selama masa ini, penduduk lain dapat mengambil lahan mereka. Tetapi jika mereka melakukan sistem agroforestri atau mempertahankan pohon tahunan, pohon tersebut bisa menjadi tanda dan memberi mereka hak permanen atas pertanian mereka.

Dari sejumlah literatur, memang lingkungan hidup khususnya di sekitar hutan sangat memberikan keuntungan. Pohon membantu mengamankan tanah dan mencegah longsor.

Sebab, selama ini longsor kecil di lereng ladang adalah masalah besar di Indonesia. Hilangnya tutupan hutan dan degradasi sisa hutan dapat meningkatkan erosi tanah di lereng terjal tersebut. Termasuk di wilayah pegunungan di lereng Wilis.

Artikel Terkait

Most Read

Megengan Pandemi

Sembadra Karya


Artikel Terbaru

/