26.3 C
Kediri
Tuesday, August 16, 2022

Tak Ada Penahan Air Ketika Hujan Lebat, Kalipang dan Bajulan Rawan Longsor  

- Advertisement -

KABUPATEN, JP Radar Kediri- Beberapa titik trase jalan yang  menjadi cikal bakal jalur Selingkar Wilis harus menjadi perhatian ekstra. Seperti di perbatasan Kabupaten Kediri dan Kabupaten Nganjuk misalnya. Beberapa tempat mengalami kerusakan. Padahal jalan itu baru tersambung melalui program TNI Manunggal Masuk Desa (TMMD) pada 2021 lalu. Tidak hanya aspal yang mengelupas, jalan yang pernah dilalui Jenderal Soedirman dalam rute gerilyanya itu rawan longsor.

Fakta tersebut diperoleh ketika Tim Ekepedisi Selingkar Wilis melintas jalan yang telah mengoneksikan dua daerah itu pada Rabu (6/7) lalu. Di Desa Kalipang, Kecamatan Grogol, aspal jalan sudah mengelupas. Menurut warga, kerusakan jalan penghubung ke Desa Bajulan terjadi setelah banyak truk mengangkut material batu dan pasir melintas. Yang difungksikan untuk membangun tembok penahan longsor.

Baca Juga :  Masyarakat Antusias Ikuti Pengobatan Gratis

“Bangunan penahan longsornya masih baru,” ujar Ketua Tim Ekpedisi Wilis M. Arif Hanafi.

Dia menambahkan, di sepanjang jalan menuju ke Desa Bajulan, Kecamatan Loceret juga rawan longsor. Sebab, di tepi jalan banyak batu besar. Batu-batu itu ada di tempat itu setelah menggelinding dari tebing atas.

Tidak hanya itu, dinding jurangnya juga mulai terkikis air saat hujan lebat. Di perbatasan dengan Desa Bajulan, Loceret, Kabupaten Nganjuk ada beberapa titik yang dinding jurangnya mulai ambles. Masih terlihat bekas aliran air.

- Advertisement -

Saat tim memasuki perbatasan Desa Bajulan, aspalnya masih mulus. Tapi hanya beberapa meter saja. Sekitar 20 meter dari penanda Jalan Soedirman, ada bekas longsoran besar. Jalan yang ada di samping tebing itu ikut terkepras.

Baca Juga :  Ngoyot di Dapur

Menurut Jumadi, 53, warga setempat, tanah longsor itu sudah terjadi satu bulan lalu. Saluran air di tepi jalan mulai melebar. “Kalau hujan lebat, air dari Gunung Wilis sangat deras,” katanya.

Jika ingin longsornya berkurang, dia mengusulkan agar saluran airnya dibendung dari bagian atas. Tujuan membendung aliran air itu agar yang mengalir ke hilir tidak terlalu besar.

Longsor di sepanjang jalan menuju Dusun Magersari itu sebanyak lima titik. Penyebabnya sama, tidak bisa menahan air yang datang dari bagian atas.

“Kalau longsor, jalannya penuh dengan tanah,” ujar petani itu. Beruntung, pagi itu tidak ada tebing yang ambles sehingga tim Ekspedisi Selingkar Wilis bisa melintas hingga bertemu dengan tim dari Pemkab Nganjuk.






Reporter: rekian
- Advertisement -

KABUPATEN, JP Radar Kediri- Beberapa titik trase jalan yang  menjadi cikal bakal jalur Selingkar Wilis harus menjadi perhatian ekstra. Seperti di perbatasan Kabupaten Kediri dan Kabupaten Nganjuk misalnya. Beberapa tempat mengalami kerusakan. Padahal jalan itu baru tersambung melalui program TNI Manunggal Masuk Desa (TMMD) pada 2021 lalu. Tidak hanya aspal yang mengelupas, jalan yang pernah dilalui Jenderal Soedirman dalam rute gerilyanya itu rawan longsor.

Fakta tersebut diperoleh ketika Tim Ekepedisi Selingkar Wilis melintas jalan yang telah mengoneksikan dua daerah itu pada Rabu (6/7) lalu. Di Desa Kalipang, Kecamatan Grogol, aspal jalan sudah mengelupas. Menurut warga, kerusakan jalan penghubung ke Desa Bajulan terjadi setelah banyak truk mengangkut material batu dan pasir melintas. Yang difungksikan untuk membangun tembok penahan longsor.

Baca Juga :  Catatan Ekspedisi Wilis I, Pertanian dan Pengairan Pegunungan (1)

“Bangunan penahan longsornya masih baru,” ujar Ketua Tim Ekpedisi Wilis M. Arif Hanafi.

Dia menambahkan, di sepanjang jalan menuju ke Desa Bajulan, Kecamatan Loceret juga rawan longsor. Sebab, di tepi jalan banyak batu besar. Batu-batu itu ada di tempat itu setelah menggelinding dari tebing atas.

Tidak hanya itu, dinding jurangnya juga mulai terkikis air saat hujan lebat. Di perbatasan dengan Desa Bajulan, Loceret, Kabupaten Nganjuk ada beberapa titik yang dinding jurangnya mulai ambles. Masih terlihat bekas aliran air.

Saat tim memasuki perbatasan Desa Bajulan, aspalnya masih mulus. Tapi hanya beberapa meter saja. Sekitar 20 meter dari penanda Jalan Soedirman, ada bekas longsoran besar. Jalan yang ada di samping tebing itu ikut terkepras.

Baca Juga :  Catatan Ekspedisi Wilis I, Potensi Wisata Pegunungan Wilis (9)

Menurut Jumadi, 53, warga setempat, tanah longsor itu sudah terjadi satu bulan lalu. Saluran air di tepi jalan mulai melebar. “Kalau hujan lebat, air dari Gunung Wilis sangat deras,” katanya.

Jika ingin longsornya berkurang, dia mengusulkan agar saluran airnya dibendung dari bagian atas. Tujuan membendung aliran air itu agar yang mengalir ke hilir tidak terlalu besar.

Longsor di sepanjang jalan menuju Dusun Magersari itu sebanyak lima titik. Penyebabnya sama, tidak bisa menahan air yang datang dari bagian atas.

“Kalau longsor, jalannya penuh dengan tanah,” ujar petani itu. Beruntung, pagi itu tidak ada tebing yang ambles sehingga tim Ekspedisi Selingkar Wilis bisa melintas hingga bertemu dengan tim dari Pemkab Nganjuk.






Reporter: rekian

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/