24.4 C
Kediri
Sunday, October 2, 2022

Sempat Bandel, Tobat usai Dinasihati Ayah

Dodi Purwanto Jadi Inspirator Kelas Inspirasi

- Advertisement -

KABUPATEN, JP Radar Kediri-Tidak ada keberhasilan yang diraih dengan cara instan. Ketua DPRD Kabupaten Kediri Dodi Purwanto harus melalui pahit manisnya kehidupan sebelum sampai di puncak karir sebagai legislator seperti sekarang. Perjuangan pria yang semasa SMA sempat menjadi anak ‘bandel’ itu, diceritakan di depan seratus siswa kelas X-XII SMAN 1 Plemahan kemarin.

Dimulai sekitar pukul 12.30, siswa terlihat antusias mendengar cerita dari orang nomor satu di DPRD Kabupaten Kediri itu. Menjadi anggota dewan sejak usia 28 tahun, Dodi memang mengawali karir politiknya dari bawah. Mulai menjadi anggota biasa, ketua komisi, hingga dipercaya menjadi ketua DPRD seperti sekarang. “Saya ingin berbagi cerita, ambil yang bagus, buang yang jelek,” katanya.

Jika sekarang karirnya bisa dibilang cemerlang, di masa remaja politisi asal Grogol itu juga tak ubahnya anak muda kebanyakan. Saat duduk di bangku SD-SMP, dia menjadi bintang kelas. Nilainya selalu yang terbaik.

Label anak pandai mulai luntur saat duduk di bangku SMA. “Nilai saya turun saat SMA. Saya bandel,” kenang alumnus SMAN 2 Kota Kediri ini.

Perubahan sikapnya itu diakui Dodi karena terpengaruh pergaulan lingkungan. Karenanya, di depan siswa kelas X hingga kelas XII SMAN 1 Plemahan kemarin, Dodi berpesan agar mereka pandai memilih lingkungan pertemanan.

Baca Juga :  Tiga Mesin Diesel Raib dalam Semalam
- Advertisement -

Sebab, teman yang baik akan membawa anak-anak ke dalam hal yang baik. Sebaliknya, lingkungan yang jelek juga akan membawa kejelekan. “Cari yang tepat agar tidak seperti saya dulu,” pesannya.

Bagaimana dia bisa bertobat? Pria yang akrab disapa Dodi Banteng ini mengaku sikapnya mulai berubah saat berusia 25 tahun. Adalah nasihat sang ayah yang bisa menyadarkannya.

Hal sederhana tapi mampu membuat Dodi langsung mengubah cara hidupnya. “Saya hanya ditanya, mau sampai kapan seperti ini?” kenangnya menirukan pertanyaan almarhum ayahnya dengan nada pelan.

Pertanyaan dari sosok pria kalem tapi tegas itu agaknya bisa menggugah kesadaran bapak dua anak itu. Dia langsung mengubah gaya hidupnya. Termasuk memutuskan untuk masuk ke dunia politik yang kini membesarkan namanya.

“Makanya saya pesan, selain memilih lingkungan pergaulan yang baik, kalian juga harus patuh dan taat pada orang tua,” tuturnya. Dalam kesempatan kemarin, Dodi juga meminta anak-anak untuk menjaga nilai luhur bangsa Indonesia.

Baca Juga :  Pemerintah Daerah Harus Lindungi Pasar Tradisional di Kabupaten Kediri

Caranya dengan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. “Jangan sampai bangsa ini dihapus dari peta seperti masa kerajaan Majapahit atau Sriwijaya,” tegasnya mengajak siswa SMAN 1 Plemahan menjaga nilai-nilai Pancasila. Di antaranya, menjaga toleransi antar-umat bergama, suku, dan budaya.

Untuk mengetes pengetahuan siswa, Dodi melontarkan beberapa pertanyaan tentang kebangsaan. Termasuk seputar sejarah sebelum proklamasi kemerdekaan dibacakan.

Dimas, siswa kelas XII IPS 3 langsung mengacungkan tangan untuk menjawab. Dengan lancar dia menjelaskan sejarah pembentukan Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang diketuai Radjiman Wedyoningrat dan beranggotakan 67 orang tersebut. “BPUPKI dibentuk sebagai janji Jepang yang akan membantu kemerdekaan Indonesia,” kata Dimas lantang.

Mendengar jawaban yang benar itu, Dodi mengaku lega. Dia pun meminta Dimas memilih beberapa hadiah. Mulai kaus, baju, dan beberapa aksesori. Di luar dugaan, dia memilih buku merah berjudul Bung Karno Penyampung Lidah Rakyat Indonesia karya Cindy Adams.

Kepada koran ini, Dimas mengaku ingin menjadi politisi seperti Dodi. Alasannya, dengan menjadi wakil rakyat dia bisa berbuat banyak untuk masyarakat karena ikut merumuskan kebijakan daerah.






Reporter: rekian
- Advertisement -

KABUPATEN, JP Radar Kediri-Tidak ada keberhasilan yang diraih dengan cara instan. Ketua DPRD Kabupaten Kediri Dodi Purwanto harus melalui pahit manisnya kehidupan sebelum sampai di puncak karir sebagai legislator seperti sekarang. Perjuangan pria yang semasa SMA sempat menjadi anak ‘bandel’ itu, diceritakan di depan seratus siswa kelas X-XII SMAN 1 Plemahan kemarin.

Dimulai sekitar pukul 12.30, siswa terlihat antusias mendengar cerita dari orang nomor satu di DPRD Kabupaten Kediri itu. Menjadi anggota dewan sejak usia 28 tahun, Dodi memang mengawali karir politiknya dari bawah. Mulai menjadi anggota biasa, ketua komisi, hingga dipercaya menjadi ketua DPRD seperti sekarang. “Saya ingin berbagi cerita, ambil yang bagus, buang yang jelek,” katanya.

Jika sekarang karirnya bisa dibilang cemerlang, di masa remaja politisi asal Grogol itu juga tak ubahnya anak muda kebanyakan. Saat duduk di bangku SD-SMP, dia menjadi bintang kelas. Nilainya selalu yang terbaik.

Label anak pandai mulai luntur saat duduk di bangku SMA. “Nilai saya turun saat SMA. Saya bandel,” kenang alumnus SMAN 2 Kota Kediri ini.

Perubahan sikapnya itu diakui Dodi karena terpengaruh pergaulan lingkungan. Karenanya, di depan siswa kelas X hingga kelas XII SMAN 1 Plemahan kemarin, Dodi berpesan agar mereka pandai memilih lingkungan pertemanan.

Baca Juga :  Finalis GenZ Boys and Girls Belajar Sejarah hingga Praktik Membatik

Sebab, teman yang baik akan membawa anak-anak ke dalam hal yang baik. Sebaliknya, lingkungan yang jelek juga akan membawa kejelekan. “Cari yang tepat agar tidak seperti saya dulu,” pesannya.

Bagaimana dia bisa bertobat? Pria yang akrab disapa Dodi Banteng ini mengaku sikapnya mulai berubah saat berusia 25 tahun. Adalah nasihat sang ayah yang bisa menyadarkannya.

Hal sederhana tapi mampu membuat Dodi langsung mengubah cara hidupnya. “Saya hanya ditanya, mau sampai kapan seperti ini?” kenangnya menirukan pertanyaan almarhum ayahnya dengan nada pelan.

Pertanyaan dari sosok pria kalem tapi tegas itu agaknya bisa menggugah kesadaran bapak dua anak itu. Dia langsung mengubah gaya hidupnya. Termasuk memutuskan untuk masuk ke dunia politik yang kini membesarkan namanya.

“Makanya saya pesan, selain memilih lingkungan pergaulan yang baik, kalian juga harus patuh dan taat pada orang tua,” tuturnya. Dalam kesempatan kemarin, Dodi juga meminta anak-anak untuk menjaga nilai luhur bangsa Indonesia.

Baca Juga :  BPN Targetkan Sertifikat Warga Terdampak Bandara Terkumpul Minggu Ini

Caranya dengan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. “Jangan sampai bangsa ini dihapus dari peta seperti masa kerajaan Majapahit atau Sriwijaya,” tegasnya mengajak siswa SMAN 1 Plemahan menjaga nilai-nilai Pancasila. Di antaranya, menjaga toleransi antar-umat bergama, suku, dan budaya.

Untuk mengetes pengetahuan siswa, Dodi melontarkan beberapa pertanyaan tentang kebangsaan. Termasuk seputar sejarah sebelum proklamasi kemerdekaan dibacakan.

Dimas, siswa kelas XII IPS 3 langsung mengacungkan tangan untuk menjawab. Dengan lancar dia menjelaskan sejarah pembentukan Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang diketuai Radjiman Wedyoningrat dan beranggotakan 67 orang tersebut. “BPUPKI dibentuk sebagai janji Jepang yang akan membantu kemerdekaan Indonesia,” kata Dimas lantang.

Mendengar jawaban yang benar itu, Dodi mengaku lega. Dia pun meminta Dimas memilih beberapa hadiah. Mulai kaus, baju, dan beberapa aksesori. Di luar dugaan, dia memilih buku merah berjudul Bung Karno Penyampung Lidah Rakyat Indonesia karya Cindy Adams.

Kepada koran ini, Dimas mengaku ingin menjadi politisi seperti Dodi. Alasannya, dengan menjadi wakil rakyat dia bisa berbuat banyak untuk masyarakat karena ikut merumuskan kebijakan daerah.






Reporter: rekian

Artikel Terkait

Most Read

Ampas Kopi Itu Bisa Jadi Uang

Megengan Pandemi

Tiga Makam di Puncak Bukit Maskumambang


Artikel Terbaru

/