27.1 C
Kediri
Thursday, August 11, 2022

Di Desa Blongko Ada Tabungan Cengkih

Rute yang dilewati tim Ekspedisi Selingkar Wilis rata-rata berada di ketinggian lebih dari 500 meter dari permukaan laut (mdpl). Dengan potensi pertanian dan perkebunan yang melimpah. Terutama salah satu tanaman rempah, cengkih. Bahkan, jalur yang akan digunakan sebagai Selingkar Wilis tersebut dikenal dengan jalur rempah.

Memang, kawasan Gunung Wilis dari dulu menyimpan beragam potensi hasil bumi. Baik tanaman pertanian maupun perkebunan. Terutama cengkih dan kopi.

Meski letak wilayahnya di dataran tinggi, warga yang hidup di sana lebih banyak bekerja sebagai petani. Mereka tidak hanya mengandalkan persawahan penghasil pangan seperti padi dan jagung. Tetapi juga hasil perkebunan, yakni singkong, kopi, hingga buah-buahan. Untuk buah, paling terkenal adalah durian. Meskipun yang lain juga banyak, seperti rambutan misalnya.

Untuk kopi menjadi mata pencaharian warga di beberapa desa. Seperti di Desa Jugo yang berada di Kecamatan Mojo. Sejak era kolonial, desa ini sudah dikenal sebagai kawasan penghasil kopi. Tanaman itu kini kembali dibudidayakan dengan harapan bisa membuka pasar ekspor.

Jauh sebelum kopi menjadi andalan Pemkab Kediri, kawasan lereng Gunung Wilis ini didominasi tanaman rempah berupa cengkih.  Dan memang, paling fenomenal di sepanjang Ekspedisi Selingkar Wilis Kediri-Nganjuk ini adalah tanaman cengkihnya. Tak salah bila trase yang dilalui tim ekspedisi bisa pula dinamakan sebagai jalur rempah. Karena tanaman cengkih tumbuh subur di sepanjang rute.

Baca Juga :  Roca Evaluasi Kinerja Pemain Jelang Liga 1

“Di desa saya (Desa Jugo, Kecamatan Mojo, Red), cengkih jadi penghasil utama,” kata Suparman, penunjuk jalan Tim Ekspedisi Selingkar Wilis.

Suparman adalah  mantan sekretaris desa (sekdes) Jugo. Jabatan yang dulu sering disebut sebagai carik. Menurut pria 58 tahun itu warga di desanya menggantungkan harapan pada tanaman keras tersebut.

Tanaman cengkih tergolong banyak menghasilan. Tidak hanya bunganya saja. Tangkai bunga hingga daunnya pun laku dijual. Karena itu, bagi warga di desanya cengkih cukup menjanjikan untuk menambah penghasilan ekonomi keluarga.

Harga jualnya pun masih menggiurkan. Saat ini mencapai Rp 127 ribu per kilogram untuk cengkih kering. Sedangkan bila harga basah hanya Rp 60 ribu per kilogramnya.

Memang, harga jual cengkih fluktuatif. Di wilayah Nganjuk, harga kering saat ini bisa tembus Rp 140 ribu per kilogramnya.

Baca Juga :  Rela Kejar Orang Gila agar Mau Divaksin

Tanaman cengkih yang paling banyak di Kota Angin ada di Desa Blongko, Kecamatan Ngetos. Di desa itu, terkenal dengan tabungan cengkih. Hasil panen cengkihnya harus disisakan 25 persen untuk ditabung. Biasanya dimasukkan ke dalam karung yang dapat digunakan sewaktu-waktu. Terutama saat terjadi krisis.

Menurut Kepala Desa Blongko Gunawan, mayoritas warga di desanya adalah petani cengkih. “Jumlahnya 80 persen,” jelas Gunawan.

Ketua Tim Ekspedisi Selingkar Wilis M. Arif Hanafi menyebutkan, penunjang produksi cengkih di trase yang dilewati berupa penyulingan. “Paling banyak lokasinya ada di Kecamatan Sawahan. Di sana ada penampung minyak hasil penyulingan daun cengkih,” katanya.

Menurut Hanafi, anak-anak muda yang kebanyakan bertani menjadikan tempat penyulingan sebagai alternatif pekerjaan baru. Selain beraktivitas sebagai petani dan mencari rumput untuk pakan ternak, mereka juga bekerja di tempat penyulingan cengkih.

Cengkin menjadi komoditas yang potensial menghasilkan cuan. Terutama untuk warga desa yang tinggal di jalur Selingkar Wilis. Pemerintah daerah bisa menangkap potensi ini untuk mengembangkan kekayaan masyarakat di sepanjang jalan Selingkar Wilis.






Reporter: rekian
- Advertisement -

Rute yang dilewati tim Ekspedisi Selingkar Wilis rata-rata berada di ketinggian lebih dari 500 meter dari permukaan laut (mdpl). Dengan potensi pertanian dan perkebunan yang melimpah. Terutama salah satu tanaman rempah, cengkih. Bahkan, jalur yang akan digunakan sebagai Selingkar Wilis tersebut dikenal dengan jalur rempah.

Memang, kawasan Gunung Wilis dari dulu menyimpan beragam potensi hasil bumi. Baik tanaman pertanian maupun perkebunan. Terutama cengkih dan kopi.

Meski letak wilayahnya di dataran tinggi, warga yang hidup di sana lebih banyak bekerja sebagai petani. Mereka tidak hanya mengandalkan persawahan penghasil pangan seperti padi dan jagung. Tetapi juga hasil perkebunan, yakni singkong, kopi, hingga buah-buahan. Untuk buah, paling terkenal adalah durian. Meskipun yang lain juga banyak, seperti rambutan misalnya.

Untuk kopi menjadi mata pencaharian warga di beberapa desa. Seperti di Desa Jugo yang berada di Kecamatan Mojo. Sejak era kolonial, desa ini sudah dikenal sebagai kawasan penghasil kopi. Tanaman itu kini kembali dibudidayakan dengan harapan bisa membuka pasar ekspor.

Jauh sebelum kopi menjadi andalan Pemkab Kediri, kawasan lereng Gunung Wilis ini didominasi tanaman rempah berupa cengkih.  Dan memang, paling fenomenal di sepanjang Ekspedisi Selingkar Wilis Kediri-Nganjuk ini adalah tanaman cengkihnya. Tak salah bila trase yang dilalui tim ekspedisi bisa pula dinamakan sebagai jalur rempah. Karena tanaman cengkih tumbuh subur di sepanjang rute.

Baca Juga :  Ditopang Puluhan Proyek Senilai Rp 41,84 Triliun

“Di desa saya (Desa Jugo, Kecamatan Mojo, Red), cengkih jadi penghasil utama,” kata Suparman, penunjuk jalan Tim Ekspedisi Selingkar Wilis.

Suparman adalah  mantan sekretaris desa (sekdes) Jugo. Jabatan yang dulu sering disebut sebagai carik. Menurut pria 58 tahun itu warga di desanya menggantungkan harapan pada tanaman keras tersebut.

Tanaman cengkih tergolong banyak menghasilan. Tidak hanya bunganya saja. Tangkai bunga hingga daunnya pun laku dijual. Karena itu, bagi warga di desanya cengkih cukup menjanjikan untuk menambah penghasilan ekonomi keluarga.

Harga jualnya pun masih menggiurkan. Saat ini mencapai Rp 127 ribu per kilogram untuk cengkih kering. Sedangkan bila harga basah hanya Rp 60 ribu per kilogramnya.

Memang, harga jual cengkih fluktuatif. Di wilayah Nganjuk, harga kering saat ini bisa tembus Rp 140 ribu per kilogramnya.

Baca Juga :  Juara Liga 2, Pemain Persik Kediri Terancam Dibajak Tim Lain

Tanaman cengkih yang paling banyak di Kota Angin ada di Desa Blongko, Kecamatan Ngetos. Di desa itu, terkenal dengan tabungan cengkih. Hasil panen cengkihnya harus disisakan 25 persen untuk ditabung. Biasanya dimasukkan ke dalam karung yang dapat digunakan sewaktu-waktu. Terutama saat terjadi krisis.

Menurut Kepala Desa Blongko Gunawan, mayoritas warga di desanya adalah petani cengkih. “Jumlahnya 80 persen,” jelas Gunawan.

Ketua Tim Ekspedisi Selingkar Wilis M. Arif Hanafi menyebutkan, penunjang produksi cengkih di trase yang dilewati berupa penyulingan. “Paling banyak lokasinya ada di Kecamatan Sawahan. Di sana ada penampung minyak hasil penyulingan daun cengkih,” katanya.

Menurut Hanafi, anak-anak muda yang kebanyakan bertani menjadikan tempat penyulingan sebagai alternatif pekerjaan baru. Selain beraktivitas sebagai petani dan mencari rumput untuk pakan ternak, mereka juga bekerja di tempat penyulingan cengkih.

Cengkin menjadi komoditas yang potensial menghasilkan cuan. Terutama untuk warga desa yang tinggal di jalur Selingkar Wilis. Pemerintah daerah bisa menangkap potensi ini untuk mengembangkan kekayaan masyarakat di sepanjang jalan Selingkar Wilis.






Reporter: rekian

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/