25 C
Kediri
Saturday, October 1, 2022

Pintu Digedor, Mimpi Pasutri Sultan Ambyar

- Advertisement -

Boscu dan Mbak Sri ini adalah sepasang kekasih asal Kota Angin. Sayang, usia mereka masih cukup untuk begini begitu. Mereka masih makan minta orang tua. Jajan juga minta orang tua. Beli bensin saja, juga minta orang tua. Namun, cinta mereka sudah tak terpisahkan. Rasanya, ingin selalu bersama. Pagi, siang, malam hingga pagi lagi.

Karena itu, saat jarum jam sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB, Boscu tidak juga pulang. Dia tetap berada di kamar kos. Bersama Mbak Sri. Mereka masih bercerita dan berhalusinasi menjadi pasangan suami istri (pasutri) sultan. Uang miliaran rupiah, mobil mewah, rumah tingkat, asisten rumah tangga (ART) puluhan, dan tidak perlu kerja. Setiap hari, kerjanya hanya shopping dan berwisata.

Saat asyik menghayal, tiba-tiba pintu kamar digedor. “Buka pintu. Ayo dibuka pintunya,” teriak petugas Satpol PP Kabupaten Nganjuk.

Baca Juga :  Rela Babak Belur demi Ayam

Sontak, Boscu dan Mbak Sri melompat dari kasur lantai. Mereka ketakutan. Khawatir yang menggedor adalah Pak RT. Takut jika digerebek. Kemudian, dinikahkan. Nikah massal. Padahal, ijazah belum keluar. Bayangan menjadi pasutri sultan langsung sirna. Yang terbayang adalah amarah orang tua dan guru. Bisa-bisa dicoret dari KK (kartu keluarga).

Agar tidak ketahuan, Boscu mencoba bermain petak umpet. Lampu kamar dimatikan. Harapannya, orang yang menggedor pintu menganggap jika kamar kos itu kosong. Kemudian, Boscu dan Mbak Sri berdiri mepet pintu.

- Advertisement -

Dengan kaki gemetar, Boscu dan Mbak Sri berusaha bersembunyi dengan tidak bersuara. Namun, petugas Satpol PP tidak mudah dikelabui. Mereka mengintip lewat ventilasi udara di atas pintu. Saat itulah, Boscu dan Mbak Sri terlihat. “Hayooo buka pintunya,” ujar petugas.

Baca Juga :  Hari Ini Insentif Covid-19 Cair

Karena tertangkap basah, Boscu dan Mbak Sri buru-buru merapikan pakaiannya. Mereka akhirnya keluar kamar. Sambil memelas, Boscu meminta agar dilepaskan. “Kami cuma belajar kelompok kok,” ujarnya.

Namun, petugas Satpol PP tidak terkecoh. Mereka dibawa ke Mako Satpol PP Kabupaten Nganjuk. Didata. Membuat surat pernyataan tidak mengulangi perbuatannya. Kemudian, meminta orang tua untuk menjemputnya. Saat itulah, keringat dingin Boscu dan Mbak Sri semakin bercucuran. Karena di rumah, mereka akan kena semprot yang bisa jadi tujuh hari tujuh malam. “Ampun Pak Satpol PP. Kami kapok,” ujar Boscu.






Reporter: Karen Wibi
- Advertisement -

Boscu dan Mbak Sri ini adalah sepasang kekasih asal Kota Angin. Sayang, usia mereka masih cukup untuk begini begitu. Mereka masih makan minta orang tua. Jajan juga minta orang tua. Beli bensin saja, juga minta orang tua. Namun, cinta mereka sudah tak terpisahkan. Rasanya, ingin selalu bersama. Pagi, siang, malam hingga pagi lagi.

Karena itu, saat jarum jam sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB, Boscu tidak juga pulang. Dia tetap berada di kamar kos. Bersama Mbak Sri. Mereka masih bercerita dan berhalusinasi menjadi pasangan suami istri (pasutri) sultan. Uang miliaran rupiah, mobil mewah, rumah tingkat, asisten rumah tangga (ART) puluhan, dan tidak perlu kerja. Setiap hari, kerjanya hanya shopping dan berwisata.

Saat asyik menghayal, tiba-tiba pintu kamar digedor. “Buka pintu. Ayo dibuka pintunya,” teriak petugas Satpol PP Kabupaten Nganjuk.

Baca Juga :  Kasus Jual Beli Jabatan di Nganjuk: Pelimpahan Novi Tunggu Koordinasi

Sontak, Boscu dan Mbak Sri melompat dari kasur lantai. Mereka ketakutan. Khawatir yang menggedor adalah Pak RT. Takut jika digerebek. Kemudian, dinikahkan. Nikah massal. Padahal, ijazah belum keluar. Bayangan menjadi pasutri sultan langsung sirna. Yang terbayang adalah amarah orang tua dan guru. Bisa-bisa dicoret dari KK (kartu keluarga).

Agar tidak ketahuan, Boscu mencoba bermain petak umpet. Lampu kamar dimatikan. Harapannya, orang yang menggedor pintu menganggap jika kamar kos itu kosong. Kemudian, Boscu dan Mbak Sri berdiri mepet pintu.

Dengan kaki gemetar, Boscu dan Mbak Sri berusaha bersembunyi dengan tidak bersuara. Namun, petugas Satpol PP tidak mudah dikelabui. Mereka mengintip lewat ventilasi udara di atas pintu. Saat itulah, Boscu dan Mbak Sri terlihat. “Hayooo buka pintunya,” ujar petugas.

Baca Juga :  Dukun Gadungan Bawa Kabur Motor Boscu

Karena tertangkap basah, Boscu dan Mbak Sri buru-buru merapikan pakaiannya. Mereka akhirnya keluar kamar. Sambil memelas, Boscu meminta agar dilepaskan. “Kami cuma belajar kelompok kok,” ujarnya.

Namun, petugas Satpol PP tidak terkecoh. Mereka dibawa ke Mako Satpol PP Kabupaten Nganjuk. Didata. Membuat surat pernyataan tidak mengulangi perbuatannya. Kemudian, meminta orang tua untuk menjemputnya. Saat itulah, keringat dingin Boscu dan Mbak Sri semakin bercucuran. Karena di rumah, mereka akan kena semprot yang bisa jadi tujuh hari tujuh malam. “Ampun Pak Satpol PP. Kami kapok,” ujar Boscu.






Reporter: Karen Wibi

Artikel Terkait

Nemu Uang, Mbak Sri Bingung

Cincin Tak Bisa Lepas, Anak Nangis

Tepergok Nuntun Motor, Boscu Ngaku Gila

Most Read

Ampas Kopi Itu Bisa Jadi Uang

Megengan Pandemi

Tiga Makam di Puncak Bukit Maskumambang


Artikel Terbaru

/