Minggu, 29 May 2022
Radar Kediri
Home / Kolom
icon featured
Kolom
DIALOG RAMADAN

Awal Ramadan Beda, Ikut Yang Mana?

29 April 2022, 09: 59: 11 WIB | editor : Adi Nugroho

Awal Ramadan Beda, Ikut Yang Mana?

Share this      

Assalamualaikum wr wb, penentuan awal Ramadan tahun ini berbeda. Ada umat muslim yang menjalankan Tarawih dan puasa lebih dahulu dari keputusan pemerintah. Mana yang lebih afdal diikuti? Mohon pencerahan.

(Ratih, 081130336xxx)

Wa’alaikumussalam wr wb. Ibu/Sdri Ratih yang kami hormati, mengapa terjadi perbedaan awal Ramadan? Adalah karena ada pendekatan yang berbeda dalam hal penetapan awal bulan tersebut. Ada yang menggunakan pendekatan ilwa hisab atau pendekatan hisab secara murni. Ada yang menggunakan pendekatan ru’yatul hilal / melihat terbitnya bulan.

Baca juga: Ubah Budaya Kerja untuk Pacu Kinerja

Sebenarnya potensi perbedaan awal bulan ini tidak hanya berlaku untuk awal Ramadan dan Syawal saja. Tetapi hanya karena yang krusial kedua bulan tersebut disebabkan berhubungan dengan awal dan akhir dari kewajiban puasa Ramadan.

Perlu diketahui, dalam menetapkan awal Ramadan, ulama berbeda pendapat. Pertama, mayoritas ulama dari mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’I, dan Hanbali menyatakan bahwa awal Ramadan hanya bisa ditetapkan dengan menggunakan metode rukyat (observasi/mengamati hilal) atau istikmal, yaitu menyempurnakan Sya’ban menjadi 30 hari. Mereka berpegangan pada firman Allah SWT  surat Al-Baqarah ayat 185: “Maka barangsiapa di antara kalian menyaksikan bulan maka hendaklah ia berpuasa (pada) nya”. Dan Sabda Rasul SAW: “Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah kalian karena melihatnya. Jika kalian terhalang (dari melihatnya) maka sempurnakanlah bilangan Sya’ban menjadi tiga puluh hari.” (HR. Bukhari, hadits no. 1776).

Ayat dan hadits di atas, dipahami bahwa kewajiban  berpuasa hanya bisa ditetapkan dengan melihat hilal atau menyempurnakan Sya’ban menjadi tiga puluh hari. Kedua, sebagian ulama, meliputi Ibnu Suraij, Taqiyyuddin al-Subki, Mutharrif bin Abdullah dan Muhammad bin Muqatil, menyatakan bahwa awal puasa dapat ditetapkan dengan metode hisab (perhitungan untuk menentukan posisi hilal). Mereka berpedoman surat Yunus ayat 5: “Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan Dialah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya, agar kamu mengetahui bilangan tahun, dan perhitungan (waktu)”, dan sabda Rasul SAW : “Jika kalian melihat hilal (hilal Ramadhan) maka berpuasalah, dan jika kalian melihatnya (hilal Syawwal) maka berbukalah. Jika kalian terhalang (dari melihatnya) maka perkirakanlah ia.” 

Ayat di atas dipahami bahwa tujuan penciptaan sinar matahari dan cahaya bulan serta penetapan tempat orbit keduanya adalah agar manusia mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu. Artinya, Allah SWT  mensyariatkan kepada manusia agar menggunakan hisab dalam menentukan awal dan akhir bulan Hijriyah. Sedangkan poin utama dari hadits di atas adalah kata “perkirakanlah” dengan menggunakan hitungan (hisab).

Akan tetapi, seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi terutama dalam bidang ilmu astronomi, peran hisab sangatlah urgen dalam mendukung hasil rukyat. Apalagi, hisab yang didukung dengan alat modern memiliki akurasi yang sangat tinggi. Dengan adanya metode dan kriteria penetapan awal Ramadan yang sangat variatif sekarang ini, tidak mengherankan jika terjadi perbedaan dalam memulai puasa Ramadan.

Hanya saja, penting kiranya untuk berusaha menyatukan perbedaan-perbedaan tersebut. Mengingat bahwa amaliah di bulan Ramadan dan  Syawal merupakan syi’ar Islam dan momen kebahagiaan yang layaknya dilaksanakan dan dinikmati bersama-sama.  Pemerintah melalui Kementerian Agama memiliki peran sentral dalam menyatukan perbedaan dimaksud. Yaitu dengan menyelenggarakan sidang Itsbat awal Ramadan yang didasarkan pada rukyat, dan hisab sebagai pendukung.  Keputusan Itsbat bersifat mengikat dan berlaku bagi umat Islam secara nasional, sebagaimana kaidah fiqih: “Keputusan Hakim (Pemerintah) dapat menghilangkan perselisihan.”

Hanya saja, jika perbedaan penetapan awal Ramadan masih saja terjadi maka prinsip toleransi sepatutnya tetap dikedepankan. Sebab, menjaga persatuan dan kerukunan umat merupakan perintah Allah yang wajib dilaksanakan. Jadi kesimpulannya, mana yang yang lebih afdol, tergantung keyakinan masing-masing individu dalam mengikuti mazhab yang ada. Toh masing-masing pendapat telah disertai dengan dasar kuatnya masing-masing.  Wallahu A’lam bish shawab. (Dr Hj Nurul Hanani, MHI, dosen IAIN Kediri)

(rk/baz/die/JPR)

 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2022 PT. JawaPos Group Multimedia