Selasa, 07 Dec 2021
Radar Kediri
Home / Kolom
icon featured
Kolom
Catatan Awal Pekan

Gudang Garam dan Kota Kediri

Oleh: Kurniawan Muhammad

25 Oktober 2021, 11: 32: 54 WIB | editor : Adi Nugroho

Gudang Garam dan Kota Kediri

Kurniawan Muhammad (Ilustrasi: Afrizal - radar kediri)

Share this      

Apa jadinya jika Kota Kediri tanpa Gudang Garam? Yang jelas, hingga kini, prestasi ekonomi Kota Kediri masih sangat ditopang oleh keberadaan dan aktivitas Gudang Garam (GG).

Bisa jadi gara-gara ada GG, Kota Kediri melejit menjadi kota terkaya kedua di Indonesia, dengan PDRB (Produk Domestik regional Bruto) per kapita senilai Rp 484 juta (data Badan Pusat Statistik tahun 2019 yang dirilis pada 2020). Peringkat pertama diraih oleh kota administratif Jakarta Pusat dengan PDRB per kapita sebesar Rp 760 juta. 

Yang dijadikan indikator penilaian dan pengukuran adalah PDRB. PDRB per kapita merupakan gambaran dan rata-rata pendapatan yang diterima oleh setiap penduduk selama satu tahun di suatu wilayah atau daerah tertentu. PDRB diperoleh dari hasil bagi antara total PDRB dengan jumlah penduduk suatu daerah. Data yang dihasilkan itu merupakan salah satu indikator yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat kemakmuran suatu wilayah.

Baca juga: Sudrun Polah, Sudrun Kepradah

Dan, GG bagi PDRB Kota Kediri menyumbang 70-75 persen. Mengutip data dari dokumen Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) Pemkot Kediri atas dasar harga konstan tahun 2016, PDRB Kota Kediri pada 2011 tanpa GG sekitar Rp 7,2 Triliun. Jika dengan GG menjadi Rp 23,7 Triliun. Tahun 2012 tanpa GG sekitar Rp 7,6 Triliun. Jika dengan GG menjadi Rp 25,5 Triliun.  Dan pada tahun-tahun berikutnya terus meningkat.  Sungguh, prosentase yang cukup besar.

Seharusnya, semakin tahun, semakin mengecil prosentasenya. Artinya, semakin tahun, harusnya semakin berkurang ketergantungan Kota Kediri terhadap GG, terkait dengan nilai PDRB-nya. Makanya, Kota Kediri harus lebih agresif dan lebih progresif lagi dalam mencari sektor-sektor lain atau sektor-sektor alternatif untuk meningkatkan PDRB-nya. Sehingga, ke depan, tingkat ketergantungan terhadap GG menjadi berkurang setiap tahunnya. Mengapa harus demikian? Karena bagaimana pun juga, GG adalah sebuah industri. Dan di dalam rumus industri, berbagai kemungkinan bisa terjadi. Industri itu bisa terus tumbuh setiap tahun. Bisa naik-turun. Bisa turun terus. Dan yang paling ekstrem, bisa juga berhenti beroperasi. Sehingga, mengurangi ketergantungan terhadap GG, menjadi sebuah keniscayaan. Industri bisa sewaktu-waktu berhenti beroperasi. Tapi, keberadaan sebuah pemerintah daerah, keberlangsungan sebuah pemerintah daerah, harus tetap beroperasi, melayani warganya dan mensejahterakan warganya.

Pada tulisan saya sebelumnya, saya pernah mengusulkan agar di Kota Kediri didirikan universitas negeri. Milik warga Kota Kediri. Bukan universitas  negeri yang membuka cabang di Kota Kediri. Ketika universitas negeri kelak benar-benar ada di Kota Kediri, diharapkan akan menstimulus semakin banyaknya perguruan tinggi yang akan didirikan di Kediri. Dan ketika di Kediri semakin banyak perguruan tinggi didirikan, maka ini akan menjadi sektor pengungkit untuk meningkatkan PDRB Kota Kediri. Keberadaan perguruan tinggi negeri bisa menumbuhkan mata rantai baru di Kota Kediri. Sehingga, lambat-laun akan memperkecil tingkat ketergantungan terhadap GG. Sudah terbukti, pertumbuhan ekonomi Kota Malang dan Jember yang cukup pesat, dengan keberadaan perguruan tinggi negeri.

GG menurut saya sudah cukup banyak menstimulus perekonomian Kediri. GG dan anak perusahaannya menyediakan lapangan kerja bagi 30.940 orang di akhir tahun 2020.

Yang saat ini sedang dibangun, adalah bandara. Untuk proyek ini, GG tidak main-main. Melalui anak perusahaannya, PT Surya Dhoho Investama (PT SDI), GG adalah satu-satunya pabrik rokok yang berani membangun bandara. Dan untuk proyek prestisius ini PT SDI telah disuntik dana oleh GG sebesar Rp 6 Triliun. Diperkirakan, hingga bandara itu nanti beroperasi, akan menghabiskan anggaran sekitar Rp 9 Triliun.

Bagi GG, angka Rp 9 Triliun itu setara dengan 18,9 persen dari ekuitasnya. Sebagai gambaran, merujuk pada laporan keuangan perseroan, menunjukkan, per September 2019, ekuitas GG mencapai Rp 47,37 Triliun. Angka ini  naik 4,96 persen dibandingkan periode September 2018.

Dari sisi pendapatan, GG mengantongi Rp 81,72 Triliun, tumbuh 16,93 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 69,89 Triliun.

Nah, dengan melihat porto folio keuangan GG, maka rasanya bandara itu akan mampu diselesaikan pembangunannya oleh GG melalui PT SDI. Saya pernah menyampaikan melalui tulisan di kolom ini, bahwa begitu nanti bandara di Kediri beroperasi, maka diperkirakan akan terjadi perubahan yang sangat cepat di Kediri. Pertumbuhan ekonomi bisa jadi akan terkerek naik, juga akan terjadi perubahan sosial dan budaya.

Dan ini harus diantisipasi dan dimanfaatkan oleh Pemkot Kediri dan Pemkab Kediri. Pertanyaannya, sudah siapkah pemerintah daerah di Kediri Raya itu menyambut dan mengantisipasi perubahan-perubahan akibat dari adanya bandara? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

(rk/die/die/JPR)

 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia