Selasa, 07 Dec 2021
Radar Kediri
Home / Kolom
icon featured
Kolom
Marketing On Wednesday #13

Mandalika Effect

By Kurniawan Muhammad

24 November 2021, 05: 28: 07 WIB | editor : Adi Nugroho

Mandalika Effect

Kurniawan Muhammad

Share this      

Bulan November 2021 ini, adalah bersejarah, karena Indonesia akhirnya punya sirkuit berskala internasional. Yakni: Sirkuit Mandalika di Nusa Tenggara Barat (NTB). Tepatnya di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), di Desa Kuta, Kabupaten Lombok Tengah. 

Dua event bergengsi telah digelar di tempat tersebut: Asian Talent Cup (IATC) dan World Superbike (WSBK). Tahun depan event yang dihelat di Mandalika lebih bergengsi lagi: MotoGP.

Maka, Indonesia pun naik kelas. Bisa disejajarkan dengan negara-negara maju lainnya yang telah lebih dulu menjadi tuan rumah MotoGP. Dalam konteks marketing, setidaknya ada tiga konsep utama yang membuat Indonesia naik kelas. 

Baca juga: Bendungan Waruturi

Pertama, dari sisi brand awareness. Merujuk pada kalender balap yang sudah dirilis Dorna Sports, Sirkuit Mandalika akan menjadi tuan rumah kedua MotoGP 2022. Tepatnya di Bulan Maret. Nah, jika tahun depan MotoGP benar-benar dilaksanakan di Sirkuit Mandalika, maka bakal ada 207 negara yang menerima siaran langsung, dan 428 juta rumah tangga yang akan menyaksikan melalui TV Satelit dan TV kabel, belum termasuk over the top (OTT) dan teresterial. 

Seandainya, dalam satu rumah tangga ada tiga pasang mata yang menyaksikan MotoGP di Sirkuit Mandalika, maka berarti ada sekitar 1,2 miliar orang dari seluruh dunia yang menonton. Belum lagi liputan dari 9.454 perwakilan media dari seluruh dunia, 132 kamera dengan 40 feeds, 31.525 total jam siaran, dan 66 negara mengirimkan perwakilan media mereka. Data ini merujuk pada rilis yang dikeluarkan oleh Mandalika Grand Prix Association (MGPA). 

Begitu banyaknya yang akan menonton, dan begitu luas serta masifnya liputan serta pemberitaan tentang MotoGP di Sirkuit Mandalika itu, maka ini akan membuat Indonesia semakin dikenal secara luas. Brand Awareness sebagai negara yang mampu menggelar event sekaliber MotoGP akan terbangun. 

Kedua, dari sisi positioning. MotoGP adalah jenis olahraga dengan level tinggi. Ketika Indonesia menjadi tuan rumah MotoGP, maka secara otomatis tourism di Indonesia memiliki positioning di level tinggi. Dengan cara ini, bisa mempercepat promosi pariwisata Indonesia, dengan harapan dapat meningkatkan kunjungan wisman (wisatawan mancanegara) maupun domestik. Apalagi, para penggemar MotoGP punya karakteristik “die hard”. Yakni kemana pun MotoGP dilaksanakan, mereka akan datang untuk menonton secara langsung.

Ketiga, dari sisi transaksi. Menurut laporan dari Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Lombok Tengah, selama perhelatan IATC dan WSBK (19-21 November 2021), perputaran uang di sekitar Sirkuit Mandalika mencapai Rp 10 miliar lebih. Ajang WSBK telah mendorong pertumbuhan ekonomi UMKM di Lombok Tengah. 

Ini baru perhelatan IATC dan WSBK. Jumlah uang diperkirakan bakal lebih besar lagi jika kelak MotoGP benar-benar dilaksanakan di Sirkuit Mandalika. Paling sedikit, menurut perkiraan ITDC (Indonesia Tourism Development Corporation) nilai ekonominya bisa mencapai Rp 500 miliar.

Jadi, sebuah event bergengsi, mewah, dan berkelas, bisa bikin negara naik kelas. Pada sebuah produk yang diasumsikan mewah dan berkelas, maka cara mempromosikannya pun juga harus mewah dan berkelas, jika tidak ingin turun kelas. Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

(rk/rq/die/JPR)

 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia