Selasa, 18 Jan 2022
Radar Kediri
Home / Kolom
icon featured
Kolom
Catatan Awal Pekan

Ketika Yang Muda Memimpin Kediri

Oleh: Kurniawan Muhammad

20 Desember 2021, 09: 51: 21 WIB | editor : Adi Nugroho

Ketika Yang Muda Memimpin Kediri

Share this      

Apa yang bisa diharapkan dari dua pemimpin muda yang saat ini menjadi Wali Kota Kediri dan Bupati Kediri? Abdullah Abu Bakar, Wali Kota Kediri  tahun ini baru berumur 41 tahun. Sedangkan Hanindhito Himawan Pramana, Bupati Kediri, lebih muda lagi. Tahun ini malah baru 29 tahun.

Pilkada serentak yang digelar tahun lalu (2020), juga menghasilkan para  muda sebagai pemenang. Di antaranya: Rezita Meylani Yopi, yang menjadi Bupati Indragiri Hulu di usia 27 tahun. Dan Aditya Halindra, dilantik menjadi Bupati Tuban di usia 28 tahun.

Bahwa anak muda tampil menjadi pemimpin, agaknya ini menjadi trend global. Di Malaysia, pernah punya Menteri Pemuda dan Olah Raga yang saat dilantik tiga tahun lalu  berumur 25 tahun. Namanya, Syed Shaddiq. Selain Syed, menteri yang juga berusia muda adalah Yeo Bee Yin. Saat dilantik menjadi Menteri Bidang Tenaga, Teknologi Sains, Perubahan Iklim dan Alam Sekitar, umurnya 35 tahun.

Baca juga: Kota Angin

Di Austria, yang ditunjuk menjadi Menteri Urusan Luar Negeri pada tujuh tahun lalu, Sebastian Kurz, saat itu masih berumur 27 tahun. Dari sini, karir politiknya menanjak, hingga dia terpilih menjadi kanselir di usia 31 tahun.

Di tanah Arab, tepatnya di negara federasi Uni Emirat Arab, pernah ditunjuk seorang menteri perempuan, Shamma Al Mazrui, yang saat dilantik menjadi Menteri Pemuda, berusia 22 tahun. Dan yang paling fenomenal di benua Eropa adalah, terpilihnya Emmanuel Macron menjadi Presiden Prancis pada 2017. Saat itu, usianya baru 40 tahun.

Lantas, apa yang bisa diharapkan ketika para muda itu tampil menjadi pemimpin? Yang jelas adalah mampu melakukan perubahan. Rakyat memilih sosok yang muda, tentu tujuannya adalah agar terjadi perubahan yang signifikan.

Dan bagi para pemimpin muda, ternyata tak mudah untuk membuat perubahan. Apalagi di dunia pemerintahan dan birokrasi. Kebanyakan para pemimpin muda, malah ikut larut. Bukannya mewarnai, tapi malah diwarnai.

Majalah Forbes pernah menurunkan artikel menarik tentang apa yang harus dilakukan para pemimpin muda, jika ingin sukses dalam memimpin. Pertama, terus belajar. Pemimpin yang masih muda, tentu minim pengalaman di dunia pemerintahan dan birokrasi. Makanya, harus memposisikan dirinya sebagai pembelajar. Carilah orang yang tepat untuk dijadikan sebagai akses dan model untuk belajar terhadap segala tetek-bengek di dunia birokrasi dan pemerintahan. Dan proses belajarnya harus cepat.

Kedua, lebih banyak mendengar, ketimbang bicara. Mengapa? Karena seorang pemimpin, dinilai dari keputusannya. Dan sebelum membuat keputusan, agar keputusannya tepat, harus banyak-banyak mendengar dari berbagai sisi dan sudut pandang. Pebisnis dan miliarder Richard Branson meyakini, bahwa seorang pemimpin itu harus lebih banyak mendengar ketimbang berbicara.

Ketiga, berkomunikasi non-verbal (berkomunikasi dengan orang lain tanpa menggunakan kata-kata, melainkan tindakan). Albert Mehrabian, profesor psikologi dari UCLA (The University of California, Los Angeles) menyatakan, banyak komunikasi berasal dari sisi nonverbal. Kata dia, sekitar 55 persen komunikasi adalah nonverbal. 38 persen berdasarkan nada suara, dan hanya 7 persen berasal dari pilihan kata.

Yang termasuk ke dalam komunikasi nonverbal adalah blusukan. Mendatangi langsung rakyat. Melakukan kontak mata langsung dengan rakyat. Mendengarkan saat rakyat berkeluh kesah. Ini adalah salah satu dari bentuk komunikasi nonverbal.

Keempat, tetap rendah hati. Menurut sebuah studi yang dipublikasikan di Harvard Business Review, pemimpin yang rendah hati cenderung lebih efektif. Studi tersebut mendefinisikan, bahwa pemimpin yang efektif adalah yang bisa secara akurat menimbang kekuatan dan kelemahannya. Kunci untuk bisa melakukan ini, adalah rendah hati dan mengesampingkan egonya. Biasanya, pemimpin muda itu cenderung meledak-ledak. Egonya membuatnya menjadi gengsi untuk mengakui kelemahannya. Sikap seperti ini, tidak akan membuahkan respek dari para anak buahnya.

Kelima, hadapi perubahan. Menjadi kepala daerah, memimpin wilayah membawahi puluhan SKPD, camat, hingga lurah, ini adalah “dunia” tersendiri. Para muda yang menjadi kepala daerah, tentu harus siap dengan perubahan yang akan terjadi dalam hidupnya. Harus siap dengan aturan protokoler. Harus siap dengan berbagai regulasi dan prosedurnya. Maka, hadapilah perubahan itu dengan empat tips tadi: menjadi pembelajar, lebih banyak mendengar, berkomunikasi non verbal, dan tetap rendah hati. Selanjutnya, baru lakukanlah perubahan. Jadi, hadapilah perubahan untuk membuat perubahan.

Wal akhir, teruntuk Mas Abu, Anda masih punya waktu 3-4 tahun lagi untuk membuat perubahan. Mulailah berpikir, untuk meninggalkan legacy bagi Kota Kediri. Legacy yang bermanfaat, dan legacy yang mengesankan.

Untuk Mas Dhito, waktu Anda lebih panjang. Bahkan, Anda bisa memimpin dua periode. Kami menunggu perubahan yang akan Anda lakukan.(kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

(rk/die/die/JPR)

 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2022 PT. JawaPos Group Multimedia